Sabtu, 12 Oktober 2013

Senyum Risa


            Dia meremas bahuku kencang sambil mencoba menyembunyikan tangisnya di dadaku. Aku terus membelai puncak kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Sebenarnya pada saat itu hati ku ikut hancur juga, saat dia tiba-tiba datang dengan derai air mata dan langsung memelukku tanpa mengatakan apa yang telah terjadi. Aku membiarkan dia memelukku dan mengeluarkan semua air matanya untuk beberapa saat, aku hanya bisa ikut dalam kesunyian nya. seperkian menit berikutnya dia melepaskan pelukan nya padaku, lalu memberikan senyuman manisnya untuk ku.

            “Kenapa?” tanyaku pendek, dia hanya tersenyum. aku mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipi tirusnya. “duduk sini.” Aku membiarkan nya duduk di kursi seadanya di teras kost-an yang aku tempati. 
 
            “Mereka jadi pisah kak.” Aku merangkul pundaknya, tidak banyak yang bisa aku lakukan untuknya. Masih ada batas-batas yang tidak boleh aku sentuh di kehidupan pribadinya. 
 
            “ada banyak yang belum kita tahu tentang hidup, mungkin ini titik pendewasaan kamu ris.”

            “mereka boleh pergi, tapi kakak harus tetap disini ya sama aku.” Aku tahu saat ini batin nya sedang terguncang, kenyataan memang tidak mudah diterima begitu juga dengan keadaan semuanya butuh proses. Aku tahu betul itu. 
 
            “tentu.” Kataku pendek, lalu membiarkan dia menyandar di bahu ku.

            Risa. Gadis pertama yang aku kagumi setelah itu aku mencintainya entah sejak kapan. Lewat gadis  ini aku jadi tahu segala resah wanita di balik senyum termanisnya yang diumbar sepanjang hari. Dia sangat bisa ceria sepanjang hari di depan semua orang tapi di hadapanku dia tidak bisa menyembunyikan apapun, termasuk tangisnya. Banyak yang mengagumi risa, setau mereka hidup risa lah yang paling sempurna. Namun, lewat dia ada banyak hal yang bisa ku pahami. ternyata harta tak akan membawa kita kemana-mana. Orang tuanya berpisah, di ganti dengan uang seberapa besarnya pun tidak akan bisa menggantikan apa yang telah hilang. Termasuk kasih sayang orang tua nya.  
            “Kak.”

            “iya.”

            “aku cinta sama kakak.”

            “Iya tahu.” Risa mengangkat kepalanya dari bahu ku, lalu dia menatapku dengan tatapan jahil. “Ehm, aku tahu nih, yang cinta Cuma aku doang kan kak?”
 
            “Gak perlu banyak diungkapkan, kamu tahu sendiri jawabannya.” 

            Setelah itu dia langsung memeluk tubuhku erat, aku tidak tahu. Mungkin ini caranya, caranya untuk mengurangi beban yang ada di pikiran nya, mungkin dengan cara seperti ini dia merasa bisa lebih tenang. Dengan bersamaku. 

            “Dengerin ris, kamu hanya boleh nangis di depan kakak. Kamu boleh sepuasnya nangis Cuma di depan kakak. Di depan orang lain kamu harus senyum, tunjukin kalau hidup kamu itu memang sempurna.” 

            you know as well i always try like that.”

            Awalnya dia mengeluh sampai menangis tapi tetap diakhir itu dia selalu tersenyum, dia memang tidak mendapat jawaban terbaiknya namun dia tahu bagaimana harus menjalaninya. Lewat dia aku tahu, sebesar apapun beban yang sedang dipikulnya sadar ataupun tidak, dengan senyum akan membuat semuanya menjadi lebih ringan. Itu hipotesis ku tentang risa, gadisku! 

 aku pun tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya. "Iya ris, kakak sayang sama kamu."
         


             
             
           

           
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar