Kamis, 27 Februari 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Menulis itu berbahagia disaat sedih.




 Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id

Saat kamu tidak bisa menyuarakan isi hatimu, menulis lah. Dengan menulis kamu bisa berteriak sekencang yang kamu mau tanpa ada satu orang pun yang merasa bising. Sepenggal kalimat itu aku sematkan di atas blog ku. Alasan nya agar aku tetap bersuara dalam keadaan apapun. Re: menulis.  
Sebenarnya disini saya Cuma mau berbagi pengalaman dan curhat colongan sih hehe. Check this out ya teman-teman.

            Kehilangan adalah satu cambuk paling menyakitkan dalam hidup, dalam bentuk apapun itu mau itu kehilangan benda atau bahkan kehilangan sosok yang paling kita sayangi. Keputusan saya untuk membuat blog ini dua tahun lalu ya karena kehilangan itu, saya kehilangan ayah dua tahun yang lalu di saat saya mendekati detik-detik ujian nasional tingkat SMP saat itu, sudah banyak tangis yang keluar dari mata ini, tapi entah mengapa itu malah membuat saya semakin sakit dan merasa kehilangan. saya tidak bisa mengatakan apa yang saat itu sedang saya rasakan pada ibu saya, toh beliau pun sama. Mungkin ibu saya lebih kehilangan dari saya, dengan seperti itu seperti ada yang mengunci mulut saya untuk bilang ke teman-teman kalau saya saat itu sedih saya sakit saya merasakan kehilangan yang amat luar biasa, saya ingin mengatakan semua itu tapi rasanya entah mengapa hal sesederhana itu tiba-tiba menjadi hal yang sulit untuk di lakukan.  Maka entah apa yang membawa dan membisikan agar saya membuat satu tempat untuk mengeluarkan segala gundah dan isi hati. Coba cek post blog saya saat awal-awal, isi nya sederhana. Mengeluarkan keluh, menyampaikan rindu yang ‘mungkin’ akan sampai ke mendiang ayah saya di surga sana. Seperti rekam jejak bagaimana saya perlahan-lahan bangkit dari keterpurukan. Ternyata saya pernah sesakit itu dulu. 

            Lalu seperti ada dorongan kuat yang membuat saya ingin terus menulis, dan di bangku sma ini saya bertemu dengan sahabat yang juga menyukai dunia yang sama seperti saya ini, kami ikuti semua perlombaan menulis di dunia maya, dan alhamdulillah belum ada satu pun yang menang hihihi tapi sayang nya kami malah terus mencoba dan tidak ingin berhenti. (pantang menyerah._.)

            Dan beruntung nya saya juga bertemu Bapak Ismail Kusmayadi seorang guru bahasa indonesia yang amat sangat baik dan seperti nya mengerti masalah-masalah yang di hadapi remaja. Cara mengajarnya pun sangat komunikatif maka sangat jauh persepsi orang yang bilang pelajarana bahasa indonesia itu  ngebosenin dan bikin ngantuk. Beliau bahkan memberi motivasi kepada murid-murid nya agar mau belajar menulis cerpen dan puisi, termasuk saya salah satunya yang berhasil terbius oleh beliau dan jadi amat sangat kecanduan dengan yang namanya menulis. 

            Keinginan terbesar saya saat ini adalah melihat hasil karya saya bisa mejeng di toko buku sederetan dengan penulis-penulis terkenal dari indonesia. (AMIN ya ALLAH) Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan saya saat itu terjadi. Dan entah mengapa saya amat sangat yakin itu terwujud. Sshh, amat sangat nya tidak di baca juga tidak apa-apa. Saya memang terlalu percaya diri hihihi

            Keberuntungan mendatangi saya lagi, saat itu guru saya memberi informasi tentang perlombaan yang diadakan oleh pusat kurikulum dan perbukuan (puskurbuk) dan ada lomba katagori cerpen, novel dan puisi. Dan keinginan terbesar saya saat itu adalah menulis novel, meskipun saya tau itu berat dan waktu yang tersisa hanya dua bulan tapi saya yakin kalau novel saya itu akan selesai. saya benar-benar merasakan perjuangan menyelesaikan tulisan jungkir balik dan sempat benar-benar putus asa tapi alhamdulillah, ternyata  saya bisa menyelesaikan nya sekitar lima hari sebelum deadline. Ada perasaan lega tersendiri saat menyelesaikan satu naskah novel itu, sebenarnya di novel itu isinya tentang ringan curhat-curhat dikit tentang keluh kesah saya kehilangan seorang ayah dan bagaimana hidup saya berubah drastis setelah ayah saya pergi dan perjuangan ibu saya sebagai kepala keluarga. Semua resah itu saya tuliskan karya pertama saya ‘Cahaya Putih Di Ujung Senja’ judul novel saya yang sederhana. Saya benar-benar tidak berharap kemenangan karena dengan menyelesaikanya saja sudah jadi rasa bangga tersendiri buat saya, buat saya kekalahan di sayembara-sayembara menulis itu sudah amat sangat biasa. Saking seringnya gagal. haha 

            Tapi justru dengan saya tidak menggantungkan harapan saya untuk menang tiba-tiba saya di hubungi oleh pihak puskurbuk kalau saya masuk ke daftar calon pemenang dan saya di undang ke jakarta untuk melakukan wawancara. Saat itu kalimat yang saya katakan pertama kali. “Ini mimpi yaaaa? Padahal masih siang.” Tapi kalimat itu juga hilang beberapa saat kemudian saat guru saya bilang ini beneran. Akhirnya saya dengan guru saya dan kakak kelas saya yang juga di undang sebagai calon pemenang kategori cerpen berangkat ke jakarta tanggal 24 November tahun lalu, 3 hari disana bagaikan hari-hari seperti mimpi saya bisa tidur di hotel bintang 5 saya juga di beri kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat seperti Om Putu Wijaya (beliau yang ingin di panggil Om lho), Wa ode wulan ratna, dan banyak orang hebat lain nya yang datang dari peserta. Disanalah saya bertemu orang-orang hebat dari seisi indonesia. Lagi lagi saat disana saya tidak berharap jadi juara pertama, di undang untuk datang juga sudah beruntung pikir saya. Tapi saat pengumuman, saya di kejutkan lagi ternyata saya yang menjadi juara pertama. Ya Allah sujud syukur, saya baru tahu gimana rasanya menjadi seorang pemenang. 16juta adalah hadiah yang sangat tinggi untuk novel sekelas buatan saya, tak henti-hentinya saya mensyukuri itu. saat saya pulang jam 3 pagi samapi di bandung, ibu dan nenek saya menyambut dengan tangis haru, saya bahagia karena akhirnya saya bisa membuat mereka bangga.

            Guru saya pernah bilang, “berbahagialah kamu jika diberi kesedihan karena saat itu kamu benar-benar bisa menulis.” Jika di pikir benar juga, padahal awalnya ngerasa kok konyol banget berbahagia saat sedih. Ternyata di balik itu semua ada makna, saat sedih kita bisa menuangkan tulisan kita dan itu lebih emosional dan ternyata lebih hidup. Entah ada magis apa.


            “Saat sedih, Saat marah, Saat bahagia, dalam keadaan apapun itu kamu bisa menciptakan suatu karya. Asal... ada kemauan yang kuat.”


            Saya menceritakan ini bukan bermaksud untuk sombong, ria ataupun menggurui , tapi dengan adanya pengalaman saya ini saya juga berlajar ternyata kesedihan tak selamanya membuat kita terpuruk. Ternyata, kehilangan sosok ayah memicu saya untuk terus bangkit dan berkarya jalan saya menuju pendewasaan juga. Dan setelah berjelimet kesana kemari, Inspirasi saya menulis adalah mendiang ayah saya dan ibu saya. Aku cinta kaliaaaaaaan!!! Udah ya capeeee hohoho semoga menginspirasi sobat-sobat yang ingin berkarya! 


Jika ada sebuah buku yang ingin kamu baca, tetapi buku itu belum ada. Kamu lah yang harus menulisnya  -ToniMorrison.
kakak kelas saya (Putri Agustina),
   Guru Bahasa Indonesia Paling keren (Pak Ismail) dan saya sendiri.


           

Sabtu, 15 Februari 2014

Surat untuk ayah – Mimpi-mimpi tentang mu


Hallo Ayah, apa kabar disurga sana? 

Di surga sedang musim apa sekarang yah? Setelah beberapa bulan musim penghujan disini sepertinya  sudah mulai kemarau yang sepertinya akan panjang.  Disana bagaimana? Ah, iya musim apapun disana pasti ayah akan selalu terlindungi dan merasa damai. Rasanya sudah lama sekali tidak menulis sesuatu tentang ayah, tapi meskipun begitu ayah tidak pernah tertinggal dalam setiap do’a dalam sholatku. 

            Ayah, ayah tau? Setiap malam aku selalu berharap aku bisa bermimpi tentang ayah. Tapi entah mengapa rasanya sulit sekali bermimpi tentang mu, saat aku benar-benar ingin bertemu denganmu dalam mimpi kau justru tidak pernah hadir. Tapi kemarin malam, kau benar-benar hadir. Kau datang. Di mimpi itu, kau dan aku akan pergi pulang kampung, dan kau bilang padaku.
Teh, pergi hari jum’at itu tenang, damai.” di mimpi itu, aku melihatmu tanpa ingin berkedip sedetik  pun. Saat aku mengajakmu untuk pergi, ayah berjalan mundur lalu menghilang. Aku terbangun, nafas ku terengah-engah saat aku bangun seperti telah lelarian ratusan kilo meter, aku terdiam cukup lama dan teringat kata-katamu. Yah, saat itu kau pergi hari jum’at, kau pergi di hari itu dan tak pernah kembali. Aku senang jika benar-benar seperti itu.

        Dan ternyata di malam yang sama ibu juga bermimpi tentangmu, saat aku bilang pada ibu bahwa semalam ayah datang di mimpi ku, ternyata dia juga bilang ayah juga datang di mimpinya. Ibu, tidak banyak bicara tentang mimpinya tapi yang ku tahu ibu mimpi indah tentang ayah, aku melihat wajah ibu yang meneduhkan dari sudut ranjang, saat itu aku belum benar-benar bangun dari tempat tidur dan saat bangun aku langsung mengatakan itu pada ibu. Dan ibu bilang, ayah datang ke mimpinya, ayah terlihat lebih tampan dan gagah di mimpinya, ayah mengenakan pakaian serba putih di akhir mimpi ayah meninggalkan ibu dengan senyuman.

          Ayah, jika benar-benar semalam ayah datang ke mimpi kami. Bisakah singgah lebih lama? Kami amat sangat merindukanmu, kami hanya ingin lebih lama bercengkrama denganmu walaupun lewat mimpi. Karena aku percaya, saat aku bermimpi tentangmu, kau memang benar-benar datang. Dan kita berpisah saat aku terbangun dan kau kembali ke surga. Aku berharap mimpi-mimpi tentangmu tidak akan pernah berhenti, yah. Aku bahagia karenanya.

       Ayah, setelah ini mungkin ada banyak surat yang aku tulis untukmu, entah kenapa tapi aku yakin ayah melihatku sedang menulis saat ini. Ada banyak cerita yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata secara langsung. Sampai jumpa, aku merindukanmu, ayah. Selalu.
Tuhan, Titip Ayahku di SurgaMu.

Dari, Anak Sulungmu yang akan terus mencintaimu. Wulan.
                                                                                                                           


Kamis, 13 Februari 2014

Reuni

Siapapun itu yang mengadakan acara ini semoga di beri pahala sebesar-besarnya karena sudah mempertemukan orang-orang yang benar-benar ingin melepas rindu, dan merajut kembali silaturahmi yang sempat terputus beberapa tahun. 

                Aku mengedarkan pandanganku, baru menapaki gerbangnya saja seperti ada memoar yang sedang berputar di depanku tentang kehidupan masa-masa ku di putih abu ini, sebagian kecil yang ku ingat adalah hal-hal memalukan yang justru bisa membuatku tertawa geli saat mengingatnya padahal saat itu terjadi jangan kan untuk tertawa senyum pun enggan. Ya, ternyata benar apa kata orang, suatu saat kamu akan tertawa dengan kejadian yang membuat mu malu bahkan kesal di masa lalu.  Suasana sekolah yang dijadikan tempat untuk reuni ini masih sepi, belum banyak alumnus-alumnus yang datang, yang terlihat hanya beberapa orang yang dengan semangat nya menjadi panitia acara ini. Aku mulai masuk dan melewati koridor-koridor itu, tempat dimana dulu banyak siswa yang hobi nya nongkrong-nongkrong disitu padahal telah di marahi guru beberapa kali tapi tetap saja koridor menjadi salah satu tempat favorit siswa-siswa, banyak yang berubah di sini, andai saja saat-saat itu sekolah sudah seperti ini, lantainya sudah berkeramik, pintunya tidak ada yang jebol, papantulis sudah pakai spidol bukan lagi kapur yang bikin temanku candra alergi dan membuat asmanya kambuh sesekali. Waktu-waktu itu sudah berlalu bukan untuk aku sesali, ada rasa bangga saat aku menginjakan kembali kaki ku disini saat semuanya telah berubah menjadi lebih baik.