Kamis, 13 Februari 2014

Reuni

Siapapun itu yang mengadakan acara ini semoga di beri pahala sebesar-besarnya karena sudah mempertemukan orang-orang yang benar-benar ingin melepas rindu, dan merajut kembali silaturahmi yang sempat terputus beberapa tahun. 

                Aku mengedarkan pandanganku, baru menapaki gerbangnya saja seperti ada memoar yang sedang berputar di depanku tentang kehidupan masa-masa ku di putih abu ini, sebagian kecil yang ku ingat adalah hal-hal memalukan yang justru bisa membuatku tertawa geli saat mengingatnya padahal saat itu terjadi jangan kan untuk tertawa senyum pun enggan. Ya, ternyata benar apa kata orang, suatu saat kamu akan tertawa dengan kejadian yang membuat mu malu bahkan kesal di masa lalu.  Suasana sekolah yang dijadikan tempat untuk reuni ini masih sepi, belum banyak alumnus-alumnus yang datang, yang terlihat hanya beberapa orang yang dengan semangat nya menjadi panitia acara ini. Aku mulai masuk dan melewati koridor-koridor itu, tempat dimana dulu banyak siswa yang hobi nya nongkrong-nongkrong disitu padahal telah di marahi guru beberapa kali tapi tetap saja koridor menjadi salah satu tempat favorit siswa-siswa, banyak yang berubah di sini, andai saja saat-saat itu sekolah sudah seperti ini, lantainya sudah berkeramik, pintunya tidak ada yang jebol, papantulis sudah pakai spidol bukan lagi kapur yang bikin temanku candra alergi dan membuat asmanya kambuh sesekali. Waktu-waktu itu sudah berlalu bukan untuk aku sesali, ada rasa bangga saat aku menginjakan kembali kaki ku disini saat semuanya telah berubah menjadi lebih baik.


                Sekarang aku melewati ruang guru dan ruang bp, sekali lagi aku tersenyum aku pernah beberapa kali masuk ke ruangan itu dan sangat menyeramkan, aku banyak berulah saat itu jadi mungkin aku ada di daftar paling atas yang sering di panggil bp, rasanya sangat berdosa kepada guru-guru ku waktu itu, perilaku ku yang usil membuat mereka geram dan mereka juga pernah jadi korban ke usilanku. Ah, maafkan muridmu ini..

                Sampai di kantin, senyumku semakin lebar saja. Sepertinya hanya tempat ini yang tidak di benci oleh murid-murid, sebab disinilah tempat mereka melarikan diri dari kegiatan sekolah yang melelahkan. Sebab disinilah banyak tatapan-tatapan misterius yang bernama ‘secret admirer’, disini juga pilihan terbaik untuk bertemu si kasih, tapi disini juga banyak obrolan ringan biasa yang akhirnya selalu menjadi gosip yang menggemparkan. Aduh.

                Tiba di deratan kelas dua belas, langkahku terhenti di ruangan yang dulu sempat menjadi kelas ku, aku masuk kedalam nya, rekaman masa lalu itu terus berputar di benak ku, ada banyak tawa yang tercipta di ruangan ini, kata mereka kelas ini adalah satu-satunya kelas ipa yang isinya murid-murid yang berjiwa ips, sebutan mereka saat itu IPTS (Ipa Tapi Ips) itu aib ya? Ah, peduli apa. Saat itu aku tidak peduli dengan julukan kelas-kelas lain karena di balik itu mereka juga iri dengan kekompakan kami yang tak pernah mereka rasakan. Aku bangga pernah menjadi bagian dari kelas ini. Mata ku tertuju pada meja kedua dari deretan paling depan di tengah barisan. Berusaha menginngat kembali siapa pemilik meja ini saat itu, aku ingat. Dulu itu tempat duduk dia.. Nadya.

                Aku duduk di kursi tempat duduknya itu, mau tidak mau aku telah terseret ke masa lalu dengan ikut acara ini. Segala rasa campur aduk itu, semuanya telah aku rasakan dengan mengandalkan ingatanku padahal acaranya belum di mulai. Gambaran wajahnya masih terlihat begitu indah di dalam benak ku padahal sudah beberapa tahun terlewat, entah kenapa aku tidak pernah bisa lupa garis senyum yang terukir di bibir mungil gadis itu. gadis itu, cinta pertama ku. Andai saja saat itu aku punya nyali untuk mengatakan apa yang aku rasa pada nadya, namun belum sempat aku nyatakan perasaanku. Tiba-tiba nadya menghilang hampir sebulan dia absen tidak masuk kelas. 

                “Firman..” tiba-tiba ada suara yang datang membangunkan aku dari lamunanku, dia Ririn. Aku mendongakan kepalaku yang dari tadi tertunduk, senyumku tersungging begitu saja. “Ayo, acara nya udah mau di buka.” Katanya sambil menghampiriku, aku meraih tangan nya. 

                “Maafin aku, rin.” Kataku pendek, tapi dia membalasnya dengan senyuman.

                “Firman, kamu tahu aku gak pernah meminta kamu untuk melupakan masa lalu, kita hanya melangkah lebih jauh. Kita tidak akan pernah benar-benar meninggalkan masa lalu. Aku mengerti.” Seperti biasa, ucapan Ririn selalu meneduhkan dan membuat perasaanku membaik. Aku memeluknya erat. Dulu, Ririn sering melihatku memeluk Nadya tapi sekarang dia ada di pelukanku.

                Setelah hampir sebulan Nadya tidak ada kabar, akhirnya sekolah mendapatkan  kabar kalau Nadya sakit. Tak lama dari itu, wali kelas mengumumkan bahwa Nadya telah pergi, dia Meninggal dunia. Meninggalkan dunia nya, meninggalkan aku. Sejak saat itu aku selalu merasa bersalah, bahkan aku tidak pernah tau kalau Nadya sakit keras, aku bahkan tidak pernah melihatnya lagi saat dia sakit, rumahnya selalu kosong aku kira dia pindah rumah ternyata dia di rumah sakit, dan yang membuat aku merasa semakin bersalah aku tidak pernah mengatakan bahwa sebenarnya aku mencintai nya.

              “Nadya, sudah punya tempat terbaik di sisi tuhan.” Bisik Ririn. Aku melepaskan pelukanku. “Yuk, kesana. Kita kesini untuk senang-senang lho.” aku tersenyum lalu mengangguk.

                “Makasih ya rin.” Kataku tulus.

                “Nadya akan selalu menjadi sahabatku, Nadya juga akan selalu jadi cinta pertama kamu aku gak bisa ngehapus itu. Sekarang, dengan kamu ada di samping aku udah lebih dari cukup.”

           Aku semakin menggenggam erat lengan Ririn, seolah ingin menunjukan kepada kawan-kawan lamaku. Bahwa Ririn lah yang menjadi dunia ku saat ini. Aku dan Ririn melangkahkan kaki keluar dari ruangan kelas kami itu. Untuk yang terakhir, aku menatap lekat-lekat meja Nadya.

                “Nadya, terimakasih telah memberikan kenangan di masa-masa SMA, do’a untukmu tak akan pernah putus dari ku. Saat ini aku dengan Ririn, sahabatmu. Aku akan menjaganya untuk mu nad. Semoga Tuhan memberikan tempat yang indah untuk mu. I still love you forever and always. ”
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar