Aku berlari ke kamar mandi saat
teman-temanku memperlihatkan coklat pemberian dari teman special mereka, aku
melihat pantulan diriku dicermin, bulu kudukku berdiri bahkan ada rasa geli dan
mual saat mereka semua memperlihatkan coklat-coklat mengerikan itu. Aku hanya
berpura-pura biasa saja di di depan mereka agar tidak terlihat seperti orang
aneh yang sangat ketakutan melihat coklat, tapi ini malah membuatku semakin
menderita, aku terus menolak halus orang-orang yang memberiku coklat, sebagian
yang telah terlanjur memberikan nya padaku aku langsung memberikan nya kepada
teman-temanku tanpa menyentuhnya, sungguh bukan maksudku tidak menghargai
pemberian mereka. Ketakutanku akan coklat tidak bisa aku atasi sampai saat ini.
“Ra,
bener nih gak mau coba? Ini coklat yang paling enak lho nyesel kalo gak nyoba”
Sani teman sebangku ku terus menawariku coklat pemberian kakaknya, oleh-oleh
dari luar negeri katanya.
Siapa
peduli, mau itu dari luar angkasa sekalipun aku tidak mau memakan coklat dan
sebenarnya aku berusaha menahan diri yang sebenarnya sudah mual melihat coklat,
aku hanya berusaha untuk tidak beranjak karena kami sedang ada di tengah-tengah
pelajaran di kelas.
Hari
ini, dua tahun yang lalu.
Aku
terus melihat arloji dipergelangan tanganku, sudah hampir satu jam aku menunggu
di shelter katanya dia akan menjemputku, aku masih berusaha sabar menunggu. Tak
lama dari itu, aku mendengar suara teriakan orang-orang lalu mengerumuni
sesuatu ditengah jalan. Penasara, aku menghampiri ternyata ada korban
kecelakaan. Jantungku tiba-tiba berhenti untuk beberapa detik. Dia, dia yang
aku tunggu, dia adalah orang yang sedang tergeletak dijalan dengan darah segar
yang mengalir dari kepalanya. Aku langsung berteriak histeris seperti orang
gila. Orang-orang disana kaget melihatku.
“Tolong
dia, Cepat. Dia temanku! Jangan mati arya!!” teriakku,tak lama kemudian satu
unit ambulance datang lalu membopong tubuh nya ke dalam. Kaki ku sama sekali
tidak bisa bergerak dari sana, selain darah yang masih segar bertumpahan
dijalanan aku melihat satu batang coklat yang tertinggal, aku yakin itu
miliknya. Aku ambil itu walau dengan tangan yang gemetar.
Setelah
itu, aku selamanya tak akan pernah melihatnya lagi.
Sambil
mengenang, aku sengaja berlama-lama duduk di shelter walaupun bis sudah
beberapa kali berhenti aku sama sekali enggan untuk beranjak, sambil memegang
erat coklat yang saat itu kutemukan, sayup-sayup mendengar dua orang pria yang
sedang berbincang tak jauh dariku.
“Yakin,
percaya deh. Jika satu potong saja kekasihmu memakan coklat ini, dia akan
melayang-layang ke angkasa ini kan udah terkenal banget coklat narkoba. Setelah
itu, kau bebas melakukan apa saja pada kekasihmu.”
Aku
menajamkan pendengaranku, aku yakin aku tak salah dengar, aku melihat coklat yang
mereka pegang. Sama! Aku memegang coklat yang sama dengan mereka, tak pikir
panjang aku langsung melempar coklat itu. Tiba-tiba saja aku merasa mual. Tak
sudi aku mengenang orang yang ingin meracuniku seperti itu!
Nice story gan! Ditunggu kisah-kisah selanjutnyaa yaa. Nice gan ^^
BalasHapus