Minggu, 12 Mei 2013

Aku hanya bahagia untuk mu


“jangan bahagia tanpa aku ya.” Kataku sambil merapatkan pelukanku pada adit. Dia terkekeh pelan sambil melepas pelukanku. “gak akan pernah, sumber bahagia ku, ya kamu. Kalo kamu bahagia aku bahagia dan kalo kamu sedih aku akan lebih sedih lagi” Katanya sambil mengacak poni ku pelan. Aku tersenyum. tak pernah merasa seberuntung ini ketika dimiliki oleh pria paling sempurna di mataku. Iya, tak pernah ada sedikitpun keraguanku padanya. Karena aku tau setulus apa dia mencintaiku. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya, perlakuan nya, dan pengorbanan yang telah dia beri untuk ku. Aku yakin dia untuk ku. Aku bukan lagi anak labil yang butuh banyak cinta. Yang aku butuhkan hanya dia. Satu-satunya.
***
“Ditaa... ada buket bunga lagi nih depan rumah lo.” Aku tersadar dari lamunanku saat teriakan sahabatku itu berhasil memekakan telingaku. Aku menoleh, dia menghampiriku dengan antusias. “betapa indah nya jadi lo dit. Andaikan gue jadi lo, gue bakal pamer abis-abisan.” Decaknya sambil memeluk buket bunga mawar merah yang katanya untuk ku itu. Aku mendesah pelan, andaikan faraz menjadi aku, akan kah dia bertahan sampai sejauh yang kulakukan? walaupun sepertinya yang tersisa dalam diriku hanyalah mayat hidup yang dipaksa bertahan.
“Handphone lo bunyi tuh dit, ada sms deh kayanya.” Katanya, aku mengambil ponsel ku dari atas meja rias. Sms. Ada satu pesan singkat dari... rangga. Kenapa pria ini tidak pernah berhenti menghubungiku, padahal sudah ku tolak cintanya puluhan kali. Aku membuka sms nya dengan malas. Isinya.... ya seperti biasa. Ucapan selamat pagi, dan menanyakan apakah bunganya sudah ku lihat. Aku melemparkan asal handpohone-ku ke atas tempat tidur.
“dari siapa dit?” aku melirik ke arah sahabatku yang sibuk memilin-milin rambutnya yang sudah ikal itu. “ga penting, eh anter gue ke toko kue yuk.” Kataku, dia menoleh. “bentar ini tanggal berapa?” katanya, dia lekas beringsut mengecek tanggal di ponsel nya. dia mengeluh panjang. “mau sampai kapan kaya gini dit?” aku menggeleng, aku tak akan pernah sanggup menjawab pertanyaan seperti itu, karena aku berharap hidup untuk hari ini saja esok nya mungkin aku juga ikut pergi. Dia memeluk ku. “lo harus tegar dit. Terima kenyataan kalo adit itu udah gak ada.”
Satu yang aku yakini, adit itu selalu ada di hati ku. Dan, adit dan dita adalah satu kesatuan. Nama kita terangkai dari huruf yang sama, kita di takdirkan bersama; seharusnya. Dia melepaskan pelukkan nya dan menatapku dengan tatapan ambigu. “tuhan udah nyiapin kebahagiaan untuk semua orang, termasuk elo. Mungkin saat ini lo masih nganggap kebahagiaan lo cuma ada di adit. Tapi bahagia menurut tuhan gak gitu. Ada kebahagiaan yang bertubi-tubi menyambut lo setelah ini. bangkit dita! Life must go on!”
Ucapan faraz hanya lewat begitu saja, sudah puluhan kali aku mendengar perkataan yang sama dari mulut yang sama. Tapi aku juga menghargai faraz, dia sahabatku satu-satunya dia orang satu-satunya yang tersisa untuk peduli kepadaku, setelah keluargaku cerai-berai berantakan. Aku menyayanginya, tapi yang aku rasakan saat ini, tidak akan dia mengerti, karena dia tak pernah merasakan hancurnya kehilangan. “kali ini aja please raz, demi gue.” Kataku sambil menunjukan senyum; sedikit meminta belas kasihan. Dia mendesah, “tahun lalu, bilang kaya gitu juga kan dit sama gue? Tapi buktinya apa? Lo masih rayain hari jadi lo tahun ini. tepat 3 tahun lo udah ngelakuin hal yang seharusnya gak lo lakuin.” Katanya, tegas. Aku menggigit bibir bawahku, air mataku menetes saat bibir ku sudah tak sanggup lagi berkata apa. “dengerin gue deh dit.” Kudengar suaranya mulai melembut. “adit juga gak akan bisa bahagia kalo liat lo terus murung kaya gini. Adit pengen liat lo bahagia walau tanpa dia.” Aku terdiam, terlihat seperti patung bodoh yang di permainkan oleh takdir.
“please dit kali ini yang terakhir ya.” Ucapnya, aku mengangguk mengiyakan. Disisi lain kesedihanku, aku bahagia, ada faraz di sampingku.
***
Selamat hari jadi yang ke-empat sayang, ini mungkin kue terakhir yang ku beli untuk hari jadi kita setelah kepergianmu. Mungkin. Aku hanya tak ingin terus menerus menjadi beban pikiran faraz, aku hanya ingin bahagia saat ini meskipun aku sudah menganggap kebahagaiaan itu hanya halusinasi setelah kepergianmu. But, i’ll and must try.
“dit pulang yuk, udah hampir sore.” Katanya, dia di sampingku sejak tadi, tak mengusik ku dan mencoba memahamiku. Dia berdiri dan mengulurkan tangan nya, aku langsung meraih tangan nya. dia tersenyum lalu mencium puncak kepalaku. “terimakasih dit, aku akan selalu menunggu hati kamu untuk aku seutuhnya, sampai kapan pun itu.”
Iya dit, aku menerima cinta rangga. Dia juga ternyata mencintai ku setulus yang kamu beri. Dia memahami rasa kehilanganku. Aku akan mencoba mencintainya seperti aku mencintaimu dit, sebesar rasa cintanya untuk ku saat ini. dan satu hal, aku bahagia untukmu.
***
Saat mereka pergi, tepat belasan burung-burung itu sudah siap memakan jatah mereka. Setiap setahun sekali mereka menunggu di atas ranting pohon dan melihat seorang wanita meletakan kue-nya di atas pusara. Itu rejeki mereka, dan mereka berbahagia atas itu. Namun seperti nya kue tadi adalah kue terakhir yang akan mereka makan. Karena saat ini wanita itu sudah bergandengan dengan kebahagiaan. Mereka akan kehilangan makanan spesialnya, namun mereka ikut bahagia saat melihat senyum di wanita itu terukir tanpa paksaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar