Selasa, 11 Juni 2013

Harapan yang menguap



                 Awalnya, Aku hanya bisa melihatnya dari jarak yang tak pernah tersentuh olehnya, aku hanya menikmati senyumnya dari jauh. Melihat tawa bahagia nya dari sudut yang tak tertangkap olehnya. Tatapan itu terus aku lakukan berulang kali, bukan otak ku yang memerintah tapi hatiku yang menginginkan nya. hatiku mengingankan dia ada dalam pandanganku. Titik fokusku tetaplah dia dari sekian kerumunan manusia itu. 

                Saat itu, dia menyadari akan tatapanku. Aku menunduk. Tatapan nya tajam, oh baiklah mungkin ia menyangka aku adalah seseorang yang sedang mengintainya. Ya benar, aku sedang mengintai nya, hatinya lebih tepatnya. Keinginanku terus memuncak, aku tak lagi menunduk saat ia menangkap pandanganku, aku menatapnya lebih tajam lagi sampai dia memalingkan pandangan nya ke arah lain. Atau... wanita lain;mungkin.

                Tempo hari, aku memaksakan tersenyum di hadapan nya. oke katakan saja ini terpaksa, terpaksa menyunggingkan senyum saat lutut gemetar. Dia balas tersenyum. Astaga. Bukan kah itu suatu keajaiban. Aku terus melambungkan harapanku setinggi awan, tunggu dulu.. aku benci saat aku harus terbang sendirian. 

                Hari ini, aku berpapasan dengan nya. dia menyapaku, tatapan nya seperti sudah sangat mengenalku. Aku membalasnya sapaan nya, mungkin saat itu aku lebih terlihat bodoh. Aku memutuskan untuk tetap diam di tempatku berdiri, aku baru menyadari aku masih mempertahankan senyumanku, memerhatikan punggungnya yang mulai menjauh. Dia menyapa banyak orang, dengan tatapan yang sama saat menatapku tadi. senyumanku hilang.

ah aku urungkan saja untuk terus mengharapkanmu, ini alasanku mengapa aku benci terbang sendirian. Aku tidak mau merasakan yang namanya jatuh, naif. Ini juga mungkin salahku juga yang terlalu cepat mengira tatapannya itu istimewa tapi nyatanya dia memang ramah pada semua orang. Jadi, dimatanya aku hanyalah orang asing yang ia sapa sebagai tanda ia mempunyai etika dan pribadi yang ramah. Iya, hanya itu.
Seharusnya aku bersyukur, dengan dia bisa membalas tatapanku, tersenyum padaku dan menyapaku. Aku bersyukur atas itu walaupun itu tak berarti apa-apa untuknya.

2 komentar: