Aku mengedarkan
pandanganku, baru menapaki gerbangnya saja seperti ada memoar yang sedang
berputar di depanku tentang kehidupan masa-masa ku di putih abu ini, sebagian
kecil yang ku ingat adalah hal-hal memalukan yang justru bisa membuatku tertawa
geli saat mengingatnya padahal saat itu terjadi jangan kan untuk tertawa senyum
pun enggan. Ya, ternyata benar apa kata orang, suatu saat kamu akan tertawa
dengan kejadian yang membuat mu malu bahkan kesal di masa lalu. Suasana sekolah yang dijadikan tempat untuk
reuni ini masih sepi, belum banyak alumnus-alumnus yang datang, yang terlihat hanya
beberapa orang yang dengan semangat nya menjadi panitia acara ini. Aku mulai
masuk dan melewati koridor-koridor itu, tempat dimana dulu banyak siswa yang
hobi nya nongkrong-nongkrong disitu padahal telah di marahi guru beberapa kali
tapi tetap saja koridor menjadi salah satu tempat favorit siswa-siswa, banyak
yang berubah di sini, andai saja saat-saat itu sekolah sudah seperti ini,
lantainya sudah berkeramik, pintunya tidak ada yang jebol, papantulis sudah
pakai spidol bukan lagi kapur yang bikin temanku candra alergi dan membuat
asmanya kambuh sesekali. Waktu-waktu itu sudah berlalu bukan untuk aku sesali,
ada rasa bangga saat aku menginjakan kembali kaki ku disini saat semuanya telah
berubah menjadi lebih baik.
Sekarang aku melewati
ruang guru dan ruang bp, sekali lagi aku tersenyum aku pernah beberapa kali
masuk ke ruangan itu dan sangat menyeramkan, aku banyak berulah saat itu jadi
mungkin aku ada di daftar paling atas yang sering di panggil bp, rasanya sangat
berdosa kepada guru-guru ku waktu itu, perilaku ku yang usil membuat mereka
geram dan mereka juga pernah jadi korban ke usilanku. Ah, maafkan muridmu ini..
Sampai di kantin,
senyumku semakin lebar saja. Sepertinya hanya tempat ini yang tidak di benci
oleh murid-murid, sebab disinilah tempat mereka melarikan diri dari kegiatan
sekolah yang melelahkan. Sebab disinilah banyak tatapan-tatapan misterius yang
bernama ‘secret admirer’, disini juga pilihan terbaik untuk bertemu si kasih,
tapi disini juga banyak obrolan ringan biasa yang akhirnya selalu menjadi gosip
yang menggemparkan. Aduh.
Tiba di deratan kelas
dua belas, langkahku terhenti di ruangan yang dulu sempat menjadi kelas ku, aku
masuk kedalam nya, rekaman masa lalu itu terus berputar di benak ku, ada banyak
tawa yang tercipta di ruangan ini, kata mereka kelas ini adalah satu-satunya
kelas ipa yang isinya murid-murid yang berjiwa ips, sebutan mereka saat itu
IPTS (Ipa Tapi Ips) itu aib ya? Ah, peduli apa. Saat itu aku tidak peduli
dengan julukan kelas-kelas lain karena di balik itu mereka juga iri dengan
kekompakan kami yang tak pernah mereka rasakan. Aku bangga pernah menjadi
bagian dari kelas ini. Mata ku tertuju pada meja kedua dari deretan paling
depan di tengah barisan. Berusaha menginngat kembali siapa pemilik meja ini
saat itu, aku ingat. Dulu itu tempat duduk dia.. Nadya.
Aku duduk di kursi
tempat duduknya itu, mau tidak mau aku telah terseret ke masa lalu dengan ikut
acara ini. Segala rasa campur aduk itu, semuanya telah aku rasakan dengan
mengandalkan ingatanku padahal acaranya belum di mulai. Gambaran wajahnya masih
terlihat begitu indah di dalam benak ku padahal sudah beberapa tahun terlewat,
entah kenapa aku tidak pernah bisa lupa garis senyum yang terukir di bibir
mungil gadis itu. gadis itu, cinta pertama ku. Andai saja saat itu aku punya
nyali untuk mengatakan apa yang aku rasa pada nadya, namun belum sempat aku
nyatakan perasaanku. Tiba-tiba nadya menghilang hampir sebulan dia absen tidak
masuk kelas.
“Firman..” tiba-tiba
ada suara yang datang membangunkan aku dari lamunanku, dia Ririn. Aku
mendongakan kepalaku yang dari tadi tertunduk, senyumku tersungging begitu
saja. “Ayo, acara nya udah mau di buka.” Katanya sambil menghampiriku, aku
meraih tangan nya.
“Maafin aku, rin.”
Kataku pendek, tapi dia membalasnya dengan senyuman.
“Firman, kamu tahu aku
gak pernah meminta kamu untuk melupakan masa lalu, kita hanya melangkah lebih
jauh. Kita tidak akan pernah benar-benar meninggalkan masa lalu. Aku mengerti.”
Seperti biasa, ucapan Ririn selalu meneduhkan dan membuat perasaanku membaik.
Aku memeluknya erat. Dulu, Ririn sering melihatku memeluk Nadya tapi sekarang
dia ada di pelukanku.
Setelah hampir sebulan
Nadya tidak ada kabar, akhirnya sekolah mendapatkan kabar kalau Nadya sakit.
Tak lama dari itu, wali kelas mengumumkan bahwa Nadya telah pergi, dia
Meninggal dunia. Meninggalkan dunia nya, meninggalkan aku. Sejak saat itu aku
selalu merasa bersalah, bahkan aku tidak pernah tau kalau Nadya sakit keras,
aku bahkan tidak pernah melihatnya lagi saat dia sakit, rumahnya selalu kosong
aku kira dia pindah rumah ternyata dia di rumah sakit, dan yang membuat aku
merasa semakin bersalah aku tidak pernah mengatakan bahwa sebenarnya aku
mencintai nya.
“Nadya, sudah punya tempat
terbaik di sisi tuhan.” Bisik Ririn. Aku melepaskan pelukanku. “Yuk, kesana.
Kita kesini untuk senang-senang lho.” aku tersenyum lalu mengangguk.
“Makasih ya rin.”
Kataku tulus.
“Nadya akan selalu
menjadi sahabatku, Nadya juga akan selalu jadi cinta pertama kamu aku gak bisa
ngehapus itu. Sekarang, dengan kamu ada di samping aku udah lebih dari cukup.”
Aku semakin
menggenggam erat lengan Ririn, seolah ingin menunjukan kepada kawan-kawan
lamaku. Bahwa Ririn lah yang menjadi dunia ku saat ini. Aku dan Ririn
melangkahkan kaki keluar dari ruangan kelas kami itu. Untuk yang terakhir, aku
menatap lekat-lekat meja Nadya.
“Nadya, terimakasih
telah memberikan kenangan di masa-masa SMA, do’a untukmu tak akan pernah putus
dari ku. Saat ini aku dengan Ririn, sahabatmu. Aku akan menjaganya untuk mu
nad. Semoga Tuhan memberikan tempat yang indah untuk mu. I still love you
forever and always. ”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar