Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id
Saat
kamu tidak bisa menyuarakan isi hatimu, menulis lah. Dengan menulis kamu bisa
berteriak sekencang yang kamu mau tanpa ada satu orang pun yang merasa bising.
Sepenggal kalimat itu aku sematkan di atas blog ku. Alasan nya agar aku tetap
bersuara dalam keadaan apapun. Re: menulis.
Sebenarnya
disini saya Cuma mau berbagi pengalaman dan curhat colongan sih hehe. Check
this out ya teman-teman.
Kehilangan adalah satu cambuk paling
menyakitkan dalam hidup, dalam bentuk apapun itu mau itu kehilangan benda atau
bahkan kehilangan sosok yang paling kita sayangi. Keputusan saya untuk membuat
blog ini dua tahun lalu ya karena kehilangan itu, saya kehilangan ayah dua
tahun yang lalu di saat saya mendekati detik-detik ujian nasional tingkat SMP
saat itu, sudah banyak tangis yang keluar dari mata ini, tapi entah mengapa itu
malah membuat saya semakin sakit dan merasa kehilangan. saya tidak bisa
mengatakan apa yang saat itu sedang saya rasakan pada ibu saya, toh beliau pun
sama. Mungkin ibu saya lebih kehilangan dari saya, dengan seperti itu seperti
ada yang mengunci mulut saya untuk bilang ke teman-teman kalau saya saat itu
sedih saya sakit saya merasakan kehilangan yang amat luar biasa, saya ingin
mengatakan semua itu tapi rasanya entah mengapa hal sesederhana itu tiba-tiba
menjadi hal yang sulit untuk di lakukan. Maka entah apa yang membawa dan membisikan
agar saya membuat satu tempat untuk mengeluarkan segala gundah dan isi hati.
Coba cek post blog saya saat awal-awal, isi nya sederhana. Mengeluarkan keluh,
menyampaikan rindu yang ‘mungkin’ akan sampai ke mendiang ayah saya di surga
sana. Seperti rekam jejak bagaimana saya perlahan-lahan bangkit dari
keterpurukan. Ternyata saya pernah sesakit itu dulu.
Lalu seperti ada dorongan kuat yang
membuat saya ingin terus menulis, dan di bangku sma ini saya bertemu dengan
sahabat yang juga menyukai dunia yang sama seperti saya ini, kami ikuti semua
perlombaan menulis di dunia maya, dan alhamdulillah belum ada satu pun yang
menang hihihi tapi sayang nya kami malah terus mencoba dan tidak ingin
berhenti. (pantang menyerah._.)
Dan beruntung nya saya juga bertemu
Bapak Ismail Kusmayadi seorang guru bahasa indonesia yang amat sangat baik dan
seperti nya mengerti masalah-masalah yang di hadapi remaja. Cara mengajarnya
pun sangat komunikatif maka sangat jauh persepsi orang yang bilang pelajarana
bahasa indonesia itu ngebosenin dan
bikin ngantuk. Beliau bahkan memberi motivasi kepada murid-murid nya agar mau
belajar menulis cerpen dan puisi, termasuk saya salah satunya yang berhasil
terbius oleh beliau dan jadi amat sangat kecanduan dengan yang namanya menulis.
Keinginan terbesar saya saat ini
adalah melihat hasil karya saya bisa mejeng di toko buku sederetan dengan
penulis-penulis terkenal dari indonesia. (AMIN ya ALLAH) Saya bahkan tidak bisa
membayangkan bagaimana kebahagiaan saya saat itu terjadi. Dan entah mengapa
saya amat sangat yakin itu terwujud. Sshh, amat sangat nya tidak di baca juga
tidak apa-apa. Saya memang terlalu percaya diri hihihi
Keberuntungan mendatangi saya lagi,
saat itu guru saya memberi informasi tentang perlombaan yang diadakan oleh
pusat kurikulum dan perbukuan (puskurbuk) dan ada lomba katagori cerpen, novel
dan puisi. Dan keinginan terbesar saya saat itu adalah menulis novel, meskipun
saya tau itu berat dan waktu yang tersisa hanya dua bulan tapi saya yakin kalau
novel saya itu akan selesai. saya benar-benar merasakan perjuangan
menyelesaikan tulisan jungkir balik dan sempat benar-benar putus asa tapi
alhamdulillah, ternyata saya bisa
menyelesaikan nya sekitar lima hari sebelum deadline. Ada perasaan lega
tersendiri saat menyelesaikan satu naskah novel itu, sebenarnya di novel itu
isinya tentang ringan curhat-curhat dikit tentang keluh kesah saya kehilangan
seorang ayah dan bagaimana hidup saya berubah drastis setelah ayah saya pergi
dan perjuangan ibu saya sebagai kepala keluarga. Semua resah itu saya tuliskan
karya pertama saya ‘Cahaya Putih Di Ujung Senja’ judul novel saya yang
sederhana. Saya benar-benar tidak berharap kemenangan karena dengan
menyelesaikanya saja sudah jadi rasa bangga tersendiri buat saya, buat saya
kekalahan di sayembara-sayembara menulis itu sudah amat sangat biasa. Saking seringnya
gagal. haha
Tapi justru dengan saya tidak
menggantungkan harapan saya untuk menang tiba-tiba saya di hubungi oleh pihak
puskurbuk kalau saya masuk ke daftar calon pemenang dan saya di undang ke
jakarta untuk melakukan wawancara. Saat itu kalimat yang saya katakan pertama
kali. “Ini mimpi yaaaa? Padahal masih siang.” Tapi kalimat itu juga hilang
beberapa saat kemudian saat guru saya bilang ini beneran. Akhirnya saya dengan
guru saya dan kakak kelas saya yang juga di undang sebagai calon pemenang
kategori cerpen berangkat ke jakarta tanggal 24 November tahun lalu, 3 hari
disana bagaikan hari-hari seperti mimpi saya bisa tidur di hotel bintang 5 saya
juga di beri kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat seperti Om Putu Wijaya
(beliau yang ingin di panggil Om lho), Wa ode wulan ratna, dan banyak orang
hebat lain nya yang datang dari peserta. Disanalah saya bertemu orang-orang
hebat dari seisi indonesia. Lagi lagi saat disana saya tidak berharap jadi
juara pertama, di undang untuk datang juga sudah beruntung pikir saya. Tapi
saat pengumuman, saya di kejutkan lagi ternyata saya yang menjadi juara
pertama. Ya Allah sujud syukur, saya baru tahu gimana rasanya menjadi seorang
pemenang. 16juta adalah hadiah yang sangat tinggi untuk novel sekelas buatan
saya, tak henti-hentinya saya mensyukuri itu. saat saya pulang jam 3 pagi
samapi di bandung, ibu dan nenek saya menyambut dengan tangis haru, saya
bahagia karena akhirnya saya bisa membuat mereka bangga.
Guru saya pernah bilang,
“berbahagialah kamu jika diberi kesedihan karena saat itu kamu benar-benar bisa
menulis.” Jika di pikir benar juga, padahal awalnya ngerasa kok konyol banget berbahagia
saat sedih. Ternyata di balik itu semua ada makna, saat sedih kita bisa
menuangkan tulisan kita dan itu lebih emosional dan ternyata lebih hidup. Entah
ada magis apa.
“Saat sedih, Saat marah, Saat bahagia, dalam keadaan apapun itu kamu bisa menciptakan suatu karya. Asal... ada kemauan yang kuat.”
Saya menceritakan ini bukan
bermaksud untuk sombong, ria ataupun menggurui , tapi dengan adanya pengalaman
saya ini saya juga berlajar ternyata kesedihan tak selamanya membuat kita
terpuruk. Ternyata, kehilangan sosok ayah memicu saya untuk terus bangkit dan
berkarya jalan saya menuju pendewasaan juga. Dan setelah berjelimet kesana
kemari, Inspirasi saya menulis adalah mendiang ayah saya dan ibu saya. Aku cinta
kaliaaaaaaan!!! Udah ya capeeee hohoho semoga menginspirasi sobat-sobat yang
ingin berkarya!
Jika ada sebuah buku yang ingin kamu baca, tetapi buku itu belum ada. Kamu lah yang harus menulisnya -ToniMorrison.
![]() |
| kakak kelas saya (Putri Agustina), Guru Bahasa Indonesia Paling keren (Pak Ismail) dan saya sendiri. |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar