Selain suara deruan angin yang
meniupkan daun-daun kering tidak ada suara yang keluar dari dua sosok yang
sedang duduk tercenung di atas sebuah kursi di taman sudut kota. Lagi, entah
untuk kesekian kali mereka menarik nafas dalam-dalam seakan ada sebongkah batu
yang bercokol di paru-paru keduanya, dibandingkan dengan mencaci maki dan
merutuk keadaan mereka memilih untuk saling diam terlebih dahulu, setelah itu
mungkin mereka punya kekuatan untuk saling bertanya.
Fahmi
melihat arlojinya, sudah dua puluh menit mereka saling terdiam, setidaknya
salah satu harus memulainya jika tidak, mungkin ini hanya akan berakhir menjadi
satu kisah yang tragis dan tak termaafkan.
Citra
yang entah kemana arah pandangan tertuju, tentu saja tak akan membuka mulutnya
terlebih dahulu ia sengaja menahannya jika percakapan terlah dimulai, ia
pastikan untuk tidak akan berhenti berbicara.
“Lucu,
ya.” Pandangan mata Fahmi hanya tertuju kedepan seperti tatapan kosong,
nyatanya banyak kalimat yang bersarang dipikiran nya namun hanya kata itu yang
sanggup keluar dari mulutnya, Citra menatapnya dengan nanar sambil tersenyum
miris, daripada menangis mereka memilih untuk menertawakan kisah mereka yang
berakhir menjadi hubungan canggung yang sangat aneh, tawa mereka hanya menutupi
ruang yang tiba-tiba kosong.
***
Fahmi menancapkan gasnya
menembus padatnya lalu lintas, lima belas menit yang lalu kekasihnya Citra merengek
minta di antarkan ke sekolah untungnya hari ini ia sedang kosong dari segala
macam jadwal kuliah, alasan Citra kali ini murni karena kebiasaan nya bangun
terlambat.
“Duh,
bunda ini kok pintunya macet sih.” gerutu Citra saat mencoba membuka pintu,
dengan tenang bundanya menghampiri anak sulung nya itu sambil memberikan segelas
susu.
“Minum!
Udah terlanjur telat juga.” Dengan mudah
bundanya dapat membuka pintu tanpa harus banyak mengeluarkan tenaga, Citra melongo
dongkol mengingat bahwa pintu sisi kiri memang macet dan itu sudah dari dulu.
“Makanya kalo bunda bilang tidur ya tidur ka jangan ngeyel, jadi pikun kan
pintu yang ini kan memang macet.”
Lanjutnya, Citra cuma bisa nyengir sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
Diluar,
fahmi telah duduk manis diatas motor hitamnya. Ibu citra tersenyum. “Siapa tuh
kak? Pacar?” Tanyanya menggoda. anaknya hanya
terkekeh pelan sambil pamit mencium pipinya itu. Dari kejauhan Fahmi melepaskan
helm lalu memberi salam pada ibu citra, senyum yang tadinya mengembang di wajah
ibu Citra perlahan hilang seiring menajamkan pandangannya, selanjutnya ia hanya
melihat kepergian anaknya.
***
Besoknya,
tiba-tiba ibunya Citra meminta dikenalkan dengan Fahmi. Tentu saja Citra
senang, tapi yang terjadi adalah situasi yang sama sekali tak pernah terpikirkan
oleh keduanya. Saat Fahmi datang, ibunya yang langsung mempersilahkan duduk dan
ia ikut duduk disebelah Fahmi. Citra yang duduk di sofa yang bersebrangan hanya
bisa geleng-geleng kepala dengan sikap berlebihan dari ibunya, Fahmi juga
menyiratkan raut wajah kebingungan dengan senyum canggung.
“Ayo,
minum dulu. disini cuma ada teh, diminum ya.” Ucap ibu Citra dengan nada bicara
yang terdengar sangat ramah.
“Iya,
gak apa-apa tante, makasih.” Jawab Fahmi canggung setelah itu ia langsung
meminum teh hangat di hadapan nya. Selama minum, pandangan ibu Citra sama sekali
tak berpaling dari Fahmi, Citra hanya tercenung melihat sikap aneh ibunya.
Sedangkan Fahmi hanya senyum-senyum canggung.
“ada
hal penting yang harus kalian tahu.” Mendadak ibunya menjadi serius, Citra
membetulkan posisi duduknya dan bertanya ada apa namun ibunya malah balik
bertanya. “kalian ini berpacaran? Sudah berapa lama?” tanyanya, Citra dan Fahmi saling
tatap kemudian mengangguk ragu. Ibunya tersenyum kelu, mendapati jawaban itu.
“Baru
beberapa bulan tante.” jawab Fahmi akhirnya, ibu Citra mengangguk sambil
tersenyum namun tersirat sesuatu.
“Sejujurnya
Tante senang bertemu dengan nak Fahmi tapi sepertinya ada sesuatu yang harus
diluruskan terlebih dahulu.” Citra dan fahmi saling bertatapan dan merasa ada
yang aneh dengan kalimat ibunya.
Kali
ini tubuh ibu Citra berbalik menghadap Fahmi, ia tersenyum seraya mengelus
lembut pipi Fahmi dengan tatapan nanar. “Nama kamu, Fahmi ferdinan?”
Fahmi
yang masih kebingungan hanya bisa mengangguk, karena kalimat itu bukan
terdengar seperti pertanyaan di telinganya melainkan pernyataan. Terdengar
nafas yang panjang dari ibu Citra. “Fahmi Ferdinan. Luka dipelipis kamu kenapa?”
“Oh
ini tante,” katanya sambil memegang bekas luka di pelipisnya. “Saya lupa, sih,
tante tapi kata ibu saya waktu kecil ini karena sudut meja tante waktu itu saya
mau ngambil toples coklat. Bukan masalah besar kok tante, ini Cuma bekas luka.”
Fahmi tersenyum canggung.
“Gak
salah, lagi.” Ibu citta langsung membekap mulutnya sendiri. sementara fahmi dan
citra saling bertatapan tak mengerti.
“Fahmi,
Tante tahu kamu waktu itu luka karena ujung meja, karena tante ada disitu.”
Fahmi
berkerut kening semakin tidak mengerti. “Maksud tante.”
Ibu
Citra menahan nafas sesaat. “Iya, tante ada disana saat pelipis kamu berdarah. Karena
kamu keponakan tante.”
Kali
ini Citra dan Fahmi bertatapan kembali seakan saling berteriak. Ini maksudnya apa?
Bagi
mereka tiba-tiba jarum jam seperti berhenti berdetak, Citra tentu saja syok
terlihat bagaimana cara tangan nya yang gemetar menutup mulutnya sementara
Fahmi hanya berkerut samar sambil tersenyum miring. “Tidak mungkin tante.”
“Ayah
kamu Rahadi ferdinansyah?” Tanya ibu citra, kini fahmi yang berkerut kening.
“Iya,
tapi nama itu banyak tan bukan cuma ayah saya” sebenarnya Fahmi hanya
meyakinkan dirinya sendiri karena perlahan ia seperti tidak bisa bilang jika
dia tidak percaya sepernuhnya dengan apa yang dikatakan ibu paruh baya
dihadapan nya.
“Tante
tidak pernah seyakin ini melihat wajah seseorang, tante tahu kamu sejak kecil.”
Ucap ibu citra dengan lirih, kemudian ditariknya nafas dalam-dalam untuk menjelaskan
kepada keduanya secara perlahan. “Ayah kalian… ayah kalian kakak beradik.”
Ucapnya kemudian.
Citra
memegang dadanya seperti sulit bernafas. “Bun, jangan bercanda gitu dong bun.” Ucapnya
lirih kemudian menghampiri ibunya dan duduk dilantai sambil memeluk lutut
ibunya. Sedangkan Fahmi masih berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh ibu
dari kekasihnya yang baru saja ia temui ini. Tiba-tiba calon mertua berubah menjadi tante sedarah, ini konyol.
Fahmi
berusaha untuk bersikap tenang walaupun segala bentuk penolakan telah mengusik
pikiran nya. “Gak mungkin tanre, ayah saya telah meninggal saat umur saya delapan
tahun. Sudah lama sekali.” Ucapnya berusaha setenang mungkin yang sangat kontradiktif
dengan hati maupun pikiran nya yang tiba-tiba bingung.
“Tante
tahu itu Fahmi saat Citra berumur lima tahun ayah kamu meninggal” Kalimat itu
seperti menjelaskan semuanya, dinding ketenangan fahmi tiba-tiba runtuh.
Disampingnya
ia melihat keponakannya yang tiba-tiba ia menenggelamkan wajahnya diantara
tangannya sementara Citra yang duduk dibawah sedang mencoba menagan tangis nya
dengan memeluk lutut dirinya. Refleks, kedua tangan nya terangakat untuk
mengusap lembut puncak kepala Citra dan Fahmi disampingnya. Ia melihat mereka
dengan hati pilu dan penyesalan. Ia mencoba untuk mengumpulkan kekuatan nya
untuk menceritakan semuanya secara gamblang kepada kedua anak yang tadinya
sangat menggemaskan kini sudah beranjak dewasa.
“Tante akan
memberitahu semuanya agar kalian mengerti, tolong dengarkan saja.” Ucapnya
pelan, seketika Citra mendongakan kepalanya dan Fahmi membuka kedua telapak
tangan nya. Ibu nya tersenyum tipis saat menatap keduanya.
“Dulu saat
ayah kamu meninggal, ibu kamu tiba-tiba memutuskan hubungan tali silaturahim
dengan kami, tak lama mba tata, ibu kamu, pindah rumah dan otomatis kamu dan
kakak kamu Risa juga ikut menghilang. Kami berusaha menghubungi kalian tapi tak
pernah berhasil, lebih dari dua belas tahun kalian menghilang tanpa kabar,
awalnya tante sama sekali gak ngerti kenapa ibu kamu bersikap seperti itu, tapi
setelah ayah Citra meninggal beberapa tahun yang lalu akhirnya tante mengerti
kenapa ibu kamu bersikap seperti itu, saat ini tante dan Citra hanya berusaha
untuk tetap tinggal.” Ucapnya diakhiri dengan senyum pilu, sudah tidak ada lagi
tangis yang tertahan kini semuanya tumpah tak terkendali, sementara fahmi masih
bisa menahan tangis nya walaupun air mukanya terlihat sangat muram, setelahnya hanya
terdengar nafas-nafas panjang yang terasa berat.
“Saat kecil
kalian adalah sepupu yang paling dekat diantara yang lain, saat kamu menghilang
Citra lah yang menangis paling kencang dan paling lama, berhari-hari tidak,
berminggu-minggu setiap akan tidur dia selalu memanggil nama kamu dan memohon
untuk bisa bermain.” lanjutnya berusaha tersenyum sambil mengusap lembut air
mata citra.
Keduanya baru
menyadari, saat pertama kali bertemu mereka merasa bertemu sosok yang pernah
hilang satu sama lain, namun mereka menyalah artikan perasaan itu sebagai
bentuk cinta pada pandangan pertama.
“Kamu juga
satu-satunya keponakan kesayangan tante,
anak laki-laki termanis yang tante gak akan pernah lupa. Maka dari itu
tante langsung mengenali kamu dalam sekali tatap.” Fahmi tersenyum pilu, benar
hatinya merasa bahwa ibunya Citra ini pernah memeluknya sehangat pelukan
ibunya.
“Maafkan kami,
tak seharusnya kalian bertemu seperti ini, ibu tahu ini sama sekali diluar
kendali kalian. Tapi sekeras apapun kalian mengingkari kenyataan bahwa kalian adalah
sepupu tak akan pernah bisa terbantahkan. Meskipun ini berat bagi kalian, tapi
hubungan persaudaraan akan lebih hangat. Ibu percaya nanti kalian akan
terbiasa.” katanya mengakhiri cerita panjangnya. Kini ia terdiam, menunggu
respon dari anaknya dan keponakan nya ini tapi tak terdengar apapun dari
keduanya.
“Saat kamu
masih sekolah menengah, om Ridwan pernah bertemu dengan kamu sekali, masih
ingat? Saat sampai rumah om kamu benar-benar tak bisa menyembunyikan
kebahagiaan nya bertemu kamu beliau bercerita kalau kamu tumbuh dengan baik,
kamu tampan dan kamu masih menjadi murid terpintar di sekolah, tante yang
mendengarnya tiba-tiba merasa hangat dan dekat dengan kehadiran kamu. Namun
setelah itu kamu kembali menghilang.”
Ingatan Fahmi
tiba-tiba terlempar saat dia masih smp ia ingat betul saat ia naik bis kota
sepulang sekolah tiba-tiba seorang bapak yang duduk disampingnya, menatapnya
terkesima dan langsung memeluknya, setelah itu seharian Fahmi diajaknya makan
dan jalan-jalan sampai-sampai dibelikan sepatu saat pulang, ia sangat senang
sekali karena sejujurnya ia merindukan saudara-saudara dari ayahnya, tapi
setelah menceritakan semuanya pada ibunya diluar perkiraan ternyata ibu nya
marah dan melarang lagi untuk bertemu dengan om Ridwan atau siapapun yang berhubungan
dengan ayahnya, dan sejak saat itu jika tiba-tiba dijalan ia bertemu om Ridwan
atau siapapun yang ia kenali sebagai saudara ayah ia harus menghindar bagaimanapun
caranya, meskipun enggan Fahmi tidak
ingin membuat ibunya kecewa.
“Saya ingat
tante.” Ucap fahmi lirih sambil mengangguk ia sudah tidak bisa menahan air mata
yang daritadi berusaha keras ia sembunyikan.
Citra yang daritadi
diam-diam berharap bahwa semua yang didengarnya adalah salah, saat kalimat itu keluar
dari mulut fahmi sendiri hatinya seperti tiba-tiba membentuk lubang besar yang
terasanya nyeri. Citra langsung beranjak dan bergegas masuk ke kamarnya tanpa
ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
“Tante tau
reaksi Citra akan seperti ini, tapi tante percaya sama kamu Fahmi, kamu lebih
dewasa kamu lebih stabil dari Citra, tante percaya kalian akan melewati ini
dengan baik walaupun pada awalnya kalian akan menentang ini tante percaya
kalian akan saling menerima. Anggap saja ini cara tuhan untuk memperbaiki
keluarga kita.” Fahmi mengangguk pelan, tidak ada lagi yang bisa keluar dari
mulutnya untuk menyangkal ini. Kemudian tantenya itu beranjak dari duduknya dan
tak lama kembali dengan membawa secarik kertas dan bolpoin
“tante minta
nomor rumah kamu, nanti sampai dirumah, kamu gak perlu cerita apa-apa sama mama
kamu, biar tante yang hubungi langsung. Tante yakin setelah ini ibu kamu akan
mengerti” Fahmi hanya menurut dan menuliskan nomor telepon rumahnya.
“Tante… fahmi
pamit pulang.” Hanya itu akhirnya yang sanggup keluar dari mulutnya, sebisa
mungkin ia ingin cepat mengakhiri suasana menyedihkan ini. Ibu paruh baya yang
tiba-tiba menjadi tantenya itu tersenyum padanya dan entah kenapa senyumannya
meneduhkan. Tubuhnya dipeluk dengan erat, sebelum melepaskan pelukan tantenya
berbisik sesuatu. Lalu fahmi mengangguk dalam pelukannya.
***
Seminggu
berlalu. Seberapa keraspun mereka mencoba untuk saling menghindar toh pada
akhirnya mereka juga yang harus menghadapi. Di sebuah taman di sudut kota,
akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertemu, bukan untuk janji kencan, tapi
pertemuan antara adik dan kakak.
Meskipun
seminggu bukan waktu yang cukup tapi bagi Citra, yang telah berusaha memutar
kenangannya bersama Fahmi sejak kecil akhirnya bisa menerima bahwa Fahmi memang
kakak sepupunya, perlu ditambahkan Fahmi adalah kakak sepupu yang paling ia
sayangi entah kenapa saat masih kecil yang bisa membuatnya berhenti menangis
hanyalah Fahmi dan saat ini mungkin fahmi juga yang akan membuatnya berhenti
menangis dan berani menghadapi realita sesungguhnya.
“Nanti lagi,
kalo Citra ketemu orang terus langsung kerasa deg-degan dan familiar citra akan
langsung samperin terus tanya ‘kita sodara apa bukan?’ dengan begitu citra jadi
tahu kenapa citra merasakan perasaan yang aneh.” Ucap citra diakhiri dengan
tawa hambar, dan fahmi hanya bisa tersenyum sambil membelai puncak kepala
citra. Citra merenggut.
“Apa perlu
kita pacaran diam-diam cit, ini bukan salah kita kan.” Kata Fahmi kemudian.
Citra hanya tersenyum miring.
“Buat apa kak?
Toh kita akan tahu akhirnya seperti apa nanti.”
Kemudian
selama beberapa menit mereka kembali terdiam dan kekosongan itu kian terasa
aneh dan luka.
“Hmm, kenapa
kita gak sadar dari awal sih padahal kan kita sering cerita tentang keluarga
kita.” Suasana mulai terasa mencair meskipun masih ada percikan perasaan yang
berusaha mereka tutupi. Fahmi mengangkat bahunya.
“Jalannya
emang harus kaya gini kali.” ucap fahmi singkat. fahmi memberanikan diri untung
menggenggam tangan citra. “Dengerin, sekarang gak peduli apapun kakak bakalan
sayang sama kamu, Cit. meskipun status kita berubah menjadi kakak adik
sesungguhnya. Tapi kali ini rasa sayang kakak gak ada batas gak ada akhir untuk
hubungan ini.”
Citra
bergeming sambil menatap dalam ke mata coklat fahmi.
“Suatu saat
kalau kamu ketemu lelaki dan dia bikin kamu nangis, kakak akan hajar dia Cit,
bener deh siapapun itu yang membuat kamu nangis akan kakak habisin.” Katanya disambung
dengan tawa yang terdengar sumbang.
Apa kakak, bisa menghajaar diri kakak
sendiri?
Meskipun kakak
dan adik terdengar aneh bagi keduanya namun mereka berdua berusaha tersenyum
terlebih Citra meskipun air matanya sudah berhasil mebasahi kedua pipinya namun
senyum itu tetap terukir di bibirnya.
Kemudian fahmi
berdiri dan merentangkan tangannya, Citra cemberut tapi kemudian ia menyeka air
matanya dan menghampur ke dalam pelukan fahmi.
“Hanya waktu yang
akan menyembuhkan luka.” Bisik fahmi, sama persis dengan apa yang dibisikan
oleh ibu citra saat itu. Setelah pelukan mereka terurai menjadi sebuah jarak,
mereka kemudian berjalan pulang dengan arah yang berlawanan.
Waktu mungkin bisa menyembuhkan kak, tapi
ada kenangan di antara kita yang tak akan pernah bisa kita ingkari.
Sore itu
menjadi pertemuan awal mereka sebagai kakak dan adik sepupu dan pertemuan
terakhir sebagai seorang kekasih. Taman itu kembali hening diikuti oleh langit
oranye yang mulai menghilang tertutup oleh gelap yang mulai keluar menggantikan mentari pemilik siang.