Senin, 21 April 2014

Surat Untuk Ayah - Haruskah kau tergantikan?

Ayah,
Hari ini perasaanku campur aduk, menangis hanya membuatku lemah, aku tahu itu tapi ayah aku melanggar perintahmu, saat ini aku menangis. Untuk satu alasan sekaligus pertanyaan, haruskah kau tergantikan, ayah? Haruskah ada sosok lain di samping ibu? Pertanyaan itu akhir-akhir ini menghantui dan bersarang di pikiranku.

        Jika aku boleh menjawab, Jawabanku saat ini, jelas tidak, aku tidak ingin sampai kapanpun itu. Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mempertahankan jawabanku ini. Ini tidak semudah yang aku bayangkan, aku pikir tidak akan ada yang menggantikanmu di sisi ibu. Aku pikir begitu. Tapi, yah. Kenyataan berkata lain, aku harus menerima banyak sosok yang mencoba menggantikan posisi mu silih berganti mereka datang sekejap lalu pergi lagi, dan kau tahu alasan mereka pergi? AKU. Aku adalah alasan mengapa mereka pergi, aku tak pernah menerima satupun diantara mereka aku tutup rapat-rapat mulutku bahkan hanya untuk menyapa. Tersenyum? Apalagi. Terlalu sakit. Katakan saja aku ini egois, namun pertanyaan lain kembali datang di pikiranku. ‘Sampai kapan ibu sendirian?’

        Lagi, Katakan saja aku ini egois. Aku tidak ingin cinta ibu berkurang sedikitpun untukmu ayah, tapi ini bukan lagi tentang cinta, aku yakin ibu akan mencintai mu sampai kapan pun. Iya kan yah?  Ini tentang siapa yang akan menemani ibu saat aku pergi. Ini tentang teman hidup untuk ibu setelah aku pergi. Aku tidak bisa menyalahkan ibu atau takdir atau apapun itu. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun saat ini kan yah?

        Suatu saat yang pergi pasti di lupakan. Tapi itu tidak akan pernah terjadi ayah, bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? kau tidak akan pernah aku lupakan. Tapi lagi lagi aku bertanya, haruskah kau tergantikan?

         Tolong ayah, malam ini saja kau datang di mimpiku berikan pesan untuk ku, kuatkan aku. Kehidupan setelah kau pergi rasanya sangat berat melelahkan. Aku semakin sulit mempercayai siapapun. Ayah, Haruskah kau tergantikan?

        Sekeras apapun aku mencoba untuk bersikap dewasa, aku tetap tidak bisa. Aku bohong, aku belum bisa bersikap dewasa, Aku egois, ayah.
 ayah, tolong aku. Katakan, berikan pesan dalam bentuk apapun itu.
Haruskah kau tergantikan?

Senin,
22 April 2014, 00:13 WIB. Sudut kamar paling sunyi.



Rabu, 09 April 2014

Miss Ngaret


Cahaya di langit semakin berwarna-warni sementara Artha mendesah kesal di dalam busway, berkali-kali ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Ia merutuk dirinya sendiri mana mungkin di hari   mungkin saat ini ia sudah berdiri di antara teman-teman nya, oke baiklah sebenarnya mandinya juga yang terlalu lama dan waktu untuk memoles wajahnya yang sebenarnya tidak merubah apapun. Artha semakin merutuk dirinya sendiri dengan mengetuk-ngetuk kening nya sendiri dengan kesal.

 “Ta, dimana? Jadi gak rayain new years eve di sekolah? Telat banget, ini acara udah mulai. Cepetan.”
        Artha mengabaikan satu pesan masuk yang datang dari sahabatnya, Riska. ia mulai membenah diri lagi, melihat pantulan wajahnya di cermin sama sekali tidak kelihatan kalau dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja rias, tetap saja rambut ikal nya terlihat lepek dan hampir gimbal. Astaga.

Dengan cepat dan tergesa-gesa Artha turun dari busway, setelah nya ia lari dengan tenaga seadanya. Ia memang bukan cinderella yang akan berubah menjadi upik abu pukul dua belas tapi masa iya ia datang terlambat di malam pergantian tahun. Waktu sudah menunjukan hampir pukul dua belas malam dalam hitungan menit, Artha terus menerobos trotoar yang mendadak penuh dengan lautan manusia. 

“Permisi, permisi bu.” Ucap artha sambil berusaha keluar dari kerumunan manusia itu. Tiba-tiba teriakan sekumpulan orang di sekelilingnya berhasil mendistorsi telinga nya. “9... 8... 7... 6... 5...” orang-orang di sekitarnya sudah mulai menghitung mundur waktu pergantian tahun membuat artha semakin geram, sebenarnya jarak sekolah nya dari sini tidak begitu jauh. Namun saat ia terus berusaha menerobos lautan manusia itu tiba-tiba ia di hadapkan dengan sebiah parade Marching Band di depan nya. 

“Astaga, apalagi ini. Ya ampun..” keluh artha hampir kehilangan kesabaran, akhirnya ia menunggu sampai rombongan Marching band itu habis. Akhirnya, Artha telah berdiri di depan gerbang sekolahnya. Tanpa menunggu apapun lagi, Artha masuk ke sekolahnya yang telah di sulap sebagai tempat perayaan tahun baru yang sangat meriah. Mata artha terus menyusuri tiap orang yang ada di situ sampai ia menemukan sahabatnya yang sedang berdiri sendiri berada cukup jauh dari kerumunan orang. 

            “Hai Ris.” Ucap Artha, sambil masih terengah-engah dengan nafasnya, riska sahabatnya menoleh ke arah Artha dan mendesah panjang.   
        
         “Kamu ta, bisa gak sih di acara sepenting ini kamu gak ngaret.” Gerutu riska, artha langsung memeluk sahabatnya itu. “Iya, maafin aku ya ris. Tadi itu...”   
 
            “Udahlah, gak usah di jelasin. Aku udah tau kok, pasti jawaban kamu gini. Aduh ris, maaf tadi itu air PAM di rumah aku macet banget ditambah lagi di jalan nya macet juga.” Ucap riska menyela perkataan Artha, Artha kontan saja langsung nyengir sambil memamerkan deretan gigi putih nya.  
    
            “Maafin ya, riska baik deh cantik. Tapi emang bener kok tadi itu air PAM di rumah aku emang macet, terus...”         

            “Stop. Artha. Oke, aku maafin. Sekarang kita harus puasin malem ini yang tinggal beberapa jam lagi. Ayo ikut.” Setelah membekap mulut Artha, riska menarik lengan artha dan mengajaknya beridiri tepat di depan panggung yang sedang dikuasai oleh The Lost band, band sekolah yang hampir jadi artis saking seringnya manggung. Iya, masih hampir sih. Belum beberapa menit mereka berdiri di depan panggung, Riska sudah tenggalam oleh musik yang sedang di bawakan oleh The Lost band itu. Sementara Artha, tidak bisa sepenuhnya menikmati konser. Ia sibuk mencari seseorang di antara kelilingan manusia itu.

“Nyari siapa ta?” teriak riska yang berusaha mengalahkan kerasnya suara sound.

            “Kak Erik, ris. Kira-kira dia dateng gak yah?” balas Artha.

           “Oh, dateng ta. Dia nyari kamu tuh dari tadi. Katanya sih mau pamit.” Teriak Riska, sambil jingkrak-jingkrak menikmati musik. Tapi artha tiba-tiba membeku. Pamit?
   
 “ya udah, aku cari kak erik dulu ya ris.”  
Tanpa menunggu jawaban dari riska, artha keluar dari orang-orang yang sedang terhipnotis oleh band yang ‘hampir’ jadi artis itu. Riska menatap artha yang keluar dari area konser kecil-kecilan itu, lalu mengangkat bahu nya dan melanjutkan kembali menikmati the lost band.     Artha terus mencari-cari sosok Erik itu, suasana sekolahnya memang mendadak jadi ramai sekali setiap satu meter ada stan yang menjual aneka makanan dan yang menjaganya adalah siswa perwakilan dari Ekskul di sekolahnya. Sambil memperhatikan setiap penjaga stan artha terus mencari sosok Erik, bisa saja kan Erik jadi salah satu penjaga stan itu. Tiba-tiba ia melihat stan Ice Cream. Artha langsung menggigit jarinya, ia adalah pecinta Ice Cream yang sangat maniak dan kemungkinan nya sangat kecil kalau dia bisa menahan hasratnya itu.  

           “oke, beli Ice Cream kan bentar.” Celetuk Artha –lebih pada dirinya sendiri, seperkian detik berikutnya ia sudah berdiri di depan stan Ice Cream itu.         

           “eh kak Artha, kakak cantik malam ini, oh iya mau apa kak?” tanya penjaga stan yang ternyata adik kelasnya yang selama ini terus mengganggu artha, karena adik kelasnya itu menyukainya. Artha jadi malas untuk membelinya, tapi ia juga tak bisa menahan keinginan nya. Akhirnya ia mengalah dan membuat senyuman palsu untuk adik kelas menyebalkan ini.   
             
            “Eh, roni. Ice Cream Vanilla dong. Cepet yah.” Ucap arta berusaha semanis mungkin.
          
            “Siap deh kak.” Jawab roni sambil mengedipkan matanya pada artha, artha bergidik geli. Tapi untungnya benar saja, tak lama Ice cream yang ia pesan sudah jadi.
             
            “Wow, cepet banget. Berapa ron?”
            
            “Gratis dong buat kak Artha.”       
            
            “Ah, bohong. Serius nih ron?” tanya artha sambil senyum senyum.    
           
            “serius.” Jawab roni, senyuman artha semakin mengembang.  
         
           “Ya udah deh, makasih ya.” Ucap artha sambil melangkah pergi dari stan ice cream milik roni itu.           
            
           “Kak artha, sms aku bales ya.” Teriak roni dari jauh, artha mengacungkan jempol nya ke atas. Perhatian nya kini terpusat pada ice cream nya itu.
          
  ***
            “Artha.” Langkah artha terhenti, ia mendongakan kepalanya. Ice cream membuatnya lupa tujuan awal ia berjalan-jalan sendiri. Sampai sosok itu kini berdiri di hadapan nya.

“Hai. Kak erik.” Artha tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya itu, akhirnya ia terlihat sangat konyol di depan sosok erik itu ditambah sekitar bibirnya berhasil berantakan dengan ice cream. Erik mendecak pelan sambil menggelengkan kepalanya.
            
 “Dari mana aja? Kakak tungguin dari tadi.”       
            
 “Baru dateng kak, maafin.”
            
 “Ngaret lagi?” tanya erik sambil mengangkat satu alis nya. yang membuatnya terlihat keren                        
            “Iya nih kak. aduh maaf ya kak.” Kata artha semakin kikuk.    
           
 “Ya udah gak apa-apa. Ikut kakak yuk, ada yang mau kakak omongin sama kamu.”      

Artha bergeming saat tiba-tiba lengan erik menggenggam pergelangan tangan nya, sambil sibuk dengan ice cream nya artha berusaha mengikuti langkah erik dari belakang yang membawanya ke tempat yang cukup jauh dari keramaian pesta perayaan tahun baru di sekolahnya itu. Erik berhenti saat menemukan kursi di ikuti oleh artha lalu duduk di kursi masing-masing. Mereka telah duduk bersebelahan namun konsentrasi artha sepenuhnya ada di ice cream vanilla miliknya itu, erik hanya bisa memandanginya dengan gemas. 

          “mau ngomong apa kak?” tanya artha, erik hanya tersenyum sambil memberikan tissu untuk artha.                         

         “Nih tissu. Abisin dulu aja ice cream nya.” Ucap erik, artha hanya membalasnya dengan senyum sambil mengambil tissu yang di berikan erik. Beberapa menit kemudian akhirnya ice cream artha habis, dan artha mulai menoleh ke arah erik. 
             
         “Oke kak, jadi ada apa nih?” ucap artha, erik menoleh ke arah gadis berambut ikal itu.       
            
       “udah makan ice cream nya ta?” tanya erik sambil tersenyum, artha mengangguk sambil nyengir kuda. 
          
        “Hm, jadi gini ta. Mungkin semester depan pas masuk sekolah kakak udah gak lagi sekolah di sini, kakak pindah ke luar kota.” Erik bicara dengan hati-hati tanpa ada penekanan sedikitpun, tiba-tiba air muka di wajah artha berubah 180 derajat pesona ice cream yang membawa kegembiraan mendadak lenyap.      
      
      “tiga jam lagi kakak harus udah berangkat.” Lanjut erik sambil melihat jam di pergelangan tangan nya. Artha tidak menjawab apa-apa, malah air matanya yang berbicara. Artha menunduk menyembunyikan wajahnya.     
 
            “Artha, jangan nangis dong. Kakak kan bisa main pas liburan terus ketemu kamu.” Ucap erik berusaha menenangkan artha yang mulai menangis terisak. Erik mengangkat dagu artha. 

“Jangan nangis ya, ayo senyum buat kakak.” Akhirnya artha memaksakan senyum untuk erik. 

“bagus, anak pinter.” Kata erik sambil mengacak poni artha pelan.           
 
“janji ya kak, kakak dateng buat artha.”   
 
“janji deh buat artha.” Erik tersenyum sambil menatap wajah Artha dalam.

            Malam itu berjalan tidak sesuai dengan rencana yang ada di otak nya artha karena ia tahu kakak kelas yang sudah lama ia sukai ternyata harus tiba-tiba pindah sekolah padahal ia belum mengenalnya terlalu lama. Hari-hari setelahnya pun terasa sangat hambar karena ia tidak bisa lagi melihat erik melatih basket di sekolah.
***
“Mamaaaaa... Air PAM nya macet lagi.”

Sepertinya predikat Miss Ngaret untuk nya memang sangat melekat dan tidak pernah hilang. Padahal niatnya hari ini Artha tidak ingin terlambat walau hanya satu menit. Tapi harapan itu pun mencelos begitu saja saat alasan yang sama lagi-lagi akan membuatnya datang terlambat. Tadi pagi, Artha hampir jatuh dari tempat tidur saat membaca pesan masuk dari erik, yang selama ini sunyi senyap tanpa kabar. Tidak ada lagi alasan menunggu nyawanya kumpul untuk beranjak dari tempat tidur saat itu juga dengan riang, ia mengambil handuk untuk bersiap-siap bertemu dengan erik.
Sender : Kak Erik (My Future)
“Hai artha, apa kabar? gak kerasa udah 6 bulan aja nih kita jauhan. hari ini ada acara gak? Kakak tunggu di alun-alun kota yah, kakak teraktir ice cream deh."