Gema
takbir berkumandang lagi…
Untuk
ketiga kalinya aku mendengarnya tanpa ayah. Seperti ada luka kecil di dalam
hatiku yang selalu terasa sakit jika mengingat ini. Ayah, jika saat itu aku
tahu idul fitri terakhir ayah, mungkin aku bisa memelukmu lebih erat dari
biasanya mungkin aku juga akan lebih lama mengenggam lengan ayah.
Jika
dipikirkan lagi, bukankah seharusnya aku telah terbiasa tanpa ayah? Bukankah
seharusnya ini terasa lebih mudah? Tapi kenapa sudut sunyi dirumah ini selalu
terasa menyakitkan bagiku, aku ingin benar-benar memelukmu ayah masih ada maaf
yang tak terucapkan padamu, aku belum benar-benar meminta maaf kepadamu semasa
hidupmu aku sering menentangmu, aku juga sering berbohong dan bahkan tidak
mendengarkan perkataanmu. Tapi saat ini aku bisa apa? tidak ada lagi raga yang
bisa aku peluk, akankah permintaan maafku ini diterima olehmu?
Ayah,
maafkan aku, sungguh maafkan aku ayah. Aku belum cukup baik menjadi seorang
anak dari ayah yang hebat seperti mu, bahkan aku belum bisa membuatmu bangga
padaku. Ayah, akankah kau mendengarkan ini semua? Entah bagaimana caranya, aku
harap ayah tahu.
Jika
aku boleh mengadu, saat ini telah banyak kebiasaan di keluarga kita yang mulai
hilang setelah ayah pergi, bahkan jarak antara kami dan saudara-saudara ayah
makin terasa. Sebenarnya aku tidak ingin ada silaturahim yang terputus diantara
kami, tapi aku bahkan malu, setelah ayah pergi aku merasa seperti orang asing
di antara mereka. Tapi ayah, bukankah darah itu lebih kental dari pada air? Di dalam
tubuhku juga mengalir darah mereka, kan yah? Aku tidak ingin menjadi orang
asing di antara mereka meskipun saat ini tidak ada lagi ayah. Idul fitri tahun
ini, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan semua orang terutama
saudara-saudara ayah. Semoga ini bukan hanya sekedar harapan.
Besok
aku akan pergi ke makam tempat jasadmu terbaring terakhir kalinya, aku tidak
ingin menangis diatas pusaramu seperti biasanya, semoga ayah mengerti anakmu
hanya ingin terlihat kuat dan tegar dihadapan ibu.
Ayah,
aku merindukanmu.
aku akan selalu menunggu kehadiranmu di mimpi-mimpiku.
aku akan selalu menunggu kehadiranmu di mimpi-mimpiku.
Salam
peluk, anak sulungmu.