Jumat, 21 September 2018

Imaji.


Aku berada dalam garis yang mengikatku dalam penyangkalan 
dan memercayai apa yang sepenuhnya hilang. Berada dalam garis itu membuatku hidup dalam sangkar yang kubuat sendiri, sangkar itu bernama rumah.


Aku membuat imaji yang tak henti, seakan keadaan rumah sama baiknya ketika ayah ada. Bahkan setelah aku menerima kenyataan itu, aku membuat imaji yang baru, seakan keadaan rumah sama baiknya ketika hanya ada aku, ibu dan adikku.


Imaji apa lagi yang harus aku ciptakan? Penyangkalan apa lagi yang mesti ku yakini? Sementara dindingku sudah mulai ambruk perlahan, tinggal menunggu hancur.


Sebelum melihat ibuku yang hancur, aku sudah hancur lebih dulu bu. Bagaimana bisa aku melihat tangismu?