Senin, 10 Agustus 2015

Menyeret Waktu



Sekarang aku baru menyadari akan kalimat, ada saat dimana do’a-do’a kamu tidak sampai, mungkin bahkan do’a-do’a mu hanya melingkup di kamarmu dan memantul di langit-langit di atasnya  kurasa saat ini mungkin kalimat itu benar adanya, bahkan setelah doa-doa panjang yang aku panjatkan aku tidak merasakan kenyamanan, aku selalu merasa gelisah. Benar, mungkin itu yang menghalangi do’aku mungkin aku masih menyeret-nyeret amarah di dalam hatiku, mungkin masih ada yang tertinggal di dalamnya entah itu rasa kesal, marah atau bahkan rasa benci, aku juga tak bisa merasakan itu terlalu jelas, lantas setelah aku menyadari bahwa letak kesalahan nya ada pada diriku yang masih memendam amarah, sekarang apa yang harus aku lakukan? Harus kemana aku? Siapa orang yang harus aku minta untuk mendengarkan penyesalan dan permintaan maafku saat ini?

Dan lagi, seperti ada yang berteriak tepat sekali di depan telingaku. Hey, menurutmu kau ini siapa? Kau siapa pantas bersedih berkepanjangan seperti layaknya pengemis! Lihatlah, diluar sana kau bahkan tidak tahu bahwa seseorang di luar sana  seluruh kelurganya direnggut tiba-tiba dari sisinya dan ia masih bisa tersenyum bahagia, lalu kau ini apa? Hapus air matamu! Sudah bukan saatnya lagi kau menangis!  kemudian di susul oleh teriakan-teriakan lain yang seakan memojokan ku ke sudut paling gelap. 

Malam itu aku mendengar sayup-sayup seperti suara bising sekumpulan burung kolibri yang menghisap bunga-bunga musim semi, kubuka tirai di jendelaku namun sepi tidak ada sekumpulan orang yang sedang berbicara, tentu saja ini sudah pukul dua dini hari dan ternyata suara itu tak hilang, suara bising itu seperti muncul dalam pikiranku tiada henti dan aku memohon-mohon untuk berhenti seperti orang gila. Aku berjalan menelusuri setiap sudut rumahku berharap ada sesuatu yang bisa aku ajak bicara untuk meredam suara dalam pikiranku seperti misalnya cicak, tikus-tikus dapur atau misalkan tokek yang ayah pelihara sejak aku sd, ah entahlah malam itu kegilaanku sudah berada di ambang batas wajar, kau bisa bayangkan jam dua pagi kau jalan-jalan mengelilingi sudut rumahmu. well, meskipun rumahmu tidak besar siapa, sih yang melakukan itu dini hari dengan mata sembab dan kerah piyama yang basah oleh pipimu?

Lalu aku ingin memikirkan pusat kegelisahanku, aku duduk di sofa ruang tamu dengan lampu yang telah dimatikan, cukup lama terdiam tanpa memulai untuk memikirkan apapun  kemudian tiba-tiba pikiranku kembali terusik, mungkin selama ini aku hanya berpura-pura bersikap lapang atau semacamnya padahal di dalam hatiku aku menyimpan begitu banyak amarah yang tak terungkapkan, mungkin itu sebabnya. Jika mengenang ayah tentu saja seperti ada luka yang menganga dan terasa perih sekali, bukan aku benci mengenang ayah karena bagian terindah dari kenangan adalah saat kita membuatnya dan saat ini hanya dengan mengingatnya membuat perih tak terukur. Setelah sekian lama waktu berlalu, sebagian ruang kosong di hati tentang ayah membuat pilu terlebih saat ini aku akan kuliah dan siapa yang sangat ingin melihatku kuliah kalau bukan ayah? ya, aku tahu ibu juga, tapi yang setiap hari berbicara tentang masa depan adalah ayah, dan saat ini berbicara tentang masa depan malah membuatku takut dan ingin menyeret kembali ke waktu dimana aku habiskan bersama ayah tak peduli apapun, tapi realita, waktu itu berjalan lurus kedepan bukan berputar kembali ke titik awal makanya aku tak akan pernah bisa lagi merasakan bagaimana hangatnya pelukan ayah. Tetapi, yah, waktu itu menyembuhkan luka katanya tapi aku kira bukan bukan waktu yang menyembuhkan tapi proses selama waktu itu berjalan, di kepalaku bahkan masih terkurung ingatan-ingatan tentang ayah tak ada jalan keluar seperti bocah kecil yang naïf. 

Kemudian, aku kembali ke kamarku dan membuka laci lemari yang di dalamnya aku sembunyikan foto kecil ayah yang aku kira ibu tak akan bisa menemukannya disini, lalu aku hanya duduk terdiam selama beberapa menit sambil memandangi foto ayah, aku melakukan perbincangan panjang dengan ayah malam itu, kau tahu, melihatnya saja sudah seperti mengeluarkan semua isi kepalaku.

Mungkin sekarang aku tahu kenapa aku resah, mengapa aku merasa do’a-do’aku tidak sampai, dan orang yang harus mendengarkan permintaan maafku satu-satunya adalah ibu, aku tahu selama ini aku egois aku terlalu bersedih tiap kali aku ingat ayah tanpa mempedulikan bahwa di sisi lain ada ibu juga yang merasakan pedih luar biasa namun tertutupi oleh segala kegiatannya untuk mencukupiku, aku juga tahu aku selalu berdo’a untuk kebahagiaan ibu tapi nyatanya aku pernah membuatnya menangis karena sikap ku yang masa bodoh terhadap apapun, mungkin karena itu aku gelisah, saat ini aku yang berdiri untuk ibu, aku ingin merengkuh ibu dalam pelukanku, dan bilang meskipun posisi ayah tergantikan, aku tidak apa-apa aku masih anak ibu. Dan aku ingin hatiku benar-benar lapang, entah bagaimana caranya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar