Jumat, 02 Agustus 2013

Burung Kertas



        Aku masih menerbangkan burung-burung ini walaupun tinggal aku sendiri, namun sayap nya tetap aku jaga utuh agar tidak rapuh, aku tersenyum saat tugas –kebiasaan- ku selesai; menggantungkan burung-burung kertas ku. Ya, memang tidak pernah benar-benar aku terbangkan.

“Gadis.. ya ampun udah dong pensiun gantungin bebek-bebeknya jendela kamu itu sudah penuh.” Kata bunda yang tiba-tiba masuk kamarku tanpa mengetuk pintu dahulu, seperti kebiasaan nya. 

“Burung bunda, bukan bebek.” Kataku tanpa mengalihkan perhatian dari benang-benang yang sedang aku pilin hati-hati pada permukaan burung kertas milik ku. 

“Iya, burung.. sekarang kamu mandi terus sarapan. Gak ada telat untuk hari ini.” ah bunda memang cerewet, tapi aku bersyukur mempunyai ibu seperti bunda, aku berbalik lalu menghampirinya sambil mengecup pipi bunda lalu berlari ke arah pintu kamar mandi. “Aduh.. gadis bauuu!” Iya, aku mencintainya meskipun setiap hari suara melengkingnya memekakan telingaku. ***

            Sekolah tanpa kamu memang benar-benar tak sama lagi, tapi seperti katamu aku harus selalu tersenyum kepada semua orang sesulit apapun keadaan nya, kamu tahu? Ternyata sulit setelah kamu pergi. Tapi aku sedang melakukan nya, untuk mu aku tidak menangis lagi, untuk mu aku tersenyum dan tertawa. Perlahan aku mulai memahaminya, aku merasakan hadirnya kamu dalam setiap senyum ku, kamu ada dalam setiap ceriaku meskipun maya. Aku mulai memahami konsep bahagia tanpa kamu,yang ku tahu kamu tetap hidup di hatiku, tak peduli seberapa jauh dimensimu saat ini, aku tetap tersenyum untuk mu.

            “Udah seminggu ya gadis? Mau aku anter?” kata tara, sesaat setelah ia membaca bukunya, ia membuyarkan lamunan panjangku tentang kamu. Aku menoleh melihat tara, tatapan nya nanar entah iba atau apa aku tak mengerti, namun aku memberikan nya senyuman. “Gak usah tar, kali ini biar aku aja.” Tara menatapku heran. “Serius?” aku mengangguk meyakinkan. Dia tersenyum. “Ya udah, nanti hati-hati ya bawel. kantin yuk!” tara beranjak lalu mengulurkan tangan, aku menyambutnya. Aku menoleh. Ah biasanya ada kamu disampingku. ***

“Dylan, gila aku kangen banget sama kamu, maaf aku absen kemarin. Burung kertasnya belum cukup jadi aku ulur satu hari. Jangan marah ya jelek.. nih liat aku udah bawa banyak warna warni lagi.. senyum dulu dong!”

Aku mulai menggantungkan satu per satu burung kertas ini di ranting pohon rimbun yang meneduhi pusaramu, ternyata air mataku mendesak keluar dari celah mataku maafkan aku dylan, kali ini saja aku ingkar sebentar.

Dulu, saat ragamu masih di sini, setiap menjelang senja kita selalu membuat burung kertas dan menggantungkan nya di rumah pohon yang ayahmu buat di halaman belakang rumahmu, sekarang biarkan aku tetap melakukan nya di ranting pohon belakang rumah abadi mu. Ini aku dylan, sahabat kecilmu yang menaruh harap tak sampai, Gadis.

1 komentar: