Jumat, 25 Januari 2019

Kamu berhak pergi.

Terima kasih, telah berkenan untuk singgah walau terasa tak terkesan rasa yang sungguh. Banyak hal yang ingin aku ceritakan, tentang keraguan yang menepi pelan-pelan, tentang ego yang berusaha aku kikis perlahan. Tepat saat aku berhasil melaluinya, kamu pergi.

Pergi, dengan banyak kejanggalan. Tentu saja, tentu kamu bebas memilih untuk tinggal ataupun pergi. Tapi, bisakah lebih baik dari ini? Bisakah aku memperjelas semuanya? Meskipun kata adalah usang, setidaknya aku ingin mencobanya.

Aku sadar betul, kamu pergi karena mungkin kamu terlalu muak dengan tingkahku yang angkuh. Kamu muak dengan ego yang selalu aku agung-agungkan sementara kamu mengikuti arahku kemana aku pergi. Kamu juga berhak mengambil sikap, tentu saja.

Tapi andaikan aku bisa meminta maaf padamu, akan aku jelaskan semuanya. Maaf karena kita saling mengenal disaat yang tidak tepat, maaf karena kamu melihat sisi paling buruk dari diriku. Saat itu, berbicara tentang rasa sungguh terlalu omong kosong untukku ketika hidupku sudah seperti hampir berakhir di kerongkongan. Benar, kamu mengenalku disaat-saat itu,  waktu di mana kematian rasanya begitu ingin aku raih, waktu di mana aku benci semua orang. Maaf karena tidak bisa terus terang tentang apa yang ku hadapi saat itu,  aku terlalu takut, aku terlalu takut bahwa kita benar-benar rapuh terhadap waktu dan kamu pergi. Tapi pada akhirnya kamu tetap pergi juga, walaupun entah apa alasan yang pasti.

Saat ini, boleh kamu katakan bahwa semua kata yang kuyakini berbalik semua padaku. Benar, aku menyukaimu meskipun berusaha aku sangkal dengan sejuta logika. Tapi, aku kalah. Tidak apa-apa, kamu berhak pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar