Sabtu, 26 Oktober 2013

Firasat


     Bagas mengarahkan handycam yang ia pegang ke arah wanita berparas oriental di hadapan nya itu. “Ih apaan sih bagas!” ujar Keila ketus.    
    “Hayo marah! Lagi baca apaan sih lo?” tukas bagas, sambil terus mengarahkan handycam itu ke wajah Keila. Keila yang mulai jengkel akhirnya menutup buku yang sedang ia baca. “Bagas Norak ih!” dengus keila sambil mencoba merebut benda itu, tapi bagas tidak melepaskan dari tangan nya. malah mengarahkan nya ke wajahnya.         
      “Hello, gue bagas!” katanya di depan handycam, lalu mengarahkan nya ke wajah keila yang sedari tadi tersenyum geli melihat tingkah bagas. “Nah ini, namanya keila. Pendek ya dia.” Kata bagas, sambil menyorot Keila dengan handycam nya. Keila mendengus. “Rese lo.”            
      “Iya, dia pendek. Tapi gue cinta dia.” 
       tanpa di sadari, pipi keila yang putih pucat itu kini berubah warna menjadi semu kemerahan. Dia bahagia mendengar kalimat itu. setelah itu bagas meletakan benda itu di meja lalu kembali menatap keila. “Kalo gue gak gitu, lo malah terus pacaran sama buku-buku lo. Bukan gue.” Ucap bagas sambil mencubit hidung bangir milik Keila, Keila tersenyum geli. “Aduh, lo cemburu sama buku. Cieee.”

Kamis, 24 Oktober 2013

The Truth Never Say


                                
              Aku menghembuskan nafasku pelan-pelan, setelah tadi jantungku berdegup tidak karuan. Kamu perlahan berjalan menjauhiku, mataku tidak melepaskanmu sampai jarak yang membuatmu menghilang. Padahal ini bukan pertamakali nya aku berbicara denganmu tapi tetap saja, rasa aneh yang menggelitik perutku itu masih tetap sama dengan waktu itu, saat aku pertama melihatmu di lapangan basket. Dan bintangnya adalah kamu. Aku bahkan tidak sadar, selama berbicara denganmu senyumku tak pernah hilang.  

              “Tata, lo tau berita baru gak?” tiba-tiba risya menghampiri ku dengan nafas yang terengah-engah. Aku yang sedang merapikan buku-buku ku hanya menjawab seadanya. “Kenapa sya?”     
              “Tapi lo jangan kaget ya ta.”    
              “Hm.”
              “Kak Niko jadian sama kak tasya. Nembaknya tadi di aula, sumpah dong romantis banget. Gue aja yang ngeliatnya merinding banget apalagi kak tasya yang ngerasain nya.” 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Senyum Risa


            Dia meremas bahuku kencang sambil mencoba menyembunyikan tangisnya di dadaku. Aku terus membelai puncak kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Sebenarnya pada saat itu hati ku ikut hancur juga, saat dia tiba-tiba datang dengan derai air mata dan langsung memelukku tanpa mengatakan apa yang telah terjadi. Aku membiarkan dia memelukku dan mengeluarkan semua air matanya untuk beberapa saat, aku hanya bisa ikut dalam kesunyian nya. seperkian menit berikutnya dia melepaskan pelukan nya padaku, lalu memberikan senyuman manisnya untuk ku.

            “Kenapa?” tanyaku pendek, dia hanya tersenyum. aku mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipi tirusnya. “duduk sini.” Aku membiarkan nya duduk di kursi seadanya di teras kost-an yang aku tempati. 
 
            “Mereka jadi pisah kak.” Aku merangkul pundaknya, tidak banyak yang bisa aku lakukan untuknya. Masih ada batas-batas yang tidak boleh aku sentuh di kehidupan pribadinya. 

Minggu, 06 Oktober 2013

Dare To Dream

            Carissa mengedarkan pandangan nya keluar, mata sayu nya memandang putus asa guratan sendu tersirat jelas di wajahnya. Dari balik jendela kamarnya ia melihat calista, kakak kembaran nya yang di jemput oleh pacarnya. Ia iri, melihat kakak nya bisa sebebas itu. berbeda dengan nya, berbeda dengan hidupnya. Sore itu, ia pergi ke taman kompleks dekat rumahnya, seperti biasanya ia membawa perangkat lukis seadanya, setidaknya hanya kegiatan ini lah yang carissa mampu dan senang menjalani nya. 
 
            “Sendirian?” tiba-tiba ada seorang pemuda duduk di sampingnya, carissa jelas mengabaikan nya karena ia tidak suka dengan orang asing. “hallooo...” panggilnya lagi, namun carissa tetap mengabaikan nya. “Carissa!” Barulah carissa menoleh saat pemuda itu memanggil namanya, alisnya berkerut samar. 

            “Gelang kamu.” Katanya, lalu carissa melihat gelang yang ia pakai tertulis namanya. Carissa tersenyum, di ikuti oleh pria itu. “Lukisan kamu bagus.”

            “Oh iya namaku lukas. Salam kenal ya carissa.” Kata lukas sambil mengulurkan tangan nya lalu carissa membalas uluran tangan dari lukas, lalu tersenyum. Beberapa menit selanjutnya hanya terdengar hembusan nafas mereka, diam-diam carissa merasa gugup bahkan ia bisa merasakan dan mendengar degup jantungnya sendiri. Carissa berhenti melukis.

            “Loh, kenapa berhenti?” tanya lukas.

            Carissa mengeluarkan secarik kertas lalu menuliskan kalimat disana. “kamu jangan ngeliatin aku kaya gitu.” Lukas terdiam saat menerima kertas itu dari carissa, ia melihat wajah carissa, goresan tuhan di hadapan nya ini seperti tidak ada cacat sedikitpun, parasnya yang manis membuta siapapun yang melihatnya akan menoleh kembali. Namun ada satu hal yang akhirnya lukas tau dari sosok carissa ini. 

            “kamu kaget ya? Aku emang tuna wicara, kalo aku ngomong dengan bahasa isyarat pasti kamu gak ngerti deh.” Lukas terkekeh pelan saat membaca kertas nya lagi.

            “Bisa kok.” Ucap lukas mantap. Lalu carissa mencoba berbicara dengan bahasanya, lukas menyimaknya namun tidak ada satupun dari bahasa carissa yang ia mengerti.

            “Aku ada ide, kita ngobrolnya lewat kertas ini aja yuk.” Ajak lukas, carissa mengangguk senang. Setelahnya mereka berdua ada dalam percakapan hening mereka lemat kertas-kertas itu. awalnya carissa masih gugup namun seperkian detik berikutnya lukas membuat carissa nyaman.

            “Selain melukis mimpi kamu apa?” tanya lukas, cepat, carissa membalasnya.

            “Tidak ada.”

            “Kenapa?”

            “Tidak ada satupun mimpi ku yang akan menjadi nyata dengan keadaan ku seperti ini.”

            Lukas menyimpan kertasnya dan berhenti menuliskan balasan nya, ia memalingkan wajahnya dari carissa lalu menyamdarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “kenapa?” tanya carissa dengan kertasnya. Lukas menuliskan sesuatu diatas kertasnya tapi ia tidak beri pada carissa.

            “Kamu tahu gak carissa, aku paling benci sama orang yang putus asa. Karena aku pernah jadi orang yang sangat putus asa untuk hidup tapi aku sadar dengan putus asa, tidak akan menjadikan kita menjadi sesuatu yang berharga dan dianggap ada” Kata lukas, carissa hanya menatap lukas dengan tatapan sendu.

            “Jangan kalah sama keadaan, punya mimpi dan harapan tidak akan memberatkan hidup kok. Malah membuat kita jadi lebih bersemangat untuk hidup, walaupun kita belum bisa menggapai mimpi kita, setidaknya ada hal yang terus kita percayai. Believe in your dream.”

            Carissa tersenyum, ia menggenggam lengan lukas lalu mengangguk yakin. Orang asing ini mampu menghipnotis carissa. Lukas membalas nya dengan senyuman, lalu tiba-tiba jam di pergelangan tangan lukas berbunyi. Lukas mendesah malas. “aku harus pulang carissa, besok kita ketemu lagi disini ya.” Ucap lukas, lalu ia berdiri dan meninggalkan carissa, carissa pun ikut beranjak dengan tongkatnya.
***
            Carissa terduduk lama di bangku taman, kali ini ia menunggu seseorang untuk duduk di samping nya, iya, orang itu lukas. Namun satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda kehadiran dari teman barunya itu. yang ada hanyalah sekerumunan ibu-ibu muda yang sedang mengajak bermain anaknya di taman. carissa mencoba untuk melukis hanya untuk sekedar membunuh waktu saat menunggu kehadiran lukas. Waktu berlalu tanpa terasa, kehadiran lukas pun akhirnya hanya harapan semu yang tak berujung nyata.

            “Kasihan ya, padahal lukas itu anak baik.”

            “Iya bu, saya juga kaget semalam, padahal yang saya tahu dia itu orang nya ramah banget. Anak baik emang di sayang tuhan.”

            “Iya, ya bu. Semoga aja lukas di beri tempat yang indah di sisi tuhan.”

            “Amin.”


            Carissa merasakan dingin di sekujur tubuhnya saat mendengar percakapan ibu ibu yang baru saja lewat di hadapan nya, carissa yakin bukan lukas yang kemarin ia temui yang mereka maksud itu, tapi entah kenapa rasa takutnya benar-benar nyata. Tiba-tiba ia teringat kemarin, cara berpakaian Lukas memang sedikit aneh, awalnya ia berpikir lukas memakai baju tidur ternyata ia baru sadar, kemarin Lukas memakai baju rumah sakit santosa yang tidak jauh dari sini, ia tahu persis karena ia pernah memakainya. tubuh Carissa tiba-tiba lemas, ia menyesal kenapa hanya sedikit kesempatan untuk mengenal sosok yang memberinya semangat yang besar.

            “Carissa, kakak cari-cari kamu aduh kakak kira kemana. Mau ikut?” sosok calista kembaran nya, sudah berpangut dagu berdiri dihadapan nya. carissa diam, pikiran nya melayang pada sosok yang baru saja ia kenal.

            “Hei, mau ikut gak? Ayo aku bantu berdiri.” Lalu setelah itu calista membantu adiknya berdiri dengan memberikan tongkatnya. “Kita pergi ngelayat, katanya anak temen nya mama meninggal, katanya sih kanker. Stadium akhir. Ngeri ya.. eh bentar, nih kertas kamu ketinggalan, carissa jangan ngelamun nih kertas kamu.”

            “DARE TO DREAM.”

 Tulisan itu membuat senyum carissa tiba-tiba mengembang, ia yakin ini tulisan lukas yang kemarin.
                       

Jumat, 04 Oktober 2013

Saat waktu melangkah terlalu cepat

           Tidak ada yang pernah ingin di tinggalkan, termasuk aku. munafik jika aku katakan aku sudah tak mengingatnya lagi. Air mata ini memang sudah kering, senyum ini memang sudah kembali. Tapi tidak dengan hatiku, berserakan entah dimana.

            Berbicara tentang rindu, tidak ada lagi yang aku rindukan selain sosok ayah. aku tahu, ini bukan saatnya lagi untuk menuntut takdir dan keadaan, semuanya sudah berlalu. Ayah sudah pergi lebih dari setahun yang lalu. Mungkin beliau sudah tersenyum di sana. Tapi, sayangnya disini hati ku teriris ketika mendengarkan cerita-cerita mereka yang kerap kali membanggakan ayahnya di depanku. Jujur, aku iri.  Dulu, aku paling sering bercerita tentang apa yang dilakukan oleh ayahku. Dia konyol, tapi ketegasan nya membuat aku segan. Tentang kebiasaan yang sering kami lakukan, saat mencoba masakan ayah, saat dia memaksaku untuk memakai baju pink dan masih banyak hal yang telah aku dan ayahku lewati.

            Puncaknya, saat ulang tahunku beberapa waktu yang lalu. Alasan aku membenci hari ulang tahunku adalah karena ayah, karena ayah sudah tidak bisa lagi menjadi orang yang pertama yang mengucapkan itu, ayah tidak lagi mencium kedua pipiku saat pagi di hari itu. aku kecewa. Boleh kah?

            Ayah, waktu benar-benar telah berjalan terlalu cepat, sampai aku lelah mengikuti ritme nya, jika aku diam aku akan ketinggalan segalanya. Aku punya tekat untuk menjadi orang yang ayah inginkan, untuk jadi orang yang ayah banggakan. Meskipun aku tidak akan pernah bisa lagi melihat ayah tersenyum langsung di depan ku. yah,  jangan khawatir dilupakan. kau selalu jadi orang nomer satu yang setiap saat aku rindukan. I LOVE YOU!

Rabu, 02 Oktober 2013

Dua Wajah



            “Aku akan hancurkan mereka satu per satu.” Desis seorang wanita di tengah ruangan gelap dengan nada penuh dengan emosi dan dendam. Lalu wanita itu menancapkan pisau tajam ke salah satu foto yang sengaja ia tempel di dinding-dinding itu. seketika, ia tertawa penuh kepuasan saat ia berhasil mencabik-cabik foto itu dengan tangan nya.  

           Kania namanya, ia menebarkan senyum ke semua orang ia terkenal ramah dan baik di sekolahnya namun disudut yang lain banyak juga orang yang sengaja mengejek dan menghina kania karena kondisi fisiknya yang berbeda dari mereka, iya dua tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan parah dan akibatnya kakinya pincang sampai saat ini jalan nya pun hampir terseok-seok. Dalam hatinya sebenarnya ia menyimpan dendam kepada mereka, diam-diam ia mencuri-curi untuk memfoto wajah-wajah yang menghina keadaan nya, setelah itu ia sengaja menempel foto-foto hasil jepretan nya itu di paviliun miliknya. Tidak ada satupun yang tau tentang hal ini, tentang obsesinya untuk menjatuhkan mereka yang telah menjatuhkan nya juga. Bahkan lebih dari itu kania ingin menghabisi mereka semua. Kania ingin..... membunuh mereka.

            Ia memasukan sebuah pisau tajam ke dalam tas sekolahnya, rencana nya hari ini ia dan sekumpulan kelompoknya akan kerja kelompok niat kania adalah ingin menghabisi mereka satu persatu. Tiba-tiba ia tertawa tapi seperkian detik berikutnya air matanya tak mampu lagi di bendung.

            “Kania?” cepat ia memasukan pisau itu kedalam tasnya, lalu ia berbalik dengan senyum yang merekah.

            “Iya, kenapa ta?” ucapnya dengan nada seramah mungkin, tata teman nya menghampiri kania lalu dudukdi sampingnya. 

            “Ayok! Kita kan ada kerja kelompok yang lain udah pada nunggu tuh di depan.” Ucap tata, sambil membenahi barang-barang miliknya kania bangkit dari duduk nya lalu tata pergi meninggalkan kania yang sedang berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok. Air di kepala kania rupanya semakin mendidih.
                                                                            *** 
“Dewi, ikut ke toilet boleh?”

“oh boleh kan, kamu lurus aja dari sini nanti belok kiri ya. Eh bentar buku fisika kamu mana? Aku pengen nyalin dong.”

“oh itu ada di tas, ambil aja.”

            Lalu kania bangkit dan berjalan menuju toilet dengan langkah lambat, ia sudah tidak sabar ingin meloloskan rencananya itu. di toilet ia sedang menyiapkan mental dan keberanian dirinya sendiri. Sementara di tempat yang sama teman-teman nya sedang berpelukan sambil ketakutan saat dewi menemukan sebilah pisau tajam di tas kania yang di lapisi oleh tisu tipis, dan di tisu itu nama mereka tertulis di sana. 

“Astaga ta, gimana ini? aku takut!!” bisik dewi, tita ikut meringkik sambil memeluk dewi dan mila.

Sekembali nya kania dari toilet serempak mereka berteriak histeris, kania yang baru saja kembali itu bingung dengan teman-teman nya. “loh, kalian kenapa?”

“psycopat lo! Lo mau bunuh kita kania? Kenapa?” teriak mila memberanikan diri kania tertegun sesaat ia lupa nyawanya di mana. Kania berusaha bersikap sewajar mungkin sambil mengambil pisau miliknya itu, mereka bertiga mundur perlahan menjauhi kania.
“lo mau tau? Rasain dulu nih jadi gue! Rasain gimana rasa nya di bully setiap hari karena keadaan gue yang kaya gini!” ucap kania dengan penuh penekanan, dengan jalan terseret kania menghampiri mereka. 

Dewi memberanikan diri untuk mendekati kania.
“kania please, turunin pisau itu. kita bisa bicarain ini baik-baik. Kita bisa mulai semuanya dari nol.” Dewi menghampiri kania, tapi kania malah mundur menjauh malah dia yang balik ketakutan. Dewi akhirnya merebut paksa pisau itu. kania berteriak histeris. Di belakang, tata dan mila saling merapatkan pelukan mereka. Kini pisau itu sudah ada ditangan dewi, mereka tidak melihat dewi dan kania. Mereka hanya mendengar teriakan dan sayup-sayup suara nafas yang terengah. Beberapa menit kemudian mereka tidak lagi mendengar teriakan dari dewi maupun kania. Selang beberapa menit kemudian, dewi kembali dengan senyuman yang merekah.

“dewi gimana kania?” tanya mila cemas, dewi malah tersenyum lebar.

“dia sudah beres!” ucapnya sambil mengacungkan pisau yang penuh darah.