Jumat, 12 Juli 2013

Aku pulang saat semuanya hilang.



            Ponselku berdering dari sudut laci, aku mengabaikan nya. aku masih sibuk dengan kertas-kertas dengan pensil-pensil yang harus aku selesai kan besok pagi tanpa ampun. Garis demi garis aku gambar nyaris sempurna, sebuah bangun sempurna itu sebentar lagi utuh, lalu menjadi nyata. Di tengah-tengah kota New York yang hingar bingar itu nantinya akan berdiri  salah satu gedung pencakar langit hasil dari tangan ku, hasil dari garis-garis ini yang kubuat dengan susah payah. Harusnya 30 hari selesai, namun sang pemilik dollar yang melimpah itu selalu memintaku untuk merombak dan menghapus beberapa garis dan ruang. Aku mengiyakan nya tanpa protes. Siapalah aku, aku hanyalah orang asing yang sedang tinggal di negeri orang, orang asing yang sedang membutuhkan lembaran dollar itu pindah dari tangan nya. Sudah seminggu ini pekerjaan ku semakin membabi buta, tak ada waktu untuk setidaknya menikmati kota yang katanya paling ramai sedunia ini.
            Aku membuka laman yahoo untuk mengecek  e-mail yang mungkin sudah usang. Aku tertegun ada banyak e-mail dari Senja, kekasihku di aceh. E-mail terakhirnya tertulis tanggal 30 Juli 2013, dua hari yang lalu. Aku membuka e-mail nya satu persatu, merasakan senja benar-benar ada di sampingku. Dia selalu menanyakan ku kabar, mengingatkan ku makan. sayang nya itu e-mail satu minggu yang lalu. Andaikan dia tahu, alasanku ada di sini itu adalah dia, aku ingin memilikinya seutuhnya aku ingin membuat kehidupan baru yang lebih layak bersamanya. Sampai akhirnya aku membuka e-mail terakhir darinya. 


            Mas, apa kabar? Kapan pulang? Sesibuk itu kah? Sampai tidak ada waktu untuk sekedar membalas e-mail dariku. Aku tahu ini mimpi kamu, ini cita-cita kamu sejak kecil aku mengerti itu. tapi semakin lama rindu ini menyesakan mas. aku memang egois kali ini, yang aku inginkan hanya kehadiranmu di sini, bukan uang yang berlimpah seperti yang kau janjikan. Bunda juga merindukan anak emas nya, kemarin Ridho di adopsi oleh orang dari jakarta membuat panti jadi semakin sepi. Aku tidak meminta apapun mas, aku hanya ingin melihat kepulangan mu. Jaga baik-baik dirimu, arsitek kebanggaan ku. Rindu ini tak akan terucap oleh dekapan, tapi semoga disampaikan oleh bulan. Karena jingga dan senja ditakdirkan untuk bersatu.

          
        Untuk kesekian kalinya, ponsel ku berdering. Aku menyerah akhirnya aku angkat telepon dari adrian teman seprofresi ku. Aku bergeming. Lutut ku melemas adrian memberitahu ku dengan hati-hati. Aku tertegun, Air mata ku luruh saat itu juga, impianku terkikis sudah. Dengan cepat aku mengalihkan cursor ke menu utama halaman yahoo. Headline News Hari ini. Gempa 6,2 SR Guncang Aceh 40 orang tewas, 63 orang luka berat.” Aku masih tidak bisa pulang. Aku terpenjara di negeri orang.

***
           Aku pulang Senja..
berdiri menatap hamparan tanah kosong di depanku. membayangkan bagaimana panti ini ambruk oleh guncangan gempa beberapa bulan yang lalu. Maafkan aku. 
Dulu tak seperti ini, dulu tak sesepi ini.  andaikan aku bisa menggantikan waktu ku saat itu, andai aku bisa datang tepat waktu, mungkin tak akan sesakit saat ini.  aku menyesal.  Jingga dan Senja akhirnya memang tak bersatu.

Senin, 08 Juli 2013

Titip Rindu Buat Ayah



                Aku hanya ingin memeluk ayah saat ini juga, saat air mata tak bisa lagi teruraikan oleh kata-kata , saat kegelisahanku yang kian tak menentu. Aku ingin hentikan segala resah ini.
ini adalah tahun kedua menjelang bulan ramadhan tanpa ayah. Tahun lalu saat pertama kali puasa tanpa ayah, aku menangis di atas pusara nya yang belum benar-benar kering, aku bahkan sempat berlari sendirian ke makam nya hanya untuk menangis disana, saat itu aku masih merasa benar-benar hancur, hidup seperti mati, mati tapi seolah hidup.  dan kali ini, maafkan aku karena aku masih menangisi mu yah. Kali ini aku menelan nya sendirian, berharap dengan banyak nya kegiatan bisa membuatku lupa akan semua rasa kehilangan itu, tapi nyata nya itu tidak terjadi, aku masih menangisi mu diam-diam. 

                Sekarang aku hanya ingin mengenangnya lewat kebiasaan-kebiasaan yang tak pernah terlupakan. Lewat hobinya yang benar-benar ia cintai. Memasak. 

                Saat puasa tiba ia tidak pernah pulang larut malam, bahkan ayah selalu pulang ba’da ashar alasan nya hanya satu ia ingin memasak untuk buka puasa. Dan hobi nya yang satu itu memang sangat digilainya sampai-sampai aku pernah disuruh mencatat resep yang ia minta langsung dari penjualnya, menu utamanya ‘kepala kakap’. Saat itu, aku sama sekali belum pernah memakan yang namanya kepala kakap, apalagi bagian kepalanya bagiku itu cukup mengerikan untuk di makan tapi ia selalu memaksaku mencoba masakan nya pertama kali dan aku selalu suka, saat aku mencoba masakan nya dia selalu melihatku dan sedikit mengerutkan kening nya. “Jangan bilang kurang asin.” Katanya bila melihat ekspresiku yang tak meyakinkan. Aku selalu tertawa jika ia berkata seperti itu, ini murni salah lidahku yang suka masakan gurih. 

                Hilang. Tidak akan ada lagi kebiasaan seperti itu sore nanti. Aku akui masakan ibu juga memang tidak pernah ada yang tidak enak tapi ayah selalu menciptakan makanan yang belum pernah aku rasakan, dia selalu membuat lidah ku berpetualang, masakan nya sering gagal namun entah apa yang ada di otak nya ia selalu bisa membuat makanan itu tetap layak untuk di makan. dan yang mencobanya pertama kali itu pasti aku. aku pecinta makanan. Saat seperti apapun aku pasti akan makan. tapi saat nafsu makan ku hilang, aku benar-benar tidak akan makan. “kamu itu mau makan apa sih?!” sekarang aku jadi sering dengar pertanyaan sejenis introgasi seperti itu dari ibu. Aku selalu jawab, ‘apa saja’. Tapi sebenarnya saat itu aku hanya rindu masakan ayah. Keluarga ayah memang punya hobi yang sama, entah itu adik, kakak laki-laki atau yang perempuan nya. masakan mereka juga enak, tapi masih jauh dengan masakan ayah. Dan.. saat ini memang aku juga semakin jauh dengan mereka dan aku bersyukur karena aku tidak akan pernah peduli.

                Ah, aku tak berharap apa-apa kali ini. aku hanya ingin do’a ku untuk nya selalu sampai, aku hanya ingin tidak ada tangisan kehilangan lagi, aku ingin tidak ada air mata yang terselip dalam do’a. Aku tak ingin ada campur tangan air mata dalam kesedihanku. 


Oh iya pak, di surga bapa masih suka masak gak? Kalau bisa kirimin kesini dong makanan nya pasti makanan dari surga itu lebih enak ya pak. Kirim lewat malaikat aja pak. Hehe. Becanda kok.


Tuhan, Titipkan rindu ini untuk ayah, katakan padanya aku akan selalu berusaha menjadi apa yang ia harapkan. Katakan padanya aku akan selalu merindukan nya.

Senin, 01 Juli 2013

Rahasia


          “Foto siapa?”

                Aku menoleh, saat tiba-tiba ada seorang pria duduk disampingku. Menakutkan. Pakaian yang serba hitam itu membuat siapapun yang melihat jadi bergidik ngeri. Di tambah dengan rambut gondrong yang ia ikat asal. Aku berusaha tenang.

                “Ayah.” Jawabku tenang. Dia mengangguk.

                “kalau orang yang udah pergi itu biasa nya emang sering banget di kangenin. Kenapa ya?” katanya santai sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku taman. di sampingku. Aku menoleh dengan tatapan heran. “kok tahu kalau ayah saya udah gak ada mas?”

                Dia hanya tersenyum kecil, lalu mendecak. “Ayah saya juga udah gak ada sih.” Jawabnya seperti tanpa beban. Aku alihkan pandangan ku padanya, kulihat guratan wajahnya yang tak menunjukan gurat kesedihan sedikitpun namun saat aku melihat matanya, aku tahu, sorotan mata itu, sorot mata kerinduan. Aku yakin hatinya tak seperti caranya berpakaian yang serba hitam.

                “Saya kasih tau ya de, saya ini bukan ustadz, saya ini berandalan yang hidup di jalanan. Tapi saya tahu rasanya kehilangan itu seperti apa. Sakit. saya sering perhatiin kamu tiap sore disini, Cuma prihatin aja sih. Jangan keterusan sedihnya ya, kamu harus bangkit. Jangan kayak saya, idup saya udah terlanjur gini.” Keningku berkerut samar. Kata-katanya sangat jauh dari ekspetasi ku sebelumnya, penilaian ku bertambah.

                Tiba-tiba dia mengeluarkan foto dari dompetnya, perlahan dia memperlihatkan nya padaku. “Ini foto ayah saya, ini ibu saya, ini saya, dan ini kamu waktu masih umur 5 tahun.” Katanya sambil menunjukan wajah-wajah di foto itu, aku terpana, lalu menatapnya tanpa berkedip. Air bening dari mataku jatuh perlahan. “Mas dio..” desis ku sangat pelan. Dia tersenyum. Sambil mengacak rambutku pelan. Lalu, dia mengecup puncak keningku.

                “Jaga diri kamu baik-baik ya de.” Saat itu juga dia bangkit lalu pergi.

                Aku meneriakan namanya berulang kali namun dia tak menoleh. Dimana tongkat sialan itu ku simpan tadi? Aku terus memanggilnya dengan penuh tangisan histeris. “Kak, sekarang adikmu lumpuh.” desisku dengan penuh isakan namun dia tetap berlalu.