Ayah, jika
saat ini tangisku belum reda, sepenuhnya ini bukan karena aku tak ikhlas akan
pergi nya ayah yang sudah menjelang empat tahun. Iya, benar tenyata hampir
empat tahun kami berjalan tanpa sosok ayah, jika melihat lurus kedepan rasanya
aku belum berjalan terlalu jauh tapi saat menoleh kebelakang ternyata telah ada
jejak panjang yang berhasil aku lalui. Itu pencapaian yang harus dibanggakan
bukan? rasanya baru kemarin aku menangis lalu diam kemudian menjerit lalu
tertidur kemudian terbangun lagi begitu seterusnya sampai aku sadar bahwa di
depanku benar-benar sosok ayah yang sudah tak bisa bergerak, itu empat tahun
yang lalu, dan tiga tahun belakangan tulisanku hanya melingkar tentang ayah dan
bagaimana gilanya aku merindukan ayah. Tahun berlalu, waktu membuatku mengerti
bahwa aku harus menerima, bagaimanapun hidup telah di gariskan.
Mungkin juga
garis ini lah yang membawaku ke dalam perasaan ini, ada perasaan tak nyaman
luar biasa dalam dadaku berharap bahwa yang akan aku hadapi bukan lah sesuatu
yang nyata. Aku sadar bahwa jika tidak hari ini mungkin hari-hari berikutnya
akan terjadi juga, jadi biarlah aku menghadapinya lebih cepat. Biar aku ikhlas,
biar aku tabah.
Ayah, anakmu
ini sudah 18 tahun tapi pikiran nya hanya berputar di kehidupan bersama ayah,
aku masih tak bisa meredam emosi tiap kali seseorang berbicara pengganti ayah.
Saat itu aku pikir siapa yang tidak akan emosi jika seorang anak mendengar
kalimat seperti itu, tapi aku ingin menghalang segala sifat egoisku yang aku
terus kurung dalam pikiranku. Yang ada di kepalaku saat ini hanya, aku
melakukan ini untuk ibu, untuk ibu, untuk ibu. Meskipun sangat terlambat, ayah
senang kan?
Aku akan bisa
menerima ini, aku akan menjalaninya, meskipun aku tidak bisa berbohong saat
pertama kali mendengarnya duniaku tiba-tiba saja runtuh, meskipun begitu selalu
ada selah sinar kecil yang menyelamatkanku. Sinar dalam bentuk Do’a. bahwa
seberapa jauh dimensi ayah sekalipun, aku masih bisa memeluk ayah dalam
do’a-do’aku. Tak ada yang namanya menggantikan sosok ayah, ayah masih dan akan
selalu menjadi yang terhebat dalam kehidupanku. Sekali lagi, ini untuk ibu,
untuk ibu.
Ayah
juga tahu, bahwa ketidak hadiranku bukanlah bentuk penentangan dariku, sama
sekali bukan. hari itu kuliahku padat sampai sore dan besoknya aku harus kuliah
pagi, alasan yang masuk akal kan jika aku tidak hadir? Apa itu bisa di terima?
Walaupun itu bukan satu-satunya alasan yang ku miliki aku yakin ibu mengerti
dan ayah tahu itu. Daripada semuanya menjadi canggung dan kehadiranku malah
membuat yang lain merasa tidak nyaman, lebih baik aku tak ada di sana saat itu.
Ayah, banyak hal yang ingin aku katakan pada ibu tapi kenapa yang sampai
hanyalah air mata? Datanglah ayah kedalam mimpi ibu, singgahlah kemudian
katakana ketulusan yang tak pernah sanggup keluar dari mulutku, aku ikhlas
ayah, aku ikhlas.
Anakmu,
Yang ketakutan menghadapi kehidupan mendatang.
Yang ketakutan menghadapi kehidupan mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar