Aku
menghembuskan nafasku pelan-pelan, setelah tadi jantungku berdegup tidak
karuan. Kamu perlahan berjalan menjauhiku, mataku tidak melepaskanmu sampai
jarak yang membuatmu menghilang. Padahal ini bukan pertamakali nya aku
berbicara denganmu tapi tetap saja, rasa aneh yang menggelitik perutku itu
masih tetap sama dengan waktu itu, saat aku pertama melihatmu di lapangan
basket. Dan bintangnya adalah kamu. Aku bahkan tidak sadar, selama berbicara
denganmu senyumku tak pernah hilang.
“Tata,
lo tau berita baru gak?” tiba-tiba risya menghampiri ku dengan nafas yang
terengah-engah. Aku yang sedang merapikan buku-buku ku hanya menjawab seadanya.
“Kenapa sya?”
“Tapi lo jangan kaget ya ta.”
“Hm.”
“Kak Niko jadian sama kak tasya. Nembaknya tadi di aula, sumpah dong romantis banget. Gue aja yang ngeliatnya merinding banget apalagi kak tasya yang ngerasain nya.”
Kak tasya? Cuma cowo homo yang gak suka sama dia, apa sih kurangnya kakak satu itu udah cantik, pinter, jago dance, iya sepertinya semua yang tidak ada pada ku semuanya ada di sosok tasya itu. ketua basket bersanding dengan ketua dance. Kurang cocok apalagi.
“Lo gak patah hati kan ta?”
“Enggak ko.”
“Serius? Bohong banget kalo engga, lo suka sama dia dari kelas satu kali ta. Masa lo dengan mudah bilang kalo lo gak apa-apa.”
“Terus gue bisa apa sya? Kalo gue ngomong gue sakit hati, apa kak niko bakal jadian sama gue? Kan enggak.”
“Sabar kali ta. Gue ngerti apa yang lo rasain.”
“Tapi lo jangan kaget ya ta.”
“Hm.”
“Kak Niko jadian sama kak tasya. Nembaknya tadi di aula, sumpah dong romantis banget. Gue aja yang ngeliatnya merinding banget apalagi kak tasya yang ngerasain nya.”
Kak tasya? Cuma cowo homo yang gak suka sama dia, apa sih kurangnya kakak satu itu udah cantik, pinter, jago dance, iya sepertinya semua yang tidak ada pada ku semuanya ada di sosok tasya itu. ketua basket bersanding dengan ketua dance. Kurang cocok apalagi.
“Lo gak patah hati kan ta?”
“Enggak ko.”
“Serius? Bohong banget kalo engga, lo suka sama dia dari kelas satu kali ta. Masa lo dengan mudah bilang kalo lo gak apa-apa.”
“Terus gue bisa apa sya? Kalo gue ngomong gue sakit hati, apa kak niko bakal jadian sama gue? Kan enggak.”
“Sabar kali ta. Gue ngerti apa yang lo rasain.”
Kali
ini, risya salah. Risya tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Dengan
segala usahaku yang akhirnya berujung dengan sia-sia. Risya tidak akan pernah
mengerti betapa bahagia nya saat kamu lewat di hadapanku. Saat itu, aku hanya
menganggapmu imajiner yang tidak akan benar-benar menjadi nyata dan kenyataan
nya memang seperti itu meskipun saat ini kamu telah mengenalku, tapi tetap
saja, tidak ada yang bisa aku hentikan. Aku mencoba membiarkan takdir
membawanya mengalir, entah berujung di mana perasaan ini, yang pasti meskipun
kamu telah benar-benar menemukan cahayamu, aku akan tetap menjadikan kamu
sebagai cahaya ku, jangan larang aku, setidaknya aku bisa memiliki kamu dalam
angan dalam bayang yang berujung khayalan. Tenang saja, ini tidak akan merusak
kenyataan yang telah ada. Setidaknya ada orang yang selalu membuatmu tersenyum.
“hey ta, mau kemana?”
“Kak Niko.. emm mau pulang kak. Aku buru-buru. Bye kak”
“Eh, eh. Tunggu dulu.”Kamu menahan tanganku, tapi aku pelan-pelan menghempaskan nya. aku berusaha bersikap seperti biasanya. “Siang ini, kakak ada pertandingan basket. Kamu nonton ya ta.”
“maaf kak, tapi aku harus pergi siang ini. udah dulu ya kak.” Aku tersenyum dan pergi meninggalkanmu, meninggalkan mu saat itu sama halnya dengan meninggalkan kamu dalam dekap harapanku.
***
“Mungkin dia emang lagi beneran sibuk nik.”
“Gue kira, dia punya rasa yang sama kaya gue tas. Tapi ternyata semua dugaan gue selama ini tuh salah.”
“Sabar, lo jangan ambil kesimpulan sendiri. Cuma gara-gara dia gak bisa nonton pertandingan elo siang ini.” Niko memaksakan senyumnya lalu mengangguk.
“hey ta, mau kemana?”
“Kak Niko.. emm mau pulang kak. Aku buru-buru. Bye kak”
“Eh, eh. Tunggu dulu.”Kamu menahan tanganku, tapi aku pelan-pelan menghempaskan nya. aku berusaha bersikap seperti biasanya. “Siang ini, kakak ada pertandingan basket. Kamu nonton ya ta.”
“maaf kak, tapi aku harus pergi siang ini. udah dulu ya kak.” Aku tersenyum dan pergi meninggalkanmu, meninggalkan mu saat itu sama halnya dengan meninggalkan kamu dalam dekap harapanku.
***
“Mungkin dia emang lagi beneran sibuk nik.”
“Gue kira, dia punya rasa yang sama kaya gue tas. Tapi ternyata semua dugaan gue selama ini tuh salah.”
“Sabar, lo jangan ambil kesimpulan sendiri. Cuma gara-gara dia gak bisa nonton pertandingan elo siang ini.” Niko memaksakan senyumnya lalu mengangguk.
“Niko,
tasya. Ayo, latian lagi. Tadi di aula kalian udah yang paling keren. udah kaya beneran aja ya ampun, Semua anak
yang ngeliatnya pada haru gitu ketipu tuh mereka. Ayo cepet!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar