"KAU SEDANG APA?!" teriak
nya frustasi, aku hanya mendesah panjang sambil melihat pancaran cahaya di
depan ku. "sepertinya ini bukan jalanku lagi." kataku pasrah namun
jari-jariku sejak tadi terus mengomel dan meminta hak nya untuk bergerilya di
atas keyboard.
"memang nya kau berhak menghentikan jalanmu saat ini? Kau bukan tuhan! Cepatlah badan kami kaku sudah hampir satu tahun kami tak olahraga." si telunjuk tiba-tiba menunjukan badannya tepat di depan wajahku namun aku tetap diam menerima amarahnya sambil menunggu yang lain buka bicara.
"Kau tahu kelak tubuhku ini akan
disematkan cincin cantik, aku malu jika nanti badanku tak terlihat cantik.
Kumohon ayo tumpah kan isi otakmu itu." aku tersenyum miris melihat si
jari manis merajuk padaku.
"Kalau kau tidak menuruti kami,
akan ku patahkan teman-temanku dan mencari tangan lain yang lebih berguna! Aku
membenci mu!" umpat si jari tengah, aku menohok menatapnya.
"Wah amarahmu luar biasa jari
tengah." ujarku sambil tersenyum putus asa.
"Kau bahkan tak berhak
memperlihatkan wajah itu padaku." lanjutnya lagi sambil memalingkan muka.
"Kau tau, kakak-kakakku telah
bersusah payah memarahimu tapi aku ikut saja kemana mereka pergi, setelah besar
nanti mungkin aku akan jari pengecut." si kelingking berpasrah diri, ia
menunduk sambil menahan tangisnya.
"Anak-anakku hanya menginginkan
mu untuk berkarya, itu tidak sulit sayang. Ayo kembali lagi menjadi seseorang
seperti dulu yang bahkan kau akan tetap menulis meski ibumu melarang." si
ibu jari akhirnya buka suara, dia memang yang paling bijak.
"Aku takut. Seperti telah
kehilangan ruhku." desahku, lalu tiba-tiba ada yang menarik bajuku, aku
menoleh ternyata ponselku juga sedang merajuk.
"lupakan ocehan mereka, aku
lebih menyenangkan ayola!" rengek ponselku sambil memamerkan sosial media
yang menari-nari di dalamnya.
"Diamlah dulu!" bentak si
ibu jari si ponsel akhirnya menyerah dan kembali masuk kebawah kasur.
"Ayo, tidak ada salahnya memulai
dari awal. Kamu hanya perlu melihat lebih luas mengamati lebih dalam, kami
sadar dunia yang kamu hadapi saat ini jauh berbeda, kamu juga lepas dari guru
kesayangan mu. Tapi, cobalah mandiri kamu tidak mungkin terus menerus
bersembunyi di ketiaknya." suara si ibu jari melembut seakan percaya bahwa
harapan itu masih ada.
"bisakah aku?"
tanyaku pelan seakan terlihat sekali bahwa aku sedang ketakutan.
"Tentu saja!" teriak mereka
kegirangan.
Dan malam itu, saat teman sekamarku
sedang tertidur pulas dan lampu dikamar sepetak kami telah padam aku mendengar
sorak-sorak kegirangan dari jari-jariku seakan ruh mereka yang telah menghilang
kini kembali merasuk. Saat aku membuka earphone yang menempel di telingaku
ternyata kudapati semuanya hening tak ada suara apapun selain dengkuran
temanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar