Sekarang aku baru menyadari akan kalimat, ada saat dimana do’a-do’a kamu tidak sampai, mungkin bahkan do’a-do’a
mu hanya melingkup di kamarmu dan memantul di langit-langit di atasnya kurasa
saat ini mungkin kalimat itu benar adanya, bahkan setelah doa-doa panjang
yang aku panjatkan aku tidak merasakan kenyamanan, aku selalu merasa gelisah.
Benar, mungkin itu yang menghalangi do’aku
mungkin aku masih menyeret-nyeret amarah di dalam hatiku, mungkin masih ada yang tertinggal di dalamnya entah itu rasa
kesal, marah atau bahkan rasa benci, aku juga tak bisa merasakan itu terlalu
jelas, lantas setelah aku menyadari bahwa letak kesalahan nya ada pada diriku
yang masih memendam amarah, sekarang apa yang harus aku lakukan? Harus kemana
aku? Siapa orang yang harus aku minta untuk mendengarkan penyesalan dan
permintaan maafku saat ini?
Dan lagi, seperti ada yang berteriak tepat sekali di depan telingaku. Hey, menurutmu kau ini siapa? Kau siapa
pantas bersedih berkepanjangan seperti layaknya pengemis! Lihatlah, diluar sana
kau bahkan tidak tahu bahwa seseorang di luar sana seluruh kelurganya direnggut tiba-tiba dari
sisinya dan ia masih bisa tersenyum bahagia, lalu kau ini apa? Hapus air
matamu! Sudah bukan saatnya lagi kau menangis! kemudian di susul oleh teriakan-teriakan lain
yang seakan memojokan ku ke sudut paling gelap.
Malam itu aku mendengar sayup-sayup seperti suara bising sekumpulan
burung kolibri yang menghisap bunga-bunga musim semi, kubuka tirai di jendelaku
namun sepi tidak ada sekumpulan orang yang sedang berbicara, tentu saja ini
sudah pukul dua dini hari dan ternyata suara itu tak hilang, suara bising itu
seperti muncul dalam pikiranku tiada henti dan aku memohon-mohon untuk berhenti
seperti orang gila. Aku berjalan menelusuri setiap sudut rumahku berharap ada
sesuatu yang bisa aku ajak bicara untuk meredam suara dalam pikiranku seperti
misalnya cicak, tikus-tikus dapur atau misalkan tokek yang ayah pelihara sejak
aku sd, ah entahlah malam itu kegilaanku sudah berada di ambang batas wajar,
kau bisa bayangkan jam dua pagi kau jalan-jalan mengelilingi sudut rumahmu. well, meskipun rumahmu tidak besar
siapa, sih yang melakukan itu dini hari dengan mata sembab dan kerah piyama
yang basah oleh pipimu?
Lalu aku ingin memikirkan pusat kegelisahanku, aku duduk di sofa ruang
tamu dengan lampu yang telah dimatikan, cukup lama terdiam tanpa memulai untuk memikirkan
apapun kemudian tiba-tiba pikiranku
kembali terusik, mungkin selama ini aku hanya berpura-pura bersikap lapang atau
semacamnya padahal di dalam hatiku aku menyimpan begitu banyak amarah yang tak
terungkapkan, mungkin itu sebabnya. Jika mengenang ayah tentu saja seperti ada
luka yang menganga dan terasa perih sekali, bukan aku benci mengenang ayah
karena bagian terindah dari kenangan adalah saat kita membuatnya dan saat ini
hanya dengan mengingatnya membuat perih tak terukur. Setelah sekian lama waktu
berlalu, sebagian ruang kosong di hati tentang ayah membuat pilu terlebih saat
ini aku akan kuliah dan siapa yang sangat ingin melihatku kuliah kalau bukan
ayah? ya, aku tahu ibu juga, tapi yang setiap hari berbicara tentang masa depan
adalah ayah, dan saat ini berbicara tentang masa depan malah membuatku takut
dan ingin menyeret kembali ke waktu dimana aku habiskan bersama ayah tak peduli
apapun, tapi realita, waktu itu berjalan lurus kedepan bukan berputar kembali
ke titik awal makanya aku tak akan pernah bisa lagi merasakan bagaimana
hangatnya pelukan ayah. Tetapi, yah, waktu itu menyembuhkan luka katanya tapi
aku kira bukan bukan waktu yang menyembuhkan tapi proses selama waktu itu
berjalan, di kepalaku bahkan masih terkurung ingatan-ingatan tentang ayah tak ada
jalan keluar seperti bocah kecil yang naïf.
Kemudian, aku kembali ke kamarku dan membuka laci lemari yang di dalamnya
aku sembunyikan foto kecil ayah yang aku kira ibu tak akan bisa menemukannya
disini, lalu aku hanya duduk terdiam selama beberapa menit sambil memandangi
foto ayah, aku melakukan perbincangan panjang dengan ayah malam itu, kau tahu,
melihatnya saja sudah seperti mengeluarkan semua isi kepalaku.
Mungkin sekarang aku tahu kenapa aku resah, mengapa aku merasa
do’a-do’aku tidak sampai, dan orang yang harus mendengarkan permintaan maafku satu-satunya
adalah ibu, aku tahu selama ini aku egois aku terlalu bersedih tiap kali aku
ingat ayah tanpa mempedulikan bahwa di sisi lain ada ibu juga yang merasakan
pedih luar biasa namun tertutupi oleh segala kegiatannya untuk mencukupiku, aku
juga tahu aku selalu berdo’a untuk kebahagiaan ibu tapi nyatanya aku pernah
membuatnya menangis karena sikap ku yang masa bodoh terhadap apapun, mungkin
karena itu aku gelisah, saat ini aku yang berdiri untuk ibu, aku ingin
merengkuh ibu dalam pelukanku, dan bilang meskipun posisi ayah tergantikan, aku
tidak apa-apa aku masih anak ibu. Dan aku ingin hatiku benar-benar lapang,
entah bagaimana caranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar