Dia meremas bahuku kencang sambil
mencoba menyembunyikan tangisnya di dadaku. Aku terus membelai puncak kepalanya
tanpa berkata sepatah katapun. Sebenarnya pada saat itu hati ku ikut hancur
juga, saat dia tiba-tiba datang dengan derai air mata dan langsung memelukku
tanpa mengatakan apa yang telah terjadi. Aku membiarkan dia memelukku dan
mengeluarkan semua air matanya untuk beberapa saat, aku hanya bisa ikut dalam
kesunyian nya. seperkian menit berikutnya dia melepaskan pelukan nya padaku, lalu
memberikan senyuman manisnya untuk ku.
“Kenapa?” tanyaku pendek, dia hanya
tersenyum. aku mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipi
tirusnya. “duduk sini.” Aku membiarkan nya duduk di kursi seadanya di teras
kost-an yang aku tempati.
“Mereka jadi pisah kak.” Aku merangkul pundaknya, tidak
banyak yang bisa aku lakukan untuknya. Masih ada batas-batas yang tidak boleh
aku sentuh di kehidupan pribadinya.
“ada banyak yang belum kita tahu
tentang hidup, mungkin ini titik pendewasaan kamu ris.”
“mereka boleh pergi, tapi kakak
harus tetap disini ya sama aku.” Aku tahu saat ini batin nya sedang
terguncang, kenyataan memang tidak mudah diterima begitu juga dengan keadaan
semuanya butuh proses. Aku tahu betul itu.
“tentu.” Kataku pendek, lalu
membiarkan dia menyandar di bahu ku.
Risa. Gadis pertama yang aku kagumi
setelah itu aku mencintainya entah sejak kapan. Lewat gadis ini aku jadi tahu segala resah wanita di balik
senyum termanisnya yang diumbar sepanjang hari. Dia sangat bisa ceria sepanjang
hari di depan semua orang tapi di hadapanku dia tidak bisa menyembunyikan
apapun, termasuk tangisnya. Banyak yang mengagumi risa, setau mereka hidup risa
lah yang paling sempurna. Namun, lewat dia ada banyak hal yang bisa ku pahami.
ternyata harta tak akan membawa kita kemana-mana. Orang tuanya berpisah, di
ganti dengan uang seberapa besarnya pun tidak akan bisa menggantikan apa yang
telah hilang. Termasuk kasih sayang orang tua nya.
“Kak.”
“iya.”
“aku cinta sama kakak.”
“Iya tahu.” Risa mengangkat kepalanya dari bahu
ku, lalu dia menatapku dengan tatapan jahil. “Ehm, aku tahu nih, yang cinta Cuma
aku doang kan kak?”
“Gak perlu banyak diungkapkan, kamu
tahu sendiri jawabannya.”
Setelah itu dia langsung memeluk
tubuhku erat, aku tidak tahu. Mungkin ini caranya, caranya untuk mengurangi
beban yang ada di pikiran nya, mungkin dengan cara seperti ini dia merasa bisa
lebih tenang. Dengan bersamaku.
“Dengerin ris, kamu hanya boleh
nangis di depan kakak. Kamu boleh sepuasnya nangis Cuma di depan kakak. Di depan
orang lain kamu harus senyum, tunjukin kalau hidup kamu itu memang sempurna.”
“you
know as well i always try like that.”
Awalnya dia mengeluh sampai menangis
tapi tetap diakhir itu dia selalu tersenyum, dia memang tidak mendapat jawaban
terbaiknya namun dia tahu bagaimana harus menjalaninya. Lewat dia aku tahu,
sebesar apapun beban yang sedang dipikulnya sadar ataupun tidak, dengan senyum
akan membuat semuanya menjadi lebih ringan. Itu hipotesis ku tentang risa,
gadisku!
aku pun tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya. "Iya ris, kakak sayang sama kamu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar