Aku masih menerbangkan burung-burung ini walaupun tinggal
aku sendiri, namun sayap nya tetap aku jaga utuh agar tidak rapuh, aku
tersenyum saat tugas –kebiasaan- ku selesai; menggantungkan burung-burung
kertas ku. Ya, memang tidak pernah benar-benar aku terbangkan.
“Gadis.. ya ampun udah
dong pensiun gantungin bebek-bebeknya jendela kamu itu sudah penuh.” Kata bunda
yang tiba-tiba masuk kamarku tanpa mengetuk pintu dahulu, seperti kebiasaan
nya.
“Burung bunda, bukan
bebek.” Kataku tanpa mengalihkan perhatian dari benang-benang yang sedang aku
pilin hati-hati pada permukaan burung kertas milik ku.
“Iya, burung.. sekarang
kamu mandi terus sarapan. Gak ada telat untuk hari ini.” ah bunda memang
cerewet, tapi aku bersyukur mempunyai ibu seperti bunda, aku berbalik lalu
menghampirinya sambil mengecup pipi bunda lalu berlari ke arah pintu kamar
mandi. “Aduh.. gadis bauuu!” Iya, aku mencintainya meskipun setiap hari suara
melengkingnya memekakan telingaku. ***
Sekolah tanpa kamu memang benar-benar tak sama lagi, tapi
seperti katamu aku harus selalu tersenyum kepada semua orang sesulit apapun
keadaan nya, kamu tahu? Ternyata sulit setelah kamu pergi. Tapi aku sedang melakukan
nya, untuk mu aku tidak menangis lagi, untuk mu aku tersenyum dan tertawa. Perlahan
aku mulai memahaminya, aku merasakan hadirnya kamu dalam setiap senyum ku, kamu
ada dalam setiap ceriaku meskipun maya. Aku mulai memahami konsep bahagia tanpa
kamu,yang ku tahu kamu tetap hidup di hatiku, tak peduli seberapa jauh dimensimu
saat ini, aku tetap tersenyum untuk mu.
“Udah seminggu ya gadis? Mau aku anter?” kata tara,
sesaat setelah ia membaca bukunya, ia membuyarkan lamunan panjangku tentang
kamu. Aku menoleh melihat tara, tatapan nya nanar entah iba atau apa aku tak
mengerti, namun aku memberikan nya senyuman. “Gak usah tar, kali ini biar aku
aja.” Tara menatapku heran. “Serius?” aku mengangguk meyakinkan. Dia tersenyum.
“Ya udah, nanti hati-hati ya bawel. kantin yuk!” tara beranjak lalu mengulurkan
tangan, aku menyambutnya. Aku menoleh. Ah biasanya ada kamu disampingku. ***
“Dylan, gila aku kangen
banget sama kamu, maaf aku absen kemarin. Burung kertasnya belum cukup jadi aku
ulur satu hari. Jangan marah ya jelek.. nih liat aku udah bawa banyak warna
warni lagi.. senyum dulu dong!”
Aku mulai
menggantungkan satu per satu burung kertas ini di ranting pohon rimbun yang meneduhi
pusaramu, ternyata air mataku mendesak keluar dari celah mataku maafkan aku
dylan, kali ini saja aku ingkar sebentar.
Dulu, saat ragamu masih di sini, setiap menjelang senja kita selalu membuat burung kertas dan menggantungkan nya di rumah pohon yang ayahmu buat di halaman belakang rumahmu, sekarang biarkan aku tetap melakukan nya di ranting pohon belakang rumah abadi mu. Ini aku dylan, sahabat kecilmu yang menaruh harap tak sampai, Gadis.

twistny dapet
BalasHapus