“Hmm, itu sih elo nya aja yang berlebihan, za.” Kataku sambil
meminum sisa softdrink yang dibelikan
nya, sebagai jatah mendengarkan curhatan nya yang berputar ditempat yang sama.
“engga, le. Gue yakin dia itu masih cinta sama gue, tapi
entah kenapa gue rasa dia lagi pura-pura. lni tuh aneh le, dia yang awalnya
pengen deket sama gue tapi setelah akhirnya deket dan gue mulai suka sama dia,
sikap dia malah jadi aneh gitu.” Dia bersikukuh dengan pendirian nya, kalimat
yang keluar dari mulutnya seakan penuh dengan emosi, seperti nya akan keluar
buih softdrink yang baru saja
diminumya.
“Mungkin dia udah gak suka lagi sama lo, za.” Kataku pasrah,
aku sama sekali tak berniat membuat dia merasa terpuruk atau pun menyerah, aku
hanya berkata sesuai dengan kenyataan yang aku lihat. Dan aku hanya memperjelas
kenyataan itu padanya, agar dia sadar bahwa harapan kadang berbanding terbalik
dengan kenyataan, itu yang namanya realita. Dia harus tahu itu.
“Gak mungkin le, masa iya bisa kaya gitu? Terus selama ini
artinya apa?” nada bicaranya mulai meninggi, aku sudah mulai bosan, sejujurnya
aku ingin melangkahkan kakiku dari sini dan meninggalkan nya sendiri. Tapi aku
takut dia pulang, dalam keadaan tidak sadar dan bau alcohol. Itu konyol.
“Ya, perasaan orang bisa berubah kali za. Lo peka dong
seharusnya, lo harus bisa ngambil kesimpulan dari sikap dia sama lo belakangan
ini.” Kali ini nada suaraku ikut-ikutan meninggi. Jujur saja, aku sangat
menghargainya sebagai sahabatku. Tapi aku muak, aku muak dengan sikapnya yang
seolah-olah semua apa yang di harapkan harus datang padanya saat itu juga. Bedakan,
dengan anak-anak yang menangis pada ibunya saat dia ingin balon? Tak beda jauh!
“Le, kenapa lo kaya gini sih? Setiap gue curhat sama lo,
kenapa kayanya lo berusaha bikin gue putus asa.” Dia menundukan kepalanya di
meja. Aku hanya memandangnya tanpa berbicara lagi.
Sejujurnya
Aku ingin dia tahu, mana orang yang mencoba membuatnya putus asa dan mana orang
yang berusaha memperlihatkan nya pada kenyataan. Aku tidak berniat sedikitpun
untuk membuatnya jatuh, aku ingin dia bangkit dan melihat sesuatu bukan hanya
dari hatinya saja, tapi logika. Aku tahu hati itu penting, tapi tanpa adanya
logika semuanya akan pincang, dan akan ada banyak hal yang akan kita korbankan.
Aku tidak mau melihatnya lagi seperti itu. Dia lelaki harusnya dia lebih kuat
dari apa yang aku bayangkan, dia harus lebih bisa berpikir realistis.
Aku tidak tahu tujuan dia menceritakan segala keluhnya
padaku itu untuk apa, sejujurnya jika dia hanya ingin aku terbangkan dan menyenangkan
hatinya, sepertinya dia harus mencari teman yang lain. Aku tidak bisa berbuat
seperti itu karena aku tahu itu cara yang akan membuatnya lebih sakit dari
sekedar perkataan ku saat ini. Aku juga bukan sok paling benar, tapi aku pernah
mengalaminya aku pernah jatuh karena berharap terlalu besar terhadap sesuatu,
makadari itu aku tidak mau ini terjadi padanya. Dan karena jatuh itu, aku jadi
tahu arti dari kenyataan.
“Za,
gue cape za. Pulang yuk.” Kataku, nada bicara ku merendah. Dia menggeleng. “lo,
gak bisa ngebuat gue merasa lebih baik, lea.” Katanya sambil memalingkan muka. Aku
tersenyum lalu turun dari kursi dan meninggalkan nya sendiri.
“Hati-hati
ya.” Kataku sambil menepuk bahunya, lalu berlalu.
Saat ini bukan aku yang
kamu butuhkan za, sepertinya memang kamu harus jatuh dulu untuk tahu apa itu
kenyataan dan pengharapan. Bukan nya aku membiarkan mu jatuh, tapi setelah kamu
diterbangkan entah oleh siapa pun itu dan kamu akan jatuh, saat itu kamu harus tahu
pentingnya berpikir realistis dan setelah itu aku ingin kamu bisa membedakan
mana orang yang mencoba membuatmu putus asa dan mana orang yang mencoba
membuatmu menghadapi kenyataan. Ini aku, yang menganggapmu sahabat yang mungkin
kamu anggap sebagai tempat sampah kekesalan mu.