“jangan
bahagia tanpa aku ya.” Kataku sambil merapatkan pelukanku pada adit. Dia terkekeh
pelan sambil melepas pelukanku. “gak akan pernah, sumber bahagia ku, ya kamu. Kalo
kamu bahagia aku bahagia dan kalo kamu sedih aku akan lebih sedih lagi” Katanya
sambil mengacak poni ku pelan. Aku tersenyum. tak pernah merasa seberuntung ini
ketika dimiliki oleh pria paling sempurna di mataku. Iya, tak pernah ada
sedikitpun keraguanku padanya. Karena aku tau setulus apa dia mencintaiku. Aku bisa
melihatnya dari sorot matanya, perlakuan nya, dan pengorbanan yang telah dia
beri untuk ku. Aku yakin dia untuk ku. Aku bukan lagi anak labil yang butuh
banyak cinta. Yang aku butuhkan hanya dia. Satu-satunya.
***
“Ditaa...
ada buket bunga lagi nih depan rumah lo.” Aku tersadar dari lamunanku saat
teriakan sahabatku itu berhasil memekakan telingaku. Aku menoleh, dia
menghampiriku dengan antusias. “betapa indah nya jadi lo dit. Andaikan gue jadi
lo, gue bakal pamer abis-abisan.” Decaknya sambil memeluk buket bunga mawar
merah yang katanya untuk ku itu. Aku mendesah pelan, andaikan faraz menjadi
aku, akan kah dia bertahan sampai sejauh yang kulakukan? walaupun sepertinya
yang tersisa dalam diriku hanyalah mayat hidup yang dipaksa bertahan.
“Handphone
lo bunyi tuh dit, ada sms deh kayanya.” Katanya, aku mengambil ponsel ku dari
atas meja rias. Sms. Ada satu pesan singkat dari... rangga. Kenapa pria ini
tidak pernah berhenti menghubungiku, padahal sudah ku tolak cintanya puluhan
kali. Aku membuka sms nya dengan malas. Isinya.... ya seperti biasa. Ucapan selamat
pagi, dan menanyakan apakah bunganya sudah ku lihat. Aku melemparkan asal
handpohone-ku ke atas tempat tidur.
“dari siapa
dit?” aku melirik ke arah sahabatku yang sibuk memilin-milin rambutnya yang
sudah ikal itu. “ga penting, eh anter gue ke toko kue yuk.” Kataku, dia
menoleh. “bentar ini tanggal berapa?” katanya, dia lekas beringsut mengecek
tanggal di ponsel nya. dia mengeluh panjang. “mau sampai kapan kaya gini dit?”
aku menggeleng, aku tak akan pernah sanggup menjawab pertanyaan seperti itu,
karena aku berharap hidup untuk hari ini saja esok nya mungkin aku juga ikut
pergi. Dia memeluk ku. “lo harus tegar dit. Terima kenyataan kalo adit itu udah
gak ada.”
Satu yang
aku yakini, adit itu selalu ada di hati ku. Dan, adit dan dita adalah satu
kesatuan. Nama kita terangkai dari huruf yang sama, kita di takdirkan bersama;
seharusnya. Dia melepaskan pelukkan nya dan menatapku dengan tatapan ambigu. “tuhan
udah nyiapin kebahagiaan untuk semua orang, termasuk elo. Mungkin saat ini lo
masih nganggap kebahagiaan lo cuma ada di adit. Tapi bahagia menurut tuhan gak
gitu. Ada kebahagiaan yang bertubi-tubi menyambut lo setelah ini. bangkit dita!
Life must go on!”
Ucapan faraz
hanya lewat begitu saja, sudah puluhan kali aku mendengar perkataan yang sama
dari mulut yang sama. Tapi aku juga menghargai faraz, dia sahabatku
satu-satunya dia orang satu-satunya yang tersisa untuk peduli kepadaku, setelah
keluargaku cerai-berai berantakan. Aku menyayanginya, tapi yang aku rasakan
saat ini, tidak akan dia mengerti, karena dia tak pernah merasakan hancurnya
kehilangan. “kali ini aja please raz, demi gue.” Kataku sambil menunjukan
senyum; sedikit meminta belas kasihan. Dia mendesah, “tahun lalu, bilang kaya
gitu juga kan dit sama gue? Tapi buktinya apa? Lo masih rayain hari jadi lo
tahun ini. tepat 3 tahun lo udah ngelakuin hal yang seharusnya gak lo lakuin.” Katanya,
tegas. Aku menggigit bibir bawahku, air mataku menetes saat bibir ku sudah tak
sanggup lagi berkata apa. “dengerin gue deh dit.” Kudengar suaranya mulai
melembut. “adit juga gak akan bisa bahagia kalo liat lo terus murung kaya gini.
Adit pengen liat lo bahagia walau tanpa dia.” Aku terdiam, terlihat seperti
patung bodoh yang di permainkan oleh takdir.
“please dit
kali ini yang terakhir ya.” Ucapnya, aku mengangguk mengiyakan. Disisi lain
kesedihanku, aku bahagia, ada faraz di sampingku.
***
Selamat hari
jadi yang ke-empat sayang, ini mungkin kue terakhir yang ku beli untuk hari
jadi kita setelah kepergianmu. Mungkin.
Aku hanya tak ingin terus menerus menjadi beban pikiran faraz, aku hanya ingin
bahagia saat ini meskipun aku sudah menganggap kebahagaiaan itu hanya
halusinasi setelah kepergianmu. But, i’ll and must try.
“dit pulang
yuk, udah hampir sore.” Katanya, dia di sampingku sejak tadi, tak mengusik ku
dan mencoba memahamiku. Dia berdiri dan mengulurkan tangan nya, aku langsung
meraih tangan nya. dia tersenyum lalu mencium puncak kepalaku. “terimakasih
dit, aku akan selalu menunggu hati kamu untuk aku seutuhnya, sampai kapan pun
itu.”
Iya dit, aku
menerima cinta rangga. Dia juga ternyata mencintai ku setulus yang kamu beri. Dia
memahami rasa kehilanganku. Aku akan mencoba mencintainya seperti aku
mencintaimu dit, sebesar rasa cintanya untuk ku saat ini. dan satu hal, aku bahagia
untukmu.
***
Saat mereka
pergi, tepat belasan burung-burung itu sudah siap memakan jatah mereka. Setiap setahun
sekali mereka menunggu di atas ranting pohon dan melihat seorang wanita
meletakan kue-nya di atas pusara. Itu rejeki mereka, dan mereka berbahagia atas
itu. Namun seperti nya kue tadi adalah kue terakhir yang akan mereka makan. Karena
saat ini wanita itu sudah bergandengan dengan kebahagiaan. Mereka akan
kehilangan makanan spesialnya, namun mereka ikut bahagia saat melihat senyum di
wanita itu terukir tanpa paksaan.