Rasanya seperti sudah lama sekali
aku meninggalkan ayah dalam surat-surat yang biasa aku tulis untukmu, bukannya
aku sibuk atau aku tidak ingin melakukan nya, tapi ayah entah kenapa tiba-tiba
aku merasa kembali hilang aku tidak tahu bagaimana meluapkan perasaanku seperti
dulu, menulis sebebas apa yang ingin aku lakukan tapi sekarang entah mengapa
bahkan menulis juga masih membuatku merasa terpenjara, tidak, bukannya aku
membenci menulis aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika aku
berhenti menulis tapi yah saat ini yang aku butuhkan bukan hanya bercerita
berhalaman-halaman di kertas kosong atau disini, aku butuh sesuatu yang nyata
sesuatu yang membuatku merasa lega.
Sesekali
aku butuh untuk didengarkan, aku tahu permintaanku ini terlalu muluk ditengah
orang-orang disekelilingku sedang sibuk luar biasa dengan urusannya aku tahu
ini tidak mudah, aku merasa canggung dengan semua orang termasuk ibuku atau
bahkan sahabatku, ibu memang sejak awal aku tidak bisa bercerita tentang
bagaimana gilanya aku merindukan ayah yang ada kita berdua hanya akan terjebak dalam waktu
yang sulit seperti tiga tahun yang lalu dan demi apapun aku tidak ingin melihat
ibuku menangis lagi karena itu, sekarang sahabatku, ah ayah tahu sendiri sebenarnya
sedekat apapun aku dengan seseorang selalu ada batas tak kasat mata entah apa
itu tapi jika aku bercerita aku malah merasa canggung dan terlihat seperti
ingin dikasihani tapi sungguh yah, aku hanya ingin didengarkan aku tidak perlu
tanggapan apapun dari mereka karena yang keluar hanya seperti semangat omong kosong
yang menutupi rasa kasihan, rasanya sungguh menyesakan seperti ingin menangis
tapi tak pernah ada air mata yang keluar seperti ingin berteriak tetapi suaraku
habis.
Ayah,
waktu telah berjalan tiga tahun sejak kepergian ayah aku bahkan sudah lulus
sekolah saat ditinggalkan ayah aku masih smp dan sekarang sebentar lagi aku
akan menjadi seorang mahasiswa, banyak hal yang terjadi harusnya membuatku
lebih dewasa dan membuatku lebih tangguh, tapi memulai sesuatu kembali rasanya
seperti diseret ke masa lalu, melihat bangunan kampus pertama kali sama seperti
saat itu saat memasuki sma pertama kali tanpa ayah, aku hanya seperti mengulang
kembali kejadian itu.
Banyak
hal yang telah aku raih dan lebih banyak lagi hal yang harus aku gapai tapi
jika aku melepaskan segalanya hanya untuk memeluk ayah kembali akan aku
lakukan. Ayah suratku tak akan pernah berakhir untukmu, meskipun aku sudah
kuliah, bekerja atau menikah sekalipun akan aku anggap ini caraku untuk
memelukmu kembali.
Dari anakmu yang sulit beranjak
dewasa
Wulandari septiani.
Wulandari septiani.