Kamis, 25 April 2019

Mungkin memang benar.

Cara mencintaimu yang paling benar menurutku adalah dengan mendoakanmu. Mendoakan semoga segala kebaikan selalu melingkupimu. Terima kasih karena memilih bertahan dengan keegoisanku. Kita sering pecah karena hal remeh temeh dan selalu berujung pada rasa sesal. Saat ini rasa sesal itu akan lain kumaknai, mungkin ini pertanda semesta. Bukankah kita lelah mengira-ngira seperti apa jadinya kita nanti? Tetap merangkak di lingkaran yang sama atau terbang mengarungi langit yang biru. Angan itu terlalu jauh dan muluk untuk sekadar ku bayangkan. Kini, kamu sudah punya sayapmu sendiri, terbanglah sesukamu tanpa beban. Aku.. Aku akan mencoba melangkah pelan-pelan. Aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa jarak bukanlah masalah, nyatanya jarak mematikan langkah kita. Dalam kurun waktu tertentu kita terlalu sering berselisih, bukankah baik jika mata kita saling betemu Kemudian tangan kita saling menggenggam setelahnya? Biar pelukan mendamaikan semuanya. Tapi jarak bersikukuh untuk terus memisahkan kita karena hal remeh temeh. Tentu saja, keegoisanku adalah lubang yang paling besar.

Sekali lagi, mungkin saat ini cara yang paling benar mencintaimu adalah dengan mendoakanmu. Semoga kamu lekas menemukan langit untuk sayap-sayapmu.

Saya Takut

Menurutmu apa yang lebih menakutkan daripada ketakutan itu sendiri?
Saya selalu takut pada ketidakmungkinan yang akan kita hadapi. Mencoba percaya tapi ketakutan itu terus menjalar menyetubuhiku, sampai ruam-ruam. Saya tak pernah tahu bahwa ketakutan bisa menghentikan langkah seseorang begitu saja.

Lantas apa yang bisa diharapkan dari jarak yang tak bisa kita raih? Jarak yang paling saya takuti. Biarkan semesta yang menentukan. Saat ini, kita harus saling melepaskan genggaman.

Baik-baik ya.

Mungkin bertemu orang baru tak akan lagi menakutkan untukku, ketakutan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ketidakmampuan kita saat ini.

Jumat, 25 Januari 2019

Kamu berhak pergi.

Terima kasih, telah berkenan untuk singgah walau terasa tak terkesan rasa yang sungguh. Banyak hal yang ingin aku ceritakan, tentang keraguan yang menepi pelan-pelan, tentang ego yang berusaha aku kikis perlahan. Tepat saat aku berhasil melaluinya, kamu pergi.

Pergi, dengan banyak kejanggalan. Tentu saja, tentu kamu bebas memilih untuk tinggal ataupun pergi. Tapi, bisakah lebih baik dari ini? Bisakah aku memperjelas semuanya? Meskipun kata adalah usang, setidaknya aku ingin mencobanya.

Aku sadar betul, kamu pergi karena mungkin kamu terlalu muak dengan tingkahku yang angkuh. Kamu muak dengan ego yang selalu aku agung-agungkan sementara kamu mengikuti arahku kemana aku pergi. Kamu juga berhak mengambil sikap, tentu saja.

Tapi andaikan aku bisa meminta maaf padamu, akan aku jelaskan semuanya. Maaf karena kita saling mengenal disaat yang tidak tepat, maaf karena kamu melihat sisi paling buruk dari diriku. Saat itu, berbicara tentang rasa sungguh terlalu omong kosong untukku ketika hidupku sudah seperti hampir berakhir di kerongkongan. Benar, kamu mengenalku disaat-saat itu,  waktu di mana kematian rasanya begitu ingin aku raih, waktu di mana aku benci semua orang. Maaf karena tidak bisa terus terang tentang apa yang ku hadapi saat itu,  aku terlalu takut, aku terlalu takut bahwa kita benar-benar rapuh terhadap waktu dan kamu pergi. Tapi pada akhirnya kamu tetap pergi juga, walaupun entah apa alasan yang pasti.

Saat ini, boleh kamu katakan bahwa semua kata yang kuyakini berbalik semua padaku. Benar, aku menyukaimu meskipun berusaha aku sangkal dengan sejuta logika. Tapi, aku kalah. Tidak apa-apa, kamu berhak pergi.

Sabtu, 22 Desember 2018

Kisah kesunyian

Disaat orang lain sibuk suka cita dengan hari ibu, di sini aku semakin asing dan kaku dengan ibuku sendiri. Entah dinding apalagi yang memisahkan kita, aku lihat ibu sibuk dengan kesendiriannya dan yang kulakukan hanyalah berlalu masuk ke dalam kamar.

Mungkinkah, karena kejadian itu?
Ibu bilang kita akan baik-baik saja,
Tapi aku melihatmu semakin rapuh. Dan mengasing. Tapi aku merasa aku yang tertendang dari semestamu, kau tak bisa ku raih lagi bu.

Kalau saja aku tahu, kehadiranku hanyalah sebagai pengganjal hidupmu, bahwa aku memang merusak apa yang ibu tata selama ini. Rasanya aku ingin pergi saja bu. Bukan hanya ibu, tapi aku juga sudah putus asa.

Aku putus asa melihat Ibu.

Jumat, 14 Desember 2018

Tentang yang pergi dan tak pernah kembali

Seperti daun-daun tumbuh, kemudian jatuh saat musim gugur. Atau gerombolan burung kolibri yang datang saat musim semi, kemudian pergi mencari langit yang lain.

Aku mempertanyakan kemana perginya mereka... juga dirimu.

Aku terus mengira-ngira tempat apa yang kau singgahi kemudian,
apakah dinding-dinding yang penuh warna, pohon-pohon rimbun atau semak belukar?    

Aku tertinggal, dalam cemas, dalam gelisah dalam warna abu-abu.