Kamis, 24 September 2015

Singgahlah, Hari itu akan datang.

Ayah, jika saat ini tangisku belum reda, sepenuhnya ini bukan karena aku tak ikhlas akan pergi nya ayah yang sudah menjelang empat tahun. Iya, benar tenyata hampir empat tahun kami berjalan tanpa sosok ayah, jika melihat lurus kedepan rasanya aku belum berjalan terlalu jauh tapi saat menoleh kebelakang ternyata telah ada jejak panjang yang berhasil aku lalui. Itu pencapaian yang harus dibanggakan bukan? rasanya baru kemarin aku menangis lalu diam kemudian menjerit lalu tertidur kemudian terbangun lagi begitu seterusnya sampai aku sadar bahwa di depanku benar-benar sosok ayah yang sudah tak bisa bergerak, itu empat tahun yang lalu, dan tiga tahun belakangan tulisanku hanya melingkar tentang ayah dan bagaimana gilanya aku merindukan ayah. Tahun berlalu, waktu membuatku mengerti bahwa aku harus menerima, bagaimanapun hidup telah di gariskan.

Mungkin juga garis ini lah yang membawaku ke dalam perasaan ini, ada perasaan tak nyaman luar biasa dalam dadaku berharap bahwa yang akan aku hadapi bukan lah sesuatu yang nyata. Aku sadar bahwa jika tidak hari ini mungkin hari-hari berikutnya akan terjadi juga, jadi biarlah aku menghadapinya lebih cepat. Biar aku ikhlas, biar aku tabah.

Ayah, anakmu ini sudah 18 tahun tapi pikiran nya hanya berputar di kehidupan bersama ayah, aku masih tak bisa meredam emosi tiap kali seseorang berbicara pengganti ayah. Saat itu aku pikir siapa yang tidak akan emosi jika seorang anak mendengar kalimat seperti itu, tapi aku ingin menghalang segala sifat egoisku yang aku terus kurung dalam pikiranku. Yang ada di kepalaku saat ini hanya, aku melakukan ini untuk ibu, untuk ibu, untuk ibu. Meskipun sangat terlambat, ayah senang kan?

Aku akan bisa menerima ini, aku akan menjalaninya, meskipun aku tidak bisa berbohong saat pertama kali mendengarnya duniaku tiba-tiba saja runtuh, meskipun begitu selalu ada selah sinar kecil yang menyelamatkanku. Sinar dalam bentuk Do’a. bahwa seberapa jauh dimensi ayah sekalipun, aku masih bisa memeluk ayah dalam do’a-do’aku. Tak ada yang namanya menggantikan sosok ayah, ayah masih dan akan selalu menjadi yang terhebat dalam kehidupanku. Sekali lagi, ini untuk ibu, untuk ibu.

            Ayah juga tahu, bahwa ketidak hadiranku bukanlah bentuk penentangan dariku, sama sekali bukan. hari itu kuliahku padat sampai sore dan besoknya aku harus kuliah pagi, alasan yang masuk akal kan jika aku tidak hadir? Apa itu bisa di terima? Walaupun itu bukan satu-satunya alasan yang ku miliki aku yakin ibu mengerti dan ayah tahu itu. Daripada semuanya menjadi canggung dan kehadiranku malah membuat yang lain merasa tidak nyaman, lebih baik aku tak ada di sana saat itu. Ayah, banyak hal yang ingin aku katakan pada ibu tapi kenapa yang sampai hanyalah air mata? Datanglah ayah kedalam mimpi ibu, singgahlah kemudian katakana ketulusan yang tak pernah sanggup keluar dari mulutku, aku ikhlas ayah, aku ikhlas.



Anakmu,
Yang ketakutan menghadapi kehidupan mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar