Senin, 08 Juli 2013

Titip Rindu Buat Ayah



                Aku hanya ingin memeluk ayah saat ini juga, saat air mata tak bisa lagi teruraikan oleh kata-kata , saat kegelisahanku yang kian tak menentu. Aku ingin hentikan segala resah ini.
ini adalah tahun kedua menjelang bulan ramadhan tanpa ayah. Tahun lalu saat pertama kali puasa tanpa ayah, aku menangis di atas pusara nya yang belum benar-benar kering, aku bahkan sempat berlari sendirian ke makam nya hanya untuk menangis disana, saat itu aku masih merasa benar-benar hancur, hidup seperti mati, mati tapi seolah hidup.  dan kali ini, maafkan aku karena aku masih menangisi mu yah. Kali ini aku menelan nya sendirian, berharap dengan banyak nya kegiatan bisa membuatku lupa akan semua rasa kehilangan itu, tapi nyata nya itu tidak terjadi, aku masih menangisi mu diam-diam. 

                Sekarang aku hanya ingin mengenangnya lewat kebiasaan-kebiasaan yang tak pernah terlupakan. Lewat hobinya yang benar-benar ia cintai. Memasak. 

                Saat puasa tiba ia tidak pernah pulang larut malam, bahkan ayah selalu pulang ba’da ashar alasan nya hanya satu ia ingin memasak untuk buka puasa. Dan hobi nya yang satu itu memang sangat digilainya sampai-sampai aku pernah disuruh mencatat resep yang ia minta langsung dari penjualnya, menu utamanya ‘kepala kakap’. Saat itu, aku sama sekali belum pernah memakan yang namanya kepala kakap, apalagi bagian kepalanya bagiku itu cukup mengerikan untuk di makan tapi ia selalu memaksaku mencoba masakan nya pertama kali dan aku selalu suka, saat aku mencoba masakan nya dia selalu melihatku dan sedikit mengerutkan kening nya. “Jangan bilang kurang asin.” Katanya bila melihat ekspresiku yang tak meyakinkan. Aku selalu tertawa jika ia berkata seperti itu, ini murni salah lidahku yang suka masakan gurih. 

                Hilang. Tidak akan ada lagi kebiasaan seperti itu sore nanti. Aku akui masakan ibu juga memang tidak pernah ada yang tidak enak tapi ayah selalu menciptakan makanan yang belum pernah aku rasakan, dia selalu membuat lidah ku berpetualang, masakan nya sering gagal namun entah apa yang ada di otak nya ia selalu bisa membuat makanan itu tetap layak untuk di makan. dan yang mencobanya pertama kali itu pasti aku. aku pecinta makanan. Saat seperti apapun aku pasti akan makan. tapi saat nafsu makan ku hilang, aku benar-benar tidak akan makan. “kamu itu mau makan apa sih?!” sekarang aku jadi sering dengar pertanyaan sejenis introgasi seperti itu dari ibu. Aku selalu jawab, ‘apa saja’. Tapi sebenarnya saat itu aku hanya rindu masakan ayah. Keluarga ayah memang punya hobi yang sama, entah itu adik, kakak laki-laki atau yang perempuan nya. masakan mereka juga enak, tapi masih jauh dengan masakan ayah. Dan.. saat ini memang aku juga semakin jauh dengan mereka dan aku bersyukur karena aku tidak akan pernah peduli.

                Ah, aku tak berharap apa-apa kali ini. aku hanya ingin do’a ku untuk nya selalu sampai, aku hanya ingin tidak ada tangisan kehilangan lagi, aku ingin tidak ada air mata yang terselip dalam do’a. Aku tak ingin ada campur tangan air mata dalam kesedihanku. 


Oh iya pak, di surga bapa masih suka masak gak? Kalau bisa kirimin kesini dong makanan nya pasti makanan dari surga itu lebih enak ya pak. Kirim lewat malaikat aja pak. Hehe. Becanda kok.


Tuhan, Titipkan rindu ini untuk ayah, katakan padanya aku akan selalu berusaha menjadi apa yang ia harapkan. Katakan padanya aku akan selalu merindukan nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar