Rabu, 21 Januari 2015

Kisah Pahit Tentang Coklat

          Aku berlari ke kamar mandi saat teman-temanku memperlihatkan coklat pemberian dari teman special mereka, aku melihat pantulan diriku dicermin, bulu kudukku berdiri bahkan ada rasa geli dan mual saat mereka semua memperlihatkan coklat-coklat mengerikan itu. Aku hanya berpura-pura biasa saja di di depan mereka agar tidak terlihat seperti orang aneh yang sangat ketakutan melihat coklat, tapi ini malah membuatku semakin menderita, aku terus menolak halus orang-orang yang memberiku coklat, sebagian yang telah terlanjur memberikan nya padaku aku langsung memberikan nya kepada teman-temanku tanpa menyentuhnya, sungguh bukan maksudku tidak menghargai pemberian mereka. Ketakutanku akan coklat tidak bisa aku atasi sampai saat ini.

            “Ra, bener nih gak mau coba? Ini coklat yang paling enak lho nyesel kalo gak nyoba” Sani teman sebangku ku terus menawariku coklat pemberian kakaknya, oleh-oleh dari luar negeri katanya.

            Siapa peduli, mau itu dari luar angkasa sekalipun aku tidak mau memakan coklat dan sebenarnya aku berusaha menahan diri yang sebenarnya sudah mual melihat coklat, aku hanya berusaha untuk tidak beranjak karena kami sedang ada di tengah-tengah pelajaran di kelas.

            Hari ini, dua tahun yang lalu. 

            Aku terus melihat arloji dipergelangan tanganku, sudah hampir satu jam aku menunggu di shelter katanya dia akan menjemputku, aku masih berusaha sabar menunggu. Tak lama dari itu, aku mendengar suara teriakan orang-orang lalu mengerumuni sesuatu ditengah jalan. Penasara, aku menghampiri ternyata ada korban kecelakaan. Jantungku tiba-tiba berhenti untuk beberapa detik. Dia, dia yang aku tunggu, dia adalah orang yang sedang tergeletak dijalan dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya. Aku langsung berteriak histeris seperti orang gila. Orang-orang disana kaget melihatku.

            “Tolong dia, Cepat. Dia temanku! Jangan mati arya!!” teriakku,tak lama kemudian satu unit ambulance datang lalu membopong tubuh nya ke dalam. Kaki ku sama sekali tidak bisa bergerak dari sana, selain darah yang masih segar bertumpahan dijalanan aku melihat satu batang coklat yang tertinggal, aku yakin itu miliknya. Aku ambil itu walau dengan tangan yang gemetar. 

            Setelah itu, aku selamanya tak akan pernah melihatnya lagi.

            Sambil mengenang, aku sengaja berlama-lama duduk di shelter walaupun bis sudah beberapa kali berhenti aku sama sekali enggan untuk beranjak, sambil memegang erat coklat yang saat itu kutemukan, sayup-sayup mendengar dua orang pria yang sedang berbincang tak jauh dariku.

            “Yakin, percaya deh. Jika satu potong saja kekasihmu memakan coklat ini, dia akan melayang-layang ke angkasa ini kan udah terkenal banget coklat narkoba. Setelah itu, kau bebas melakukan apa saja pada kekasihmu.”

            Aku menajamkan pendengaranku, aku yakin aku tak salah dengar, aku melihat coklat yang mereka pegang. Sama! Aku memegang coklat yang sama dengan mereka, tak pikir panjang aku langsung melempar coklat itu. Tiba-tiba saja aku merasa mual. Tak sudi aku mengenang orang yang ingin meracuniku seperti itu!

Kamis, 01 Januari 2015

Tahun yang telah menahun akhirnya benar-benar terasa tahun yang baru

        Waktu berlalu rasanya terasa amat cepat hingga sampai penghujung tahun, banyak hal yang teramat sulit sampai-sampai aku merasa putus asa, namun pada kenyataan nya semua itu telah aku lewati. Satu yang teramat sulit bagiku juga telah aku lewati walaupun nafas kian terasa sesak namun kini akhirnya angin sudah terasa menyejukan dan tak membuat tulang-tulangku serasa di tusuk.

          Aku juga bahkan tidak menyangka aku sudah bisa tertawa dengan mudah senyumku juga sudah tidak terasa berat karena terpaksa semuanya mengalir begitu saja entah dimulai sejak  kapan, awalnya aku bahkan merasa sudah putus asa aku sudah tidak berharap lagi senyum dan tawa ku dapat kembali karena aku sempat lupa cukup lama, tapi karena kehidupan yang memaksaku terus berjalan dan banyak wajah baru yang aku temui di tahun ini membuat pikiran dan hatiku mulai membaik, perlahan aku merasa diriku kembali.

          Hampir 3 tahun telah berlalu, aku yang merasa aku tidak akan pernah bisa menerima perubahan besar dihidupku nyatanya waktu juga yang memulihkannya, keluhku tak pernah berhenti saat musim demi musim berlalu, tangis dan rasa penuh resahku terus menghantui hari-hariku setelah perginya ayah, bernafas saja rasanya sulit sekali namun seperti yang aku bilang waktu juga yang akhirnya memulihkan nya meskipun aku sedikit ragu untuk mengakui nya tapi nyatanya kini aku sudah lebih dewasa aku sudah 17th dan bukan lagi anak SMP tingkat akhir yang kehilangan ayahnya secara tiba-tiba, aku mulai bisa menerima semuanya bahwa hidup memang tidak selalu bisa seperti yang aku inginkan bahwa hidup memaksa ku harus terus berjalan di jalan yang tidak ada satu orang pun yang tahu jalan apa yang harus aku lewati nanti, entah itu berkelok, menanjak, menurun, atau bahkan jalan yang berlubang, aku tidak pernah tahu tapi satu hal; aku harus terus berjalan agar saat aku menemui jalan yang sama sulitnya itu tidak akan terasa berat seperti di awal aku melewatinya.

         Untuk Ayah ku yang teramat dirindukan, mungkin di depan sana akan ada banyak hal sulit yang akan aku lalui namun setelah aku bangkit dari kesedihan yang menyakitkan karena kepergianmu aku merasa yakin bahwa aku sedikit-sedikit mulai bisa mengahadapi dunia yang tak terduga-duga ini. Selain meninggalkan kesedihan ternyata dengan kehilanganmu membuatku merasa lebih kuat dan dewasa juga karena kehilanganmu yang amat menyakitkan ini ternyata memberikanku energi luar biasa untuk terus bangkit walaupun terjatuh ratusan kali.

         Dulu, aku selalu percaya akan ada senyum setelah tangis yang menahun yang aku rasakan, dan itulah yang terjadi sekarang. Ayah, 3th sudah ayah pergi meninggalkan kami, dan akhirnya aku, ibu dan adik ku bisa tersenyum lagi ayah bahkan aku sekarang sudah bisa menemui keluarga ayah dengan perasaan yang nyaman. Aku akan menapaki hidupku ayah, sebentar lagi aku akan bertemu dengan dunia yang sebenarnya. Ada atau tidak nya ayah aku selalu berada dalam dekapanmu dalam nasihat-nasihatmu.

Peluk cium, Anak sulung mu.