Minggu, 11 November 2012

Intinya.. aku berharap kita tidak hanya (sekedar) sahabat


"Rio.. Lo bisa kesini?... iya cafe biasa.. temenin aja si gue lagi nulis.. pengen ngobrol aja.. oke gue tunggu ya.."

***
"Kenapa tuh pipi? gara-gara dia lagi?"
"eh lo dateng juga duduk yo.."
"jawab dulu itu pipi kenapa? dia lagi kan?"
wanita itu menarik nafas panjang, mengangguk lalu tersenyum. "gak apa-apa kok, cuma kaya gini doang." jawabnya.
"mau sampai kapan lo kaya gini, terus."

"Sampai dia sadar bahwa gue emang bener-bener tulus mencintai dia." jawab nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar lcd berpancarkan radiasi itu.

"tapi lo gak harus ngorbanin diri lo sampai sejauh ini, cinta itu saling, Melody. gak cuma lo yang rasa. naif lo

"Iya gue sadar, gue emang naif. tapi perasaan gue buat dia gak sesederhana yang lo pikir rio."

"Percaya sama gue, dia bukan cowo yang baik buat lo. dia gak pernah berusaha peduli sama lo bahkan cuma buat ngertiin aja dia gak bisa. apa itu yang lo sebut cinta? hubungan macam apa yang lo jalani selama ini?"

melody menghentikan jari-jarinya yang sedang menari di papan keyboard itu, matanya menatap tajam pada rio, sahabatnya sejak lama.
"kok lo jadi nyolot gitu sih yo? gue cuma berusaha bertahan. dia itu cinta pertama gue, gue gak mau gagal."

"cinta pertama gak mesti harus jadi yang terakhir. kadang lo harus ketemu orang yang salah dulu sebelum lo ketemu sama orang yang bener-bener dikirim tuhan buat lo. setiap orang pasti ngerasain gagal dulu, jangan muna deh lo..."

"gue sayang sama dia rio."

"tapi dia gak sayang sama lo."

"tau dari mana lo kalo dia gak sayang sama gue?"

"gue ini cowo melody. gue tau, tatapan nya sikap nya ke elo gak mencerminkan bahwa dia sayang sama lo. perlakuan dia juga kasar sama lo, orang yang sayang sama lo gak akan pernah tega nyakitin lo."

"cukup rio! kenapa sih lo? gue gak mau denger cercaan lo buat dia meski gimana pun dia cowo gue."

"Ini fakta melody. elo sebenernya gak butuh cinta yang semu kaya dia, cinta yang buat lo tersiksa kaya gini."

"gue duluan." melody beranjak dari tempat duduk nya, merapikan semua barang-barang nya.

"Tunggu." rio menahan lengan melody.  "gue mau tau, seberapa penting dia buat lo? kalo lo di kasih pilihan, lo pilih tinggalin dia yang terus nyakitin lo atau gue sahabat lo yang bisa cintain lo lebih baik dari dia?"

"maksud lo apa sih?"

"lo pilih dia atau gue?"

"RIO?"

"kenapa? lo kaget tau gue cinta sama lo. ya, gue sayang sama lo dari dulu, tapi ini cinta, perasaan yang lebih dari sekedar sahabat."

Melody bergeming, lututnya mulai tersa lemas mendengar pernyataan langsung dari rio tentang perasaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"lo pikir buat apa tiap hari gue ceramahin elo. gue peduli sama lo, gue pengen yang terbaik buat lo, sebenernya gue bisa aja sih relain lo sama dia. tapi nyatanya apa? dia cuma bisa nyakitin lo melody. lo lupa dia pernah nendang lo? pipi lo ini belum seberapa dia bisa aja nyakitin lo lebih dari ini."

"Rio please berhenti.." tetes-tetes gerimis bernamakan air mata itu perlahan jatuh perlahan dari mata bening melody.

"lo tau kan kemana harus cari gue? sekarang lo jalani hubungan lo sama dia, sekuat apa lo bertahan. tapi saat lo udah bener-bener cape. dateng ke gue, gue bakal tetep nyambut lo melody kapanpun itu."

"gue gak ngerti sama lo."

"gak perlu, lo gak perlu ngertiin gue. ngertiin dulu kata hati lo sebelum lo mencoba mengerti orang lain. sekarang gue pergi, jaga baik-baik diri lo ya."

"kemana? tapi lo bakal balik kan?"

"tentu gue bakal dateng disaat lo bener-bener butuhin gue." rio mengecup kening melody, dia tersenyum menahan sesak. entah kenapa dia bisa mengeluarkan segala perasaan nya saat itu. moment yang benar-benar tak pernah ia duga. "udah ah, hapus air mata lo. janji sama gue, selama gue gak ada disamping lo. lo gak akan libatin air mata.."

"Gue janji.."


-Melody-