Ponselku berdering dari sudut laci,
aku mengabaikan nya. aku masih sibuk dengan kertas-kertas dengan pensil-pensil
yang harus aku selesai kan besok pagi tanpa ampun. Garis demi garis aku gambar
nyaris sempurna, sebuah bangun sempurna itu sebentar lagi utuh, lalu menjadi
nyata. Di tengah-tengah kota New York yang hingar bingar itu nantinya akan
berdiri salah satu gedung pencakar
langit hasil dari tangan ku, hasil dari garis-garis ini yang kubuat dengan susah
payah. Harusnya 30 hari selesai, namun sang pemilik dollar yang melimpah itu
selalu memintaku untuk merombak dan menghapus beberapa garis dan ruang. Aku
mengiyakan nya tanpa protes. Siapalah aku, aku hanyalah orang asing yang sedang
tinggal di negeri orang, orang asing yang sedang membutuhkan lembaran dollar
itu pindah dari tangan nya. Sudah seminggu ini pekerjaan ku semakin membabi
buta, tak ada waktu untuk setidaknya menikmati kota yang katanya paling ramai
sedunia ini.
Aku membuka laman yahoo untuk
mengecek e-mail yang mungkin sudah
usang. Aku tertegun ada banyak e-mail dari Senja, kekasihku di aceh. E-mail
terakhirnya tertulis tanggal 30 Juli 2013, dua hari yang lalu. Aku membuka
e-mail nya satu persatu, merasakan senja benar-benar ada di sampingku. Dia
selalu menanyakan ku kabar, mengingatkan ku makan. sayang nya itu e-mail satu
minggu yang lalu. Andaikan dia tahu, alasanku ada di sini itu adalah dia, aku
ingin memilikinya seutuhnya aku ingin membuat kehidupan baru yang lebih layak
bersamanya. Sampai akhirnya aku membuka e-mail terakhir darinya.
“Mas, apa kabar? Kapan pulang? Sesibuk itu kah? Sampai tidak ada waktu untuk sekedar membalas e-mail dariku. Aku tahu ini mimpi kamu, ini cita-cita kamu sejak kecil aku mengerti itu. tapi semakin lama rindu ini menyesakan mas. aku memang egois kali ini, yang aku inginkan hanya kehadiranmu di sini, bukan uang yang berlimpah seperti yang kau janjikan. Bunda juga merindukan anak emas nya, kemarin Ridho di adopsi oleh orang dari jakarta membuat panti jadi semakin sepi. Aku tidak meminta apapun mas, aku hanya ingin melihat kepulangan mu. Jaga baik-baik dirimu, arsitek kebanggaan ku. Rindu ini tak akan terucap oleh dekapan, tapi semoga disampaikan oleh bulan. Karena jingga dan senja ditakdirkan untuk bersatu.”
Untuk kesekian kalinya,
ponsel ku berdering. Aku menyerah akhirnya aku angkat telepon dari adrian teman
seprofresi ku. Aku bergeming. Lutut ku melemas adrian memberitahu ku dengan
hati-hati. Aku tertegun, Air mata ku luruh saat itu juga, impianku terkikis
sudah. Dengan cepat aku mengalihkan cursor ke menu utama halaman yahoo. Headline News Hari ini. “Gempa 6,2 SR
Guncang Aceh 40 orang tewas, 63 orang luka berat.” Aku masih
tidak bisa pulang. Aku terpenjara di negeri orang.
***
Aku pulang Senja..
berdiri menatap hamparan tanah
kosong di depanku. membayangkan bagaimana panti ini ambruk oleh guncangan gempa beberapa bulan yang lalu. Maafkan aku.
Dulu tak seperti ini, dulu tak sesepi ini. andaikan aku bisa menggantikan waktu ku saat
itu, andai aku bisa datang tepat waktu, mungkin tak akan sesakit saat ini. aku menyesal. Jingga dan Senja akhirnya memang tak bersatu.