Selasa, 31 Desember 2013

2013 already gone!


Di balik hingar bingar malam pergantian tahun baru, pasti ada saja yang sedang sendiri seakan berat melepas tahun 2013. Oke, kalo menurut saya sih tahun 2013 itu tahun yang ajaib. Sesuatu yang kayanya gak mungkin terjadi bisa terjadi juga. Tangis dan senyum terjadi seimbang. Kalo pas pergantian tahun ke 2013 yang namanya sedih banget itu gak bisa di gambarin, ninggalin tahun 2012 yang penuh dengan rasa sakit kehilangan tahun dimana saya bener-bener di uji untuk menjadi seseorang yang lebih kuat lagi menghadapi apapun. Dan ya, tahun 2013 itu tahun saya bangkit dari kesedihan dalam bentuk apapun itu.

Minggu, 24 November 2013

Akan terucap.

               tentang kenangan yang tidak bisa di kenang, dan sudah sejauh mana luka itu membekas. aku tidak tahu. yang aku tahu sekarang, berkat luka itu aku bisa tersenyum saat ini. jika, tidak ada luka itu mungkin saat ini aku bukan seperti ini. maka, entah dengan alasan apa. aku ingin mengucapkan ucapan terimakasih pada jiwa-jiwa yang menoreh luka di hati ku. secara tidak langsung, mereka ikut andil dalam senyum ini. bukan aku yang bilang, tapi tuhan yang berbisik.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Firasat


     Bagas mengarahkan handycam yang ia pegang ke arah wanita berparas oriental di hadapan nya itu. “Ih apaan sih bagas!” ujar Keila ketus.    
    “Hayo marah! Lagi baca apaan sih lo?” tukas bagas, sambil terus mengarahkan handycam itu ke wajah Keila. Keila yang mulai jengkel akhirnya menutup buku yang sedang ia baca. “Bagas Norak ih!” dengus keila sambil mencoba merebut benda itu, tapi bagas tidak melepaskan dari tangan nya. malah mengarahkan nya ke wajahnya.         
      “Hello, gue bagas!” katanya di depan handycam, lalu mengarahkan nya ke wajah keila yang sedari tadi tersenyum geli melihat tingkah bagas. “Nah ini, namanya keila. Pendek ya dia.” Kata bagas, sambil menyorot Keila dengan handycam nya. Keila mendengus. “Rese lo.”            
      “Iya, dia pendek. Tapi gue cinta dia.” 
       tanpa di sadari, pipi keila yang putih pucat itu kini berubah warna menjadi semu kemerahan. Dia bahagia mendengar kalimat itu. setelah itu bagas meletakan benda itu di meja lalu kembali menatap keila. “Kalo gue gak gitu, lo malah terus pacaran sama buku-buku lo. Bukan gue.” Ucap bagas sambil mencubit hidung bangir milik Keila, Keila tersenyum geli. “Aduh, lo cemburu sama buku. Cieee.”

Kamis, 24 Oktober 2013

The Truth Never Say


                                
              Aku menghembuskan nafasku pelan-pelan, setelah tadi jantungku berdegup tidak karuan. Kamu perlahan berjalan menjauhiku, mataku tidak melepaskanmu sampai jarak yang membuatmu menghilang. Padahal ini bukan pertamakali nya aku berbicara denganmu tapi tetap saja, rasa aneh yang menggelitik perutku itu masih tetap sama dengan waktu itu, saat aku pertama melihatmu di lapangan basket. Dan bintangnya adalah kamu. Aku bahkan tidak sadar, selama berbicara denganmu senyumku tak pernah hilang.  

              “Tata, lo tau berita baru gak?” tiba-tiba risya menghampiri ku dengan nafas yang terengah-engah. Aku yang sedang merapikan buku-buku ku hanya menjawab seadanya. “Kenapa sya?”     
              “Tapi lo jangan kaget ya ta.”    
              “Hm.”
              “Kak Niko jadian sama kak tasya. Nembaknya tadi di aula, sumpah dong romantis banget. Gue aja yang ngeliatnya merinding banget apalagi kak tasya yang ngerasain nya.” 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Senyum Risa


            Dia meremas bahuku kencang sambil mencoba menyembunyikan tangisnya di dadaku. Aku terus membelai puncak kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Sebenarnya pada saat itu hati ku ikut hancur juga, saat dia tiba-tiba datang dengan derai air mata dan langsung memelukku tanpa mengatakan apa yang telah terjadi. Aku membiarkan dia memelukku dan mengeluarkan semua air matanya untuk beberapa saat, aku hanya bisa ikut dalam kesunyian nya. seperkian menit berikutnya dia melepaskan pelukan nya padaku, lalu memberikan senyuman manisnya untuk ku.

            “Kenapa?” tanyaku pendek, dia hanya tersenyum. aku mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipi tirusnya. “duduk sini.” Aku membiarkan nya duduk di kursi seadanya di teras kost-an yang aku tempati. 
 
            “Mereka jadi pisah kak.” Aku merangkul pundaknya, tidak banyak yang bisa aku lakukan untuknya. Masih ada batas-batas yang tidak boleh aku sentuh di kehidupan pribadinya. 

Minggu, 06 Oktober 2013

Dare To Dream

            Carissa mengedarkan pandangan nya keluar, mata sayu nya memandang putus asa guratan sendu tersirat jelas di wajahnya. Dari balik jendela kamarnya ia melihat calista, kakak kembaran nya yang di jemput oleh pacarnya. Ia iri, melihat kakak nya bisa sebebas itu. berbeda dengan nya, berbeda dengan hidupnya. Sore itu, ia pergi ke taman kompleks dekat rumahnya, seperti biasanya ia membawa perangkat lukis seadanya, setidaknya hanya kegiatan ini lah yang carissa mampu dan senang menjalani nya. 
 
            “Sendirian?” tiba-tiba ada seorang pemuda duduk di sampingnya, carissa jelas mengabaikan nya karena ia tidak suka dengan orang asing. “hallooo...” panggilnya lagi, namun carissa tetap mengabaikan nya. “Carissa!” Barulah carissa menoleh saat pemuda itu memanggil namanya, alisnya berkerut samar. 

            “Gelang kamu.” Katanya, lalu carissa melihat gelang yang ia pakai tertulis namanya. Carissa tersenyum, di ikuti oleh pria itu. “Lukisan kamu bagus.”

            “Oh iya namaku lukas. Salam kenal ya carissa.” Kata lukas sambil mengulurkan tangan nya lalu carissa membalas uluran tangan dari lukas, lalu tersenyum. Beberapa menit selanjutnya hanya terdengar hembusan nafas mereka, diam-diam carissa merasa gugup bahkan ia bisa merasakan dan mendengar degup jantungnya sendiri. Carissa berhenti melukis.

            “Loh, kenapa berhenti?” tanya lukas.

            Carissa mengeluarkan secarik kertas lalu menuliskan kalimat disana. “kamu jangan ngeliatin aku kaya gitu.” Lukas terdiam saat menerima kertas itu dari carissa, ia melihat wajah carissa, goresan tuhan di hadapan nya ini seperti tidak ada cacat sedikitpun, parasnya yang manis membuta siapapun yang melihatnya akan menoleh kembali. Namun ada satu hal yang akhirnya lukas tau dari sosok carissa ini. 

            “kamu kaget ya? Aku emang tuna wicara, kalo aku ngomong dengan bahasa isyarat pasti kamu gak ngerti deh.” Lukas terkekeh pelan saat membaca kertas nya lagi.

            “Bisa kok.” Ucap lukas mantap. Lalu carissa mencoba berbicara dengan bahasanya, lukas menyimaknya namun tidak ada satupun dari bahasa carissa yang ia mengerti.

            “Aku ada ide, kita ngobrolnya lewat kertas ini aja yuk.” Ajak lukas, carissa mengangguk senang. Setelahnya mereka berdua ada dalam percakapan hening mereka lemat kertas-kertas itu. awalnya carissa masih gugup namun seperkian detik berikutnya lukas membuat carissa nyaman.

            “Selain melukis mimpi kamu apa?” tanya lukas, cepat, carissa membalasnya.

            “Tidak ada.”

            “Kenapa?”

            “Tidak ada satupun mimpi ku yang akan menjadi nyata dengan keadaan ku seperti ini.”

            Lukas menyimpan kertasnya dan berhenti menuliskan balasan nya, ia memalingkan wajahnya dari carissa lalu menyamdarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “kenapa?” tanya carissa dengan kertasnya. Lukas menuliskan sesuatu diatas kertasnya tapi ia tidak beri pada carissa.

            “Kamu tahu gak carissa, aku paling benci sama orang yang putus asa. Karena aku pernah jadi orang yang sangat putus asa untuk hidup tapi aku sadar dengan putus asa, tidak akan menjadikan kita menjadi sesuatu yang berharga dan dianggap ada” Kata lukas, carissa hanya menatap lukas dengan tatapan sendu.

            “Jangan kalah sama keadaan, punya mimpi dan harapan tidak akan memberatkan hidup kok. Malah membuat kita jadi lebih bersemangat untuk hidup, walaupun kita belum bisa menggapai mimpi kita, setidaknya ada hal yang terus kita percayai. Believe in your dream.”

            Carissa tersenyum, ia menggenggam lengan lukas lalu mengangguk yakin. Orang asing ini mampu menghipnotis carissa. Lukas membalas nya dengan senyuman, lalu tiba-tiba jam di pergelangan tangan lukas berbunyi. Lukas mendesah malas. “aku harus pulang carissa, besok kita ketemu lagi disini ya.” Ucap lukas, lalu ia berdiri dan meninggalkan carissa, carissa pun ikut beranjak dengan tongkatnya.
***
            Carissa terduduk lama di bangku taman, kali ini ia menunggu seseorang untuk duduk di samping nya, iya, orang itu lukas. Namun satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda kehadiran dari teman barunya itu. yang ada hanyalah sekerumunan ibu-ibu muda yang sedang mengajak bermain anaknya di taman. carissa mencoba untuk melukis hanya untuk sekedar membunuh waktu saat menunggu kehadiran lukas. Waktu berlalu tanpa terasa, kehadiran lukas pun akhirnya hanya harapan semu yang tak berujung nyata.

            “Kasihan ya, padahal lukas itu anak baik.”

            “Iya bu, saya juga kaget semalam, padahal yang saya tahu dia itu orang nya ramah banget. Anak baik emang di sayang tuhan.”

            “Iya, ya bu. Semoga aja lukas di beri tempat yang indah di sisi tuhan.”

            “Amin.”


            Carissa merasakan dingin di sekujur tubuhnya saat mendengar percakapan ibu ibu yang baru saja lewat di hadapan nya, carissa yakin bukan lukas yang kemarin ia temui yang mereka maksud itu, tapi entah kenapa rasa takutnya benar-benar nyata. Tiba-tiba ia teringat kemarin, cara berpakaian Lukas memang sedikit aneh, awalnya ia berpikir lukas memakai baju tidur ternyata ia baru sadar, kemarin Lukas memakai baju rumah sakit santosa yang tidak jauh dari sini, ia tahu persis karena ia pernah memakainya. tubuh Carissa tiba-tiba lemas, ia menyesal kenapa hanya sedikit kesempatan untuk mengenal sosok yang memberinya semangat yang besar.

            “Carissa, kakak cari-cari kamu aduh kakak kira kemana. Mau ikut?” sosok calista kembaran nya, sudah berpangut dagu berdiri dihadapan nya. carissa diam, pikiran nya melayang pada sosok yang baru saja ia kenal.

            “Hei, mau ikut gak? Ayo aku bantu berdiri.” Lalu setelah itu calista membantu adiknya berdiri dengan memberikan tongkatnya. “Kita pergi ngelayat, katanya anak temen nya mama meninggal, katanya sih kanker. Stadium akhir. Ngeri ya.. eh bentar, nih kertas kamu ketinggalan, carissa jangan ngelamun nih kertas kamu.”

            “DARE TO DREAM.”

 Tulisan itu membuat senyum carissa tiba-tiba mengembang, ia yakin ini tulisan lukas yang kemarin.
                       

Jumat, 04 Oktober 2013

Saat waktu melangkah terlalu cepat

           Tidak ada yang pernah ingin di tinggalkan, termasuk aku. munafik jika aku katakan aku sudah tak mengingatnya lagi. Air mata ini memang sudah kering, senyum ini memang sudah kembali. Tapi tidak dengan hatiku, berserakan entah dimana.

            Berbicara tentang rindu, tidak ada lagi yang aku rindukan selain sosok ayah. aku tahu, ini bukan saatnya lagi untuk menuntut takdir dan keadaan, semuanya sudah berlalu. Ayah sudah pergi lebih dari setahun yang lalu. Mungkin beliau sudah tersenyum di sana. Tapi, sayangnya disini hati ku teriris ketika mendengarkan cerita-cerita mereka yang kerap kali membanggakan ayahnya di depanku. Jujur, aku iri.  Dulu, aku paling sering bercerita tentang apa yang dilakukan oleh ayahku. Dia konyol, tapi ketegasan nya membuat aku segan. Tentang kebiasaan yang sering kami lakukan, saat mencoba masakan ayah, saat dia memaksaku untuk memakai baju pink dan masih banyak hal yang telah aku dan ayahku lewati.

            Puncaknya, saat ulang tahunku beberapa waktu yang lalu. Alasan aku membenci hari ulang tahunku adalah karena ayah, karena ayah sudah tidak bisa lagi menjadi orang yang pertama yang mengucapkan itu, ayah tidak lagi mencium kedua pipiku saat pagi di hari itu. aku kecewa. Boleh kah?

            Ayah, waktu benar-benar telah berjalan terlalu cepat, sampai aku lelah mengikuti ritme nya, jika aku diam aku akan ketinggalan segalanya. Aku punya tekat untuk menjadi orang yang ayah inginkan, untuk jadi orang yang ayah banggakan. Meskipun aku tidak akan pernah bisa lagi melihat ayah tersenyum langsung di depan ku. yah,  jangan khawatir dilupakan. kau selalu jadi orang nomer satu yang setiap saat aku rindukan. I LOVE YOU!

Rabu, 02 Oktober 2013

Dua Wajah



            “Aku akan hancurkan mereka satu per satu.” Desis seorang wanita di tengah ruangan gelap dengan nada penuh dengan emosi dan dendam. Lalu wanita itu menancapkan pisau tajam ke salah satu foto yang sengaja ia tempel di dinding-dinding itu. seketika, ia tertawa penuh kepuasan saat ia berhasil mencabik-cabik foto itu dengan tangan nya.  

           Kania namanya, ia menebarkan senyum ke semua orang ia terkenal ramah dan baik di sekolahnya namun disudut yang lain banyak juga orang yang sengaja mengejek dan menghina kania karena kondisi fisiknya yang berbeda dari mereka, iya dua tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan parah dan akibatnya kakinya pincang sampai saat ini jalan nya pun hampir terseok-seok. Dalam hatinya sebenarnya ia menyimpan dendam kepada mereka, diam-diam ia mencuri-curi untuk memfoto wajah-wajah yang menghina keadaan nya, setelah itu ia sengaja menempel foto-foto hasil jepretan nya itu di paviliun miliknya. Tidak ada satupun yang tau tentang hal ini, tentang obsesinya untuk menjatuhkan mereka yang telah menjatuhkan nya juga. Bahkan lebih dari itu kania ingin menghabisi mereka semua. Kania ingin..... membunuh mereka.

            Ia memasukan sebuah pisau tajam ke dalam tas sekolahnya, rencana nya hari ini ia dan sekumpulan kelompoknya akan kerja kelompok niat kania adalah ingin menghabisi mereka satu persatu. Tiba-tiba ia tertawa tapi seperkian detik berikutnya air matanya tak mampu lagi di bendung.

            “Kania?” cepat ia memasukan pisau itu kedalam tasnya, lalu ia berbalik dengan senyum yang merekah.

            “Iya, kenapa ta?” ucapnya dengan nada seramah mungkin, tata teman nya menghampiri kania lalu dudukdi sampingnya. 

            “Ayok! Kita kan ada kerja kelompok yang lain udah pada nunggu tuh di depan.” Ucap tata, sambil membenahi barang-barang miliknya kania bangkit dari duduk nya lalu tata pergi meninggalkan kania yang sedang berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok. Air di kepala kania rupanya semakin mendidih.
                                                                            *** 
“Dewi, ikut ke toilet boleh?”

“oh boleh kan, kamu lurus aja dari sini nanti belok kiri ya. Eh bentar buku fisika kamu mana? Aku pengen nyalin dong.”

“oh itu ada di tas, ambil aja.”

            Lalu kania bangkit dan berjalan menuju toilet dengan langkah lambat, ia sudah tidak sabar ingin meloloskan rencananya itu. di toilet ia sedang menyiapkan mental dan keberanian dirinya sendiri. Sementara di tempat yang sama teman-teman nya sedang berpelukan sambil ketakutan saat dewi menemukan sebilah pisau tajam di tas kania yang di lapisi oleh tisu tipis, dan di tisu itu nama mereka tertulis di sana. 

“Astaga ta, gimana ini? aku takut!!” bisik dewi, tita ikut meringkik sambil memeluk dewi dan mila.

Sekembali nya kania dari toilet serempak mereka berteriak histeris, kania yang baru saja kembali itu bingung dengan teman-teman nya. “loh, kalian kenapa?”

“psycopat lo! Lo mau bunuh kita kania? Kenapa?” teriak mila memberanikan diri kania tertegun sesaat ia lupa nyawanya di mana. Kania berusaha bersikap sewajar mungkin sambil mengambil pisau miliknya itu, mereka bertiga mundur perlahan menjauhi kania.
“lo mau tau? Rasain dulu nih jadi gue! Rasain gimana rasa nya di bully setiap hari karena keadaan gue yang kaya gini!” ucap kania dengan penuh penekanan, dengan jalan terseret kania menghampiri mereka. 

Dewi memberanikan diri untuk mendekati kania.
“kania please, turunin pisau itu. kita bisa bicarain ini baik-baik. Kita bisa mulai semuanya dari nol.” Dewi menghampiri kania, tapi kania malah mundur menjauh malah dia yang balik ketakutan. Dewi akhirnya merebut paksa pisau itu. kania berteriak histeris. Di belakang, tata dan mila saling merapatkan pelukan mereka. Kini pisau itu sudah ada ditangan dewi, mereka tidak melihat dewi dan kania. Mereka hanya mendengar teriakan dan sayup-sayup suara nafas yang terengah. Beberapa menit kemudian mereka tidak lagi mendengar teriakan dari dewi maupun kania. Selang beberapa menit kemudian, dewi kembali dengan senyuman yang merekah.

“dewi gimana kania?” tanya mila cemas, dewi malah tersenyum lebar.

“dia sudah beres!” ucapnya sambil mengacungkan pisau yang penuh darah.

Kamis, 15 Agustus 2013

Konsep Tuhan Tentang Takdir


Beberapa hari ini ada banyak pertanyaan yang hilir mudik di benak ku, tak satu pun bisa aku jawab. Aku mulai berteman lagi dengan kesunyian.  Aku adalah orang yang percaya pada suatu konsep yang mereka sebut ‘sahabat’, dulu aku percaya tentang satu hal itu. sahabat sejati. Aku merasa betapa bahagia nya aku memiliki mereka di hidupku, namun akhir-akhir ini keyakinanku tentang itu perlahan musnah.
Waktu menerangkan semuanya sejelas-jelasnya.
Saat jarak memisahkan kita, awalnya aku menganggapnya biasa saja dan akan tetap sama saat bertemu kembali, memang awalnya sama sekali tidak ada yang berubah pertemuan kami sangat menyenangkan walaupun dalam kesunyian sekalipun, walaupun saat bertemu aku lebih sering menggunakan nya untuk numpang tidur saja karena waktu malamku selalu terjaga makanya aku selalu mengambil kesempatan untuk tidur di siang hari dimanapun itu,  karena kehadiran satu sama lain pun merupakan emosional yang tak bisa tergambarkan,  aku senang saat bisa mendengar dua sahabatku saling bertukar pikiran atau bahkan adu mulut yang berakhir pada candaan khas mereka.
Kini, semuanya berbeda.
Disini, ternyata hanya aku yang menginginkan mereka hadir bahkan hanya untuk sekedar diam pun aku sudah mensyukurinya. Dengan 1-2-3 alasan dia menunda pertemuan kami, lagi, aku memakluminya karena aku mengerti dengan kesibukan mereka. Aku bukan orang yang mudah mengatakan rindu sayang atau apapun itu.. tapi saat aku berucap aku bersumpah itu yang sebenarnya. Saat aku mengatakan nya, mereka mengeluarkan lelucon yang sama sekali sudah tidak lucu lagi untuk ku. Perlahan namun terasa begitu cepat, kami benar-benar telah menemukan jalan nya masing-masing, aku kembali menjadi seorang perempuan yang banyak diam namun memiliki obsesi tingkat akut pada bau-bau kertas lama atau kertas baru di novel dengan nuansa klasik seperti tipis dengan warna yang menguning. Mereka mungkin juga sudah menemukan obsesi nya masing-masing yang tak perlu lagi di bagi.
Aku sedang duduk di salah satu sofa mini bernuansa eropa klasik di salah satu cafe yang menurutku sangat unik. ‘You Can’t Find Us’ nama cafe yang benar-benar membuatku memutar otak, tapi sekarang tak perlu lagi karena aku sudah menjadi salah satu pengunjung tetap disini. Seperti namanya, cafe ini memang susah di temukan bagi orang yang belum pernah kesini dan sengaja mencari nya, karena cafe ini terletak di belakang dua gedung pencakar langit di pusat kota, awalnya cafe ini bernama ‘The Blues Cafe’ namun karena pemiliknya telah merasa pesimistis dengan posisi cafenya yang telah tertutup oleh dua gedung dan berakhir di gang-gang kecil akhirnya ia menamakan nya dengan nama unik itu, namun siapa sangka yang pernah masuk kesini adalah orang yang akan selalu menjadi pengunjung tetap seperti aku ini, pertama kali aku masuk saat itu, saat tidak sengaja berjalan untuk mencari tempat berteduh namun ada satu bangunan yang sangat mencuri perhatianku, ternyata itu sebuah cafe saat aku masuk di meja bartender nya tertulis. ‘Hi, congrats! You find us’ aku tersenyum melihat segala keunikan di tempat ini, interior ruangan nya bernuansa klasik, para bartender nya pun memakai pakaian bergaya vintage yang seperti di ajak ke era 60-an saat masuk kesini.
Hari ini aku duduk sendirian, gigi ku bergemeletuk kedinginan karena cuaca akhir-akhir ini sangat menyebalkan aku sendiri tidak bisa menghindari flu yang tiba-tiba menyerang, tangan ku menggenggam secangkir mochaccino lengkap dengan whipped cream di atasnya, belum aku minum sedikitpun aku menggenggamnya untuk merasakan atmosfer hangat agar di rasakan tubuhku. Aku duduk di paling sudut dekat jendela, di luar sana ada rel kereta api yang sudah lama sekali di tinggalkan, aneh tapi aku menikmati pemandangan ini.
 Aku bukan orang yang mudah kenal dengan orang asing aku juga bukan orang yang nyaman dengan pertanyaan basa-basi. tapi aku nyaman duduk berlama-lama disini, aku menemukan ruang pribadiku di antara orang asing, aku menikmatinya, duduk sendiri dengan secangkir minuman sambil melihat keluar jendela. Aku menyesap mochaccino milik ku dengan tenang namun  flu ku semakin parah saja, aku berkali-kali bersin.
Tiba-tiba ada satu lembar tisu tepat di depan mataku. “lo butuh ini.” aku pun mengambilnya dengan seulas senyum dan berbalas terimakasih, dia sama sekali tidak beranjak dari tempat berdirinya, aku mulai risih. Namun akhirnya dia meminta ijin untuk duduk di meja ini, tepat di sofa kosong depan ku, aku mengiyakan nya dengan sedikit berat hati.
 “Sendirian?” tanya nya, aku mengangguk. Tak ada senyum, aku sibuk dengan bersin-bersin ku, dia buru-buru merogoh sakunya, dan memberikan sebungkus tisu miliknya untuk ku. “kayanya lo lebih butuh ini deh.” Aku mengangguk lalu mengambil tisu nya itu. kali ini, aku lupa bahwa di hadapanku ini adalah orang asing, aku melupakan nya karena aku lebih membutuhkan tisu ini.
“Gue  selalu bawa tisu kemana-mana bukan centil atau apa, telapak tangan gue selalu keringetan tanpa ampun, keringetnya kadang ganggu banget. biasanya gue bawa sapu tangan tapi semuanya lagi di cuci.” Dia membuka percakapan tanpa ada sedikitpun nada canggung seperti seorang teman lama yang bertemu. Eh.
“Sama. Telapak tangan gue juga suka keringetan, Nih sapu tangan gue juga basa kuyup bekas tadi keujanan.” Kataku sambil menunjukan sapu tanganku yang sudah benar-benar basah karena kehujanan tadi, sial aku malah terjebak pembicaraan dengan orang asing ini. lama kelamaan aku merasa nyaman dengan pembicaraan dengan orang asing ini, aku mempunyai banyak kesamaan dengan nya dari mulai telapak tangan yang selalu berkeringat, selera musik yang aneh, juga tak pernah membawa orang lain ke cafe ini karena menurutnya ia bisa menemukan ruang pribadinya di sini, sama persis dengan ku. Dan yang paling penting adalah dia juga terobsesi dengan bau kertas dari novel-novel lama.
“Ada ritual tersendiri sebelum mulai baca novel, kaya peluk dulu novelnya terus, mentwist halaman demi halaman nya, Cuma buat buktiin bau kertas nya aja.” Dia tertawa tanpa menyela sedikitpun. Karena apa yang di lakukan olehku dilakukan juga olehnya walaupun bacaan kami berbeda. Dia penyuka novel-novel thriller, crime, historical dan fantasy sementara aku penikmat berat novel-novel romance  bergaya young-adult, science fiction, dan drama. Aku mengatakan nya seperti tanpa ada canggung, aneh.
Percakapan tak sampai disitu, aku jadi terbawa suasana nyaman. Atmosfer luar yang dingin memaksa kami untuk bertahan di dalam sebenarnya tanpa ada niat untuk beranjak sampai pagi menjelang. Pria ini bergaya asal-asalan namun tetap terlihat menarik di mataku, kemeja yang tidak ia kancing di baliknya ada kaus putih, dengan celana jeans yang di bagian lututnya ada sedikit robek-robek, juga sepatu kumal seperti belum pernah di cuci sejak pertama kali membeli, berakhir dengan tas ransel army satu-satunya yang agak kelihatan masih layak di pakai.
Saat minuman kami telah hampir habis percakapan kami pun perlahan menguap ke permukaan, di akhir percakapan kami baru saling memberi tahu nama masing-masing.
“Dion.”
“Dina.”
Kami saling bertatapan sesaat lalu tertawa, bukan hanya itu ternyata nama kami juga sama-sama di awali dengan huruf D.
“Tadinya, gue mau minta nomor hp lo, tapi gak usah deh. Kalo kita ketemu lagi disini, lo janji kita harus benar-benar saling kenal.” Ucapnya sambil beranjak membawa ransel, aku tersenyum sambil mengangguk. “Percaya takdir kan?” aku mengangguk, tentu saja.
Malam itu dia lebih dulu keluar dari cafe, di ikuti oleh ku beberapa menit kemudian. Kadang aku benar-benar tidak mengerti tentang konsep takdir yang tuhan ciptakan.
Kadang Orang yang lo anggap sahabat bisa tiba-tiba menjadi orang asing dan orang asing bisa tiba-tiba menjadi seperti sahabat sendiri, tidak perlu di pahami, itu konsep tuhan.