"Kadang aku pengen ada malaikat hujan yang bisa temenin aku saat aku nikmatin tetes-tetes gerimis anugrah tuhan itu.."
Gadis itu Matanya selalu berbinar-binar jika dia berbicara tentang hujan, aku ikut mengangguk saja saat dia berbicara seperti itu. kadang aku tak mengerti apa yang ia ungkapkan, dia terlalu bahagia, terlalu asik dengan dunia nya sendiri. hujan. hanya karena itu. apa istimewanya dari air-air yang jatuh dari langit itu?
kali ini dia mengangkat telapak tangan nya ke atas seakan akan menangkap semua titik-titik hujan itu, matanya terpejam lalu tersenyum.
"Coba rasain deh, ini nih yang namanya bahagia. sesederhana ini." ucapnya sambil terus menari-nari menangkap hujan. aku mendecak, kenapa sebodoh itu. dia tidak tau dia juga bisa sakit karena ini.
"mau tetep disitu aja? gak akan temenin aku?" teriaknya, suaranya makin tersapu oleh hujan yang semakin deras.
"Aku benci hujan." jawabku. dia berhenti menari, menyapu wajahnya dari air hujan lalu menatapku.
"atas dasar apa kamu membenci hujan?"
"kalo hujan nya deras banget kaya gini apa masih dianggap indah? ditambah lagi jika ada petir dan guntur. apa kamu masih memuja-muja hujan? bodoh!"
"semuanya itu harus ada resikonya, kalo aku suka hujan aku juga harus suka petir. manis pahitnya harus diterima dong, jangan banyak nuntut. itu anugrah tuhan."
"bukan alasan, aku tetep benci hujan." kataku bersi kukuh, gadis kecil ini malah tersenyum dan menatapku dengan tatapan jahil. aku mengkerutkan keningku. "apa?" tanyaku aneh. dia tak menjawab malah langsung menarikku keluar dari tempat yang sengaja kujadikan untuk menghindari hujan. ya, aku bersembunyi tapi dia malah menyambutnya. sampai disini aku masih tetap saja belum mengerti apa yang ada di pikiran nya.
"tutup mata kamu."
"buat apa?"
"cepet tutup aja! rasain hujan ini turun menembus ubun-ubun kamu membasahi otak kamu."
"kok ngeri ya?" jawabku sambil sedikit terkekeh, dia malah merengek dan menghentakan kakinya ke genangan air hingga air nya mengenai celana putihku.
"rasain tetes-tetes hujan yang kamu rasain saat ini adalah anugrah tuhan yang terakhir kali kamu bisa kamu rasain, semua beban hilang saat ini juga tersapu oleh hujan." katanya. aku langsung mengintip nya lewat celah mataku, dia merentangkan tangan nya lalu tersenyum. lagi dan lagi, dia selalu mengukir senyum jika hujan turun.
"rasain jiwa kamu terangkat ke atas, menembus awan putih. itu tuh sebenernya kapas yang empuk banget. jadi gak usah takut bakal ada perjalanan yang indah.. kita bisa transit dulu di awan-awan itu. menyapa malaikat hujan yang sedang bekerja." semua ucapan nya terdengar seperti bocah umur 8 tahun, tapi nyatanya gadis ini sudah 16th. aku mengikuti apa yang dia lakukan, merentangkan tanganku lalu memejamkan mata dan menengadahkan wajahku ke atas. sesekali aku menatapnya yang masih saja tersenyum-tersenyum kecil. "kayanya kita harus balik ke rumah sakit deh, rainy."
dia menatapku, senyumnya seketika hilang.
"jangan ingatkan aku tentang itu."
"aku ini perawat kamu jadi aku harus ingetin." kataku memperjelas
"aku takut gak bisa rasain hujan lagi , aku takut ini hujan terakhir yang bisa aku tangkap." aku menatapnya tak berkedip saat dia berbicara seperti itu, entah lah, ini bukan tentang aku perawat dan dia pasien. ini tentang aku pria dan dia wanita. aku mulai merasakan nya, saat menemaninya setiap saat bahkan aku menemaninya melarikan diri dari rumah sakit hanya untuk merasakan hujan seperti saat ini. seharusnya aku melarangnya tapi aku tak pernah tega membiarkan senyum nya hilang. aku hanya ingin membuat hari-hari nya bahagia..
***
itu tiga bulan yang lalu, mungkin sekarang kamu telah ada di antara tumpukan awan-awan putih itu menjadi malaikat hujan. aku juga mulai mencintai hujan, iya itu karena kamu malaikat hujan yang ku kenal. tapi... apa malaikat tidak akan lagi merasakan apa itu cinta? apa aku boleh mencintai malaikat hujan? ah sudah lah lupakan. selamat jalan rainy. ada pasien lain yang harus aku temani lagi. nikmati peran mu sebagai malaikat hujan. aku akan selalu melihat langit saat hujan turun, berharap ada wajah kamu dari antara gumpalan awan itu lalu mengagetkanku. seperti kebiasaan mu. ah .. lagi lagi aku tak bisa berhenti berbicara, apa ini karena aku terlalu merindukanmu? atau karena perasaan yang tak pernah sempat aku utarakan?
