Aku
melihatnya dari kejauhan ia sedang berdiri persis di samping tiang lampu jalan.
Ia tersenyum lalu ku balas, aku menghampirinya dengan semangat dan saat telah
berdiri tepat di hadapannya aku menghembuskan nafas panjang seperti telah
menahannya selama seharian penuh. Keningnya berkerut samar.
“Sepertinya
hari ini sulit sekali untukmu.” katanya lembut sambil mengambil jemariku ke
dalam genggaman nya, aku mengangguk sambil tersenyum kecut. “Di depanku, kamu
boleh melepaskan apa yang dikenakan wajahmu seharian ini. Bukankah 5 tahun sudah
cukup untuk saling melepaskan kepalsuan dan rasa canggung?” lanjutnya.
Senyum
kecutku memudar terganti oleh selingan tawa. “Tentu saja, kamu teman
terbaikku.”
“Teman
terbaik yang akan menjadi teman seumur hidupmu.” Katanya; lebih seperti
berbicara pada dirinya sendiri. Langkah-langkah kami sudah mulai menjauh dari
sudut jalan itu. Sebenarnya aku mendengarnya dengan cukup jelas namun segera
kuenyahkan dan berpura-pura menyembunyikan telingaku.
“Dari
pada makan malam, how about some cup of
coffe?” aku menunjuk satu kedai kopi diujung jalan, tak jauh dari tempat
kami berada. dia menghembuskan nafas panjang. “Kenapa?”
“Tidak
apa-apa, coffe will be nice eventhough it’s not a date, ofcourse.” Tukasnya
disusul dengan senyuman miring di sudut bibirnya, setelah itu suara kami seakan
ditelan angin-angin jalanan, hanya tarikan dan hembusan nafas kami yang
terdengar cukup jelas, meskipun begitu jemari kami masih saling mengikat dalam
genggaman. Sesekali aku menoleh ke arahnya, betapa pria ini sangat mengerti
aku, mengapa dia begitu sabar dan mengapa dia terus bertahan dengan seseorang
sepertiku. Sampai di depan kedai, kami masuk disambut oleh denting lonceng yang
sengaja digantung diujung pintu, kemudian kami memilih kursi disudut dekat
jendela.
Dia
mengeluarkan satu bungkus rokok dari kantong jaketnya buru-buru aku
menangkupkan tanganku diatas bungkus rokok itu. “Sekali ini saja ya?” aku
menggeleng sambil memohon.
“Sesekali
kamu harus memikirkan aku juga.” Katanya kecut sambil menghempaskan tanganku,
ia mengambil satu batang rokok dan mulai bersiap untuk menghisapnya, cepat aku
ambil pemantik api yang ada di atas meja. Dia menghempaskan tubuhnya ke sandaran
kursi, tak lama ia bangkit. Aku melihatnya menghampiri salah satu pelayan kedai
kopi beberapa menit kemudian ia sudah kembali dengan rokok yang sudah
mengeluarkan asap.
“Masokis.”
Desisku sambil melemparkan kembali si pemantik api yang tadi sengaja ku ambil,
aku memalingkan wajahku ke arah jendela, melihat gerimis yang mulai turun
perlahan dari langit malam.
Kemudian
pelayan kedai datang dengan nampan yang diatas nya telah ada dua cangkir kopi
yang menimbulkan aroma yang berbeda dari masing-masing cangkirnya, aku bisa
melihatnya menghampiri meja kami dari pantulan samar di jendela. Satu shot Esprasso milikku dan satu cangkir Latte
miliknya. Alis nya seperti hampir bersentuhan kemudian ia menggeleng.
“Latte milikku dan Espresso miliknya?” tanyanya kepada si pelayan, Si pelayan
mengangguk kemudian berlalu setelah berkata silahkan menikmati pada kami yang
sama-sama membalas dengan anggukan seadanya. “Bisa-bisanya kamu menyebutku
masokis.”
Aku
mengabaikan nya sambiil menyesap kopi milikku dengan perlahan, setelah itu kini
aku yang menghempaskan punggungku ke sandaran kursi sambil bersedekap dan ia mulai
mencondongkan tubuhnya kehadapanku. “Aku
tanya, siapa yang lebih masokis disini?” suara bariton miliknya terdengar
begitu marah di telingaku disusul oleh asap-asap yang terus mengepul dari rokok
yang dihisapnya. Paru-parumu, kamu ingin
membuat seberapa parah lagi. Aku meneriakannya hanya dalam hatiku.
“Berapa
batang yang kamu hisap hari ini?” aku menatap lurus ke mata coklat miliknya
hampir tak berkedip sedetikpun, ia tidak menjawab malah sengaja mengarahkan
kembali peluru yang ku berikan.
“Berapa
cangkir kafein yang telah masuk ke tenggorokanmu hari ini?” suara rendahnya
mampu membuat bulu kuduk di tengkukku berdiri. Entah kenapa aku takut, aku
takut jika ia marah.
Menit
berlalu kemudian hanya keheningan yang sampai pada kita, ia terus menghisap
racun itu begitu pula denganku, aku meminum racun yang ku pilih sendiri. hingga
kami menyadari bahwa ini bukanlah inti dari apa yang ingin kami bicarakan.
Bagaimana bisa ia terasa begitu hangat dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Aku
masih belum memahaminya.
“Aku
tidak ingin kamu kenapa-kenapa.” Kataku lirih, aku mencoba menggapai lengannya
namun ia menghindar.
“Laras,
sayangnya kamu tahu itu dengan pasti, bahwa tubuh ini tidak apa-apa dan kamu
juga tahu dengan pasti bagian mana dalam diriku yang kenapa-kenapa.” nada bicaranya
berubah, aku mendengar kemarahan disana. “Bagaimana kamu bisa menahanku dan
menjauhiku dalam waktu yang bersamaan?”
“Ares,
kamu tahu aku tidak begitu.” Air mataku mulai menggantung di pelupuk mata, aku
tahan agar tidak terjatuh.
“Aku
tahu, aku tahu kamu dengan sangat jelas. Aku hanya ingin kita sama-sama melepas
kesakitan yang kita nikmati setiap harinya, jika kamu bilang aku masokis aku
bisa katakan kamu lebih dari sekedar menikmati kesakitanmu tapi kamu hidup
dengan itu. Sadarilah itu, Laras.” Suaranya kembali melembut, aku diam namun
air mataku menjawabnya.
“Lepaskan
pria itu dalam hidupmu, kamu tahu bahwa dia sekarang telah menjalani hidup yang
baru dan ia baik-baik saja dengan itu. Ia baik-baik saja tanpa kamu.”
Kata-katanya seakan menamparku dengan sangat keras, kenyataan bahwa pria itu
baik-baik saja tanpa aku rupanya sulit aku terima karena berbanding terbalik
dengan apa yang harus aku lalui tanpa dirinya. “Sekarang sudah waktunya kamu
melihat ke arahku bukan sebagai teman tentu saja, aku muak mendengarnya. Hentikanlah
aku yang menikmati segala kesakitan yang kamu berikan, Laras.”
“Tapi
kamu sahabatku, Ares. kamu adalah teman terbaikku.” Ungkapku getir kudengar ia
mendecak keheranan. Latte miliknya
masih penuh dan sudah hampir dingin.
“Kamu
harus tahu bahwa tidak ada persahabatan di antara pria dan wanita dewasa.” dengan
kesal ia mematikan rokoknya diatas asbak. Ia tersenyum namun kemudian ia
mengacak rambutnya frustasi. “Hatiku memilihmu dan apa yang bisa aku lakukan
dengan itu?”
Kata-kata
yang awalnya berhamburan dari bibirku kini hanya bisa menggantung di pikiranku
dan bibirku hanya bisa mengatup, air bening dari mataku entah mengapa tak bisa
aku hentikan. Aku beranjak dari dudukku kemudian berjalan meninggalkannya,
denting lonceng dari pintu yang kubuka tak membuatnya menoleh. Langkah-langkah
berat aku rasakan setelah meninggalkannya sendiri di kedai itu, kemudian
pikiranku melayang pada hari-hari yang selalu ia luangkan untukku. Ares adalah
satu-satunya orang yang sanggup mengerti dengan apa yang aku rasakan tanpa
harus berpanjang-panjang bercerita, dengannya aku bisa melepaskan topeng yang
aku kenakan seharian, aku bisa menangis sepuasnya, tertawa sampai perutku sakit
dan memarahinya seperti orang gila. Ares adalah satu-satunya orang yang kucari
saat aku merasa bahwa ada yang salah dengan hidup yang sedang aku jalani saat
ini.
Saat
langkahku mulai menjauh, aku menyadari satu alasan mengapa aku nyaman bercerita,
menangis dan tertawa dihadapannya, karena saat aku melakukan itu semua sorot
matanya tidak pernah berpaling dari mataku seakan ia bersedia menerima jika aku
berbagi beban dengan dirinya dan itu semua tidak aku dapatkan dari pria itu,
kenyataan bahwa pria itu hidup baik-baik saja disana merupakan hal yang tidak
ingin aku dengar. Kakiku berhenti melangkah, aku merogoh tas tanganku mendapati
ada yang hilang dari sana. Tubuhku berbalik dan melangkah kembali ke arah kedai,
awalnya hanya langkah-langkah kecil namun kemudian langkahku semakin lebar dan
tergesa-gesa, kedai kopi itu diujung jalan, aku berjalan lebih tergesa seakan
kedai itu akan berjalan meninggalkan sepetak tanah yang ia duduki dan mencari
lahan kosong yang lain jika aku berjalan lambat, namun kemudian lonceng
berbunyi dari pintu itu dan keluar pria bertubuh jangkung milik Ares, aku
tersenyum dari kejauhan dan mulai berlari kehadapannya.
“Kamu
mencari ini?” katanya sambil mengeluarkan sapu tangan berwarna biru laut dari
saku celananya. Pria itu memberikannya tahun lalu sebelum ia pergi, dan aku
pernah berjanji akan menyimpannya sampai kapanpun, namun sepertinya hari ini
sudah waktunya aku mengingkari janji itu.
“Bukan.”
kataku bergetar sambil menggeleng pelan, kini tubuh jangkung itu hanya satu
langkah di depanku. Aku mengambil sapu tangan itu dari genggamannya dan
membiarkan angin membawa benda itu entah kemana. Sorot matanya menatapku dengan
penuh tanda tanya. Tapi kemudian senyumnya mengembang setelah aku bilang. “Bukan.
Bukan itu yang tertinggal, tapi milikku yang lain.” ungkapku sambil mengambil
jemarinya yang lebar dalam genggamanku, ia tersenyum senang kemudian menarikku
ke dalam pelukannya.
“Kamu
tidak akan pernah menyesali keputusanmu hari ini.” Bisiknya kemudian. Tentu saja, karena kamu adalah Ares.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar