Kamis, 30 Oktober 2014

Alzheimer



            “Meskipun banyak hal yang tidak bisa kamu percayai, percayalah aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri.” Katanya sambil memeluk tubuh ringkihku yang sedang menangis terisak, ia memelukku lebih erat dari biasanya seperti enggan untuk melepaskan tentu saja aku balas memeluk nya lebih erat lagi. Aneh nya malam itu tiba-tiba aku merasa damai di tengah kemelut masalah dengan keluargaku, hanya dengan bersamanya aku tiba-tiba saja lupa bahwa aku hampir kehilangan segalanya dalam hidupku, bahwa masih ada dia yang bisa aku percayai. 

            Malam itu, tidak akan pernah terulang kembali, kini pelukanmu tinggal lah angan yang ada dalam kenangan ku karena bagimu aku tidak pernah ada.

            Selama ini aku merasa tidak ada yang salah dengan nya, kebiasaan-kebiasaan aneh yang kecil tidak pernah aku permasalahkan karena menurutku itu bukan sesuatu yang buruk. dia sering bertanya hari ini hari apa, jam berapa, dia juga sering lupa dengan apa yang telah aku katakana padanya, aku pikir itu hal yang biasa saja, tapi setelah hari itu dia lupa harus memanggilku apa, biasanya kita punya panggilan aneh yang hanya kita berdua yang tahu tapi dia memanggil nama ku seperti orang asing yang baru saja kenal ia berdalih katanya ia ingin memulai sesuatu yang baru, dia juga sudah tidak menghubungiki ku setelah aku tanya dia menyimpan ponselnya di dalam laci karena rusak. 

            sampai pada satu hari aku sudah merasa kalau ada yang salah dalam dirinya. Hari itu dia benar-benar lupa kemana arah pulang ke rumahnya, aku pikir itu hanya lelucon tidak masuk akal, mana mungkin seseorang bisa lupa dengan rumahnya sendiri, tapi itu benar-benar terjadi dia duduk terdiam cukup lama di kursi terasku dia berdiri kemudian duduk lagi entah berapa kali dia melakukan seperti itu. Aku hampiri dia, aku menatapnya dengan tatapan meneliti namun dia dengan jelas menampakan kebingungan nya sambil melihat kanan kiri, akhirnya hari itu aku mengantarkan nya pulang.

            Tak butuh waktu lama setelah hari itu, aku akhirnya mengetahui memang ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Dia bukan nya ingin memanggilku dengan sebutan yang berbeda namun dia tiba-tiba saja benar-benar lupa harus memanggilku dengan sebutan apa, dia bukan nya tidak ingin menghubungiku ponselnya pun sama sekali tidak rusak tapi dia lupa bagaimana cara mengoperasikan ponselnya, dan dia benar-benar lupa arah pulang ke rumahnya itu sama sekali bukan lelucon. 

             Dia, tiba-tiba tak sadarkan diri dan terbaring di rumah sakit untuk waktu yang lama saat dia terbangun, dia sama sekali tidak mengingatku hari itu aku harus menerima kenyataan bahwa aku hilang dari ingatan nya, bahwa ingatan nya mengalami kemunduran luar biasa bahkan jauh sebelum dia mengenalku. ia telah lupa bahwa dia menjanjikan kebahagiaan untuk ku. Kini aku hanyalah seseorang yang tak pernah ada dalam hidupnya.

Senin, 27 Oktober 2014

Have you ever feel like...


Have you ever feel like.. Umm ya, you have a lot of friends in your school but sometime you realize that no one of them is your real friend. Ya, I mean sometime I think that I have share a lot about myself. yes they know everything about me but I realize again I never know about them. How stupid I ‘am hahahaha I know this so wrong, sorry but this is what I feel right now. In this few days I feel like stranger between all of you. You laugh; you talk each other and me? I just like an idiot who never know what you were talking about and now I decide to stop caring about you were talking about I don’t care if sometime all of you tell the secret each other I’ll go like I never know anything. This is so hurt, you feel like stranger between your lovely friends.

Selasa, 09 September 2014

Satu tamparan keras untuk ku



Sore tadi aku berbincang cukup lama dengan beberapa temanku dikantin, sampai lupa waktu bahkan pegawai kantin pun sudah hampir pulang dan kami masih enggan beranjak dari tempat duduk kami. Seperti biasa kami terjebak dalam obrolan yang sulit di akhiri.

kami berganti topik kesana kemari dari obrolan ringan seputar film dan music hingga yang sedikit serius tentang pelajaran dan mengomentari cara guru-guru mengajar di kelas. Itu pun hanya sedikit, sedikit sekali seriusnya karena sisanya hanya guyonan yang membuatku tertawa sampai perut ku sakit. Lalu kemudian kita membicarakan topik yang mulai sentimentil. Apalagi kalau selain kisah percintaan klise ala remaja, terdengar begitu klise untuk dibahas, namun selalu menjadi topik yang akan membuat siapapun menjadi enggan untuk pergi tapi ternyata sulit sekali jika membicarakan yang satu ini, karena satu sama lain ingin berbicara panjang lebar yang akhirnya malah suara mereka mendengung di telingaku karena mereka sering bertabrakan berbicara. Sampai akhirnya satu temanku yang terkenal dengan cowok tukang php mengeluarkan suaranya yang membuatku langsung mendengarkan nya tanpa ada niat menyela perkataan nya sedikitpun.

“Ya gimana sih bukan nya php, kalo adik kelas nyapa ya kita harus sapa balik dong, kalo dia ngechat juga ya gue bales lah, kasihan!” timpalnya, sesaat aku terdiam. Tak butuh waktu lama. Temanku yang satunya yang sama-sama mantan php menimpal omongan nya.

“Emang sih kadang males juga balesnya, kadang kalo anak itu chat ya di diemin dulu deh terus bales pas udah lama jadi kan gak akan panjang chating nya.”

Ah entah kenapa saat itu juga hatiku rasanya benar-benar ngilu seperti teriris beberapa bagian lalu melepuh. Jadi seperti itu, aku baru mengerti setelah sekian lama. betapa tololnya aku.

“Jadi lo ngerasa ke ganggu ya kalo adik kelas lo terus ngechat lo?” tanyaku hati-hati.

“Keganggu sih engga, kalo gue sih berusaha bersikap ramah aja lah sama siapapun. Tapi mereka salah menanggapi ramahnya gue. Ya gue sih nganggapnya ya adik kelas doang lah”

Jleb. Persis. Sama persis seperti kamu.
Tolol. Tolol. Tolol.

Kalimat rutukan keluar begitu saja dari mulutku sampai mereka bingung kenapa aku berkata seperti itu tiba-tiba. Jika temanku tidak berkata seperti itu mungkin aku sudah terlalu jauh mengganggu hidup kamu. 

Jadi seperti itu yang kamu rasakan? Kasihan? Betapa menyedihkan nya aku.
Obrolan berikutnya hanya terdengar samar-samar ditelingaku selanjutnya otak ku hanya terfokus pada kamu. Naif sekali jika aku bilang aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Bohong besar! Tapi seperti nya terlalu muluk keinginanku ini. Sampai akhirnya aku tekatkan diriku hanya untuk bisa dekat denganmu tidak peduli apapun. Aku hanya ingin dekat. Itu sudah membuatku bahagia.

Namun, setelah perkataan itu menamparku sangat keras, aku jadi sadar bahwa selama ini mungkin kamu merasa terganggu olehku. Sejak dua tahun yang lalu saat aku berusaha begitu keras untuk mengenalmu sampai sekarang yang bisa dikatakan aku sudah cukup dekat denganmu, mungkin saja kamu merasa terganggu oleh adik kelas mu yang sudah cukup lancang ini. Maafkan aku, ribuan kali aku mencoba untuk berhenti menyukaimu tapi akhirnya aku malah terjerembab untuk lebih dari sekedar menyukaimu sedangkan saat ini kamu sudah mulai menata kehidupan baru mu dengan status mahasiswa yang mungkin akan bertemu dengan seseorang yang kamu sukai. Jadi aku harus apa sekarang? 

Lamunan ku pecah karena teman-temanku rupanya sudah bosan dan ingin pulang. Saat waktu menjelang senja akhirnya kami pulang. Aku mengeluarkan ponsel ku meskipun dengan sedikit ragu. Aku menghapus semua pesan singkatku dengan mu.

Aku sudah tidak ingin di kasihani. Bisik ku dalam hati.

Minggu, 27 Juli 2014

Surat Untuk Ayah - Masih ada yang belum terucapkan



Gema takbir berkumandang lagi…

            Untuk ketiga kalinya aku mendengarnya tanpa ayah. Seperti ada luka kecil di dalam hatiku yang selalu terasa sakit jika mengingat ini. Ayah, jika saat itu aku tahu idul fitri terakhir ayah, mungkin aku bisa memelukmu lebih erat dari biasanya mungkin aku juga akan lebih lama mengenggam lengan ayah.

            Jika dipikirkan lagi, bukankah seharusnya aku telah terbiasa tanpa ayah? Bukankah seharusnya ini terasa lebih mudah? Tapi kenapa sudut sunyi dirumah ini selalu terasa menyakitkan bagiku, aku ingin benar-benar memelukmu ayah masih ada maaf yang tak terucapkan padamu, aku belum benar-benar meminta maaf kepadamu semasa hidupmu aku sering menentangmu, aku juga sering berbohong dan bahkan tidak mendengarkan perkataanmu. Tapi saat ini aku bisa apa? tidak ada lagi raga yang bisa aku peluk, akankah permintaan maafku ini diterima olehmu? 

            Ayah, maafkan aku, sungguh maafkan aku ayah. Aku belum cukup baik menjadi seorang anak dari ayah yang hebat seperti mu, bahkan aku belum bisa membuatmu bangga padaku. Ayah, akankah kau mendengarkan ini semua? Entah bagaimana caranya, aku harap ayah tahu.

            Jika aku boleh mengadu, saat ini telah banyak kebiasaan di keluarga kita yang mulai hilang setelah ayah pergi, bahkan jarak antara kami dan saudara-saudara ayah makin terasa. Sebenarnya aku tidak ingin ada silaturahim yang terputus diantara kami, tapi aku bahkan malu, setelah ayah pergi aku merasa seperti orang asing di antara mereka. Tapi ayah, bukankah darah itu lebih kental dari pada air? Di dalam tubuhku juga mengalir darah mereka, kan yah? Aku tidak ingin menjadi orang asing di antara mereka meskipun saat ini tidak ada lagi ayah. Idul fitri tahun ini, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan semua orang terutama saudara-saudara ayah. Semoga ini bukan hanya sekedar harapan.

            Besok aku akan pergi ke makam tempat jasadmu terbaring terakhir kalinya, aku tidak ingin menangis diatas pusaramu seperti biasanya, semoga ayah mengerti anakmu hanya ingin terlihat kuat dan tegar dihadapan ibu.

Ayah, aku merindukanmu.         
aku akan selalu menunggu kehadiranmu di mimpi-mimpiku.
Salam peluk, anak sulungmu.

Kamis, 17 Juli 2014

Untukmu Palestina



Ketika darah-darah saudara kami bertumpahan
Teriakan-teriakan "Allahuakbar" tak akan pernah berhenti
disana, Tanah para nabi itu telah terganti dengan reruntuhan bangunan dengan darah yang bergelimangan
Sampai kapan serangan mengerikan ini akan berhenti, Tuhan?

Saat kami bergidik ngeri ketakutan
bocah bocah pemberani itu maju dengan tangan hanya berkepalkan batu kecil
sedangkan tentara zionis yahudi dengan bangganya membawa senjata laras panjang
dimana hati nurani mereka, Tuhan?
Tersenyum manis setelah berhasil menumpahkan darah bocah tanpa dosa itu
Bahkan membalas darah dengan senyuman kemenangan
Sampai kapan tentara laknatullah itu akan berhenti, Tuhan?

Teruntuk saudara kami disana
Jangan menangis, kalian adalah anak kesayangan tuhan saat ini
Jiwa kalian disambut oleh bidadari-bidadari surga dan para malaikatnya
Kuatlah, sabarlah, tegarlah…

Dan saat ini, jangan tanya kapan saudara-saudara kami disana akan berhenti
Setelah banyak keluarganya yang tak bersalah diseret kedalam jeruji besi
Setelah banyak hak hidup yang dirampas sesukanya
Jangan tanya kapan mereka akan menyerah
Karena masih ada janji indah dari Allah yang mereka percayai sampai akhir




Juli, 2014