Di balik hingar bingar malam
pergantian tahun baru, pasti ada saja yang sedang sendiri seakan berat melepas
tahun 2013. Oke, kalo menurut saya sih tahun 2013 itu tahun yang ajaib. Sesuatu
yang kayanya gak mungkin terjadi bisa terjadi juga. Tangis dan senyum terjadi
seimbang. Kalo pas pergantian tahun ke 2013 yang namanya sedih banget itu gak
bisa di gambarin, ninggalin tahun 2012 yang penuh dengan rasa sakit kehilangan
tahun dimana saya bener-bener di uji untuk menjadi seseorang yang lebih kuat
lagi menghadapi apapun. Dan ya, tahun 2013 itu tahun saya bangkit dari
kesedihan dalam bentuk apapun itu.
Selasa, 31 Desember 2013
Minggu, 24 November 2013
Akan terucap.
tentang kenangan yang tidak bisa di kenang, dan sudah sejauh mana luka itu membekas. aku tidak tahu. yang aku tahu sekarang, berkat luka itu aku bisa tersenyum saat ini. jika, tidak ada luka itu mungkin saat ini aku bukan seperti ini. maka, entah dengan alasan apa. aku ingin mengucapkan ucapan terimakasih pada jiwa-jiwa yang menoreh luka di hati ku. secara tidak langsung, mereka ikut andil dalam senyum ini. bukan aku yang bilang, tapi tuhan yang berbisik.
Sabtu, 26 Oktober 2013
Firasat
Bagas mengarahkan handycam yang ia
pegang ke arah wanita berparas oriental di hadapan nya itu. “Ih apaan sih
bagas!” ujar Keila ketus.
“Hayo marah! Lagi baca apaan sih lo?” tukas bagas, sambil terus mengarahkan handycam itu ke wajah Keila. Keila yang mulai jengkel akhirnya menutup buku yang sedang ia baca. “Bagas Norak ih!” dengus keila sambil mencoba merebut benda itu, tapi bagas tidak melepaskan dari tangan nya. malah mengarahkan nya ke wajahnya.
“Hello, gue bagas!” katanya di depan handycam, lalu mengarahkan nya ke wajah keila yang sedari tadi tersenyum geli melihat tingkah bagas. “Nah ini, namanya keila. Pendek ya dia.” Kata bagas, sambil menyorot Keila dengan handycam nya. Keila mendengus. “Rese lo.”
“Iya, dia pendek. Tapi gue cinta dia.”
tanpa di sadari, pipi keila yang putih pucat itu kini berubah warna menjadi semu kemerahan. Dia bahagia mendengar kalimat itu. setelah itu bagas meletakan benda itu di meja lalu kembali menatap keila. “Kalo gue gak gitu, lo malah terus pacaran sama buku-buku lo. Bukan gue.” Ucap bagas sambil mencubit hidung bangir milik Keila, Keila tersenyum geli. “Aduh, lo cemburu sama buku. Cieee.”
“Hayo marah! Lagi baca apaan sih lo?” tukas bagas, sambil terus mengarahkan handycam itu ke wajah Keila. Keila yang mulai jengkel akhirnya menutup buku yang sedang ia baca. “Bagas Norak ih!” dengus keila sambil mencoba merebut benda itu, tapi bagas tidak melepaskan dari tangan nya. malah mengarahkan nya ke wajahnya.
“Hello, gue bagas!” katanya di depan handycam, lalu mengarahkan nya ke wajah keila yang sedari tadi tersenyum geli melihat tingkah bagas. “Nah ini, namanya keila. Pendek ya dia.” Kata bagas, sambil menyorot Keila dengan handycam nya. Keila mendengus. “Rese lo.”
“Iya, dia pendek. Tapi gue cinta dia.”
tanpa di sadari, pipi keila yang putih pucat itu kini berubah warna menjadi semu kemerahan. Dia bahagia mendengar kalimat itu. setelah itu bagas meletakan benda itu di meja lalu kembali menatap keila. “Kalo gue gak gitu, lo malah terus pacaran sama buku-buku lo. Bukan gue.” Ucap bagas sambil mencubit hidung bangir milik Keila, Keila tersenyum geli. “Aduh, lo cemburu sama buku. Cieee.”
Kamis, 24 Oktober 2013
The Truth Never Say
Aku
menghembuskan nafasku pelan-pelan, setelah tadi jantungku berdegup tidak
karuan. Kamu perlahan berjalan menjauhiku, mataku tidak melepaskanmu sampai
jarak yang membuatmu menghilang. Padahal ini bukan pertamakali nya aku
berbicara denganmu tapi tetap saja, rasa aneh yang menggelitik perutku itu
masih tetap sama dengan waktu itu, saat aku pertama melihatmu di lapangan
basket. Dan bintangnya adalah kamu. Aku bahkan tidak sadar, selama berbicara
denganmu senyumku tak pernah hilang.
“Tata,
lo tau berita baru gak?” tiba-tiba risya menghampiri ku dengan nafas yang
terengah-engah. Aku yang sedang merapikan buku-buku ku hanya menjawab seadanya.
“Kenapa sya?”
“Tapi lo jangan kaget ya ta.”
“Hm.”
“Kak Niko jadian sama kak tasya. Nembaknya tadi di aula, sumpah dong romantis banget. Gue aja yang ngeliatnya merinding banget apalagi kak tasya yang ngerasain nya.”
“Tapi lo jangan kaget ya ta.”
“Hm.”
“Kak Niko jadian sama kak tasya. Nembaknya tadi di aula, sumpah dong romantis banget. Gue aja yang ngeliatnya merinding banget apalagi kak tasya yang ngerasain nya.”
Sabtu, 12 Oktober 2013
Senyum Risa
Dia meremas bahuku kencang sambil
mencoba menyembunyikan tangisnya di dadaku. Aku terus membelai puncak kepalanya
tanpa berkata sepatah katapun. Sebenarnya pada saat itu hati ku ikut hancur
juga, saat dia tiba-tiba datang dengan derai air mata dan langsung memelukku
tanpa mengatakan apa yang telah terjadi. Aku membiarkan dia memelukku dan
mengeluarkan semua air matanya untuk beberapa saat, aku hanya bisa ikut dalam
kesunyian nya. seperkian menit berikutnya dia melepaskan pelukan nya padaku, lalu
memberikan senyuman manisnya untuk ku.
“Kenapa?” tanyaku pendek, dia hanya
tersenyum. aku mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipi
tirusnya. “duduk sini.” Aku membiarkan nya duduk di kursi seadanya di teras
kost-an yang aku tempati.
“Mereka jadi pisah kak.” Aku merangkul pundaknya, tidak
banyak yang bisa aku lakukan untuknya. Masih ada batas-batas yang tidak boleh
aku sentuh di kehidupan pribadinya.
Minggu, 06 Oktober 2013
Dare To Dream
Carissa mengedarkan pandangan nya
keluar, mata sayu nya memandang putus asa guratan sendu tersirat jelas di
wajahnya. Dari balik jendela kamarnya ia melihat calista, kakak kembaran nya
yang di jemput oleh pacarnya. Ia iri, melihat kakak nya bisa sebebas itu.
berbeda dengan nya, berbeda dengan hidupnya. Sore itu, ia pergi ke taman
kompleks dekat rumahnya, seperti biasanya ia membawa perangkat lukis seadanya,
setidaknya hanya kegiatan ini lah yang carissa mampu dan senang menjalani nya.
“Sendirian?” tiba-tiba ada seorang
pemuda duduk di sampingnya, carissa jelas mengabaikan nya karena ia tidak suka
dengan orang asing. “hallooo...” panggilnya lagi, namun carissa tetap
mengabaikan nya. “Carissa!” Barulah carissa menoleh saat pemuda itu memanggil
namanya, alisnya berkerut samar.
“Gelang kamu.” Katanya, lalu carissa
melihat gelang yang ia pakai tertulis namanya. Carissa tersenyum, di ikuti oleh
pria itu. “Lukisan kamu bagus.”
“Oh iya namaku lukas. Salam kenal ya
carissa.” Kata lukas sambil mengulurkan tangan nya lalu carissa membalas uluran
tangan dari lukas, lalu tersenyum. Beberapa menit selanjutnya hanya terdengar
hembusan nafas mereka, diam-diam carissa merasa gugup bahkan ia bisa merasakan
dan mendengar degup jantungnya sendiri. Carissa berhenti melukis.
“Loh, kenapa berhenti?” tanya lukas.
Carissa mengeluarkan secarik kertas
lalu menuliskan kalimat disana. “kamu jangan ngeliatin aku kaya gitu.” Lukas
terdiam saat menerima kertas itu dari carissa, ia melihat wajah carissa,
goresan tuhan di hadapan nya ini seperti tidak ada cacat sedikitpun, parasnya
yang manis membuta siapapun yang melihatnya akan menoleh kembali. Namun ada
satu hal yang akhirnya lukas tau dari sosok carissa ini.
“kamu kaget ya? Aku emang tuna
wicara, kalo aku ngomong dengan bahasa isyarat pasti kamu gak ngerti deh.”
Lukas terkekeh pelan saat membaca kertas nya lagi.
“Bisa kok.” Ucap lukas mantap. Lalu
carissa mencoba berbicara dengan bahasanya, lukas menyimaknya namun tidak ada
satupun dari bahasa carissa yang ia mengerti.
“Aku ada ide, kita ngobrolnya lewat
kertas ini aja yuk.” Ajak lukas, carissa mengangguk senang. Setelahnya mereka
berdua ada dalam percakapan hening mereka lemat kertas-kertas itu. awalnya
carissa masih gugup namun seperkian detik berikutnya lukas membuat carissa
nyaman.
“Selain melukis mimpi kamu apa?”
tanya lukas, cepat, carissa membalasnya.
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Tidak ada satupun mimpi ku yang
akan menjadi nyata dengan keadaan ku seperti ini.”
Lukas menyimpan kertasnya dan
berhenti menuliskan balasan nya, ia memalingkan wajahnya dari carissa lalu
menyamdarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “kenapa?” tanya carissa dengan
kertasnya. Lukas menuliskan sesuatu diatas kertasnya tapi ia tidak beri pada
carissa.
“Kamu tahu gak carissa, aku paling
benci sama orang yang putus asa. Karena aku pernah jadi orang yang sangat putus
asa untuk hidup tapi aku sadar dengan putus asa, tidak akan menjadikan kita
menjadi sesuatu yang berharga dan dianggap ada” Kata lukas, carissa hanya
menatap lukas dengan tatapan sendu.
“Jangan kalah sama keadaan, punya
mimpi dan harapan tidak akan memberatkan hidup kok. Malah membuat kita jadi
lebih bersemangat untuk hidup, walaupun kita belum bisa menggapai mimpi kita,
setidaknya ada hal yang terus kita percayai. Believe in your dream.”
Carissa tersenyum, ia menggenggam
lengan lukas lalu mengangguk yakin. Orang asing ini mampu menghipnotis carissa.
Lukas membalas nya dengan senyuman, lalu tiba-tiba jam di pergelangan tangan
lukas berbunyi. Lukas mendesah malas. “aku harus pulang carissa, besok kita
ketemu lagi disini ya.” Ucap lukas, lalu ia berdiri dan meninggalkan carissa,
carissa pun ikut beranjak dengan tongkatnya.
***
Carissa terduduk lama di bangku
taman, kali ini ia menunggu seseorang untuk duduk di samping nya, iya, orang
itu lukas. Namun satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda kehadiran dari teman
barunya itu. yang ada hanyalah sekerumunan ibu-ibu muda yang sedang mengajak
bermain anaknya di taman. carissa mencoba untuk melukis hanya untuk sekedar
membunuh waktu saat menunggu kehadiran lukas. Waktu berlalu tanpa terasa,
kehadiran lukas pun akhirnya hanya harapan semu yang tak berujung nyata.
“Kasihan ya, padahal lukas itu anak
baik.”
“Iya bu, saya juga kaget semalam,
padahal yang saya tahu dia itu orang nya ramah banget. Anak baik emang di
sayang tuhan.”
“Iya, ya bu. Semoga aja lukas di
beri tempat yang indah di sisi tuhan.”
“Amin.”
Carissa merasakan dingin di sekujur
tubuhnya saat mendengar percakapan ibu ibu yang baru saja lewat di hadapan nya,
carissa yakin bukan lukas yang kemarin ia temui yang mereka maksud itu, tapi
entah kenapa rasa takutnya benar-benar nyata. Tiba-tiba ia teringat kemarin,
cara berpakaian Lukas memang sedikit aneh, awalnya ia berpikir lukas memakai
baju tidur ternyata ia baru sadar, kemarin Lukas memakai baju rumah sakit
santosa yang tidak jauh dari sini, ia tahu persis karena ia pernah memakainya.
tubuh Carissa tiba-tiba lemas, ia menyesal kenapa hanya sedikit kesempatan
untuk mengenal sosok yang memberinya semangat yang besar.
“Carissa, kakak cari-cari kamu aduh
kakak kira kemana. Mau ikut?” sosok calista kembaran nya, sudah berpangut dagu
berdiri dihadapan nya. carissa diam, pikiran nya melayang pada sosok yang baru
saja ia kenal.
“Hei, mau ikut gak? Ayo aku bantu
berdiri.” Lalu setelah itu calista membantu adiknya berdiri dengan memberikan
tongkatnya. “Kita pergi ngelayat, katanya anak temen nya mama meninggal,
katanya sih kanker. Stadium akhir. Ngeri ya.. eh bentar, nih kertas kamu
ketinggalan, carissa jangan ngelamun nih kertas kamu.”
“DARE TO DREAM.”
Tulisan itu membuat
senyum carissa tiba-tiba mengembang, ia yakin ini tulisan lukas yang kemarin.
Jumat, 04 Oktober 2013
Saat waktu melangkah terlalu cepat
Tidak
ada yang pernah ingin di tinggalkan, termasuk aku. munafik jika aku katakan aku
sudah tak mengingatnya lagi. Air mata ini memang sudah kering, senyum ini
memang sudah kembali. Tapi tidak dengan hatiku, berserakan entah dimana.
Berbicara tentang rindu, tidak ada
lagi yang aku rindukan selain sosok ayah. aku tahu, ini bukan saatnya lagi untuk
menuntut takdir dan keadaan, semuanya sudah berlalu. Ayah sudah pergi lebih
dari setahun yang lalu. Mungkin beliau sudah tersenyum di sana. Tapi, sayangnya
disini hati ku teriris ketika mendengarkan cerita-cerita mereka yang kerap kali
membanggakan ayahnya di depanku. Jujur, aku iri. Dulu, aku paling sering bercerita tentang apa
yang dilakukan oleh ayahku. Dia konyol, tapi ketegasan nya membuat aku segan. Tentang
kebiasaan yang sering kami lakukan, saat mencoba masakan ayah, saat dia memaksaku
untuk memakai baju pink dan masih banyak hal yang telah aku dan ayahku lewati.
Puncaknya, saat ulang tahunku
beberapa waktu yang lalu. Alasan aku membenci hari ulang tahunku adalah karena
ayah, karena ayah sudah tidak bisa lagi menjadi orang yang pertama yang
mengucapkan itu, ayah tidak lagi mencium kedua pipiku saat pagi di hari itu.
aku kecewa. Boleh kah?
Rabu, 02 Oktober 2013
Dua Wajah
“Aku akan hancurkan mereka satu per
satu.” Desis seorang wanita di tengah ruangan gelap dengan nada penuh dengan
emosi dan dendam. Lalu wanita itu menancapkan pisau tajam ke salah satu foto
yang sengaja ia tempel di dinding-dinding itu. seketika, ia tertawa penuh
kepuasan saat ia berhasil mencabik-cabik foto itu dengan tangan nya.
Kania namanya, ia menebarkan senyum
ke semua orang ia terkenal ramah dan baik di sekolahnya namun disudut yang lain
banyak juga orang yang sengaja mengejek dan menghina kania karena kondisi fisiknya
yang berbeda dari mereka, iya dua tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan parah
dan akibatnya kakinya pincang sampai saat ini jalan nya pun hampir
terseok-seok. Dalam hatinya sebenarnya ia menyimpan dendam kepada mereka,
diam-diam ia mencuri-curi untuk memfoto wajah-wajah yang menghina keadaan nya,
setelah itu ia sengaja menempel foto-foto hasil jepretan nya itu di paviliun
miliknya. Tidak ada satupun yang tau tentang hal ini, tentang obsesinya untuk
menjatuhkan mereka yang telah menjatuhkan nya juga. Bahkan lebih dari itu kania
ingin menghabisi mereka semua. Kania ingin..... membunuh mereka.
Ia memasukan sebuah pisau tajam ke
dalam tas sekolahnya, rencana nya hari ini ia dan sekumpulan kelompoknya akan
kerja kelompok niat kania adalah ingin menghabisi mereka satu persatu. Tiba-tiba
ia tertawa tapi seperkian detik berikutnya air matanya tak mampu lagi di
bendung.
“Kania?” cepat ia memasukan pisau itu
kedalam tasnya, lalu ia berbalik dengan senyum yang merekah.
“Iya, kenapa ta?” ucapnya dengan
nada seramah mungkin, tata teman nya menghampiri kania lalu dudukdi sampingnya.
“Ayok! Kita kan ada kerja kelompok
yang lain udah pada nunggu tuh di depan.” Ucap tata, sambil membenahi
barang-barang miliknya kania bangkit dari duduk nya lalu tata pergi
meninggalkan kania yang sedang berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok. Air di
kepala kania rupanya semakin mendidih.
***
“Dewi,
ikut ke toilet boleh?”
“oh
boleh kan, kamu lurus aja dari sini nanti belok kiri ya. Eh bentar buku fisika
kamu mana? Aku pengen nyalin dong.”
“oh
itu ada di tas, ambil aja.”
Lalu kania bangkit dan berjalan
menuju toilet dengan langkah lambat, ia sudah tidak sabar ingin meloloskan
rencananya itu. di toilet ia sedang menyiapkan mental dan keberanian dirinya
sendiri. Sementara di tempat yang sama teman-teman nya sedang berpelukan sambil
ketakutan saat dewi menemukan sebilah pisau tajam di tas kania yang di lapisi
oleh tisu tipis, dan di tisu itu nama mereka tertulis di sana.
“Astaga
ta, gimana ini? aku takut!!” bisik dewi, tita ikut meringkik sambil memeluk
dewi dan mila.
Sekembali
nya kania dari toilet serempak mereka berteriak histeris, kania yang baru saja
kembali itu bingung dengan teman-teman nya. “loh, kalian kenapa?”
“psycopat
lo! Lo mau bunuh kita kania? Kenapa?” teriak mila memberanikan diri kania
tertegun sesaat ia lupa nyawanya di mana. Kania berusaha bersikap sewajar
mungkin sambil mengambil pisau miliknya itu, mereka bertiga mundur perlahan
menjauhi kania.
“lo
mau tau? Rasain dulu nih jadi gue! Rasain gimana rasa nya di bully setiap hari
karena keadaan gue yang kaya gini!” ucap kania dengan penuh penekanan, dengan
jalan terseret kania menghampiri mereka.
Dewi memberanikan diri untuk mendekati
kania.
“kania
please, turunin pisau itu. kita bisa bicarain ini baik-baik. Kita bisa mulai
semuanya dari nol.” Dewi menghampiri kania, tapi kania malah mundur menjauh
malah dia yang balik ketakutan. Dewi akhirnya merebut paksa pisau itu. kania
berteriak histeris. Di belakang, tata dan mila saling merapatkan pelukan
mereka. Kini pisau itu sudah ada ditangan dewi, mereka tidak melihat dewi dan
kania. Mereka hanya mendengar teriakan dan sayup-sayup suara nafas yang
terengah. Beberapa menit kemudian mereka tidak lagi mendengar teriakan dari
dewi maupun kania. Selang beberapa menit kemudian, dewi kembali dengan senyuman
yang merekah.
“dewi
gimana kania?” tanya mila cemas, dewi malah tersenyum lebar.
“dia
sudah beres!” ucapnya sambil mengacungkan pisau yang penuh darah.
Kamis, 15 Agustus 2013
Konsep Tuhan Tentang Takdir
Beberapa hari ini ada banyak pertanyaan yang hilir mudik di
benak ku, tak satu pun bisa aku jawab. Aku mulai berteman lagi dengan
kesunyian. Aku adalah orang yang percaya
pada suatu konsep yang mereka sebut ‘sahabat’, dulu aku percaya tentang satu
hal itu. sahabat sejati. Aku merasa betapa bahagia nya aku memiliki mereka di
hidupku, namun akhir-akhir ini keyakinanku tentang itu perlahan musnah.
Waktu menerangkan semuanya sejelas-jelasnya.
Saat jarak memisahkan kita, awalnya aku menganggapnya biasa
saja dan akan tetap sama saat bertemu kembali, memang awalnya sama sekali tidak
ada yang berubah pertemuan kami sangat menyenangkan walaupun dalam kesunyian
sekalipun, walaupun saat bertemu aku lebih sering menggunakan nya untuk numpang
tidur saja karena waktu malamku selalu terjaga makanya aku selalu mengambil
kesempatan untuk tidur di siang hari dimanapun itu, karena kehadiran satu sama lain pun merupakan
emosional yang tak bisa tergambarkan,
aku senang saat bisa mendengar dua sahabatku saling bertukar pikiran atau
bahkan adu mulut yang berakhir pada candaan khas mereka.
Kini, semuanya berbeda.
Disini, ternyata hanya aku yang menginginkan mereka hadir
bahkan hanya untuk sekedar diam pun aku sudah mensyukurinya. Dengan 1-2-3
alasan dia menunda pertemuan kami, lagi, aku memakluminya karena aku mengerti
dengan kesibukan mereka. Aku bukan orang yang mudah mengatakan rindu sayang
atau apapun itu.. tapi saat aku berucap aku bersumpah itu yang sebenarnya. Saat
aku mengatakan nya, mereka mengeluarkan lelucon yang sama sekali sudah tidak
lucu lagi untuk ku. Perlahan namun terasa begitu cepat, kami benar-benar telah
menemukan jalan nya masing-masing, aku kembali menjadi seorang perempuan yang banyak
diam namun memiliki obsesi tingkat akut pada bau-bau kertas lama atau kertas
baru di novel dengan nuansa klasik seperti tipis dengan warna yang menguning.
Mereka mungkin juga sudah menemukan obsesi nya masing-masing yang tak perlu
lagi di bagi.
Aku sedang duduk di salah satu sofa mini bernuansa eropa klasik
di salah satu cafe yang menurutku sangat unik. ‘You Can’t Find Us’ nama cafe yang benar-benar membuatku memutar
otak, tapi sekarang tak perlu lagi karena aku sudah menjadi salah satu
pengunjung tetap disini. Seperti namanya, cafe ini memang susah di temukan bagi
orang yang belum pernah kesini dan sengaja mencari nya, karena cafe ini
terletak di belakang dua gedung pencakar langit di pusat kota, awalnya cafe ini
bernama ‘The Blues Cafe’ namun karena
pemiliknya telah merasa pesimistis dengan posisi cafenya yang telah tertutup
oleh dua gedung dan berakhir di gang-gang kecil akhirnya ia menamakan nya
dengan nama unik itu, namun siapa sangka yang pernah masuk kesini adalah orang
yang akan selalu menjadi pengunjung tetap seperti aku ini, pertama kali aku masuk
saat itu, saat tidak sengaja berjalan untuk mencari tempat berteduh namun ada
satu bangunan yang sangat mencuri perhatianku, ternyata itu sebuah cafe saat
aku masuk di meja bartender nya tertulis. ‘Hi,
congrats! You find us’ aku tersenyum melihat segala keunikan di tempat ini,
interior ruangan nya bernuansa klasik, para bartender nya pun memakai pakaian
bergaya vintage yang seperti di ajak ke era 60-an saat masuk kesini.
Hari ini aku duduk sendirian, gigi ku bergemeletuk
kedinginan karena cuaca akhir-akhir ini sangat menyebalkan aku sendiri tidak
bisa menghindari flu yang tiba-tiba menyerang, tangan ku menggenggam secangkir mochaccino lengkap dengan whipped cream di atasnya, belum aku
minum sedikitpun aku menggenggamnya untuk merasakan atmosfer hangat agar di
rasakan tubuhku. Aku duduk di paling sudut dekat jendela, di luar sana ada rel
kereta api yang sudah lama sekali di tinggalkan, aneh tapi aku menikmati
pemandangan ini.
Aku bukan orang yang
mudah kenal dengan orang asing aku juga bukan orang yang nyaman dengan
pertanyaan basa-basi. tapi aku nyaman duduk berlama-lama disini, aku menemukan
ruang pribadiku di antara orang asing, aku menikmatinya, duduk sendiri dengan
secangkir minuman sambil melihat keluar jendela. Aku menyesap mochaccino milik
ku dengan tenang namun flu ku semakin
parah saja, aku berkali-kali bersin.
Tiba-tiba ada satu lembar tisu tepat di depan mataku. “lo
butuh ini.” aku pun mengambilnya dengan seulas senyum dan berbalas terimakasih,
dia sama sekali tidak beranjak dari tempat berdirinya, aku mulai risih. Namun
akhirnya dia meminta ijin untuk duduk di meja ini, tepat di sofa kosong depan
ku, aku mengiyakan nya dengan sedikit berat hati.
“Sendirian?” tanya
nya, aku mengangguk. Tak ada senyum, aku sibuk dengan bersin-bersin ku, dia buru-buru
merogoh sakunya, dan memberikan sebungkus tisu miliknya untuk ku. “kayanya lo
lebih butuh ini deh.” Aku mengangguk lalu mengambil tisu nya itu. kali ini, aku
lupa bahwa di hadapanku ini adalah orang asing, aku melupakan nya karena aku
lebih membutuhkan tisu ini.
“Gue selalu bawa tisu
kemana-mana bukan centil atau apa, telapak tangan gue selalu keringetan tanpa
ampun, keringetnya kadang ganggu banget. biasanya gue bawa sapu tangan tapi semuanya
lagi di cuci.” Dia membuka percakapan tanpa ada sedikitpun nada canggung
seperti seorang teman lama yang bertemu. Eh.
“Sama. Telapak tangan gue juga suka keringetan, Nih sapu
tangan gue juga basa kuyup bekas tadi keujanan.” Kataku sambil menunjukan sapu
tanganku yang sudah benar-benar basah karena kehujanan tadi, sial aku malah
terjebak pembicaraan dengan orang asing ini. lama kelamaan aku merasa nyaman
dengan pembicaraan dengan orang asing ini, aku mempunyai banyak kesamaan dengan
nya dari mulai telapak tangan yang selalu berkeringat, selera musik yang aneh,
juga tak pernah membawa orang lain ke cafe ini karena menurutnya ia bisa
menemukan ruang pribadinya di sini, sama persis dengan ku. Dan yang paling
penting adalah dia juga terobsesi dengan bau kertas dari novel-novel lama.
“Ada ritual tersendiri sebelum mulai baca novel, kaya peluk
dulu novelnya terus, mentwist halaman demi halaman nya, Cuma buat buktiin bau
kertas nya aja.” Dia tertawa tanpa menyela sedikitpun. Karena apa yang di
lakukan olehku dilakukan juga olehnya walaupun bacaan kami berbeda. Dia penyuka
novel-novel thriller, crime, historical dan fantasy sementara aku penikmat
berat novel-novel romance bergaya young-adult, science fiction, dan drama.
Aku mengatakan nya seperti tanpa ada canggung, aneh.
Percakapan tak sampai disitu, aku jadi terbawa suasana
nyaman. Atmosfer luar yang dingin memaksa kami untuk bertahan di dalam
sebenarnya tanpa ada niat untuk beranjak sampai pagi menjelang. Pria ini
bergaya asal-asalan namun tetap terlihat menarik di mataku, kemeja yang tidak
ia kancing di baliknya ada kaus putih, dengan celana jeans yang di bagian
lututnya ada sedikit robek-robek, juga sepatu kumal seperti belum pernah di
cuci sejak pertama kali membeli, berakhir dengan tas ransel army satu-satunya
yang agak kelihatan masih layak di pakai.
Saat minuman kami telah hampir habis percakapan kami pun
perlahan menguap ke permukaan, di akhir percakapan kami baru saling memberi
tahu nama masing-masing.
“Dion.”
“Dina.”
Kami saling bertatapan sesaat lalu tertawa, bukan hanya itu
ternyata nama kami juga sama-sama di awali dengan huruf D.
“Tadinya, gue mau minta nomor hp lo, tapi gak usah deh. Kalo
kita ketemu lagi disini, lo janji kita harus benar-benar saling kenal.” Ucapnya
sambil beranjak membawa ransel, aku tersenyum sambil mengangguk. “Percaya
takdir kan?” aku mengangguk, tentu saja.
Malam itu dia lebih dulu keluar dari cafe, di ikuti oleh ku
beberapa menit kemudian. Kadang aku benar-benar tidak mengerti tentang konsep
takdir yang tuhan ciptakan.
Kadang Orang yang lo anggap sahabat bisa tiba-tiba menjadi orang asing dan orang asing bisa tiba-tiba menjadi seperti sahabat sendiri, tidak perlu di pahami, itu konsep tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)