Sabtu, 26 Oktober 2013

Firasat


     Bagas mengarahkan handycam yang ia pegang ke arah wanita berparas oriental di hadapan nya itu. “Ih apaan sih bagas!” ujar Keila ketus.    
    “Hayo marah! Lagi baca apaan sih lo?” tukas bagas, sambil terus mengarahkan handycam itu ke wajah Keila. Keila yang mulai jengkel akhirnya menutup buku yang sedang ia baca. “Bagas Norak ih!” dengus keila sambil mencoba merebut benda itu, tapi bagas tidak melepaskan dari tangan nya. malah mengarahkan nya ke wajahnya.         
      “Hello, gue bagas!” katanya di depan handycam, lalu mengarahkan nya ke wajah keila yang sedari tadi tersenyum geli melihat tingkah bagas. “Nah ini, namanya keila. Pendek ya dia.” Kata bagas, sambil menyorot Keila dengan handycam nya. Keila mendengus. “Rese lo.”            
      “Iya, dia pendek. Tapi gue cinta dia.” 
       tanpa di sadari, pipi keila yang putih pucat itu kini berubah warna menjadi semu kemerahan. Dia bahagia mendengar kalimat itu. setelah itu bagas meletakan benda itu di meja lalu kembali menatap keila. “Kalo gue gak gitu, lo malah terus pacaran sama buku-buku lo. Bukan gue.” Ucap bagas sambil mencubit hidung bangir milik Keila, Keila tersenyum geli. “Aduh, lo cemburu sama buku. Cieee.”

                                                          
                                                             ***
          Keila, tersenyum saat ia melihat bingkai foto berisikan paras dirinya dengan bagas, empat tahun lalu. Lalu meletakan nya kembali di atas meja.   
         “Gue kira, mau lo buang kei.” Ucap mela, teman satu kost nya.   
         “Gak akan pernah mel.” Jawab keila datar. Mela mendesah pelan.      
     “Lo harus bangkit kali kei. Empat tahun loh Empat tahun! Bukan waktu yang bentar yang lo lewatin dengan ngelamun sambil ngeliatin itu foto. Gak bosen apa. “ Ucap mela, dengan nada yang berbeda dari biasanya, dia orang yang selalu blak-blakan terhadap sesuatu termasuk yang satu ini, awalnya ia memaklumi sahabatnya yang masih susah move-on karena katanya wanita itu emang selalu dan susah move-on dari mantan nya. katanya, ia juga tidak tahu karena belum pernah merasakan apa yang di bilang orang gagal move-on itu.  
          “Ini semua salah gue mel. Kenapa waktu itu gue gak bisa larang dia, kejadian nya gak akan kayak gini.” Keluh keila sambil terus menatap bingkai foto yang telah terseimpan di atas mejanya. Mela, ikut-ikutan mengeluh mendengar keluhan keila, ia bosan mendengar sahabatnya itu terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak tahu apa itu takdir. Keluh mela dalam hati.
         “Behenti nyalahin diri lo sendiri. Saat itu lo masih bingung dengan apa yang lo rasain. Kalo gue jadi lo, gue juga gak tahu harus ngelakuin apa. sekarang, lo lanjutin idup lo kei! fokus skripsi, gue udah nyariin guru pembimbing buat lo, mana ada sih guru yang nungguin muridnya. Kalo aja gue belum ada guru pembimbing gue pake guru pembimbing lo aja kei, masih muda ganteng lagi. Gak kaya guru pembimbing gue. Mana tua, ngomong nya kaya ngelonin bayi lagi. Aduh.”  
          “Iya cerewet, lusa gue mulai.” Baginya, bercerita tentang apa yang ia rasakan pada mela tak akan merubah apapun, masalahnya hal ini tidak akan di terima mela begitu saja, ini akan terdengar konyol dan sama sekali tidak logis. Tapi apa yang ia pikirkan selalu menjadi bayangan yang bisa berwujud realita. Sayang nya tidak ada satu orang pun yang mempercayainya.        
                                                             ***
          keringat sebesar biji jagung terus turun dari pelipis nya, matanya terlelap tapi tidak dengan pikiran nya, makanya bagi keila tidur bukanlah hal yang menyenangkan, selalu ada firasat yang melintas di pikiran nya yang membuat tidurnya menjadi amat lelah. Kali ini, mimpi buruk.                     
“Bagas, lo jadi ke Jogja nya?” tanya kei gugup, bagas yang sedang membersihkan kamera miliknya itu seketika menghentikan kegiatan nya. “Kenapa? Takut kangen ya? Gue bentar kok.” Jawab bagas sambil melebarkan senyum nya. “Ih, bukan gitu. Kenapa gak minggu depan aja? Kan lusa hari jadi kita gas.”
“Iya gue inget kok, entar di sana gue pasti telpon lo kok.”    
“Tapi gas, gue takut lo kenapa-napa.”
“Aduh, kecil. Jangan parnoan gitu gak baik tau.” Kata bagas sambil mengacak rambut di puncak kepala kei, pelan. Keila hanya bisa diam setelah itu, ia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah bagas. 
“Gue sayang lo gas.” Ucap keila pelan, wajah cemas nya tidak bisa di sembunyikan. Lalu, bagas tersenyum lembut ke arah keila. 
“Gue juga.” Jawabnya sambil mengecup kening keila. Saat itu, yang terakhir.   
    “Kereta api Jakarta-Jogja pagi ini mengalami kecelakaan   .....”

          Lutut nya lemas, tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Ia terkulai di lantai. Ia tahu dengan jelas apa yang akan terjadi pada bagas, ia tahu sejelas-jelasnya bagaimana tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo’a tapi tetap tak bisa mengubah apapun. Sejak umurnya 15th ada hal aneh yang terus mengusik hidup keila, banyak bayangan aneh yang menimpa pikiran nya dan itu selalu menjadi kenyataan.  
                                                         
                                                          ***
          Keila kembali terbangun dari tidurnya, bantalnya basah karena keringatnya. Cepat, ia mengambil gelas berisikan air putih di ujung mejanya. Nafas nya masih terengah-engah, kali ini ia tidak tahu ini mimpi buruk atau baik, namun ada sosok bagas di dalamnya. Bagas kembali.   

        “Ngampus woy, ngelamun pagi-pagi.” Teriak mela dari ujung pintu.    
        “Gue kuliah siang mel,” jawab keila datar. 
        “Eh gue kan mau kenalin lo sama guru pembimbing lo Kei.”        
        “loh, kan lusa mel.”   
        “Kenalan nya sekarang!”   
        “Males.”
        “Yang mau lulus siapa sih, gue gak paham!”       
        “ya ampun iya nona, gue mandi sekarang.”

      Setelah siap, Keila dan Mela melangkah kan kaki nya dari kost-an mereka lalu pergi ke kampus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kost-an mereka, jadi mereka tak memerlukan kendaraan dalam bentuk apapun untuk sampai di kampus. Selama satu jam, keila di buat mela menunggu karena mela ada mata kuliah pagi. Selama duduk sendiri di salah satu foodcourt kampus nya, ada banyak hal yang singgah di pikiran keila, sesungguhnya ini sangat mengganggu karena keila tahu apa isi dari pikiran orang-orang yang saat ini di sekelilingnya, dan banyak hal-hal yang tak pernah di duganya. Banyak yang mereka pikirkan dari muali cinta samapi kriminal dan tentu saja ia tidak bisa berbuat apa-apa. bisa di sangka gila jika ia berbicara semua tentang isi otak mereka.
         
        “Hallo, Keila ya? Saya radit, guru pembimbing kamu.” Tiba-tiba suara rendah itu mengagetkan keila dari lamunan nya, cepat ia menoleh. Senyum itu.. keila terdiam cukup lama. 
          “Bagas kembali.” Desis nya.       
          “Iya? Kenapa?” 
          “Eh enggak pak, silahkan duduk.”      
          “Oh iya, panggil nama aja. Saya cuma beda satu tahun di atas kamu, lebih dulu skripsi aja.”       
          “Oh? oke, Radit.” Seperkian detik kemudian, keduanya tersenyum di waktu yang bersamaan.

          Dalam jarak yang tidak bisa di ukur tapi terasakan oleh keila, sosok bagas benar-benar ada dalam bentuk yang tidak bisa terbayangkan. Keila sangat menyadari itu. “Dia akan menjagamu.” Katanya sambil menunjuk pria yang sedang berhadapan dengan Keila. Keila tersenyum, “Terimakasih bagas, kamu kembali.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar