Tidak
ada yang pernah ingin di tinggalkan, termasuk aku. munafik jika aku katakan aku
sudah tak mengingatnya lagi. Air mata ini memang sudah kering, senyum ini
memang sudah kembali. Tapi tidak dengan hatiku, berserakan entah dimana.
Berbicara tentang rindu, tidak ada
lagi yang aku rindukan selain sosok ayah. aku tahu, ini bukan saatnya lagi untuk
menuntut takdir dan keadaan, semuanya sudah berlalu. Ayah sudah pergi lebih
dari setahun yang lalu. Mungkin beliau sudah tersenyum di sana. Tapi, sayangnya
disini hati ku teriris ketika mendengarkan cerita-cerita mereka yang kerap kali
membanggakan ayahnya di depanku. Jujur, aku iri. Dulu, aku paling sering bercerita tentang apa
yang dilakukan oleh ayahku. Dia konyol, tapi ketegasan nya membuat aku segan. Tentang
kebiasaan yang sering kami lakukan, saat mencoba masakan ayah, saat dia memaksaku
untuk memakai baju pink dan masih banyak hal yang telah aku dan ayahku lewati.
Puncaknya, saat ulang tahunku
beberapa waktu yang lalu. Alasan aku membenci hari ulang tahunku adalah karena
ayah, karena ayah sudah tidak bisa lagi menjadi orang yang pertama yang
mengucapkan itu, ayah tidak lagi mencium kedua pipiku saat pagi di hari itu.
aku kecewa. Boleh kah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar