Kamis, 22 November 2018

Semai kebaikan.

Apa yang membuat kita begitu berjarak?
Padahal semai-semai kebaikan telah berusaha kau tumbuhkan,  kau menyiramnya saban hari dengan penuh suka cita. Berharap yang tumbuh adalah buah kebahagiaan yang dapat melipat jarak.

Buah itu akhirnya tumbuh setelah satu purnama kau tunggu-tunggu, kau begitu suka cita. Sampai lupa untuk siapa buah itu kau tanam, kau terlalu asik menyemai dan mengabaikan yang lain. Buah itu tumbuh, tapi tidak dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan lari terbirit-birit saat fajar mulai naik ke permukaan, ia takut hanya menjadi semu dan kamuflase dari macam-macam buah yang kau tanam.

Bisakah kau tetap menyemai kebaikan? Bahkan saat kebahagiaan lari terbirit-birit?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar