Kamis, 06 Agustus 2015

Fahmi & Citra



Selain suara deruan angin yang meniupkan daun-daun kering tidak ada suara yang keluar dari dua sosok yang sedang duduk tercenung di atas sebuah kursi di taman sudut kota. Lagi, entah untuk kesekian kali mereka menarik nafas dalam-dalam seakan ada sebongkah batu yang bercokol di paru-paru keduanya, dibandingkan dengan mencaci maki dan merutuk keadaan mereka memilih untuk saling diam terlebih dahulu, setelah itu mungkin mereka punya kekuatan untuk saling bertanya.

            Fahmi melihat arlojinya, sudah dua puluh menit mereka saling terdiam, setidaknya salah satu harus memulainya jika tidak, mungkin ini hanya akan berakhir menjadi satu kisah yang tragis dan tak termaafkan.

            Citra yang entah kemana arah pandangan tertuju, tentu saja tak akan membuka mulutnya terlebih dahulu ia sengaja menahannya jika percakapan terlah dimulai, ia pastikan untuk tidak akan berhenti berbicara.

            “Lucu, ya.” Pandangan mata Fahmi hanya tertuju kedepan seperti tatapan kosong, nyatanya banyak kalimat yang bersarang dipikiran nya namun hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutnya, Citra menatapnya dengan nanar sambil tersenyum miris, daripada menangis mereka memilih untuk menertawakan kisah mereka yang berakhir menjadi hubungan canggung yang sangat aneh, tawa mereka hanya menutupi ruang yang tiba-tiba kosong.

     ***

            Fahmi menancapkan gasnya menembus padatnya lalu lintas, lima belas menit yang lalu kekasihnya Citra merengek minta di antarkan ke sekolah untungnya hari ini ia sedang kosong dari segala macam jadwal kuliah, alasan Citra kali ini murni karena kebiasaan nya bangun terlambat.

            “Duh, bunda ini kok pintunya macet sih.” gerutu Citra saat mencoba membuka pintu, dengan tenang bundanya menghampiri anak sulung nya itu sambil memberikan segelas susu.

            “Minum! Udah terlanjur telat juga.”  Dengan mudah bundanya dapat membuka pintu tanpa harus banyak mengeluarkan tenaga, Citra melongo dongkol mengingat bahwa pintu sisi kiri memang macet dan itu sudah dari dulu. “Makanya kalo bunda bilang tidur ya tidur ka jangan ngeyel, jadi pikun kan pintu yang ini  kan memang macet.” Lanjutnya, Citra cuma bisa nyengir sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

            Diluar, fahmi telah duduk manis diatas motor hitamnya. Ibu citra tersenyum. “Siapa tuh kak? Pacar?” Tanyanya  menggoda. anaknya hanya terkekeh pelan sambil pamit mencium pipinya itu. Dari kejauhan Fahmi melepaskan helm lalu memberi salam pada ibu citra, senyum yang tadinya mengembang di wajah ibu Citra perlahan hilang seiring menajamkan pandangannya, selanjutnya ia hanya melihat kepergian anaknya.

             ***

            Besoknya, tiba-tiba ibunya Citra meminta dikenalkan dengan Fahmi. Tentu saja Citra senang, tapi yang terjadi adalah situasi yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh keduanya. Saat Fahmi datang, ibunya yang langsung mempersilahkan duduk dan ia ikut duduk disebelah Fahmi. Citra yang duduk di sofa yang bersebrangan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap berlebihan dari ibunya, Fahmi juga menyiratkan raut wajah kebingungan dengan senyum canggung.

            “Ayo, minum dulu. disini cuma ada teh, diminum ya.” Ucap ibu Citra dengan nada bicara yang terdengar sangat ramah.

            “Iya, gak apa-apa tante, makasih.” Jawab Fahmi canggung setelah itu ia langsung meminum teh hangat di hadapan nya. Selama minum, pandangan ibu Citra sama sekali tak berpaling dari Fahmi, Citra hanya tercenung melihat sikap aneh ibunya. Sedangkan Fahmi hanya senyum-senyum canggung.

            “ada hal penting yang harus kalian tahu.” Mendadak ibunya menjadi serius, Citra membetulkan posisi duduknya dan bertanya ada apa namun ibunya malah balik bertanya.  “kalian ini berpacaran? Sudah berapa lama?” tanyanya, Citra dan Fahmi saling tatap kemudian mengangguk ragu. Ibunya tersenyum kelu, mendapati jawaban itu. 

            “Baru beberapa bulan tante.” jawab Fahmi akhirnya, ibu Citra mengangguk sambil tersenyum namun tersirat sesuatu.

            “Sejujurnya Tante senang bertemu dengan nak Fahmi tapi sepertinya ada sesuatu yang harus diluruskan terlebih dahulu.” Citra dan fahmi saling bertatapan dan merasa ada yang aneh dengan kalimat ibunya.

            Kali ini tubuh ibu Citra berbalik menghadap Fahmi, ia tersenyum seraya mengelus lembut pipi Fahmi dengan tatapan nanar. “Nama kamu, Fahmi ferdinan?”

            Fahmi yang masih kebingungan hanya bisa mengangguk, karena kalimat itu bukan terdengar seperti pertanyaan di telinganya melainkan pernyataan. Terdengar nafas yang panjang dari ibu Citra. “Fahmi Ferdinan. Luka dipelipis kamu kenapa?”

            “Oh ini tante,” katanya sambil memegang bekas luka di pelipisnya. “Saya lupa, sih, tante tapi kata ibu saya waktu kecil ini karena sudut meja tante waktu itu saya mau ngambil toples coklat. Bukan masalah besar kok tante, ini Cuma bekas luka.” Fahmi tersenyum canggung.

            “Gak salah, lagi.” Ibu citta langsung membekap mulutnya sendiri. sementara fahmi dan citra saling bertatapan tak mengerti. 

            “Fahmi, Tante tahu kamu waktu itu luka karena ujung meja, karena tante ada disitu.” 

              Fahmi berkerut kening semakin tidak mengerti. “Maksud tante.”

          Ibu Citra menahan nafas sesaat. “Iya, tante ada disana saat pelipis kamu berdarah. Karena kamu keponakan tante.” 

            Kali ini Citra dan Fahmi bertatapan kembali seakan saling berteriak. Ini maksudnya apa?

       Bagi mereka tiba-tiba jarum jam seperti berhenti berdetak, Citra tentu saja syok terlihat bagaimana cara tangan nya yang gemetar menutup mulutnya sementara Fahmi hanya berkerut samar sambil tersenyum miring. “Tidak mungkin tante.”

            “Ayah kamu Rahadi ferdinansyah?” Tanya ibu citra, kini fahmi yang berkerut kening.

           “Iya, tapi nama itu banyak tan bukan cuma ayah saya” sebenarnya Fahmi hanya meyakinkan dirinya sendiri karena perlahan ia seperti tidak bisa bilang jika dia tidak percaya sepernuhnya dengan apa yang dikatakan ibu paruh baya dihadapan nya.

            “Tante tidak pernah seyakin ini melihat wajah seseorang, tante tahu kamu sejak kecil.” Ucap ibu citra dengan lirih, kemudian ditariknya nafas dalam-dalam untuk menjelaskan kepada keduanya secara perlahan. “Ayah kalian… ayah kalian kakak beradik.” Ucapnya kemudian.

          Citra memegang dadanya seperti sulit bernafas. “Bun, jangan bercanda gitu dong bun.” Ucapnya lirih kemudian menghampiri ibunya dan duduk dilantai sambil memeluk lutut ibunya. Sedangkan Fahmi masih berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh ibu dari kekasihnya yang baru saja ia temui ini. Tiba-tiba calon mertua berubah menjadi tante sedarah, ini konyol.
 
            Fahmi berusaha untuk bersikap tenang walaupun segala bentuk penolakan telah mengusik pikiran nya. “Gak mungkin tanre, ayah saya telah meninggal saat umur saya delapan tahun. Sudah lama sekali.” Ucapnya berusaha setenang mungkin yang sangat kontradiktif dengan hati maupun pikiran nya yang tiba-tiba bingung.

            “Tante tahu itu Fahmi saat Citra berumur lima tahun ayah kamu meninggal” Kalimat itu seperti menjelaskan semuanya, dinding ketenangan fahmi tiba-tiba runtuh. 

Disampingnya ia melihat keponakannya yang tiba-tiba ia menenggelamkan wajahnya diantara tangannya sementara Citra yang duduk dibawah sedang mencoba menagan tangis nya dengan memeluk lutut dirinya. Refleks, kedua tangan nya terangakat untuk mengusap lembut puncak kepala Citra dan Fahmi disampingnya. Ia melihat mereka dengan hati pilu dan penyesalan. Ia mencoba untuk mengumpulkan kekuatan nya untuk menceritakan semuanya secara gamblang kepada kedua anak yang tadinya sangat menggemaskan kini sudah beranjak dewasa.

“Tante akan memberitahu semuanya agar kalian mengerti, tolong dengarkan saja.” Ucapnya pelan, seketika Citra mendongakan kepalanya dan Fahmi membuka kedua telapak tangan nya. Ibu nya tersenyum tipis saat menatap keduanya.

“Dulu saat ayah kamu meninggal, ibu kamu tiba-tiba memutuskan hubungan tali silaturahim dengan kami, tak lama mba tata, ibu kamu, pindah rumah dan otomatis kamu dan kakak kamu Risa juga ikut menghilang. Kami berusaha menghubungi kalian tapi tak pernah berhasil, lebih dari dua belas tahun kalian menghilang tanpa kabar, awalnya tante sama sekali gak ngerti kenapa ibu kamu bersikap seperti itu, tapi setelah ayah Citra meninggal beberapa tahun yang lalu akhirnya tante mengerti kenapa ibu kamu bersikap seperti itu, saat ini tante dan Citra hanya berusaha untuk tetap tinggal.” Ucapnya diakhiri dengan senyum pilu, sudah tidak ada lagi tangis yang tertahan kini semuanya tumpah tak terkendali, sementara fahmi masih bisa menahan tangis nya walaupun air mukanya terlihat sangat muram, setelahnya hanya terdengar nafas-nafas panjang yang terasa berat.

“Saat kecil kalian adalah sepupu yang paling dekat diantara yang lain, saat kamu menghilang Citra lah yang menangis paling kencang dan paling lama, berhari-hari tidak, berminggu-minggu setiap akan tidur dia selalu memanggil nama kamu dan memohon untuk bisa bermain.” lanjutnya berusaha tersenyum sambil mengusap lembut air mata citra.

Keduanya baru menyadari, saat pertama kali bertemu mereka merasa bertemu sosok yang pernah hilang satu sama lain, namun mereka menyalah artikan perasaan itu sebagai bentuk cinta pada pandangan pertama.

“Kamu juga satu-satunya keponakan kesayangan tante,  anak laki-laki termanis yang tante gak akan pernah lupa. Maka dari itu tante langsung mengenali kamu dalam sekali tatap.” Fahmi tersenyum pilu, benar hatinya merasa bahwa ibunya Citra ini pernah memeluknya sehangat pelukan ibunya.

“Maafkan kami, tak seharusnya kalian bertemu seperti ini, ibu tahu ini sama sekali diluar kendali kalian. Tapi sekeras apapun kalian mengingkari kenyataan bahwa kalian adalah sepupu tak akan pernah bisa terbantahkan. Meskipun ini berat bagi kalian, tapi hubungan persaudaraan akan lebih hangat. Ibu percaya nanti kalian akan terbiasa.” katanya mengakhiri cerita panjangnya. Kini ia terdiam, menunggu respon dari anaknya dan keponakan nya ini tapi tak terdengar apapun dari keduanya.

“Saat kamu masih sekolah menengah, om Ridwan pernah bertemu dengan kamu sekali, masih ingat? Saat sampai rumah om kamu benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya bertemu kamu beliau bercerita kalau kamu tumbuh dengan baik, kamu tampan dan kamu masih menjadi murid terpintar di sekolah, tante yang mendengarnya tiba-tiba merasa hangat dan dekat dengan kehadiran kamu. Namun setelah itu kamu kembali menghilang.”

Ingatan Fahmi tiba-tiba terlempar saat dia masih smp ia ingat betul saat ia naik bis kota sepulang sekolah tiba-tiba seorang bapak yang duduk disampingnya, menatapnya terkesima dan langsung memeluknya, setelah itu seharian Fahmi diajaknya makan dan jalan-jalan sampai-sampai dibelikan sepatu saat pulang, ia sangat senang sekali karena sejujurnya ia merindukan saudara-saudara dari ayahnya, tapi setelah menceritakan semuanya pada ibunya diluar perkiraan ternyata ibu nya marah dan melarang lagi untuk bertemu dengan om Ridwan atau siapapun yang berhubungan dengan ayahnya, dan sejak saat itu jika tiba-tiba dijalan ia bertemu om Ridwan atau siapapun yang ia kenali sebagai saudara ayah ia harus menghindar bagaimanapun caranya, meskipun enggan Fahmi tidak  ingin membuat ibunya kecewa.

“Saya ingat tante.” Ucap fahmi lirih sambil mengangguk ia sudah tidak bisa menahan air mata yang daritadi berusaha keras ia sembunyikan.

Citra yang daritadi diam-diam berharap bahwa semua yang didengarnya adalah salah, saat kalimat itu keluar dari mulut fahmi sendiri hatinya seperti tiba-tiba membentuk lubang besar yang terasanya nyeri. Citra langsung beranjak dan bergegas masuk ke kamarnya tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.

“Tante tau reaksi Citra akan seperti ini, tapi tante percaya sama kamu Fahmi, kamu lebih dewasa kamu lebih stabil dari Citra, tante percaya kalian akan melewati ini dengan baik walaupun pada awalnya kalian akan menentang ini tante percaya kalian akan saling menerima. Anggap saja ini cara tuhan untuk memperbaiki keluarga kita.” Fahmi mengangguk pelan, tidak ada lagi yang bisa keluar dari mulutnya untuk menyangkal ini. Kemudian tantenya itu beranjak dari duduknya dan tak lama kembali dengan membawa secarik kertas dan bolpoin

“tante minta nomor rumah kamu, nanti sampai dirumah, kamu gak perlu cerita apa-apa sama mama kamu, biar tante yang hubungi langsung. Tante yakin setelah ini ibu kamu akan mengerti” Fahmi hanya menurut dan menuliskan nomor telepon rumahnya.

“Tante… fahmi pamit pulang.” Hanya itu akhirnya yang sanggup keluar dari mulutnya, sebisa mungkin ia ingin cepat mengakhiri suasana menyedihkan ini. Ibu paruh baya yang tiba-tiba menjadi tantenya itu tersenyum padanya dan entah kenapa senyumannya meneduhkan. Tubuhnya dipeluk dengan erat, sebelum melepaskan pelukan tantenya berbisik sesuatu. Lalu fahmi mengangguk dalam pelukannya.

***

Seminggu berlalu. Seberapa keraspun mereka mencoba untuk saling menghindar toh pada akhirnya mereka juga yang harus menghadapi. Di sebuah taman di sudut kota, akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertemu, bukan untuk janji kencan, tapi pertemuan antara adik dan kakak.

Meskipun seminggu bukan waktu yang cukup tapi bagi Citra, yang telah berusaha memutar kenangannya bersama Fahmi sejak kecil akhirnya bisa menerima bahwa Fahmi memang kakak sepupunya, perlu ditambahkan Fahmi adalah kakak sepupu yang paling ia sayangi entah kenapa saat masih kecil yang bisa membuatnya berhenti menangis hanyalah Fahmi dan saat ini mungkin fahmi juga yang akan membuatnya berhenti menangis dan berani menghadapi realita sesungguhnya.

“Nanti lagi, kalo Citra ketemu orang terus langsung kerasa deg-degan dan familiar citra akan langsung samperin terus tanya ‘kita sodara apa bukan?’ dengan begitu citra jadi tahu kenapa citra merasakan perasaan yang aneh.” Ucap citra diakhiri dengan tawa hambar, dan fahmi hanya bisa tersenyum sambil membelai puncak kepala citra. Citra merenggut.

“Apa perlu kita pacaran diam-diam cit, ini bukan salah kita kan.” Kata Fahmi kemudian. Citra hanya tersenyum miring.

“Buat apa kak? Toh kita akan tahu akhirnya seperti apa nanti.”

            Kemudian selama beberapa menit mereka kembali terdiam dan kekosongan itu kian terasa aneh dan luka.

“Hmm, kenapa kita gak sadar dari awal sih padahal kan kita sering cerita tentang keluarga kita.” Suasana mulai terasa mencair meskipun masih ada percikan perasaan yang berusaha mereka tutupi. Fahmi mengangkat bahunya.

“Jalannya emang harus kaya gini kali.” ucap fahmi singkat. fahmi memberanikan diri untung menggenggam tangan citra. “Dengerin, sekarang gak peduli apapun kakak bakalan sayang sama kamu, Cit. meskipun status kita berubah menjadi kakak adik sesungguhnya. Tapi kali ini rasa sayang kakak gak ada batas gak ada akhir untuk hubungan ini.”

Citra bergeming sambil menatap dalam ke mata coklat fahmi.

“Suatu saat kalau kamu ketemu lelaki dan dia bikin kamu nangis, kakak akan hajar dia Cit, bener deh siapapun itu yang membuat kamu nangis akan kakak habisin.” Katanya disambung dengan tawa yang terdengar sumbang. 

Apa kakak, bisa menghajaar diri kakak sendiri?  

Meskipun kakak dan adik terdengar aneh bagi keduanya namun mereka berdua berusaha tersenyum terlebih Citra meskipun air matanya sudah berhasil mebasahi kedua pipinya namun senyum itu tetap terukir di bibirnya.

Kemudian fahmi berdiri dan merentangkan tangannya, Citra cemberut tapi kemudian ia menyeka air matanya dan menghampur ke dalam pelukan fahmi. 

“Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka.” Bisik fahmi, sama persis dengan apa yang dibisikan oleh ibu citra saat itu. Setelah pelukan mereka terurai menjadi sebuah jarak, mereka kemudian berjalan pulang dengan arah yang berlawanan.

Waktu mungkin bisa menyembuhkan kak, tapi ada kenangan di antara kita yang tak akan pernah bisa kita ingkari.

Sore itu menjadi pertemuan awal mereka sebagai kakak dan adik sepupu dan pertemuan terakhir sebagai seorang kekasih. Taman itu kembali hening diikuti oleh langit oranye yang mulai menghilang tertutup oleh gelap yang mulai keluar menggantikan mentari pemilik siang.                                                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar