Sore tadi aku berbincang cukup lama dengan
beberapa temanku dikantin, sampai lupa waktu bahkan pegawai kantin pun sudah
hampir pulang dan kami masih enggan beranjak dari tempat duduk kami. Seperti
biasa kami terjebak dalam obrolan yang sulit di akhiri.
kami berganti topik kesana kemari dari obrolan
ringan seputar film dan music hingga yang sedikit serius tentang pelajaran dan
mengomentari cara guru-guru mengajar di kelas. Itu pun hanya sedikit, sedikit
sekali seriusnya karena sisanya hanya guyonan yang membuatku tertawa sampai
perut ku sakit. Lalu kemudian kita membicarakan topik yang mulai sentimentil. Apalagi
kalau selain kisah percintaan klise ala remaja, terdengar begitu klise untuk
dibahas, namun selalu menjadi topik yang akan membuat siapapun menjadi enggan
untuk pergi tapi ternyata sulit sekali jika membicarakan yang satu ini, karena
satu sama lain ingin berbicara panjang lebar yang akhirnya malah suara mereka mendengung
di telingaku karena mereka sering bertabrakan berbicara. Sampai akhirnya satu
temanku yang terkenal dengan cowok tukang php mengeluarkan suaranya yang
membuatku langsung mendengarkan nya tanpa ada niat menyela perkataan nya
sedikitpun.
“Ya gimana sih bukan nya php, kalo adik kelas
nyapa ya kita harus sapa balik dong, kalo dia ngechat juga ya gue bales lah,
kasihan!” timpalnya, sesaat aku terdiam. Tak butuh waktu lama. Temanku yang
satunya yang sama-sama mantan php menimpal omongan nya.
“Emang sih kadang males juga balesnya, kadang
kalo anak itu chat ya di diemin dulu deh terus bales pas udah lama jadi kan gak
akan panjang chating nya.”
Ah entah kenapa saat itu juga hatiku rasanya
benar-benar ngilu seperti teriris beberapa bagian lalu melepuh. Jadi seperti itu, aku baru mengerti
setelah sekian lama. betapa tololnya aku.
“Jadi lo ngerasa ke ganggu ya kalo adik kelas lo
terus ngechat lo?” tanyaku hati-hati.
“Keganggu sih engga, kalo gue sih berusaha
bersikap ramah aja lah sama siapapun. Tapi mereka salah menanggapi ramahnya
gue. Ya gue sih nganggapnya ya adik kelas doang lah”
Jleb. Persis. Sama persis seperti kamu.
Tolol. Tolol. Tolol.
Kalimat rutukan keluar begitu saja dari mulutku
sampai mereka bingung kenapa aku berkata seperti itu tiba-tiba. Jika temanku
tidak berkata seperti itu mungkin aku sudah terlalu jauh mengganggu hidup kamu.
Jadi seperti itu yang kamu rasakan? Kasihan? Betapa
menyedihkan nya aku.
Obrolan berikutnya hanya terdengar samar-samar
ditelingaku selanjutnya otak ku hanya terfokus pada kamu. Naif sekali jika aku
bilang aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Bohong besar! Tapi seperti nya
terlalu muluk keinginanku ini. Sampai akhirnya aku tekatkan diriku hanya untuk
bisa dekat denganmu tidak peduli apapun. Aku hanya ingin dekat. Itu sudah
membuatku bahagia.
Namun, setelah perkataan itu menamparku sangat
keras, aku jadi sadar bahwa selama ini mungkin kamu merasa terganggu olehku. Sejak
dua tahun yang lalu saat aku berusaha begitu keras untuk mengenalmu sampai
sekarang yang bisa dikatakan aku sudah cukup dekat denganmu, mungkin saja kamu
merasa terganggu oleh adik kelas mu yang sudah cukup lancang ini. Maafkan aku,
ribuan kali aku mencoba untuk berhenti menyukaimu tapi akhirnya aku malah
terjerembab untuk lebih dari sekedar menyukaimu sedangkan saat ini kamu sudah
mulai menata kehidupan baru mu dengan status mahasiswa yang mungkin akan
bertemu dengan seseorang yang kamu sukai. Jadi aku harus apa sekarang?
Lamunan ku pecah karena teman-temanku rupanya
sudah bosan dan ingin pulang. Saat waktu menjelang senja akhirnya kami pulang. Aku
mengeluarkan ponsel ku meskipun dengan sedikit ragu. Aku menghapus semua pesan
singkatku dengan mu.
Aku sudah
tidak ingin di kasihani. Bisik ku
dalam hati.