Rabu, 30 September 2015

Senyum duniaku yang runtuh


Untuk ibuku yang teramat aku sayangi,
Ibu, jika aku bilang aku ikhlas apa ibu percaya?
maafkan aku,
aku tak akan pernah bisa menyampaikan nya lewat kata-kata
akhirnya hanya akan air mata yang berbicara.
Jika aku bilang aku ini tulus, apa ketulusanku ini bersambut?
Selamat,
Sepenuhnya aku bahagia
hanya untuk Ibu.

Kamis, 24 September 2015

Singgahlah, Hari itu akan datang.

Ayah, jika saat ini tangisku belum reda, sepenuhnya ini bukan karena aku tak ikhlas akan pergi nya ayah yang sudah menjelang empat tahun. Iya, benar tenyata hampir empat tahun kami berjalan tanpa sosok ayah, jika melihat lurus kedepan rasanya aku belum berjalan terlalu jauh tapi saat menoleh kebelakang ternyata telah ada jejak panjang yang berhasil aku lalui. Itu pencapaian yang harus dibanggakan bukan? rasanya baru kemarin aku menangis lalu diam kemudian menjerit lalu tertidur kemudian terbangun lagi begitu seterusnya sampai aku sadar bahwa di depanku benar-benar sosok ayah yang sudah tak bisa bergerak, itu empat tahun yang lalu, dan tiga tahun belakangan tulisanku hanya melingkar tentang ayah dan bagaimana gilanya aku merindukan ayah. Tahun berlalu, waktu membuatku mengerti bahwa aku harus menerima, bagaimanapun hidup telah di gariskan.

Mungkin juga garis ini lah yang membawaku ke dalam perasaan ini, ada perasaan tak nyaman luar biasa dalam dadaku berharap bahwa yang akan aku hadapi bukan lah sesuatu yang nyata. Aku sadar bahwa jika tidak hari ini mungkin hari-hari berikutnya akan terjadi juga, jadi biarlah aku menghadapinya lebih cepat. Biar aku ikhlas, biar aku tabah.

Ayah, anakmu ini sudah 18 tahun tapi pikiran nya hanya berputar di kehidupan bersama ayah, aku masih tak bisa meredam emosi tiap kali seseorang berbicara pengganti ayah. Saat itu aku pikir siapa yang tidak akan emosi jika seorang anak mendengar kalimat seperti itu, tapi aku ingin menghalang segala sifat egoisku yang aku terus kurung dalam pikiranku. Yang ada di kepalaku saat ini hanya, aku melakukan ini untuk ibu, untuk ibu, untuk ibu. Meskipun sangat terlambat, ayah senang kan?

Aku akan bisa menerima ini, aku akan menjalaninya, meskipun aku tidak bisa berbohong saat pertama kali mendengarnya duniaku tiba-tiba saja runtuh, meskipun begitu selalu ada selah sinar kecil yang menyelamatkanku. Sinar dalam bentuk Do’a. bahwa seberapa jauh dimensi ayah sekalipun, aku masih bisa memeluk ayah dalam do’a-do’aku. Tak ada yang namanya menggantikan sosok ayah, ayah masih dan akan selalu menjadi yang terhebat dalam kehidupanku. Sekali lagi, ini untuk ibu, untuk ibu.

            Ayah juga tahu, bahwa ketidak hadiranku bukanlah bentuk penentangan dariku, sama sekali bukan. hari itu kuliahku padat sampai sore dan besoknya aku harus kuliah pagi, alasan yang masuk akal kan jika aku tidak hadir? Apa itu bisa di terima? Walaupun itu bukan satu-satunya alasan yang ku miliki aku yakin ibu mengerti dan ayah tahu itu. Daripada semuanya menjadi canggung dan kehadiranku malah membuat yang lain merasa tidak nyaman, lebih baik aku tak ada di sana saat itu. Ayah, banyak hal yang ingin aku katakan pada ibu tapi kenapa yang sampai hanyalah air mata? Datanglah ayah kedalam mimpi ibu, singgahlah kemudian katakana ketulusan yang tak pernah sanggup keluar dari mulutku, aku ikhlas ayah, aku ikhlas.



Anakmu,
Yang ketakutan menghadapi kehidupan mendatang.

Senin, 10 Agustus 2015

Menyeret Waktu



Sekarang aku baru menyadari akan kalimat, ada saat dimana do’a-do’a kamu tidak sampai, mungkin bahkan do’a-do’a mu hanya melingkup di kamarmu dan memantul di langit-langit di atasnya  kurasa saat ini mungkin kalimat itu benar adanya, bahkan setelah doa-doa panjang yang aku panjatkan aku tidak merasakan kenyamanan, aku selalu merasa gelisah. Benar, mungkin itu yang menghalangi do’aku mungkin aku masih menyeret-nyeret amarah di dalam hatiku, mungkin masih ada yang tertinggal di dalamnya entah itu rasa kesal, marah atau bahkan rasa benci, aku juga tak bisa merasakan itu terlalu jelas, lantas setelah aku menyadari bahwa letak kesalahan nya ada pada diriku yang masih memendam amarah, sekarang apa yang harus aku lakukan? Harus kemana aku? Siapa orang yang harus aku minta untuk mendengarkan penyesalan dan permintaan maafku saat ini?

Dan lagi, seperti ada yang berteriak tepat sekali di depan telingaku. Hey, menurutmu kau ini siapa? Kau siapa pantas bersedih berkepanjangan seperti layaknya pengemis! Lihatlah, diluar sana kau bahkan tidak tahu bahwa seseorang di luar sana  seluruh kelurganya direnggut tiba-tiba dari sisinya dan ia masih bisa tersenyum bahagia, lalu kau ini apa? Hapus air matamu! Sudah bukan saatnya lagi kau menangis!  kemudian di susul oleh teriakan-teriakan lain yang seakan memojokan ku ke sudut paling gelap. 

Malam itu aku mendengar sayup-sayup seperti suara bising sekumpulan burung kolibri yang menghisap bunga-bunga musim semi, kubuka tirai di jendelaku namun sepi tidak ada sekumpulan orang yang sedang berbicara, tentu saja ini sudah pukul dua dini hari dan ternyata suara itu tak hilang, suara bising itu seperti muncul dalam pikiranku tiada henti dan aku memohon-mohon untuk berhenti seperti orang gila. Aku berjalan menelusuri setiap sudut rumahku berharap ada sesuatu yang bisa aku ajak bicara untuk meredam suara dalam pikiranku seperti misalnya cicak, tikus-tikus dapur atau misalkan tokek yang ayah pelihara sejak aku sd, ah entahlah malam itu kegilaanku sudah berada di ambang batas wajar, kau bisa bayangkan jam dua pagi kau jalan-jalan mengelilingi sudut rumahmu. well, meskipun rumahmu tidak besar siapa, sih yang melakukan itu dini hari dengan mata sembab dan kerah piyama yang basah oleh pipimu?

Lalu aku ingin memikirkan pusat kegelisahanku, aku duduk di sofa ruang tamu dengan lampu yang telah dimatikan, cukup lama terdiam tanpa memulai untuk memikirkan apapun  kemudian tiba-tiba pikiranku kembali terusik, mungkin selama ini aku hanya berpura-pura bersikap lapang atau semacamnya padahal di dalam hatiku aku menyimpan begitu banyak amarah yang tak terungkapkan, mungkin itu sebabnya. Jika mengenang ayah tentu saja seperti ada luka yang menganga dan terasa perih sekali, bukan aku benci mengenang ayah karena bagian terindah dari kenangan adalah saat kita membuatnya dan saat ini hanya dengan mengingatnya membuat perih tak terukur. Setelah sekian lama waktu berlalu, sebagian ruang kosong di hati tentang ayah membuat pilu terlebih saat ini aku akan kuliah dan siapa yang sangat ingin melihatku kuliah kalau bukan ayah? ya, aku tahu ibu juga, tapi yang setiap hari berbicara tentang masa depan adalah ayah, dan saat ini berbicara tentang masa depan malah membuatku takut dan ingin menyeret kembali ke waktu dimana aku habiskan bersama ayah tak peduli apapun, tapi realita, waktu itu berjalan lurus kedepan bukan berputar kembali ke titik awal makanya aku tak akan pernah bisa lagi merasakan bagaimana hangatnya pelukan ayah. Tetapi, yah, waktu itu menyembuhkan luka katanya tapi aku kira bukan bukan waktu yang menyembuhkan tapi proses selama waktu itu berjalan, di kepalaku bahkan masih terkurung ingatan-ingatan tentang ayah tak ada jalan keluar seperti bocah kecil yang naïf. 

Kemudian, aku kembali ke kamarku dan membuka laci lemari yang di dalamnya aku sembunyikan foto kecil ayah yang aku kira ibu tak akan bisa menemukannya disini, lalu aku hanya duduk terdiam selama beberapa menit sambil memandangi foto ayah, aku melakukan perbincangan panjang dengan ayah malam itu, kau tahu, melihatnya saja sudah seperti mengeluarkan semua isi kepalaku.

Mungkin sekarang aku tahu kenapa aku resah, mengapa aku merasa do’a-do’aku tidak sampai, dan orang yang harus mendengarkan permintaan maafku satu-satunya adalah ibu, aku tahu selama ini aku egois aku terlalu bersedih tiap kali aku ingat ayah tanpa mempedulikan bahwa di sisi lain ada ibu juga yang merasakan pedih luar biasa namun tertutupi oleh segala kegiatannya untuk mencukupiku, aku juga tahu aku selalu berdo’a untuk kebahagiaan ibu tapi nyatanya aku pernah membuatnya menangis karena sikap ku yang masa bodoh terhadap apapun, mungkin karena itu aku gelisah, saat ini aku yang berdiri untuk ibu, aku ingin merengkuh ibu dalam pelukanku, dan bilang meskipun posisi ayah tergantikan, aku tidak apa-apa aku masih anak ibu. Dan aku ingin hatiku benar-benar lapang, entah bagaimana caranya.  

Kamis, 06 Agustus 2015

Fahmi & Citra



Selain suara deruan angin yang meniupkan daun-daun kering tidak ada suara yang keluar dari dua sosok yang sedang duduk tercenung di atas sebuah kursi di taman sudut kota. Lagi, entah untuk kesekian kali mereka menarik nafas dalam-dalam seakan ada sebongkah batu yang bercokol di paru-paru keduanya, dibandingkan dengan mencaci maki dan merutuk keadaan mereka memilih untuk saling diam terlebih dahulu, setelah itu mungkin mereka punya kekuatan untuk saling bertanya.

            Fahmi melihat arlojinya, sudah dua puluh menit mereka saling terdiam, setidaknya salah satu harus memulainya jika tidak, mungkin ini hanya akan berakhir menjadi satu kisah yang tragis dan tak termaafkan.

            Citra yang entah kemana arah pandangan tertuju, tentu saja tak akan membuka mulutnya terlebih dahulu ia sengaja menahannya jika percakapan terlah dimulai, ia pastikan untuk tidak akan berhenti berbicara.

            “Lucu, ya.” Pandangan mata Fahmi hanya tertuju kedepan seperti tatapan kosong, nyatanya banyak kalimat yang bersarang dipikiran nya namun hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya, Citra menatapnya dengan nanar sambil tersenyum miris, daripada menangis mereka memilih untuk menertawakan kisah mereka yang berakhir menjadi hubungan canggung yang sangat aneh, tawa mereka hanya menutupi ruang yang tiba-tiba kosong.

     ***

            Fahmi menancapkan gasnya menembus padatnya lalu lintas, lima belas menit yang lalu kekasihnya Citra merengek minta di antarkan ke sekolah untungnya hari ini ia sedang kosong dari segala macam jadwal kuliah, alasan Citra kali ini murni karena kebiasaan nya bangun terlambat.

            “Duh, bunda ini kok pintunya macet sih.” gerutu Citra saat mencoba membuka pintu, dengan tenang bundanya menghampiri anak sulung nya itu sambil memberikan segelas susu.

            “Minum! Udah terlanjur telat juga.”  Dengan mudah bundanya dapat membuka pintu tanpa harus banyak mengeluarkan tenaga, Citra melongo dongkol mengingat bahwa pintu sisi kiri memang macet dan itu sudah dari dulu. “Makanya kalo bunda bilang tidur ya tidur ka jangan ngeyel, jadi pikun kan pintu yang ini  kan memang macet.” Lanjutnya, Citra cuma bisa nyengir sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

            Diluar, fahmi telah duduk manis diatas motor hitamnya. Ibu citra tersenyum. “Siapa tuh kak? Pacar?” Tanyanya  menggoda. anaknya hanya terkekeh pelan sambil pamit mencium pipinya itu. Dari kejauhan Fahmi melepaskan helm lalu memberi salam pada ibu citra, senyum yang tadinya mengembang di wajah ibu Citra perlahan hilang seiring menajamkan pandangannya, selanjutnya ia hanya melihat kepergian anaknya.

             ***

            Besoknya, tiba-tiba ibunya Citra meminta dikenalkan dengan Fahmi. Tentu saja Citra senang, tapi yang terjadi adalah situasi yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh keduanya. Saat Fahmi datang, ibunya yang langsung mempersilahkan duduk dan ia ikut duduk disebelah Fahmi. Citra yang duduk di sofa yang bersebrangan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap berlebihan dari ibunya, Fahmi juga menyiratkan raut wajah kebingungan dengan senyum canggung.

            “Ayo, minum dulu. disini cuma ada teh, diminum ya.” Ucap ibu Citra dengan nada bicara yang terdengar sangat ramah.

            “Iya, gak apa-apa tante, makasih.” Jawab Fahmi canggung setelah itu ia langsung meminum teh hangat di hadapan nya. Selama minum, pandangan ibu Citra sama sekali tak berpaling dari Fahmi, Citra hanya tercenung melihat sikap aneh ibunya. Sedangkan Fahmi hanya senyum-senyum canggung.

            “ada hal penting yang harus kalian tahu.” Mendadak ibunya menjadi serius, Citra membetulkan posisi duduknya dan bertanya ada apa namun ibunya malah balik bertanya.  “kalian ini berpacaran? Sudah berapa lama?” tanyanya, Citra dan Fahmi saling tatap kemudian mengangguk ragu. Ibunya tersenyum kelu, mendapati jawaban itu. 

            “Baru beberapa bulan tante.” jawab Fahmi akhirnya, ibu Citra mengangguk sambil tersenyum namun tersirat sesuatu.

            “Sejujurnya Tante senang bertemu dengan nak Fahmi tapi sepertinya ada sesuatu yang harus diluruskan terlebih dahulu.” Citra dan fahmi saling bertatapan dan merasa ada yang aneh dengan kalimat ibunya.

            Kali ini tubuh ibu Citra berbalik menghadap Fahmi, ia tersenyum seraya mengelus lembut pipi Fahmi dengan tatapan nanar. “Nama kamu, Fahmi ferdinan?”

            Fahmi yang masih kebingungan hanya bisa mengangguk, karena kalimat itu bukan terdengar seperti pertanyaan di telinganya melainkan pernyataan. Terdengar nafas yang panjang dari ibu Citra. “Fahmi Ferdinan. Luka dipelipis kamu kenapa?”

            “Oh ini tante,” katanya sambil memegang bekas luka di pelipisnya. “Saya lupa, sih, tante tapi kata ibu saya waktu kecil ini karena sudut meja tante waktu itu saya mau ngambil toples coklat. Bukan masalah besar kok tante, ini Cuma bekas luka.” Fahmi tersenyum canggung.

            “Gak salah, lagi.” Ibu citta langsung membekap mulutnya sendiri. sementara fahmi dan citra saling bertatapan tak mengerti. 

            “Fahmi, Tante tahu kamu waktu itu luka karena ujung meja, karena tante ada disitu.” 

              Fahmi berkerut kening semakin tidak mengerti. “Maksud tante.”

          Ibu Citra menahan nafas sesaat. “Iya, tante ada disana saat pelipis kamu berdarah. Karena kamu keponakan tante.” 

            Kali ini Citra dan Fahmi bertatapan kembali seakan saling berteriak. Ini maksudnya apa?

       Bagi mereka tiba-tiba jarum jam seperti berhenti berdetak, Citra tentu saja syok terlihat bagaimana cara tangan nya yang gemetar menutup mulutnya sementara Fahmi hanya berkerut samar sambil tersenyum miring. “Tidak mungkin tante.”

            “Ayah kamu Rahadi ferdinansyah?” Tanya ibu citra, kini fahmi yang berkerut kening.

           “Iya, tapi nama itu banyak tan bukan cuma ayah saya” sebenarnya Fahmi hanya meyakinkan dirinya sendiri karena perlahan ia seperti tidak bisa bilang jika dia tidak percaya sepernuhnya dengan apa yang dikatakan ibu paruh baya dihadapan nya.

            “Tante tidak pernah seyakin ini melihat wajah seseorang, tante tahu kamu sejak kecil.” Ucap ibu citra dengan lirih, kemudian ditariknya nafas dalam-dalam untuk menjelaskan kepada keduanya secara perlahan. “Ayah kalian… ayah kalian kakak beradik.” Ucapnya kemudian.

          Citra memegang dadanya seperti sulit bernafas. “Bun, jangan bercanda gitu dong bun.” Ucapnya lirih kemudian menghampiri ibunya dan duduk dilantai sambil memeluk lutut ibunya. Sedangkan Fahmi masih berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh ibu dari kekasihnya yang baru saja ia temui ini. Tiba-tiba calon mertua berubah menjadi tante sedarah, ini konyol.
 
            Fahmi berusaha untuk bersikap tenang walaupun segala bentuk penolakan telah mengusik pikiran nya. “Gak mungkin tanre, ayah saya telah meninggal saat umur saya delapan tahun. Sudah lama sekali.” Ucapnya berusaha setenang mungkin yang sangat kontradiktif dengan hati maupun pikiran nya yang tiba-tiba bingung.

            “Tante tahu itu Fahmi saat Citra berumur lima tahun ayah kamu meninggal” Kalimat itu seperti menjelaskan semuanya, dinding ketenangan fahmi tiba-tiba runtuh. 

Disampingnya ia melihat keponakannya yang tiba-tiba ia menenggelamkan wajahnya diantara tangannya sementara Citra yang duduk dibawah sedang mencoba menagan tangis nya dengan memeluk lutut dirinya. Refleks, kedua tangan nya terangakat untuk mengusap lembut puncak kepala Citra dan Fahmi disampingnya. Ia melihat mereka dengan hati pilu dan penyesalan. Ia mencoba untuk mengumpulkan kekuatan nya untuk menceritakan semuanya secara gamblang kepada kedua anak yang tadinya sangat menggemaskan kini sudah beranjak dewasa.

“Tante akan memberitahu semuanya agar kalian mengerti, tolong dengarkan saja.” Ucapnya pelan, seketika Citra mendongakan kepalanya dan Fahmi membuka kedua telapak tangan nya. Ibu nya tersenyum tipis saat menatap keduanya.

“Dulu saat ayah kamu meninggal, ibu kamu tiba-tiba memutuskan hubungan tali silaturahim dengan kami, tak lama mba tata, ibu kamu, pindah rumah dan otomatis kamu dan kakak kamu Risa juga ikut menghilang. Kami berusaha menghubungi kalian tapi tak pernah berhasil, lebih dari dua belas tahun kalian menghilang tanpa kabar, awalnya tante sama sekali gak ngerti kenapa ibu kamu bersikap seperti itu, tapi setelah ayah Citra meninggal beberapa tahun yang lalu akhirnya tante mengerti kenapa ibu kamu bersikap seperti itu, saat ini tante dan Citra hanya berusaha untuk tetap tinggal.” Ucapnya diakhiri dengan senyum pilu, sudah tidak ada lagi tangis yang tertahan kini semuanya tumpah tak terkendali, sementara fahmi masih bisa menahan tangis nya walaupun air mukanya terlihat sangat muram, setelahnya hanya terdengar nafas-nafas panjang yang terasa berat.

“Saat kecil kalian adalah sepupu yang paling dekat diantara yang lain, saat kamu menghilang Citra lah yang menangis paling kencang dan paling lama, berhari-hari tidak, berminggu-minggu setiap akan tidur dia selalu memanggil nama kamu dan memohon untuk bisa bermain.” lanjutnya berusaha tersenyum sambil mengusap lembut air mata citra.

Keduanya baru menyadari, saat pertama kali bertemu mereka merasa bertemu sosok yang pernah hilang satu sama lain, namun mereka menyalah artikan perasaan itu sebagai bentuk cinta pada pandangan pertama.

“Kamu juga satu-satunya keponakan kesayangan tante,  anak laki-laki termanis yang tante gak akan pernah lupa. Maka dari itu tante langsung mengenali kamu dalam sekali tatap.” Fahmi tersenyum pilu, benar hatinya merasa bahwa ibunya Citra ini pernah memeluknya sehangat pelukan ibunya.

“Maafkan kami, tak seharusnya kalian bertemu seperti ini, ibu tahu ini sama sekali diluar kendali kalian. Tapi sekeras apapun kalian mengingkari kenyataan bahwa kalian adalah sepupu tak akan pernah bisa terbantahkan. Meskipun ini berat bagi kalian, tapi hubungan persaudaraan akan lebih hangat. Ibu percaya nanti kalian akan terbiasa.” katanya mengakhiri cerita panjangnya. Kini ia terdiam, menunggu respon dari anaknya dan keponakan nya ini tapi tak terdengar apapun dari keduanya.

“Saat kamu masih sekolah menengah, om Ridwan pernah bertemu dengan kamu sekali, masih ingat? Saat sampai rumah om kamu benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya bertemu kamu beliau bercerita kalau kamu tumbuh dengan baik, kamu tampan dan kamu masih menjadi murid terpintar di sekolah, tante yang mendengarnya tiba-tiba merasa hangat dan dekat dengan kehadiran kamu. Namun setelah itu kamu kembali menghilang.”

Ingatan Fahmi tiba-tiba terlempar saat dia masih smp ia ingat betul saat ia naik bis kota sepulang sekolah tiba-tiba seorang bapak yang duduk disampingnya, menatapnya terkesima dan langsung memeluknya, setelah itu seharian Fahmi diajaknya makan dan jalan-jalan sampai-sampai dibelikan sepatu saat pulang, ia sangat senang sekali karena sejujurnya ia merindukan saudara-saudara dari ayahnya, tapi setelah menceritakan semuanya pada ibunya diluar perkiraan ternyata ibu nya marah dan melarang lagi untuk bertemu dengan om Ridwan atau siapapun yang berhubungan dengan ayahnya, dan sejak saat itu jika tiba-tiba dijalan ia bertemu om Ridwan atau siapapun yang ia kenali sebagai saudara ayah ia harus menghindar bagaimanapun caranya, meskipun enggan Fahmi tidak  ingin membuat ibunya kecewa.

“Saya ingat tante.” Ucap fahmi lirih sambil mengangguk ia sudah tidak bisa menahan air mata yang daritadi berusaha keras ia sembunyikan.

Citra yang daritadi diam-diam berharap bahwa semua yang didengarnya adalah salah, saat kalimat itu keluar dari mulut fahmi sendiri hatinya seperti tiba-tiba membentuk lubang besar yang terasanya nyeri. Citra langsung beranjak dan bergegas masuk ke kamarnya tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.

“Tante tau reaksi Citra akan seperti ini, tapi tante percaya sama kamu Fahmi, kamu lebih dewasa kamu lebih stabil dari Citra, tante percaya kalian akan melewati ini dengan baik walaupun pada awalnya kalian akan menentang ini tante percaya kalian akan saling menerima. Anggap saja ini cara tuhan untuk memperbaiki keluarga kita.” Fahmi mengangguk pelan, tidak ada lagi yang bisa keluar dari mulutnya untuk menyangkal ini. Kemudian tantenya itu beranjak dari duduknya dan tak lama kembali dengan membawa secarik kertas dan bolpoin

“tante minta nomor rumah kamu, nanti sampai dirumah, kamu gak perlu cerita apa-apa sama mama kamu, biar tante yang hubungi langsung. Tante yakin setelah ini ibu kamu akan mengerti” Fahmi hanya menurut dan menuliskan nomor telepon rumahnya.

“Tante… fahmi pamit pulang.” Hanya itu akhirnya yang sanggup keluar dari mulutnya, sebisa mungkin ia ingin cepat mengakhiri suasana menyedihkan ini. Ibu paruh baya yang tiba-tiba menjadi tantenya itu tersenyum padanya dan entah kenapa senyumannya meneduhkan. Tubuhnya dipeluk dengan erat, sebelum melepaskan pelukan tantenya berbisik sesuatu. Lalu fahmi mengangguk dalam pelukannya.

***

Seminggu berlalu. Seberapa keraspun mereka mencoba untuk saling menghindar toh pada akhirnya mereka juga yang harus menghadapi. Di sebuah taman di sudut kota, akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertemu, bukan untuk janji kencan, tapi pertemuan antara adik dan kakak.

Meskipun seminggu bukan waktu yang cukup tapi bagi Citra, yang telah berusaha memutar kenangannya bersama Fahmi sejak kecil akhirnya bisa menerima bahwa Fahmi memang kakak sepupunya, perlu ditambahkan Fahmi adalah kakak sepupu yang paling ia sayangi entah kenapa saat masih kecil yang bisa membuatnya berhenti menangis hanyalah Fahmi dan saat ini mungkin fahmi juga yang akan membuatnya berhenti menangis dan berani menghadapi realita sesungguhnya.

“Nanti lagi, kalo Citra ketemu orang terus langsung kerasa deg-degan dan familiar citra akan langsung samperin terus tanya ‘kita sodara apa bukan?’ dengan begitu citra jadi tahu kenapa citra merasakan perasaan yang aneh.” Ucap citra diakhiri dengan tawa hambar, dan fahmi hanya bisa tersenyum sambil membelai puncak kepala citra. Citra merenggut.

“Apa perlu kita pacaran diam-diam cit, ini bukan salah kita kan.” Kata Fahmi kemudian. Citra hanya tersenyum miring.

“Buat apa kak? Toh kita akan tahu akhirnya seperti apa nanti.”

            Kemudian selama beberapa menit mereka kembali terdiam dan kekosongan itu kian terasa aneh dan luka.

“Hmm, kenapa kita gak sadar dari awal sih padahal kan kita sering cerita tentang keluarga kita.” Suasana mulai terasa mencair meskipun masih ada percikan perasaan yang berusaha mereka tutupi. Fahmi mengangkat bahunya.

“Jalannya emang harus kaya gini kali.” ucap fahmi singkat. fahmi memberanikan diri untung menggenggam tangan citra. “Dengerin, sekarang gak peduli apapun kakak bakalan sayang sama kamu, Cit. meskipun status kita berubah menjadi kakak adik sesungguhnya. Tapi kali ini rasa sayang kakak gak ada batas gak ada akhir untuk hubungan ini.”

Citra bergeming sambil menatap dalam ke mata coklat fahmi.

“Suatu saat kalau kamu ketemu lelaki dan dia bikin kamu nangis, kakak akan hajar dia Cit, bener deh siapapun itu yang membuat kamu nangis akan kakak habisin.” Katanya disambung dengan tawa yang terdengar sumbang. 

Apa kakak, bisa menghajaar diri kakak sendiri?  

Meskipun kakak dan adik terdengar aneh bagi keduanya namun mereka berdua berusaha tersenyum terlebih Citra meskipun air matanya sudah berhasil mebasahi kedua pipinya namun senyum itu tetap terukir di bibirnya.

Kemudian fahmi berdiri dan merentangkan tangannya, Citra cemberut tapi kemudian ia menyeka air matanya dan menghampur ke dalam pelukan fahmi. 

“Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka.” Bisik fahmi, sama persis dengan apa yang dibisikan oleh ibu citra saat itu. Setelah pelukan mereka terurai menjadi sebuah jarak, mereka kemudian berjalan pulang dengan arah yang berlawanan.

Waktu mungkin bisa menyembuhkan kak, tapi ada kenangan di antara kita yang tak akan pernah bisa kita ingkari.

Sore itu menjadi pertemuan awal mereka sebagai kakak dan adik sepupu dan pertemuan terakhir sebagai seorang kekasih. Taman itu kembali hening diikuti oleh langit oranye yang mulai menghilang tertutup oleh gelap yang mulai keluar menggantikan mentari pemilik siang.