Awalnya, Aku hanya bisa melihatnya dari jarak yang tak
pernah tersentuh olehnya, aku hanya menikmati senyumnya dari jauh. Melihat tawa
bahagia nya dari sudut yang tak tertangkap olehnya. Tatapan itu terus aku
lakukan berulang kali, bukan otak ku yang memerintah tapi hatiku yang
menginginkan nya. hatiku mengingankan dia ada dalam pandanganku. Titik fokusku
tetaplah dia dari sekian kerumunan manusia itu.
Saat itu,
dia menyadari akan tatapanku. Aku menunduk. Tatapan nya tajam, oh baiklah
mungkin ia menyangka aku adalah seseorang yang sedang mengintainya. Ya benar,
aku sedang mengintai nya, hatinya lebih tepatnya. Keinginanku terus memuncak,
aku tak lagi menunduk saat ia menangkap pandanganku, aku menatapnya lebih tajam
lagi sampai dia memalingkan pandangan nya ke arah lain. Atau... wanita
lain;mungkin.
Tempo hari,
aku memaksakan tersenyum di hadapan nya. oke katakan saja ini terpaksa,
terpaksa menyunggingkan senyum saat lutut gemetar. Dia balas tersenyum. Astaga.
Bukan kah itu suatu keajaiban. Aku terus melambungkan harapanku setinggi awan,
tunggu dulu.. aku benci saat aku harus terbang sendirian.
Hari ini,
aku berpapasan dengan nya. dia menyapaku, tatapan nya seperti sudah sangat
mengenalku. Aku membalasnya sapaan nya, mungkin saat itu aku lebih terlihat
bodoh. Aku memutuskan untuk tetap diam di tempatku berdiri, aku baru menyadari
aku masih mempertahankan senyumanku, memerhatikan punggungnya yang mulai
menjauh. Dia menyapa banyak orang, dengan tatapan yang sama saat menatapku tadi. senyumanku hilang.
ah aku urungkan saja
untuk terus mengharapkanmu, ini alasanku mengapa aku benci terbang
sendirian. Aku tidak mau merasakan yang namanya jatuh, naif. Ini juga mungkin
salahku juga yang terlalu cepat mengira tatapannya itu istimewa tapi nyatanya dia
memang ramah pada semua orang. Jadi, dimatanya aku hanyalah orang asing yang ia
sapa sebagai tanda ia mempunyai etika dan pribadi yang ramah. Iya, hanya itu.
Seharusnya aku bersyukur, dengan dia bisa membalas
tatapanku, tersenyum padaku dan menyapaku. Aku bersyukur atas itu walaupun itu
tak berarti apa-apa untuknya.
Semangat!
BalasHapusmhm.. perasaan yang terpendam? :)
BalasHapus