Minggu, 27 Juli 2014

Surat Untuk Ayah - Masih ada yang belum terucapkan



Gema takbir berkumandang lagi…

            Untuk ketiga kalinya aku mendengarnya tanpa ayah. Seperti ada luka kecil di dalam hatiku yang selalu terasa sakit jika mengingat ini. Ayah, jika saat itu aku tahu idul fitri terakhir ayah, mungkin aku bisa memelukmu lebih erat dari biasanya mungkin aku juga akan lebih lama mengenggam lengan ayah.

            Jika dipikirkan lagi, bukankah seharusnya aku telah terbiasa tanpa ayah? Bukankah seharusnya ini terasa lebih mudah? Tapi kenapa sudut sunyi dirumah ini selalu terasa menyakitkan bagiku, aku ingin benar-benar memelukmu ayah masih ada maaf yang tak terucapkan padamu, aku belum benar-benar meminta maaf kepadamu semasa hidupmu aku sering menentangmu, aku juga sering berbohong dan bahkan tidak mendengarkan perkataanmu. Tapi saat ini aku bisa apa? tidak ada lagi raga yang bisa aku peluk, akankah permintaan maafku ini diterima olehmu? 

            Ayah, maafkan aku, sungguh maafkan aku ayah. Aku belum cukup baik menjadi seorang anak dari ayah yang hebat seperti mu, bahkan aku belum bisa membuatmu bangga padaku. Ayah, akankah kau mendengarkan ini semua? Entah bagaimana caranya, aku harap ayah tahu.

            Jika aku boleh mengadu, saat ini telah banyak kebiasaan di keluarga kita yang mulai hilang setelah ayah pergi, bahkan jarak antara kami dan saudara-saudara ayah makin terasa. Sebenarnya aku tidak ingin ada silaturahim yang terputus diantara kami, tapi aku bahkan malu, setelah ayah pergi aku merasa seperti orang asing di antara mereka. Tapi ayah, bukankah darah itu lebih kental dari pada air? Di dalam tubuhku juga mengalir darah mereka, kan yah? Aku tidak ingin menjadi orang asing di antara mereka meskipun saat ini tidak ada lagi ayah. Idul fitri tahun ini, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan semua orang terutama saudara-saudara ayah. Semoga ini bukan hanya sekedar harapan.

            Besok aku akan pergi ke makam tempat jasadmu terbaring terakhir kalinya, aku tidak ingin menangis diatas pusaramu seperti biasanya, semoga ayah mengerti anakmu hanya ingin terlihat kuat dan tegar dihadapan ibu.

Ayah, aku merindukanmu.         
aku akan selalu menunggu kehadiranmu di mimpi-mimpiku.
Salam peluk, anak sulungmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar