Beberapa hari ini ada banyak pertanyaan yang hilir mudik di
benak ku, tak satu pun bisa aku jawab. Aku mulai berteman lagi dengan
kesunyian. Aku adalah orang yang percaya
pada suatu konsep yang mereka sebut ‘sahabat’, dulu aku percaya tentang satu
hal itu. sahabat sejati. Aku merasa betapa bahagia nya aku memiliki mereka di
hidupku, namun akhir-akhir ini keyakinanku tentang itu perlahan musnah.
Waktu menerangkan semuanya sejelas-jelasnya.
Saat jarak memisahkan kita, awalnya aku menganggapnya biasa
saja dan akan tetap sama saat bertemu kembali, memang awalnya sama sekali tidak
ada yang berubah pertemuan kami sangat menyenangkan walaupun dalam kesunyian
sekalipun, walaupun saat bertemu aku lebih sering menggunakan nya untuk numpang
tidur saja karena waktu malamku selalu terjaga makanya aku selalu mengambil
kesempatan untuk tidur di siang hari dimanapun itu, karena kehadiran satu sama lain pun merupakan
emosional yang tak bisa tergambarkan,
aku senang saat bisa mendengar dua sahabatku saling bertukar pikiran atau
bahkan adu mulut yang berakhir pada candaan khas mereka.
Kini, semuanya berbeda.
Disini, ternyata hanya aku yang menginginkan mereka hadir
bahkan hanya untuk sekedar diam pun aku sudah mensyukurinya. Dengan 1-2-3
alasan dia menunda pertemuan kami, lagi, aku memakluminya karena aku mengerti
dengan kesibukan mereka. Aku bukan orang yang mudah mengatakan rindu sayang
atau apapun itu.. tapi saat aku berucap aku bersumpah itu yang sebenarnya. Saat
aku mengatakan nya, mereka mengeluarkan lelucon yang sama sekali sudah tidak
lucu lagi untuk ku. Perlahan namun terasa begitu cepat, kami benar-benar telah
menemukan jalan nya masing-masing, aku kembali menjadi seorang perempuan yang banyak
diam namun memiliki obsesi tingkat akut pada bau-bau kertas lama atau kertas
baru di novel dengan nuansa klasik seperti tipis dengan warna yang menguning.
Mereka mungkin juga sudah menemukan obsesi nya masing-masing yang tak perlu
lagi di bagi.
Aku sedang duduk di salah satu sofa mini bernuansa eropa klasik
di salah satu cafe yang menurutku sangat unik. ‘You Can’t Find Us’ nama cafe yang benar-benar membuatku memutar
otak, tapi sekarang tak perlu lagi karena aku sudah menjadi salah satu
pengunjung tetap disini. Seperti namanya, cafe ini memang susah di temukan bagi
orang yang belum pernah kesini dan sengaja mencari nya, karena cafe ini
terletak di belakang dua gedung pencakar langit di pusat kota, awalnya cafe ini
bernama ‘The Blues Cafe’ namun karena
pemiliknya telah merasa pesimistis dengan posisi cafenya yang telah tertutup
oleh dua gedung dan berakhir di gang-gang kecil akhirnya ia menamakan nya
dengan nama unik itu, namun siapa sangka yang pernah masuk kesini adalah orang
yang akan selalu menjadi pengunjung tetap seperti aku ini, pertama kali aku masuk
saat itu, saat tidak sengaja berjalan untuk mencari tempat berteduh namun ada
satu bangunan yang sangat mencuri perhatianku, ternyata itu sebuah cafe saat
aku masuk di meja bartender nya tertulis. ‘Hi,
congrats! You find us’ aku tersenyum melihat segala keunikan di tempat ini,
interior ruangan nya bernuansa klasik, para bartender nya pun memakai pakaian
bergaya vintage yang seperti di ajak ke era 60-an saat masuk kesini.
Hari ini aku duduk sendirian, gigi ku bergemeletuk
kedinginan karena cuaca akhir-akhir ini sangat menyebalkan aku sendiri tidak
bisa menghindari flu yang tiba-tiba menyerang, tangan ku menggenggam secangkir mochaccino lengkap dengan whipped cream di atasnya, belum aku
minum sedikitpun aku menggenggamnya untuk merasakan atmosfer hangat agar di
rasakan tubuhku. Aku duduk di paling sudut dekat jendela, di luar sana ada rel
kereta api yang sudah lama sekali di tinggalkan, aneh tapi aku menikmati
pemandangan ini.
Aku bukan orang yang
mudah kenal dengan orang asing aku juga bukan orang yang nyaman dengan
pertanyaan basa-basi. tapi aku nyaman duduk berlama-lama disini, aku menemukan
ruang pribadiku di antara orang asing, aku menikmatinya, duduk sendiri dengan
secangkir minuman sambil melihat keluar jendela. Aku menyesap mochaccino milik
ku dengan tenang namun flu ku semakin
parah saja, aku berkali-kali bersin.
Tiba-tiba ada satu lembar tisu tepat di depan mataku. “lo
butuh ini.” aku pun mengambilnya dengan seulas senyum dan berbalas terimakasih,
dia sama sekali tidak beranjak dari tempat berdirinya, aku mulai risih. Namun
akhirnya dia meminta ijin untuk duduk di meja ini, tepat di sofa kosong depan
ku, aku mengiyakan nya dengan sedikit berat hati.
“Sendirian?” tanya
nya, aku mengangguk. Tak ada senyum, aku sibuk dengan bersin-bersin ku, dia buru-buru
merogoh sakunya, dan memberikan sebungkus tisu miliknya untuk ku. “kayanya lo
lebih butuh ini deh.” Aku mengangguk lalu mengambil tisu nya itu. kali ini, aku
lupa bahwa di hadapanku ini adalah orang asing, aku melupakan nya karena aku
lebih membutuhkan tisu ini.
“Gue selalu bawa tisu
kemana-mana bukan centil atau apa, telapak tangan gue selalu keringetan tanpa
ampun, keringetnya kadang ganggu banget. biasanya gue bawa sapu tangan tapi semuanya
lagi di cuci.” Dia membuka percakapan tanpa ada sedikitpun nada canggung
seperti seorang teman lama yang bertemu. Eh.
“Sama. Telapak tangan gue juga suka keringetan, Nih sapu
tangan gue juga basa kuyup bekas tadi keujanan.” Kataku sambil menunjukan sapu
tanganku yang sudah benar-benar basah karena kehujanan tadi, sial aku malah
terjebak pembicaraan dengan orang asing ini. lama kelamaan aku merasa nyaman
dengan pembicaraan dengan orang asing ini, aku mempunyai banyak kesamaan dengan
nya dari mulai telapak tangan yang selalu berkeringat, selera musik yang aneh,
juga tak pernah membawa orang lain ke cafe ini karena menurutnya ia bisa
menemukan ruang pribadinya di sini, sama persis dengan ku. Dan yang paling
penting adalah dia juga terobsesi dengan bau kertas dari novel-novel lama.
“Ada ritual tersendiri sebelum mulai baca novel, kaya peluk
dulu novelnya terus, mentwist halaman demi halaman nya, Cuma buat buktiin bau
kertas nya aja.” Dia tertawa tanpa menyela sedikitpun. Karena apa yang di
lakukan olehku dilakukan juga olehnya walaupun bacaan kami berbeda. Dia penyuka
novel-novel thriller, crime, historical dan fantasy sementara aku penikmat
berat novel-novel romance bergaya young-adult, science fiction, dan drama.
Aku mengatakan nya seperti tanpa ada canggung, aneh.
Percakapan tak sampai disitu, aku jadi terbawa suasana
nyaman. Atmosfer luar yang dingin memaksa kami untuk bertahan di dalam
sebenarnya tanpa ada niat untuk beranjak sampai pagi menjelang. Pria ini
bergaya asal-asalan namun tetap terlihat menarik di mataku, kemeja yang tidak
ia kancing di baliknya ada kaus putih, dengan celana jeans yang di bagian
lututnya ada sedikit robek-robek, juga sepatu kumal seperti belum pernah di
cuci sejak pertama kali membeli, berakhir dengan tas ransel army satu-satunya
yang agak kelihatan masih layak di pakai.
Saat minuman kami telah hampir habis percakapan kami pun
perlahan menguap ke permukaan, di akhir percakapan kami baru saling memberi
tahu nama masing-masing.
“Dion.”
“Dina.”
Kami saling bertatapan sesaat lalu tertawa, bukan hanya itu
ternyata nama kami juga sama-sama di awali dengan huruf D.
“Tadinya, gue mau minta nomor hp lo, tapi gak usah deh. Kalo
kita ketemu lagi disini, lo janji kita harus benar-benar saling kenal.” Ucapnya
sambil beranjak membawa ransel, aku tersenyum sambil mengangguk. “Percaya
takdir kan?” aku mengangguk, tentu saja.
Malam itu dia lebih dulu keluar dari cafe, di ikuti oleh ku
beberapa menit kemudian. Kadang aku benar-benar tidak mengerti tentang konsep
takdir yang tuhan ciptakan.
Kadang Orang yang lo anggap sahabat bisa tiba-tiba menjadi orang asing dan orang asing bisa tiba-tiba menjadi seperti sahabat sendiri, tidak perlu di pahami, itu konsep tuhan.
