Sabtu, 01 Agustus 2015

Pengakuan dan akhir



                Tadinya aku berniat akan memendam ini diam-diam sampai kapanpun, tapi kenapa rasanya begitu menyedihkan. Maafkan aku tapi aku juga tidak tahu rasa aneh ini di mulai sejak kapan, mungkin saat kita bertemu di kelas yang sama dua tahun yang lalu, atau saat kita ada di kelas yang sama lagi saat akhir sekolah,  semuanya tergambar samar, awalnya aku bahkan tidak menyadari bahwa aku menyukaimu, jujur saja aku sadar setelah temanku bilang dan setelah itu tak perlu berpikir lama untuk mengiyakan nya.

            Aku tahu kamu tidak pernah sekalipun memandangku sebagai seorang perempuan tapi di mataku kamu seorang laki-laki—Impianku. Kasarnya, mungkin kamu menganggapku sebagai teman lelakimu karena sifatku yang jauh dari kata lembut, itu benar kan?

            Sejak lama, jauh sebelum kamu menyukai perempuan itu yang katamu nyaris mendekati sempurna, kamu begitu memujinya, memujanya dan mengelu-elukan dirinya kamu bisa membayangkan jika apa yang aku rasakan lebih dari yang kamu rasakan untuk perempuanmu itu, sampai saat nya kamu kecewa dan lelah mengejar perempuan itu aku masih berdiri di samping mu sebagai sahabatmu tentunya. Kemudian pelan-pelan kamu beralih ke perempuan yang lain nya dan posisiku masih tetap sama.

            Jika kamu bilang aku salah mengartikan kebaikanmu kamu salah besar, aku juga tahu bahwa kamu orang yang ramah terhadap siapapun kamu memperlakukanku sama dengan teman-temanmu yang lain tapi aku tidak peduli bukan itu alasanku, aku bahkan tidak tahu alasan mengapa aku menyukaimu.

            Benar jika kamu katakan untuk menjadi seseorang yang special tidak cukup jika mengandalkan kata nyaman, karena sewaktu-waktu keadaan mungkin akan berubah menajdi canggung dan menjengkelkan, bagaimana bisa aku tetap menyukai mu bahkan setelah pertengkaran-pertengkaran antara kita yang tak pernah berhenti jika kita bertemu. Ego ku bilang aku tak perlu merasa bersalah karena menyukaimu tapi rasanya aku ingin mengucapkan maaf ratusan kali padamu karena mungkin perasaanku ini akan menghancurkan pertemanan kita begitu saja. Hati seseorang mungkin tak bisa di tebak, benar. Tapi entah mengapa kamu terbaca begitu jelas olehku, aku tahu perasaanmu tak pernah sekalipun mengarah kepadaku, aku tahu betul itu. Sekali lagi, maaf karena kelancanganku menyukaimu dan masih hingga saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar