Rabu, 08 Mei 2013

Hanya untuk manda

Aku berdiri di ambang pintu, membungkukan badan ku tanda hormat kepada wanita paruh baya, sang pemilik rumah. “manda?” katanya, aku mengangguk. tersenyum lalu mengecup punggung tangan nya. “ada tante?” kataku, dia mengangguk sambil tersenyum.
“adrian, jika kamu melakukan semua ini karena terpaksa. Berhentilah.”

“Sama sekali tidak ada kata terpaksa. Aku hanya mencintainya” Kataku mantap
 

“terimakasih.”
 

“kerena apa?”

“karena telah mencintai manda apa adanya dia.”

“tak perlu ada kata terimakasih untuk  mencintai.” Kataku lembut, dia menepuk bahuku.

“tante percaya sepenuhnya sama kamu, manda di halaman belakang.”
**
aku tersenyum melihat gadisku diujung sana, tak ada satupun kata yang bisa mendeskripsikan rasa cintaku untuknya. Perasaan ini masih sama seperti setahun yang lalu saat semua masih berjalan seperti biasanya, dan akan selalu sama, tak akan pernah berubah.
meskipun kini, matanya sudah tidak bisa melihatku lagi tapi aku yakin, hatinya masih sama.
“manda..” dia menoleh, semburat senyum simpul terukir di bibirnya.
“adrian?” aku menghampirinya, sebuah lukisan setengah jadi  telah terpampang di depan ku, setiap pagi kegiatan nya selalu sama. Melukis.
“lukisan baru man?” dia mengangguk ceria, aku tersenyum, kebahagiaan nya sudah kembali, aku tak akan membuat kebahagiaan nya pergi lagi.
“iya nih, menurut kamu hasilnya bakalan bagus ga?”
“bagus banget, lukisan kamu jadi lebih hidup sekarang, penuh warna.” Dia tersenyum. “kamu yang bikin hidupku kembali berwarna.  selalu”
“engga, bukan aku. Tapi semangat kamu.” Kataku sambil membelai lembut rambutnya dia kembali pada kegiatan nya. melukis. Aku duduk di sampingnya.
“aku bawa minum dulu yah.” Dia mengangguk.
**
 
“adrian..”

“ya, tante?”

“pelaku nya masih belum ditemukan, tadi tante di telepon kepolisian.”

“kok alot banget tante, kasus ini udah hampir satu tahun. Kenapa polisi kayanya gak peduli.”

“tante juga gak ngerti. tante gak mau pelaku yang udah nabrak dan perkosa manda bebas berkeliaran. Mereka harus ngerasain gimana menderitanya manda setelah kejadian itu”
**
“mama..” manda menghampiri meragap-ragap jalan.  aku dan ibunya manda saling bertatapan. Cemas.
“ya kenapa sayang?”
“mama, masih ngelanjutin kasus ini?” manda meredam marah. aku kembali menatap ibu nya manda.  Lalu mengangguk.
“iya maafin mama sayang, mama gak rela orang yang bikin masa depan kamu hancur sekarang hidup bebas diluarsana sedangkan kamu....”
“udah lah ma, aku bilang lupain semuanya. Aku udah rela.” Suaranya mulai meninggi.
“man, mama kamu kan Cuma perjuangin kamu.” Aku menghampirinya, mencoba memeluknya namun dia menepis pelukanku.
“gak gini cara nya ian.” Air mata dari mata kosongnya mulai mengalir. “ini membuat luka lama ku semakin sakit.”
“maafin mama sayang , mama janji bakal tutup kasus ini.” ibu manda berhambur memeluk nya. “janji ya ma.”
“iya, mama janji.”
“selama adrian masih disini, selama adrian masih bisa terima aku apa adanya. Aku gak akan anggap kejadian itu pernah terjadi sama aku.” Katanya, aku membelai rambutnya, dia melepaskan pelukan nya, dan tersenyum.
“apa adanya kamu telah melengkapi aku man.”
“meskipun gak ada yang bisa aku persembahkan buat kamu suatu saat nanti. Apa kamu akan tetap disini?”
“apapun manda, tak perlu lagi ada yang kamu ragukan aku telah menerima semua yang ada di diri kamu.”
“terimakasih untuk tetap bertahan sama aku.”
“seperti kataku, tak ada ucapan terimakasih dalam mencintai.” Dia terseyum, mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku, ia menjinjitkan kakinya.
“kamu masih tampan, aku yakin itu.” Katanya sambil meraba-raba wajahku aku tersenyum lalu meraih tangan nya. “aku mencintai mu manda.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar