Aku
berada dalam garis yang mengikatku dalam penyangkalan
dan memercayai apa yang
sepenuhnya hilang. Berada dalam garis itu membuatku hidup dalam sangkar yang
kubuat sendiri, sangkar itu bernama rumah.
Aku membuat imaji yang
tak henti, seakan keadaan rumah sama baiknya ketika ayah ada. Bahkan setelah
aku menerima kenyataan itu, aku membuat imaji yang baru, seakan keadaan rumah
sama baiknya ketika hanya ada aku, ibu dan adikku.
Imaji apa lagi yang
harus aku ciptakan? Penyangkalan apa lagi yang mesti ku yakini? Sementara
dindingku sudah mulai ambruk perlahan, tinggal menunggu hancur.
Sebelum melihat ibuku yang hancur, aku
sudah hancur lebih dulu bu. Bagaimana bisa aku melihat tangismu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar