Sabtu, 17 November 2012

Temani aku menikmati hujan

  
   Sekarang tak sama lagi, dua sisi jendela hanya sebuah kenangan.

saat itu ada aku dan ayah sedang menikmati hujan di penghujung senja. kami tak berucap tapi kami saling mengisi jiwa, dengan melihat tetes-tetes hujan dari balik jendela.
        kini tak sama lagi yah, aku tidak akan pernah mau lagi melihat hujan dari balik jendela ruang tamu. aku tak mau. salah satu sisi jendelanya telah kosong . bukan lagi ayah yang menemaniku melihat hujan tapi kesunyian. kini aku lebih sering mengintip hujan dari balik jendela kamarku. iya, rasanya hambar. tak sebahagia saat bersama ayah dulu, hanya kekosongan dan kehampaan yang ku rasa.

    Tetes-tetes gerimis itu kini aku ciptakan sendiri melalui mataku bernamakan tangisan.

dadaku sakit, nafasku tersenggal. apa ini yang dinamakan rindu? iya, rindu yang perlahan membunuh. harus berapa kali lagi aku utarakan. aku sekarat, sekarat karena rindu yang tak pernah tergapai.
sekarat yang berkepanjangan. aku benar-benar merasa tersiksa.

Aku belum bisa berdiri seutuhnya tanpa ayah. aku bahkan lupa tujuan awal hidupku ini apa. aku sedang berusaha memberikan yang terbaik memperbaiki puing-puing yang terlanjur retak tapi nihil. cahayaku semakin redup mereka tak bisa melihatku, sinarku telah tenggelam di telan gulita malam. aku belum benar-benar siap melihat kenyataan, melihat masa depan tanpa sosokmu.

"Kalau kamu udah jadi sarjana, ayah bakalan duduk paling depan buat kasih tepuk tangan paling kencang terus teriak 'itu anak saya'"

itu hanya kata yang perlahan terhapus oleh waktu, bahkan untuk menemaniku melihat hujan saja ayah sudah tidak bisa.
aku tak butuh sosok pengganti ayah, karena pada kenyataan nya posisi ayah tidak akan pernah tergantikan dalam hatiku. tapi aku butuh teman yang bersedia menemaniku menikmati hujan.
Tolong sampaikan pada malaikat hujan ya ayah, katakan padanya jangan turunkan hujan saat aku sendiri. aku butuh teman. aku belum sepenuhnya siap menikmati hujan seorang diri.






 

Rabu, 14 November 2012

Malaikat Hujanku


"Kadang aku pengen ada malaikat hujan yang bisa temenin aku saat aku nikmatin tetes-tetes gerimis anugrah tuhan itu.."

Gadis itu Matanya selalu berbinar-binar jika dia berbicara tentang hujan, aku ikut mengangguk saja saat dia berbicara seperti itu. kadang aku tak mengerti apa yang ia ungkapkan, dia terlalu bahagia, terlalu asik dengan dunia nya sendiri. hujan. hanya karena itu. apa istimewanya dari air-air yang jatuh dari langit itu?
kali ini dia mengangkat telapak tangan nya ke atas seakan akan menangkap semua titik-titik hujan itu, matanya terpejam lalu tersenyum.
"Coba rasain deh, ini nih yang namanya bahagia. sesederhana ini." ucapnya sambil terus menari-nari menangkap hujan. aku mendecak, kenapa sebodoh itu. dia tidak tau dia juga bisa sakit karena ini.
"mau tetep disitu aja? gak akan temenin aku?" teriaknya, suaranya makin tersapu oleh hujan yang semakin deras.
"Aku benci hujan." jawabku. dia berhenti menari, menyapu wajahnya dari air hujan lalu menatapku.
"atas dasar apa kamu membenci hujan?"
"kalo hujan nya deras banget kaya gini apa masih dianggap indah? ditambah lagi jika ada petir dan guntur. apa kamu masih memuja-muja hujan? bodoh!"
"semuanya itu harus ada resikonya, kalo aku suka hujan aku juga harus suka petir. manis pahitnya harus diterima dong, jangan banyak nuntut. itu anugrah tuhan."
"bukan alasan, aku tetep benci hujan." kataku bersi kukuh, gadis kecil ini malah tersenyum dan menatapku dengan tatapan jahil. aku mengkerutkan keningku. "apa?" tanyaku aneh. dia tak menjawab malah langsung menarikku keluar dari tempat yang sengaja kujadikan untuk menghindari hujan. ya, aku bersembunyi tapi dia malah menyambutnya. sampai disini aku masih tetap saja belum mengerti apa yang ada di pikiran nya.
 "tutup mata kamu."
"buat apa?"
 "cepet tutup aja! rasain hujan ini turun menembus ubun-ubun kamu membasahi otak kamu."
"kok ngeri ya?" jawabku sambil sedikit terkekeh, dia malah merengek dan menghentakan kakinya ke genangan air hingga air nya mengenai celana putihku.
  "rasain tetes-tetes hujan yang kamu rasain saat ini adalah anugrah tuhan yang terakhir kali kamu bisa kamu rasain, semua beban hilang saat ini juga tersapu oleh hujan." katanya. aku langsung mengintip nya lewat celah mataku, dia merentangkan tangan nya lalu tersenyum. lagi dan lagi, dia selalu mengukir senyum jika hujan turun.
"rasain jiwa kamu terangkat ke atas, menembus awan putih. itu tuh sebenernya kapas yang empuk banget. jadi gak usah takut bakal ada perjalanan yang indah.. kita bisa transit dulu di awan-awan itu. menyapa malaikat hujan yang sedang bekerja." semua ucapan nya terdengar seperti bocah umur 8 tahun, tapi nyatanya gadis ini sudah 16th. aku mengikuti apa yang dia lakukan, merentangkan tanganku lalu memejamkan mata dan menengadahkan wajahku ke atas. sesekali aku menatapnya yang masih saja tersenyum-tersenyum kecil. "kayanya kita harus balik ke rumah sakit deh, rainy."
dia menatapku, senyumnya seketika hilang.
"jangan ingatkan aku tentang itu."
  "aku ini perawat kamu jadi aku harus ingetin." kataku memperjelas
"aku takut gak bisa rasain hujan lagi , aku takut ini hujan terakhir yang bisa aku tangkap." aku menatapnya tak berkedip saat dia berbicara seperti itu, entah lah, ini bukan tentang aku perawat dan dia pasien. ini tentang aku pria dan dia wanita. aku mulai merasakan nya, saat menemaninya setiap saat bahkan aku menemaninya melarikan diri dari rumah sakit hanya untuk merasakan hujan seperti saat ini. seharusnya aku melarangnya tapi aku tak pernah tega membiarkan senyum nya hilang. aku hanya ingin membuat hari-hari nya bahagia..

***
itu tiga bulan yang lalu, mungkin sekarang kamu telah ada di antara tumpukan awan-awan putih itu menjadi malaikat hujan. aku juga mulai mencintai hujan, iya itu karena kamu malaikat hujan yang ku kenal. tapi... apa malaikat tidak akan lagi merasakan apa itu cinta? apa aku boleh mencintai malaikat hujan? ah sudah lah lupakan. selamat jalan rainy. ada pasien lain yang harus aku temani lagi. nikmati peran mu sebagai malaikat hujan. aku akan selalu melihat langit saat hujan turun, berharap ada wajah kamu dari antara gumpalan awan itu lalu mengagetkanku. seperti kebiasaan mu. ah .. lagi lagi aku tak bisa berhenti berbicara, apa ini karena aku terlalu merindukanmu? atau karena perasaan yang tak pernah sempat aku utarakan? 





Minggu, 11 November 2012

Intinya.. aku berharap kita tidak hanya (sekedar) sahabat


"Rio.. Lo bisa kesini?... iya cafe biasa.. temenin aja si gue lagi nulis.. pengen ngobrol aja.. oke gue tunggu ya.."

***
"Kenapa tuh pipi? gara-gara dia lagi?"
"eh lo dateng juga duduk yo.."
"jawab dulu itu pipi kenapa? dia lagi kan?"
wanita itu menarik nafas panjang, mengangguk lalu tersenyum. "gak apa-apa kok, cuma kaya gini doang." jawabnya.
"mau sampai kapan lo kaya gini, terus."

"Sampai dia sadar bahwa gue emang bener-bener tulus mencintai dia." jawab nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar lcd berpancarkan radiasi itu.

"tapi lo gak harus ngorbanin diri lo sampai sejauh ini, cinta itu saling, Melody. gak cuma lo yang rasa. naif lo

"Iya gue sadar, gue emang naif. tapi perasaan gue buat dia gak sesederhana yang lo pikir rio."

"Percaya sama gue, dia bukan cowo yang baik buat lo. dia gak pernah berusaha peduli sama lo bahkan cuma buat ngertiin aja dia gak bisa. apa itu yang lo sebut cinta? hubungan macam apa yang lo jalani selama ini?"

melody menghentikan jari-jarinya yang sedang menari di papan keyboard itu, matanya menatap tajam pada rio, sahabatnya sejak lama.
"kok lo jadi nyolot gitu sih yo? gue cuma berusaha bertahan. dia itu cinta pertama gue, gue gak mau gagal."

"cinta pertama gak mesti harus jadi yang terakhir. kadang lo harus ketemu orang yang salah dulu sebelum lo ketemu sama orang yang bener-bener dikirim tuhan buat lo. setiap orang pasti ngerasain gagal dulu, jangan muna deh lo..."

"gue sayang sama dia rio."

"tapi dia gak sayang sama lo."

"tau dari mana lo kalo dia gak sayang sama gue?"

"gue ini cowo melody. gue tau, tatapan nya sikap nya ke elo gak mencerminkan bahwa dia sayang sama lo. perlakuan dia juga kasar sama lo, orang yang sayang sama lo gak akan pernah tega nyakitin lo."

"cukup rio! kenapa sih lo? gue gak mau denger cercaan lo buat dia meski gimana pun dia cowo gue."

"Ini fakta melody. elo sebenernya gak butuh cinta yang semu kaya dia, cinta yang buat lo tersiksa kaya gini."

"gue duluan." melody beranjak dari tempat duduk nya, merapikan semua barang-barang nya.

"Tunggu." rio menahan lengan melody.  "gue mau tau, seberapa penting dia buat lo? kalo lo di kasih pilihan, lo pilih tinggalin dia yang terus nyakitin lo atau gue sahabat lo yang bisa cintain lo lebih baik dari dia?"

"maksud lo apa sih?"

"lo pilih dia atau gue?"

"RIO?"

"kenapa? lo kaget tau gue cinta sama lo. ya, gue sayang sama lo dari dulu, tapi ini cinta, perasaan yang lebih dari sekedar sahabat."

Melody bergeming, lututnya mulai tersa lemas mendengar pernyataan langsung dari rio tentang perasaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"lo pikir buat apa tiap hari gue ceramahin elo. gue peduli sama lo, gue pengen yang terbaik buat lo, sebenernya gue bisa aja sih relain lo sama dia. tapi nyatanya apa? dia cuma bisa nyakitin lo melody. lo lupa dia pernah nendang lo? pipi lo ini belum seberapa dia bisa aja nyakitin lo lebih dari ini."

"Rio please berhenti.." tetes-tetes gerimis bernamakan air mata itu perlahan jatuh perlahan dari mata bening melody.

"lo tau kan kemana harus cari gue? sekarang lo jalani hubungan lo sama dia, sekuat apa lo bertahan. tapi saat lo udah bener-bener cape. dateng ke gue, gue bakal tetep nyambut lo melody kapanpun itu."

"gue gak ngerti sama lo."

"gak perlu, lo gak perlu ngertiin gue. ngertiin dulu kata hati lo sebelum lo mencoba mengerti orang lain. sekarang gue pergi, jaga baik-baik diri lo ya."

"kemana? tapi lo bakal balik kan?"

"tentu gue bakal dateng disaat lo bener-bener butuhin gue." rio mengecup kening melody, dia tersenyum menahan sesak. entah kenapa dia bisa mengeluarkan segala perasaan nya saat itu. moment yang benar-benar tak pernah ia duga. "udah ah, hapus air mata lo. janji sama gue, selama gue gak ada disamping lo. lo gak akan libatin air mata.."

"Gue janji.."


-Melody-

Minggu, 04 November 2012

Pria dalam Khayalku..



Kamu apa kabar? merasa ada yang aneh tidak akhir-akhir ini?
kalau jawaban mu iya berarti secara tidak sadar kau menyadari tatapanku.
ah..  aku juga merindukanmu lebih tepatnya merindukan kebiasaan ku, ya kebiasaanku memperhatikanmu dari jauh menikmati senyumanmu dari sudut yang sulit kau jamah.
aku terlalu pengecut untuk menyapamu walaupun sudah hampir satu tahun kita dipertemukan dalam kumpulan orang yang mereka sebut kelas itu, bagi ku pertemuan kita adalah takdir dan bukan kebetulan karena yang namanya kebetulan itu sebenarnya tidak ada. lalu apakah takdir itu berpihak padaku? ah kalau soal itu aku tidak tau, itu bukan kuasa ku.
kurasa aku tidak usah menyebutkan namaku lagi, kamu pasti tau siapa aku diantara 39 orang dikelas aku duduk paling belakang, iyaa... kau pasti menemukan jawaban nya kan? pasti ada nama yang melintas di otakmu. iya benar yang kau pikirkan itu memang aku.

jangan berpikir bahwa aku ini wanita agresif eh tapi terserah apa persepsi mu tentang aku yang aku tau, aku hanya menyimpan kekaguman lebih pada mu.

sebenarnya aku tau kabar mu, kurasa kau sehat wajah mu tidak pernah terlihat pucat.
tapi.. ini memang salam perpisahan. perpisahan dalam persepsiku. setelah berpikir panjang aku tak butuh sosok yang hanya bisa ku khayalkan seperti dirimu, sosok yang hanya bisa ku tatap tanpa mau balas menatapku . aku butuh sosok nyata, sosok yang dapat memperhatikanku seperti layaknya aku memperhatikanmu.

perlahan aku menghapus segala khayal tentang mu, aku berhenti berandai-andai tentang dirimu.
tenang saja, kau tak akan merasa kehilanganku. yang memperhatikanmu bukan aku saja masih ada wanita lain yang memperhatikanmu.
kenapa aku tau? 
kau tau posisi duduk ku paling belakang kan? selain bisa memperhatikanmu aku juga bisa melihat siapa lagi yang memperhatikanmu. ternyata bukan hanya aku, masih ada beberapa wanita yang menyimpan perhatian lebih padamu. ya, beberapa itu artinya bukan hanya satu atau dua. kurasa wajar, sosok mu memang begitu karismatik.
tapi aku putuskan untuk mundur saja, aku merasa lelah sejak dulu aku selalu diam tidak bisa mundur ataupun maju. sekarang aku putuskan saja, aku mundur. aku menyerah ;)

dan untukmu, sebaiknya cepat-cepat pilih diantara mereka agar aku punya alasan kuat untuk tidak menaruh harap terhadapmu lagi. Untuk mu pria berkemeja putih yang kutemui sore tadi.