Kamis, 15 Agustus 2013

Konsep Tuhan Tentang Takdir


Beberapa hari ini ada banyak pertanyaan yang hilir mudik di benak ku, tak satu pun bisa aku jawab. Aku mulai berteman lagi dengan kesunyian.  Aku adalah orang yang percaya pada suatu konsep yang mereka sebut ‘sahabat’, dulu aku percaya tentang satu hal itu. sahabat sejati. Aku merasa betapa bahagia nya aku memiliki mereka di hidupku, namun akhir-akhir ini keyakinanku tentang itu perlahan musnah.
Waktu menerangkan semuanya sejelas-jelasnya.
Saat jarak memisahkan kita, awalnya aku menganggapnya biasa saja dan akan tetap sama saat bertemu kembali, memang awalnya sama sekali tidak ada yang berubah pertemuan kami sangat menyenangkan walaupun dalam kesunyian sekalipun, walaupun saat bertemu aku lebih sering menggunakan nya untuk numpang tidur saja karena waktu malamku selalu terjaga makanya aku selalu mengambil kesempatan untuk tidur di siang hari dimanapun itu,  karena kehadiran satu sama lain pun merupakan emosional yang tak bisa tergambarkan,  aku senang saat bisa mendengar dua sahabatku saling bertukar pikiran atau bahkan adu mulut yang berakhir pada candaan khas mereka.
Kini, semuanya berbeda.
Disini, ternyata hanya aku yang menginginkan mereka hadir bahkan hanya untuk sekedar diam pun aku sudah mensyukurinya. Dengan 1-2-3 alasan dia menunda pertemuan kami, lagi, aku memakluminya karena aku mengerti dengan kesibukan mereka. Aku bukan orang yang mudah mengatakan rindu sayang atau apapun itu.. tapi saat aku berucap aku bersumpah itu yang sebenarnya. Saat aku mengatakan nya, mereka mengeluarkan lelucon yang sama sekali sudah tidak lucu lagi untuk ku. Perlahan namun terasa begitu cepat, kami benar-benar telah menemukan jalan nya masing-masing, aku kembali menjadi seorang perempuan yang banyak diam namun memiliki obsesi tingkat akut pada bau-bau kertas lama atau kertas baru di novel dengan nuansa klasik seperti tipis dengan warna yang menguning. Mereka mungkin juga sudah menemukan obsesi nya masing-masing yang tak perlu lagi di bagi.
Aku sedang duduk di salah satu sofa mini bernuansa eropa klasik di salah satu cafe yang menurutku sangat unik. ‘You Can’t Find Us’ nama cafe yang benar-benar membuatku memutar otak, tapi sekarang tak perlu lagi karena aku sudah menjadi salah satu pengunjung tetap disini. Seperti namanya, cafe ini memang susah di temukan bagi orang yang belum pernah kesini dan sengaja mencari nya, karena cafe ini terletak di belakang dua gedung pencakar langit di pusat kota, awalnya cafe ini bernama ‘The Blues Cafe’ namun karena pemiliknya telah merasa pesimistis dengan posisi cafenya yang telah tertutup oleh dua gedung dan berakhir di gang-gang kecil akhirnya ia menamakan nya dengan nama unik itu, namun siapa sangka yang pernah masuk kesini adalah orang yang akan selalu menjadi pengunjung tetap seperti aku ini, pertama kali aku masuk saat itu, saat tidak sengaja berjalan untuk mencari tempat berteduh namun ada satu bangunan yang sangat mencuri perhatianku, ternyata itu sebuah cafe saat aku masuk di meja bartender nya tertulis. ‘Hi, congrats! You find us’ aku tersenyum melihat segala keunikan di tempat ini, interior ruangan nya bernuansa klasik, para bartender nya pun memakai pakaian bergaya vintage yang seperti di ajak ke era 60-an saat masuk kesini.
Hari ini aku duduk sendirian, gigi ku bergemeletuk kedinginan karena cuaca akhir-akhir ini sangat menyebalkan aku sendiri tidak bisa menghindari flu yang tiba-tiba menyerang, tangan ku menggenggam secangkir mochaccino lengkap dengan whipped cream di atasnya, belum aku minum sedikitpun aku menggenggamnya untuk merasakan atmosfer hangat agar di rasakan tubuhku. Aku duduk di paling sudut dekat jendela, di luar sana ada rel kereta api yang sudah lama sekali di tinggalkan, aneh tapi aku menikmati pemandangan ini.
 Aku bukan orang yang mudah kenal dengan orang asing aku juga bukan orang yang nyaman dengan pertanyaan basa-basi. tapi aku nyaman duduk berlama-lama disini, aku menemukan ruang pribadiku di antara orang asing, aku menikmatinya, duduk sendiri dengan secangkir minuman sambil melihat keluar jendela. Aku menyesap mochaccino milik ku dengan tenang namun  flu ku semakin parah saja, aku berkali-kali bersin.
Tiba-tiba ada satu lembar tisu tepat di depan mataku. “lo butuh ini.” aku pun mengambilnya dengan seulas senyum dan berbalas terimakasih, dia sama sekali tidak beranjak dari tempat berdirinya, aku mulai risih. Namun akhirnya dia meminta ijin untuk duduk di meja ini, tepat di sofa kosong depan ku, aku mengiyakan nya dengan sedikit berat hati.
 “Sendirian?” tanya nya, aku mengangguk. Tak ada senyum, aku sibuk dengan bersin-bersin ku, dia buru-buru merogoh sakunya, dan memberikan sebungkus tisu miliknya untuk ku. “kayanya lo lebih butuh ini deh.” Aku mengangguk lalu mengambil tisu nya itu. kali ini, aku lupa bahwa di hadapanku ini adalah orang asing, aku melupakan nya karena aku lebih membutuhkan tisu ini.
“Gue  selalu bawa tisu kemana-mana bukan centil atau apa, telapak tangan gue selalu keringetan tanpa ampun, keringetnya kadang ganggu banget. biasanya gue bawa sapu tangan tapi semuanya lagi di cuci.” Dia membuka percakapan tanpa ada sedikitpun nada canggung seperti seorang teman lama yang bertemu. Eh.
“Sama. Telapak tangan gue juga suka keringetan, Nih sapu tangan gue juga basa kuyup bekas tadi keujanan.” Kataku sambil menunjukan sapu tanganku yang sudah benar-benar basah karena kehujanan tadi, sial aku malah terjebak pembicaraan dengan orang asing ini. lama kelamaan aku merasa nyaman dengan pembicaraan dengan orang asing ini, aku mempunyai banyak kesamaan dengan nya dari mulai telapak tangan yang selalu berkeringat, selera musik yang aneh, juga tak pernah membawa orang lain ke cafe ini karena menurutnya ia bisa menemukan ruang pribadinya di sini, sama persis dengan ku. Dan yang paling penting adalah dia juga terobsesi dengan bau kertas dari novel-novel lama.
“Ada ritual tersendiri sebelum mulai baca novel, kaya peluk dulu novelnya terus, mentwist halaman demi halaman nya, Cuma buat buktiin bau kertas nya aja.” Dia tertawa tanpa menyela sedikitpun. Karena apa yang di lakukan olehku dilakukan juga olehnya walaupun bacaan kami berbeda. Dia penyuka novel-novel thriller, crime, historical dan fantasy sementara aku penikmat berat novel-novel romance  bergaya young-adult, science fiction, dan drama. Aku mengatakan nya seperti tanpa ada canggung, aneh.
Percakapan tak sampai disitu, aku jadi terbawa suasana nyaman. Atmosfer luar yang dingin memaksa kami untuk bertahan di dalam sebenarnya tanpa ada niat untuk beranjak sampai pagi menjelang. Pria ini bergaya asal-asalan namun tetap terlihat menarik di mataku, kemeja yang tidak ia kancing di baliknya ada kaus putih, dengan celana jeans yang di bagian lututnya ada sedikit robek-robek, juga sepatu kumal seperti belum pernah di cuci sejak pertama kali membeli, berakhir dengan tas ransel army satu-satunya yang agak kelihatan masih layak di pakai.
Saat minuman kami telah hampir habis percakapan kami pun perlahan menguap ke permukaan, di akhir percakapan kami baru saling memberi tahu nama masing-masing.
“Dion.”
“Dina.”
Kami saling bertatapan sesaat lalu tertawa, bukan hanya itu ternyata nama kami juga sama-sama di awali dengan huruf D.
“Tadinya, gue mau minta nomor hp lo, tapi gak usah deh. Kalo kita ketemu lagi disini, lo janji kita harus benar-benar saling kenal.” Ucapnya sambil beranjak membawa ransel, aku tersenyum sambil mengangguk. “Percaya takdir kan?” aku mengangguk, tentu saja.
Malam itu dia lebih dulu keluar dari cafe, di ikuti oleh ku beberapa menit kemudian. Kadang aku benar-benar tidak mengerti tentang konsep takdir yang tuhan ciptakan.
Kadang Orang yang lo anggap sahabat bisa tiba-tiba menjadi orang asing dan orang asing bisa tiba-tiba menjadi seperti sahabat sendiri, tidak perlu di pahami, itu konsep tuhan.

Jumat, 02 Agustus 2013

Burung Kertas



        Aku masih menerbangkan burung-burung ini walaupun tinggal aku sendiri, namun sayap nya tetap aku jaga utuh agar tidak rapuh, aku tersenyum saat tugas –kebiasaan- ku selesai; menggantungkan burung-burung kertas ku. Ya, memang tidak pernah benar-benar aku terbangkan.

“Gadis.. ya ampun udah dong pensiun gantungin bebek-bebeknya jendela kamu itu sudah penuh.” Kata bunda yang tiba-tiba masuk kamarku tanpa mengetuk pintu dahulu, seperti kebiasaan nya. 

“Burung bunda, bukan bebek.” Kataku tanpa mengalihkan perhatian dari benang-benang yang sedang aku pilin hati-hati pada permukaan burung kertas milik ku. 

“Iya, burung.. sekarang kamu mandi terus sarapan. Gak ada telat untuk hari ini.” ah bunda memang cerewet, tapi aku bersyukur mempunyai ibu seperti bunda, aku berbalik lalu menghampirinya sambil mengecup pipi bunda lalu berlari ke arah pintu kamar mandi. “Aduh.. gadis bauuu!” Iya, aku mencintainya meskipun setiap hari suara melengkingnya memekakan telingaku. ***

            Sekolah tanpa kamu memang benar-benar tak sama lagi, tapi seperti katamu aku harus selalu tersenyum kepada semua orang sesulit apapun keadaan nya, kamu tahu? Ternyata sulit setelah kamu pergi. Tapi aku sedang melakukan nya, untuk mu aku tidak menangis lagi, untuk mu aku tersenyum dan tertawa. Perlahan aku mulai memahaminya, aku merasakan hadirnya kamu dalam setiap senyum ku, kamu ada dalam setiap ceriaku meskipun maya. Aku mulai memahami konsep bahagia tanpa kamu,yang ku tahu kamu tetap hidup di hatiku, tak peduli seberapa jauh dimensimu saat ini, aku tetap tersenyum untuk mu.

            “Udah seminggu ya gadis? Mau aku anter?” kata tara, sesaat setelah ia membaca bukunya, ia membuyarkan lamunan panjangku tentang kamu. Aku menoleh melihat tara, tatapan nya nanar entah iba atau apa aku tak mengerti, namun aku memberikan nya senyuman. “Gak usah tar, kali ini biar aku aja.” Tara menatapku heran. “Serius?” aku mengangguk meyakinkan. Dia tersenyum. “Ya udah, nanti hati-hati ya bawel. kantin yuk!” tara beranjak lalu mengulurkan tangan, aku menyambutnya. Aku menoleh. Ah biasanya ada kamu disampingku. ***

“Dylan, gila aku kangen banget sama kamu, maaf aku absen kemarin. Burung kertasnya belum cukup jadi aku ulur satu hari. Jangan marah ya jelek.. nih liat aku udah bawa banyak warna warni lagi.. senyum dulu dong!”

Aku mulai menggantungkan satu per satu burung kertas ini di ranting pohon rimbun yang meneduhi pusaramu, ternyata air mataku mendesak keluar dari celah mataku maafkan aku dylan, kali ini saja aku ingkar sebentar.

Dulu, saat ragamu masih di sini, setiap menjelang senja kita selalu membuat burung kertas dan menggantungkan nya di rumah pohon yang ayahmu buat di halaman belakang rumahmu, sekarang biarkan aku tetap melakukan nya di ranting pohon belakang rumah abadi mu. Ini aku dylan, sahabat kecilmu yang menaruh harap tak sampai, Gadis.