Jumat, 04 Oktober 2013

Saat waktu melangkah terlalu cepat

           Tidak ada yang pernah ingin di tinggalkan, termasuk aku. munafik jika aku katakan aku sudah tak mengingatnya lagi. Air mata ini memang sudah kering, senyum ini memang sudah kembali. Tapi tidak dengan hatiku, berserakan entah dimana.

            Berbicara tentang rindu, tidak ada lagi yang aku rindukan selain sosok ayah. aku tahu, ini bukan saatnya lagi untuk menuntut takdir dan keadaan, semuanya sudah berlalu. Ayah sudah pergi lebih dari setahun yang lalu. Mungkin beliau sudah tersenyum di sana. Tapi, sayangnya disini hati ku teriris ketika mendengarkan cerita-cerita mereka yang kerap kali membanggakan ayahnya di depanku. Jujur, aku iri.  Dulu, aku paling sering bercerita tentang apa yang dilakukan oleh ayahku. Dia konyol, tapi ketegasan nya membuat aku segan. Tentang kebiasaan yang sering kami lakukan, saat mencoba masakan ayah, saat dia memaksaku untuk memakai baju pink dan masih banyak hal yang telah aku dan ayahku lewati.

            Puncaknya, saat ulang tahunku beberapa waktu yang lalu. Alasan aku membenci hari ulang tahunku adalah karena ayah, karena ayah sudah tidak bisa lagi menjadi orang yang pertama yang mengucapkan itu, ayah tidak lagi mencium kedua pipiku saat pagi di hari itu. aku kecewa. Boleh kah?

            Ayah, waktu benar-benar telah berjalan terlalu cepat, sampai aku lelah mengikuti ritme nya, jika aku diam aku akan ketinggalan segalanya. Aku punya tekat untuk menjadi orang yang ayah inginkan, untuk jadi orang yang ayah banggakan. Meskipun aku tidak akan pernah bisa lagi melihat ayah tersenyum langsung di depan ku. yah,  jangan khawatir dilupakan. kau selalu jadi orang nomer satu yang setiap saat aku rindukan. I LOVE YOU!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar