Carissa mengedarkan pandangan nya
keluar, mata sayu nya memandang putus asa guratan sendu tersirat jelas di
wajahnya. Dari balik jendela kamarnya ia melihat calista, kakak kembaran nya
yang di jemput oleh pacarnya. Ia iri, melihat kakak nya bisa sebebas itu.
berbeda dengan nya, berbeda dengan hidupnya. Sore itu, ia pergi ke taman
kompleks dekat rumahnya, seperti biasanya ia membawa perangkat lukis seadanya,
setidaknya hanya kegiatan ini lah yang carissa mampu dan senang menjalani nya.
“Sendirian?” tiba-tiba ada seorang
pemuda duduk di sampingnya, carissa jelas mengabaikan nya karena ia tidak suka
dengan orang asing. “hallooo...” panggilnya lagi, namun carissa tetap
mengabaikan nya. “Carissa!” Barulah carissa menoleh saat pemuda itu memanggil
namanya, alisnya berkerut samar.
“Gelang kamu.” Katanya, lalu carissa
melihat gelang yang ia pakai tertulis namanya. Carissa tersenyum, di ikuti oleh
pria itu. “Lukisan kamu bagus.”
“Oh iya namaku lukas. Salam kenal ya
carissa.” Kata lukas sambil mengulurkan tangan nya lalu carissa membalas uluran
tangan dari lukas, lalu tersenyum. Beberapa menit selanjutnya hanya terdengar
hembusan nafas mereka, diam-diam carissa merasa gugup bahkan ia bisa merasakan
dan mendengar degup jantungnya sendiri. Carissa berhenti melukis.
“Loh, kenapa berhenti?” tanya lukas.
Carissa mengeluarkan secarik kertas
lalu menuliskan kalimat disana. “kamu jangan ngeliatin aku kaya gitu.” Lukas
terdiam saat menerima kertas itu dari carissa, ia melihat wajah carissa,
goresan tuhan di hadapan nya ini seperti tidak ada cacat sedikitpun, parasnya
yang manis membuta siapapun yang melihatnya akan menoleh kembali. Namun ada
satu hal yang akhirnya lukas tau dari sosok carissa ini.
“kamu kaget ya? Aku emang tuna
wicara, kalo aku ngomong dengan bahasa isyarat pasti kamu gak ngerti deh.”
Lukas terkekeh pelan saat membaca kertas nya lagi.
“Bisa kok.” Ucap lukas mantap. Lalu
carissa mencoba berbicara dengan bahasanya, lukas menyimaknya namun tidak ada
satupun dari bahasa carissa yang ia mengerti.
“Aku ada ide, kita ngobrolnya lewat
kertas ini aja yuk.” Ajak lukas, carissa mengangguk senang. Setelahnya mereka
berdua ada dalam percakapan hening mereka lemat kertas-kertas itu. awalnya
carissa masih gugup namun seperkian detik berikutnya lukas membuat carissa
nyaman.
“Selain melukis mimpi kamu apa?”
tanya lukas, cepat, carissa membalasnya.
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Tidak ada satupun mimpi ku yang
akan menjadi nyata dengan keadaan ku seperti ini.”
Lukas menyimpan kertasnya dan
berhenti menuliskan balasan nya, ia memalingkan wajahnya dari carissa lalu
menyamdarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “kenapa?” tanya carissa dengan
kertasnya. Lukas menuliskan sesuatu diatas kertasnya tapi ia tidak beri pada
carissa.
“Kamu tahu gak carissa, aku paling
benci sama orang yang putus asa. Karena aku pernah jadi orang yang sangat putus
asa untuk hidup tapi aku sadar dengan putus asa, tidak akan menjadikan kita
menjadi sesuatu yang berharga dan dianggap ada” Kata lukas, carissa hanya
menatap lukas dengan tatapan sendu.
“Jangan kalah sama keadaan, punya
mimpi dan harapan tidak akan memberatkan hidup kok. Malah membuat kita jadi
lebih bersemangat untuk hidup, walaupun kita belum bisa menggapai mimpi kita,
setidaknya ada hal yang terus kita percayai. Believe in your dream.”
Carissa tersenyum, ia menggenggam
lengan lukas lalu mengangguk yakin. Orang asing ini mampu menghipnotis carissa.
Lukas membalas nya dengan senyuman, lalu tiba-tiba jam di pergelangan tangan
lukas berbunyi. Lukas mendesah malas. “aku harus pulang carissa, besok kita
ketemu lagi disini ya.” Ucap lukas, lalu ia berdiri dan meninggalkan carissa,
carissa pun ikut beranjak dengan tongkatnya.
***
Carissa terduduk lama di bangku
taman, kali ini ia menunggu seseorang untuk duduk di samping nya, iya, orang
itu lukas. Namun satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda kehadiran dari teman
barunya itu. yang ada hanyalah sekerumunan ibu-ibu muda yang sedang mengajak
bermain anaknya di taman. carissa mencoba untuk melukis hanya untuk sekedar
membunuh waktu saat menunggu kehadiran lukas. Waktu berlalu tanpa terasa,
kehadiran lukas pun akhirnya hanya harapan semu yang tak berujung nyata.
“Kasihan ya, padahal lukas itu anak
baik.”
“Iya bu, saya juga kaget semalam,
padahal yang saya tahu dia itu orang nya ramah banget. Anak baik emang di
sayang tuhan.”
“Iya, ya bu. Semoga aja lukas di
beri tempat yang indah di sisi tuhan.”
“Amin.”
Carissa merasakan dingin di sekujur
tubuhnya saat mendengar percakapan ibu ibu yang baru saja lewat di hadapan nya,
carissa yakin bukan lukas yang kemarin ia temui yang mereka maksud itu, tapi
entah kenapa rasa takutnya benar-benar nyata. Tiba-tiba ia teringat kemarin,
cara berpakaian Lukas memang sedikit aneh, awalnya ia berpikir lukas memakai
baju tidur ternyata ia baru sadar, kemarin Lukas memakai baju rumah sakit
santosa yang tidak jauh dari sini, ia tahu persis karena ia pernah memakainya.
tubuh Carissa tiba-tiba lemas, ia menyesal kenapa hanya sedikit kesempatan
untuk mengenal sosok yang memberinya semangat yang besar.
“Carissa, kakak cari-cari kamu aduh
kakak kira kemana. Mau ikut?” sosok calista kembaran nya, sudah berpangut dagu
berdiri dihadapan nya. carissa diam, pikiran nya melayang pada sosok yang baru
saja ia kenal.
“Hei, mau ikut gak? Ayo aku bantu
berdiri.” Lalu setelah itu calista membantu adiknya berdiri dengan memberikan
tongkatnya. “Kita pergi ngelayat, katanya anak temen nya mama meninggal,
katanya sih kanker. Stadium akhir. Ngeri ya.. eh bentar, nih kertas kamu
ketinggalan, carissa jangan ngelamun nih kertas kamu.”
“DARE TO DREAM.”
Tulisan itu membuat
senyum carissa tiba-tiba mengembang, ia yakin ini tulisan lukas yang kemarin.