“adrian, jika kamu melakukan
semua ini karena terpaksa. Berhentilah.”
“Sama sekali tidak ada kata
terpaksa. Aku hanya mencintainya” Kataku mantap
“terimakasih.”
“kerena apa?”
“terimakasih.”
“kerena apa?”
“karena telah mencintai manda apa
adanya dia.”
“tak perlu ada kata terimakasih
untuk mencintai.” Kataku lembut, dia
menepuk bahuku.
“tante percaya sepenuhnya sama
kamu, manda di halaman belakang.”
**
aku tersenyum melihat gadisku diujung sana, tak ada satupun kata yang bisa mendeskripsikan rasa cintaku untuknya. Perasaan ini masih sama seperti setahun yang lalu saat semua masih berjalan seperti biasanya, dan akan selalu sama, tak akan pernah berubah.
meskipun kini, matanya sudah tidak bisa melihatku lagi tapi aku yakin, hatinya masih sama.
“manda..” dia menoleh, semburat senyum simpul terukir di bibirnya.
**
aku tersenyum melihat gadisku diujung sana, tak ada satupun kata yang bisa mendeskripsikan rasa cintaku untuknya. Perasaan ini masih sama seperti setahun yang lalu saat semua masih berjalan seperti biasanya, dan akan selalu sama, tak akan pernah berubah.
meskipun kini, matanya sudah tidak bisa melihatku lagi tapi aku yakin, hatinya masih sama.
“manda..” dia menoleh, semburat senyum simpul terukir di bibirnya.
“adrian?” aku menghampirinya,
sebuah lukisan setengah jadi telah
terpampang di depan ku, setiap pagi kegiatan nya selalu sama. Melukis.
“lukisan baru man?” dia
mengangguk ceria, aku tersenyum, kebahagiaan nya sudah kembali, aku tak akan
membuat kebahagiaan nya pergi lagi.
“iya nih, menurut kamu hasilnya
bakalan bagus ga?”
“bagus banget, lukisan kamu jadi
lebih hidup sekarang, penuh warna.” Dia tersenyum. “kamu yang bikin hidupku
kembali berwarna. selalu”
“engga, bukan aku. Tapi semangat
kamu.” Kataku sambil membelai lembut rambutnya dia kembali pada kegiatan nya.
melukis. Aku duduk di sampingnya.
“aku bawa minum dulu yah.” Dia
mengangguk.
**
“adrian..”
**
“adrian..”
“ya, tante?”
“pelaku nya masih belum
ditemukan, tadi tante di telepon kepolisian.”
“kok alot banget tante, kasus ini
udah hampir satu tahun. Kenapa polisi kayanya gak peduli.”
“tante juga gak ngerti. tante gak
mau pelaku yang udah nabrak dan perkosa manda bebas berkeliaran. Mereka harus
ngerasain gimana menderitanya manda setelah kejadian itu”
**
“mama..” manda menghampiri meragap-ragap jalan. aku dan ibunya manda saling bertatapan. Cemas.
**
“mama..” manda menghampiri meragap-ragap jalan. aku dan ibunya manda saling bertatapan. Cemas.
“ya kenapa sayang?”
“mama, masih ngelanjutin kasus
ini?” manda meredam marah. aku kembali menatap ibu nya manda. Lalu mengangguk.
“iya maafin mama sayang, mama gak
rela orang yang bikin masa depan kamu hancur sekarang hidup bebas diluarsana
sedangkan kamu....”
“udah lah ma, aku bilang lupain
semuanya. Aku udah rela.” Suaranya mulai meninggi.
“man, mama kamu kan Cuma
perjuangin kamu.” Aku menghampirinya, mencoba memeluknya namun dia menepis
pelukanku.
“gak gini cara nya ian.” Air mata
dari mata kosongnya mulai mengalir. “ini membuat luka lama ku semakin sakit.”
“maafin mama sayang , mama janji
bakal tutup kasus ini.” ibu manda berhambur memeluk nya. “janji ya ma.”
“iya, mama janji.”
“iya, mama janji.”
“selama adrian masih disini,
selama adrian masih bisa terima aku apa adanya. Aku gak akan anggap kejadian
itu pernah terjadi sama aku.” Katanya, aku membelai rambutnya, dia melepaskan
pelukan nya, dan tersenyum.
“apa adanya kamu telah melengkapi
aku man.”
“meskipun gak ada yang bisa aku
persembahkan buat kamu suatu saat nanti. Apa kamu akan tetap disini?”
“apapun manda, tak perlu lagi ada
yang kamu ragukan aku telah menerima semua yang ada di diri kamu.”
“terimakasih untuk tetap bertahan
sama aku.”
“seperti kataku, tak ada ucapan
terimakasih dalam mencintai.” Dia terseyum, mendekatkan tubuhnya dengan
tubuhku, ia menjinjitkan kakinya.
“kamu masih tampan, aku yakin
itu.” Katanya sambil meraba-raba wajahku aku tersenyum lalu meraih tangan nya.
“aku mencintai mu manda.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar