Jumat, 19 Juni 2015

Caraku memeluk ayah



                Rasanya seperti sudah lama sekali aku meninggalkan ayah dalam surat-surat yang biasa aku tulis untukmu, bukannya aku sibuk atau aku tidak ingin melakukan nya, tapi ayah entah kenapa tiba-tiba aku merasa kembali hilang aku tidak tahu bagaimana meluapkan perasaanku seperti dulu, menulis sebebas apa yang ingin aku lakukan tapi sekarang entah mengapa bahkan menulis juga masih membuatku merasa terpenjara, tidak, bukannya aku membenci menulis aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika aku berhenti menulis tapi yah saat ini yang aku butuhkan bukan hanya bercerita berhalaman-halaman di kertas kosong atau disini, aku butuh sesuatu yang nyata sesuatu yang membuatku merasa lega. 

          Sesekali aku butuh untuk didengarkan, aku tahu permintaanku ini terlalu muluk ditengah orang-orang disekelilingku sedang sibuk luar biasa dengan urusannya aku tahu ini tidak mudah, aku merasa canggung dengan semua orang termasuk ibuku atau bahkan sahabatku, ibu memang sejak awal aku tidak bisa bercerita tentang bagaimana gilanya aku merindukan ayah yang ada  kita berdua hanya akan terjebak dalam waktu yang sulit seperti tiga tahun yang lalu dan demi apapun aku tidak ingin melihat ibuku menangis lagi karena itu, sekarang sahabatku, ah ayah tahu sendiri sebenarnya sedekat apapun aku dengan seseorang selalu ada batas tak kasat mata entah apa itu tapi jika aku bercerita aku malah merasa canggung dan terlihat seperti ingin dikasihani tapi sungguh yah, aku hanya ingin didengarkan aku tidak perlu tanggapan apapun dari mereka karena yang keluar hanya seperti semangat omong kosong yang menutupi rasa kasihan, rasanya sungguh menyesakan seperti ingin menangis tapi tak pernah ada air mata yang keluar seperti ingin berteriak tetapi suaraku habis.

            Ayah, waktu telah berjalan tiga tahun sejak kepergian ayah aku bahkan sudah lulus sekolah saat ditinggalkan ayah aku masih smp dan sekarang sebentar lagi aku akan menjadi seorang mahasiswa, banyak hal yang terjadi harusnya membuatku lebih dewasa dan membuatku lebih tangguh, tapi memulai sesuatu kembali rasanya seperti diseret ke masa lalu, melihat bangunan kampus pertama kali sama seperti saat itu saat memasuki sma pertama kali tanpa ayah, aku hanya seperti mengulang kembali kejadian itu. 

            Banyak hal yang telah aku raih dan lebih banyak lagi hal yang harus aku gapai tapi jika aku melepaskan segalanya hanya untuk memeluk ayah kembali akan aku lakukan. Ayah suratku tak akan pernah berakhir untukmu, meskipun aku sudah kuliah, bekerja atau menikah sekalipun akan aku anggap ini caraku untuk memelukmu kembali.

Dari anakmu yang sulit beranjak dewasa       
Wulandari septiani.