Rabu, 13 April 2016

Denting lonceng malam itu



            Aku melihatnya dari kejauhan ia sedang berdiri persis di samping tiang lampu jalan. Ia tersenyum lalu ku balas, aku menghampirinya dengan semangat dan saat telah berdiri tepat di hadapannya aku menghembuskan nafas panjang seperti telah menahannya selama seharian penuh. Keningnya berkerut samar.

            “Sepertinya hari ini sulit sekali untukmu.” katanya lembut sambil mengambil jemariku ke dalam genggaman nya, aku mengangguk sambil tersenyum kecut. “Di depanku, kamu boleh melepaskan apa yang dikenakan wajahmu seharian ini. Bukankah 5 tahun sudah cukup untuk saling melepaskan kepalsuan dan rasa canggung?” lanjutnya.

            Senyum kecutku memudar terganti oleh selingan tawa. “Tentu saja, kamu teman terbaikku.”

            “Teman terbaik yang akan menjadi teman seumur hidupmu.” Katanya; lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. Langkah-langkah kami sudah mulai menjauh dari sudut jalan itu. Sebenarnya aku mendengarnya dengan cukup jelas namun segera kuenyahkan dan berpura-pura menyembunyikan telingaku.

            “Dari pada makan malam, how about some cup of coffe?” aku menunjuk satu kedai kopi diujung jalan, tak jauh dari tempat kami berada. dia menghembuskan nafas panjang. “Kenapa?”

            “Tidak apa-apa, coffe will be nice eventhough it’s not a date, ofcourse.” Tukasnya disusul dengan senyuman miring di sudut bibirnya, setelah itu suara kami seakan ditelan angin-angin jalanan, hanya tarikan dan hembusan nafas kami yang terdengar cukup jelas, meskipun begitu jemari kami masih saling mengikat dalam genggaman. Sesekali aku menoleh ke arahnya, betapa pria ini sangat mengerti aku, mengapa dia begitu sabar dan mengapa dia terus bertahan dengan seseorang sepertiku. Sampai di depan kedai, kami masuk disambut oleh denting lonceng yang sengaja digantung diujung pintu, kemudian kami memilih kursi disudut dekat jendela.

            Dia mengeluarkan satu bungkus rokok dari kantong jaketnya buru-buru aku menangkupkan tanganku diatas bungkus rokok itu. “Sekali ini saja ya?” aku menggeleng sambil memohon.  

            “Sesekali kamu harus memikirkan aku juga.” Katanya kecut sambil menghempaskan tanganku, ia mengambil satu batang rokok dan mulai bersiap untuk menghisapnya, cepat aku ambil pemantik api yang ada di atas meja. Dia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, tak lama ia bangkit. Aku melihatnya menghampiri salah satu pelayan kedai kopi beberapa menit kemudian ia sudah kembali dengan rokok yang sudah mengeluarkan asap.

            “Masokis.” Desisku sambil melemparkan kembali si pemantik api yang tadi sengaja ku ambil, aku memalingkan wajahku ke arah jendela, melihat gerimis yang mulai turun perlahan dari langit malam.

            Kemudian pelayan kedai datang dengan nampan yang diatas nya telah ada dua cangkir kopi yang menimbulkan aroma yang berbeda dari masing-masing cangkirnya, aku bisa melihatnya menghampiri meja kami dari pantulan samar di jendela. Satu shot  Esprasso milikku dan satu cangkir Latte miliknya. Alis nya seperti hampir bersentuhan kemudian ia menggeleng. 

          Latte milikku dan Espresso miliknya?” tanyanya kepada si pelayan, Si pelayan mengangguk kemudian berlalu setelah berkata silahkan menikmati pada kami yang sama-sama membalas dengan anggukan seadanya. “Bisa-bisanya kamu menyebutku masokis.” 

             Aku mengabaikan nya sambiil menyesap kopi milikku dengan perlahan, setelah itu kini aku yang menghempaskan punggungku ke sandaran kursi sambil bersedekap dan ia mulai mencondongkan tubuhnya kehadapanku.  “Aku tanya, siapa yang lebih masokis disini?” suara bariton miliknya terdengar begitu marah di telingaku disusul oleh asap-asap yang terus mengepul dari rokok yang dihisapnya. Paru-parumu, kamu ingin membuat seberapa parah lagi. Aku meneriakannya hanya dalam hatiku.

            “Berapa batang yang kamu hisap hari ini?” aku menatap lurus ke mata coklat miliknya hampir tak berkedip sedetikpun, ia tidak menjawab malah sengaja mengarahkan kembali peluru yang ku berikan.

            “Berapa cangkir kafein yang telah masuk ke tenggorokanmu hari ini?” suara rendahnya mampu membuat bulu kuduk di tengkukku berdiri. Entah kenapa aku takut, aku takut jika ia marah. 

            Menit berlalu kemudian hanya keheningan yang sampai pada kita, ia terus menghisap racun itu begitu pula denganku, aku meminum racun yang ku pilih sendiri. hingga kami menyadari bahwa ini bukanlah inti dari apa yang ingin kami bicarakan. Bagaimana bisa ia terasa begitu hangat dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Aku masih belum memahaminya.

            “Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.” Kataku lirih, aku mencoba menggapai lengannya namun ia menghindar.

            “Laras, sayangnya kamu tahu itu dengan pasti, bahwa tubuh ini tidak apa-apa dan kamu juga tahu dengan pasti bagian mana dalam diriku yang kenapa-kenapa.” nada bicaranya berubah, aku mendengar kemarahan disana. “Bagaimana kamu bisa menahanku dan menjauhiku dalam waktu yang bersamaan?”

            “Ares, kamu tahu aku tidak begitu.” Air mataku mulai menggantung di pelupuk mata, aku tahan agar tidak terjatuh.

            “Aku tahu, aku tahu kamu dengan sangat jelas. Aku hanya ingin kita sama-sama melepas kesakitan yang kita nikmati setiap harinya, jika kamu bilang aku masokis aku bisa katakan kamu lebih dari sekedar menikmati kesakitanmu tapi kamu hidup dengan itu. Sadarilah itu, Laras.” Suaranya kembali melembut, aku diam namun air mataku menjawabnya.

            “Lepaskan pria itu dalam hidupmu, kamu tahu bahwa dia sekarang telah menjalani hidup yang baru dan ia baik-baik saja dengan itu. Ia baik-baik saja tanpa kamu.” Kata-katanya seakan menamparku dengan sangat keras, kenyataan bahwa pria itu baik-baik saja tanpa aku rupanya sulit aku terima karena berbanding terbalik dengan apa yang harus aku lalui tanpa dirinya. “Sekarang sudah waktunya kamu melihat ke arahku bukan sebagai teman tentu saja, aku muak mendengarnya. Hentikanlah aku yang menikmati segala kesakitan yang kamu berikan, Laras.”

            “Tapi kamu sahabatku, Ares. kamu adalah teman terbaikku.” Ungkapku getir kudengar ia mendecak keheranan. Latte miliknya masih penuh dan sudah hampir dingin. 

            “Kamu harus tahu bahwa tidak ada persahabatan di antara pria dan wanita dewasa.” dengan kesal ia mematikan rokoknya diatas asbak. Ia tersenyum namun kemudian ia mengacak rambutnya frustasi. “Hatiku memilihmu dan apa yang bisa aku lakukan dengan  itu?”

            Kata-kata yang awalnya berhamburan dari bibirku kini hanya bisa menggantung di pikiranku dan bibirku hanya bisa mengatup, air bening dari mataku entah mengapa tak bisa aku hentikan. Aku beranjak dari dudukku kemudian berjalan meninggalkannya, denting lonceng dari pintu yang kubuka tak membuatnya menoleh. Langkah-langkah berat aku rasakan setelah meninggalkannya sendiri di kedai itu, kemudian pikiranku melayang pada hari-hari yang selalu ia luangkan untukku. Ares adalah satu-satunya orang yang sanggup mengerti dengan apa yang aku rasakan tanpa harus berpanjang-panjang bercerita, dengannya aku bisa melepaskan topeng yang aku kenakan seharian, aku bisa menangis sepuasnya, tertawa sampai perutku sakit dan memarahinya seperti orang gila. Ares adalah satu-satunya orang yang kucari saat aku merasa bahwa ada yang salah dengan hidup yang sedang aku jalani saat ini. 

            Saat langkahku mulai menjauh, aku menyadari satu alasan mengapa aku nyaman bercerita, menangis dan tertawa dihadapannya, karena saat aku melakukan itu semua sorot matanya tidak pernah berpaling dari mataku seakan ia bersedia menerima jika aku berbagi beban dengan dirinya dan itu semua tidak aku dapatkan dari pria itu, kenyataan bahwa pria itu hidup baik-baik saja disana merupakan hal yang tidak ingin aku dengar. Kakiku berhenti melangkah, aku merogoh tas tanganku mendapati ada yang hilang dari sana. Tubuhku berbalik dan melangkah kembali ke arah kedai, awalnya hanya langkah-langkah kecil namun kemudian langkahku semakin lebar dan tergesa-gesa, kedai kopi itu diujung jalan, aku berjalan lebih tergesa seakan kedai itu akan berjalan meninggalkan sepetak tanah yang ia duduki dan mencari lahan kosong yang lain jika aku berjalan lambat, namun kemudian lonceng berbunyi dari pintu itu dan keluar pria bertubuh jangkung milik Ares, aku tersenyum dari kejauhan dan mulai berlari kehadapannya.

            “Kamu mencari ini?” katanya sambil mengeluarkan sapu tangan berwarna biru laut dari saku celananya. Pria itu memberikannya tahun lalu sebelum ia pergi, dan aku pernah berjanji akan menyimpannya sampai kapanpun, namun sepertinya hari ini sudah waktunya aku mengingkari janji itu.

            “Bukan.” kataku bergetar sambil menggeleng pelan, kini tubuh jangkung itu hanya satu langkah di depanku. Aku mengambil sapu tangan itu dari genggamannya dan membiarkan angin membawa benda itu entah kemana. Sorot matanya menatapku dengan penuh tanda tanya. Tapi kemudian senyumnya mengembang setelah aku bilang. “Bukan. Bukan itu yang tertinggal, tapi milikku yang lain.” ungkapku sambil mengambil jemarinya yang lebar dalam genggamanku, ia tersenyum senang kemudian menarikku ke dalam pelukannya. 

            “Kamu tidak akan pernah menyesali keputusanmu hari ini.” Bisiknya kemudian. Tentu saja, karena kamu adalah Ares.