Sabtu, 15 Februari 2014

Surat untuk ayah – Mimpi-mimpi tentang mu


Hallo Ayah, apa kabar disurga sana? 

Di surga sedang musim apa sekarang yah? Setelah beberapa bulan musim penghujan disini sepertinya  sudah mulai kemarau yang sepertinya akan panjang.  Disana bagaimana? Ah, iya musim apapun disana pasti ayah akan selalu terlindungi dan merasa damai. Rasanya sudah lama sekali tidak menulis sesuatu tentang ayah, tapi meskipun begitu ayah tidak pernah tertinggal dalam setiap do’a dalam sholatku. 

            Ayah, ayah tau? Setiap malam aku selalu berharap aku bisa bermimpi tentang ayah. Tapi entah mengapa rasanya sulit sekali bermimpi tentang mu, saat aku benar-benar ingin bertemu denganmu dalam mimpi kau justru tidak pernah hadir. Tapi kemarin malam, kau benar-benar hadir. Kau datang. Di mimpi itu, kau dan aku akan pergi pulang kampung, dan kau bilang padaku.
Teh, pergi hari jum’at itu tenang, damai.” di mimpi itu, aku melihatmu tanpa ingin berkedip sedetik  pun. Saat aku mengajakmu untuk pergi, ayah berjalan mundur lalu menghilang. Aku terbangun, nafas ku terengah-engah saat aku bangun seperti telah lelarian ratusan kilo meter, aku terdiam cukup lama dan teringat kata-katamu. Yah, saat itu kau pergi hari jum’at, kau pergi di hari itu dan tak pernah kembali. Aku senang jika benar-benar seperti itu.

        Dan ternyata di malam yang sama ibu juga bermimpi tentangmu, saat aku bilang pada ibu bahwa semalam ayah datang di mimpi ku, ternyata dia juga bilang ayah juga datang di mimpinya. Ibu, tidak banyak bicara tentang mimpinya tapi yang ku tahu ibu mimpi indah tentang ayah, aku melihat wajah ibu yang meneduhkan dari sudut ranjang, saat itu aku belum benar-benar bangun dari tempat tidur dan saat bangun aku langsung mengatakan itu pada ibu. Dan ibu bilang, ayah datang ke mimpinya, ayah terlihat lebih tampan dan gagah di mimpinya, ayah mengenakan pakaian serba putih di akhir mimpi ayah meninggalkan ibu dengan senyuman.

          Ayah, jika benar-benar semalam ayah datang ke mimpi kami. Bisakah singgah lebih lama? Kami amat sangat merindukanmu, kami hanya ingin lebih lama bercengkrama denganmu walaupun lewat mimpi. Karena aku percaya, saat aku bermimpi tentangmu, kau memang benar-benar datang. Dan kita berpisah saat aku terbangun dan kau kembali ke surga. Aku berharap mimpi-mimpi tentangmu tidak akan pernah berhenti, yah. Aku bahagia karenanya.

       Ayah, setelah ini mungkin ada banyak surat yang aku tulis untukmu, entah kenapa tapi aku yakin ayah melihatku sedang menulis saat ini. Ada banyak cerita yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata secara langsung. Sampai jumpa, aku merindukanmu, ayah. Selalu.
Tuhan, Titip Ayahku di SurgaMu.

Dari, Anak Sulungmu yang akan terus mencintaimu. Wulan.
                                                                                                                           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar