Setelah sekian tahun, aku pikir
aku sudah baik-baik saja. Aku pikir aku tidak akan menangis ketika mengingatmu.
Ternyata semua itu hanyalah bentuk penyangkalan saja, pak. Nyatanya aku masih
menangis ketika melihat potret dirimu yang lambat laun makin usang. Aku melihat
raut wajahmu, tawamu dalam satu potret kebahagiaan, tapi aku runtuh.
Bapak, aku selalu membayangkan
bapak hadir di setiap momen kebahagianku. Ulang tahun, lulus sekolah, memulai
kuliah, wisuda, menikah, mempunyai anak hingga cucu. Aku selalu membayangkan
bapak ada di sana. Melihatku bertumbuh.
Bapak, saat aku menulis ini... aku
sedang tidak merasa baik-baik saja. Aku ingin bilang, sejak bapak pergi tidak
ada yang baik-baik saja. Baik, ibu, aku atau pun adikku. Semua terkunci dalam
kehidupannya sendiri.
Pak bayangan lain sempat hadir
benar-benar nyata. Aku melihat bapak memelukku ketika aku wisuda, bapak mencium
keningku dengan bangga, bapak terus menggandengku dengan erat seakan ingin menunjukkan
kalau aku anak yang bapak besarkan dengan segala peluh. Sejak bapak pergi, aku
takut dengan semua perayaan, aku takut dengan pengumuman kelulusan, perpisahan
sekolah, aku takut tiap kali mendekati hari ulangtahun, aku takut saat wisuda
nanti. Ketakutanku hadir karena di setiap perayaan selalu terasa ada yang
kurang dan kosong. Tidak pernah ada perayaan yang benar-benar bahagia tanpa
bapak.
Pak, anakmu sudah menapakki usia
dewasa dan si bungsu sudah menjadi anak SMA yang keren. Bapak semestinya lihat
kami berkembang dan bertumbuh, bagaimana si bungsu yang cengeng itu tidak
pernah sekalipun terlihat menangis, bagaimana aku yang super manja ini berusaha
jungkir balik untuk terlihat mandiri dan... bagaimana ibu terlihat rapuh setiap
saat.
Jujur pak.
Aku hancur. Maaf, maafkan aku karena sempat terlintas pikiran nekat untuk menjemput akhir sendirian. Maafkan aku yang masih jauh dari Allaahh... Pak, genggam erat doa-doaku yang mulai hampa, peluk tangisku yang tidak bisa mereka dengar, rengkuh aku dalam setiap mimpiku pak. Karena aku tidak merasa hidup dalam kehidupanku, karena tidak ada yang baik-baik saja setelah bapak pergi.
Aku hancur. Maaf, maafkan aku karena sempat terlintas pikiran nekat untuk menjemput akhir sendirian. Maafkan aku yang masih jauh dari Allaahh... Pak, genggam erat doa-doaku yang mulai hampa, peluk tangisku yang tidak bisa mereka dengar, rengkuh aku dalam setiap mimpiku pak. Karena aku tidak merasa hidup dalam kehidupanku, karena tidak ada yang baik-baik saja setelah bapak pergi.
Aku tahu, aku juga sadar pak aku harus benar-benar berhenti berandai-andai tentang bapak.
Aku sadar betul bahwa Allahhh lebih merindukan bapak ketimbang kami yang di
sini.
Pak... Aku hanya rindu. Aku utarakan
kerinduanku dalam setiap doa. Semoga sampai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar