Cahaya di langit semakin berwarna-warni sementara Artha mendesah kesal di
dalam busway, berkali-kali ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan
tangan nya bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Ia merutuk dirinya
sendiri mana mungkin di hari mungkin
saat ini ia sudah berdiri di antara teman-teman nya, oke baiklah sebenarnya
mandinya juga yang terlalu lama dan waktu untuk memoles wajahnya yang sebenarnya
tidak merubah apapun. Artha semakin merutuk dirinya sendiri dengan
mengetuk-ngetuk kening nya sendiri dengan kesal.
“Ta, dimana? Jadi gak rayain
new years eve di sekolah? Telat banget, ini acara udah mulai. Cepetan.”
Artha
mengabaikan satu pesan masuk yang datang dari sahabatnya, Riska. ia mulai
membenah diri lagi, melihat pantulan wajahnya di cermin sama sekali tidak
kelihatan kalau dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja rias,
tetap saja rambut ikal nya terlihat lepek dan hampir gimbal. Astaga.
Dengan cepat dan tergesa-gesa Artha turun dari busway, setelah nya ia lari
dengan tenaga seadanya. Ia memang bukan cinderella yang akan berubah menjadi
upik abu pukul dua belas tapi masa iya ia datang terlambat di malam pergantian
tahun. Waktu sudah menunjukan hampir pukul dua belas malam dalam hitungan
menit, Artha terus menerobos trotoar yang mendadak penuh dengan lautan manusia.
“Permisi, permisi bu.” Ucap artha sambil berusaha keluar dari kerumunan
manusia itu. Tiba-tiba teriakan sekumpulan orang di sekelilingnya berhasil
mendistorsi telinga nya. “9... 8... 7... 6... 5...” orang-orang di sekitarnya
sudah mulai menghitung mundur waktu pergantian tahun membuat artha semakin
geram, sebenarnya jarak sekolah nya dari sini tidak begitu jauh. Namun saat ia
terus berusaha menerobos lautan manusia itu tiba-tiba ia di hadapkan dengan
sebiah parade Marching Band di depan
nya.
“Astaga, apalagi ini. Ya ampun..” keluh artha hampir kehilangan kesabaran,
akhirnya ia menunggu sampai rombongan Marching
band itu habis. Akhirnya, Artha telah berdiri di depan gerbang sekolahnya.
Tanpa menunggu apapun lagi, Artha masuk ke sekolahnya yang telah di sulap
sebagai tempat perayaan tahun baru yang sangat meriah. Mata artha terus
menyusuri tiap orang yang ada di situ sampai ia menemukan sahabatnya yang
sedang berdiri sendiri berada cukup jauh dari kerumunan orang.
“Hai Ris.” Ucap Artha, sambil masih
terengah-engah dengan nafasnya, riska sahabatnya menoleh ke arah Artha dan
mendesah panjang.
“Kamu
ta, bisa gak sih di acara sepenting ini kamu gak ngaret.” Gerutu riska, artha
langsung memeluk sahabatnya itu. “Iya, maafin aku ya ris. Tadi itu...”
“Udahlah,
gak usah di jelasin. Aku udah tau kok, pasti jawaban kamu gini. Aduh ris, maaf
tadi itu air PAM di rumah aku macet banget ditambah lagi di jalan nya macet
juga.” Ucap riska menyela perkataan Artha, Artha kontan saja langsung nyengir
sambil memamerkan deretan gigi putih nya.
“Maafin
ya, riska baik deh cantik. Tapi emang bener kok tadi itu air PAM di rumah aku
emang macet, terus...”
“Stop.
Artha. Oke, aku maafin. Sekarang kita harus puasin malem ini yang tinggal
beberapa jam lagi. Ayo ikut.” Setelah membekap mulut Artha, riska menarik
lengan artha dan mengajaknya beridiri tepat di depan panggung yang sedang
dikuasai oleh The Lost band, band sekolah yang hampir jadi artis saking
seringnya manggung. Iya, masih hampir sih. Belum beberapa menit mereka berdiri
di depan panggung, Riska sudah tenggalam oleh musik yang sedang di bawakan oleh
The Lost band itu. Sementara Artha, tidak bisa sepenuhnya menikmati konser. Ia
sibuk mencari seseorang di antara kelilingan manusia itu.
“Nyari siapa ta?” teriak riska yang berusaha mengalahkan kerasnya suara
sound.
“Kak
Erik, ris. Kira-kira dia dateng gak yah?” balas Artha.
“Oh,
dateng ta. Dia nyari kamu tuh dari tadi. Katanya sih mau pamit.” Teriak Riska,
sambil jingkrak-jingkrak menikmati musik. Tapi artha tiba-tiba membeku. Pamit?
“ya
udah, aku cari kak erik dulu ya ris.”
Tanpa menunggu
jawaban dari riska, artha keluar dari orang-orang yang sedang terhipnotis oleh
band yang ‘hampir’ jadi artis itu. Riska menatap artha yang keluar dari area
konser kecil-kecilan itu, lalu mengangkat bahu nya dan melanjutkan kembali
menikmati the lost band.
Artha
terus mencari-cari sosok Erik itu, suasana sekolahnya memang mendadak jadi
ramai sekali setiap satu meter ada stan yang menjual aneka makanan dan yang
menjaganya adalah siswa perwakilan dari Ekskul di sekolahnya. Sambil
memperhatikan setiap penjaga stan artha terus mencari sosok Erik, bisa saja kan
Erik jadi salah satu penjaga stan itu. Tiba-tiba ia melihat stan Ice Cream.
Artha langsung menggigit jarinya, ia adalah pecinta Ice Cream yang sangat
maniak dan kemungkinan nya sangat kecil kalau dia bisa menahan hasratnya
itu.
“oke, beli Ice Cream kan bentar.”
Celetuk Artha –lebih pada dirinya sendiri, seperkian detik berikutnya ia sudah
berdiri di depan stan Ice Cream itu.
“eh kak Artha,
kakak cantik malam ini, oh iya mau apa kak?” tanya penjaga stan yang ternyata
adik kelasnya yang selama ini terus mengganggu artha, karena adik kelasnya itu
menyukainya. Artha jadi malas untuk membelinya, tapi ia juga tak bisa menahan
keinginan nya. Akhirnya ia mengalah dan membuat senyuman palsu untuk adik kelas
menyebalkan ini.
“Eh,
roni. Ice Cream Vanilla dong. Cepet yah.” Ucap arta berusaha semanis mungkin.
“Siap
deh kak.” Jawab roni sambil mengedipkan matanya pada artha, artha bergidik
geli. Tapi untungnya benar saja, tak lama Ice cream yang ia pesan sudah jadi.
“Wow,
cepet banget. Berapa ron?”
“Gratis dong buat kak Artha.”
“Ah, bohong. Serius nih ron?”
tanya artha sambil senyum senyum.
“serius.” Jawab roni, senyuman
artha semakin mengembang.
“Ya
udah deh, makasih ya.” Ucap artha sambil melangkah pergi dari stan ice cream
milik roni itu.
“Kak artha, sms aku bales ya.”
Teriak roni dari jauh, artha mengacungkan jempol nya ke atas. Perhatian nya
kini terpusat pada ice cream nya itu.
***
“Artha.” Langkah artha terhenti, ia
mendongakan kepalanya. Ice cream membuatnya lupa tujuan awal ia berjalan-jalan
sendiri. Sampai sosok itu kini berdiri di hadapan nya.
“Hai. Kak erik.” Artha tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya itu,
akhirnya ia terlihat sangat konyol di depan sosok erik itu ditambah sekitar
bibirnya berhasil berantakan dengan ice cream. Erik mendecak pelan sambil
menggelengkan kepalanya.
“Dari
mana aja? Kakak tungguin dari tadi.”
“Baru dateng kak, maafin.”
“Ngaret lagi?” tanya erik sambil mengangkat satu
alis nya. yang membuatnya terlihat keren
“Iya nih kak. aduh maaf ya
kak.” Kata artha semakin kikuk.
“Ya udah gak apa-apa. Ikut
kakak yuk, ada yang mau kakak omongin sama kamu.”
Artha bergeming saat tiba-tiba lengan erik menggenggam pergelangan tangan nya, sambil sibuk dengan ice cream nya artha berusaha mengikuti langkah erik dari belakang yang membawanya ke tempat yang
cukup jauh dari keramaian pesta perayaan tahun baru di sekolahnya itu. Erik berhenti saat menemukan
kursi di ikuti oleh artha lalu duduk di kursi masing-masing. Mereka telah duduk
bersebelahan namun konsentrasi artha sepenuhnya ada di ice cream vanilla
miliknya itu, erik hanya bisa memandanginya dengan gemas.
“mau ngomong
apa kak?” tanya artha, erik hanya tersenyum sambil memberikan tissu untuk
artha.
“Nih
tissu. Abisin dulu aja ice cream nya.” Ucap erik, artha hanya membalasnya
dengan senyum sambil mengambil tissu yang di berikan erik. Beberapa menit
kemudian akhirnya ice cream artha habis, dan artha mulai menoleh ke arah erik.
“Oke
kak, jadi ada apa nih?” ucap artha, erik menoleh ke arah gadis berambut ikal
itu.
“udah
makan ice cream nya ta?” tanya erik sambil tersenyum, artha mengangguk sambil
nyengir kuda.
“Hm,
jadi gini ta. Mungkin semester depan pas masuk sekolah kakak udah gak lagi
sekolah di sini, kakak pindah ke luar kota.” Erik bicara dengan hati-hati tanpa
ada penekanan sedikitpun, tiba-tiba air muka di wajah artha berubah 180 derajat
pesona ice cream yang membawa kegembiraan mendadak lenyap.
“tiga
jam lagi kakak harus udah berangkat.” Lanjut erik sambil melihat jam di
pergelangan tangan nya. Artha tidak menjawab apa-apa, malah air matanya yang
berbicara. Artha menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Artha,
jangan nangis dong. Kakak kan bisa main pas liburan terus ketemu kamu.” Ucap
erik berusaha menenangkan artha yang mulai menangis terisak. Erik mengangkat
dagu artha.
“Jangan nangis ya, ayo senyum buat kakak.” Akhirnya artha
memaksakan senyum untuk erik.
“bagus, anak pinter.” Kata erik sambil mengacak
poni artha pelan.
“janji
ya kak, kakak dateng buat artha.”
“janji
deh buat artha.” Erik tersenyum sambil menatap wajah Artha dalam.
Malam itu berjalan tidak sesuai
dengan rencana yang ada di otak nya artha karena ia tahu kakak kelas yang sudah
lama ia sukai ternyata harus tiba-tiba pindah sekolah padahal ia belum
mengenalnya terlalu lama. Hari-hari setelahnya pun terasa sangat hambar karena
ia tidak bisa lagi melihat erik melatih basket di sekolah.
***
“Mamaaaaa... Air PAM nya macet lagi.”
Sepertinya predikat Miss Ngaret untuk nya memang sangat melekat dan tidak
pernah hilang. Padahal niatnya hari ini Artha tidak ingin terlambat walau hanya
satu menit. Tapi harapan itu pun mencelos begitu saja saat alasan yang sama
lagi-lagi akan membuatnya datang terlambat. Tadi pagi, Artha hampir jatuh dari
tempat tidur saat membaca pesan masuk dari erik, yang selama ini sunyi senyap
tanpa kabar. Tidak ada lagi alasan menunggu nyawanya kumpul untuk beranjak dari
tempat tidur saat itu juga dengan riang, ia mengambil handuk untuk bersiap-siap
bertemu dengan erik.
Sender : Kak Erik (My Future)
“Hai artha, apa kabar? gak kerasa udah 6 bulan aja nih kita
jauhan. hari ini ada acara gak? Kakak tunggu di alun-alun kota yah, kakak
teraktir ice cream deh."