Selasa, 09 September 2014

Satu tamparan keras untuk ku



Sore tadi aku berbincang cukup lama dengan beberapa temanku dikantin, sampai lupa waktu bahkan pegawai kantin pun sudah hampir pulang dan kami masih enggan beranjak dari tempat duduk kami. Seperti biasa kami terjebak dalam obrolan yang sulit di akhiri.

kami berganti topik kesana kemari dari obrolan ringan seputar film dan music hingga yang sedikit serius tentang pelajaran dan mengomentari cara guru-guru mengajar di kelas. Itu pun hanya sedikit, sedikit sekali seriusnya karena sisanya hanya guyonan yang membuatku tertawa sampai perut ku sakit. Lalu kemudian kita membicarakan topik yang mulai sentimentil. Apalagi kalau selain kisah percintaan klise ala remaja, terdengar begitu klise untuk dibahas, namun selalu menjadi topik yang akan membuat siapapun menjadi enggan untuk pergi tapi ternyata sulit sekali jika membicarakan yang satu ini, karena satu sama lain ingin berbicara panjang lebar yang akhirnya malah suara mereka mendengung di telingaku karena mereka sering bertabrakan berbicara. Sampai akhirnya satu temanku yang terkenal dengan cowok tukang php mengeluarkan suaranya yang membuatku langsung mendengarkan nya tanpa ada niat menyela perkataan nya sedikitpun.

“Ya gimana sih bukan nya php, kalo adik kelas nyapa ya kita harus sapa balik dong, kalo dia ngechat juga ya gue bales lah, kasihan!” timpalnya, sesaat aku terdiam. Tak butuh waktu lama. Temanku yang satunya yang sama-sama mantan php menimpal omongan nya.

“Emang sih kadang males juga balesnya, kadang kalo anak itu chat ya di diemin dulu deh terus bales pas udah lama jadi kan gak akan panjang chating nya.”

Ah entah kenapa saat itu juga hatiku rasanya benar-benar ngilu seperti teriris beberapa bagian lalu melepuh. Jadi seperti itu, aku baru mengerti setelah sekian lama. betapa tololnya aku.

“Jadi lo ngerasa ke ganggu ya kalo adik kelas lo terus ngechat lo?” tanyaku hati-hati.

“Keganggu sih engga, kalo gue sih berusaha bersikap ramah aja lah sama siapapun. Tapi mereka salah menanggapi ramahnya gue. Ya gue sih nganggapnya ya adik kelas doang lah”

Jleb. Persis. Sama persis seperti kamu.
Tolol. Tolol. Tolol.

Kalimat rutukan keluar begitu saja dari mulutku sampai mereka bingung kenapa aku berkata seperti itu tiba-tiba. Jika temanku tidak berkata seperti itu mungkin aku sudah terlalu jauh mengganggu hidup kamu. 

Jadi seperti itu yang kamu rasakan? Kasihan? Betapa menyedihkan nya aku.
Obrolan berikutnya hanya terdengar samar-samar ditelingaku selanjutnya otak ku hanya terfokus pada kamu. Naif sekali jika aku bilang aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Bohong besar! Tapi seperti nya terlalu muluk keinginanku ini. Sampai akhirnya aku tekatkan diriku hanya untuk bisa dekat denganmu tidak peduli apapun. Aku hanya ingin dekat. Itu sudah membuatku bahagia.

Namun, setelah perkataan itu menamparku sangat keras, aku jadi sadar bahwa selama ini mungkin kamu merasa terganggu olehku. Sejak dua tahun yang lalu saat aku berusaha begitu keras untuk mengenalmu sampai sekarang yang bisa dikatakan aku sudah cukup dekat denganmu, mungkin saja kamu merasa terganggu oleh adik kelas mu yang sudah cukup lancang ini. Maafkan aku, ribuan kali aku mencoba untuk berhenti menyukaimu tapi akhirnya aku malah terjerembab untuk lebih dari sekedar menyukaimu sedangkan saat ini kamu sudah mulai menata kehidupan baru mu dengan status mahasiswa yang mungkin akan bertemu dengan seseorang yang kamu sukai. Jadi aku harus apa sekarang? 

Lamunan ku pecah karena teman-temanku rupanya sudah bosan dan ingin pulang. Saat waktu menjelang senja akhirnya kami pulang. Aku mengeluarkan ponsel ku meskipun dengan sedikit ragu. Aku menghapus semua pesan singkatku dengan mu.

Aku sudah tidak ingin di kasihani. Bisik ku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar