Kamis, 25 Februari 2016

Demonstrasi jari-jari


            "KAU SEDANG APA?!" teriak nya frustasi, aku hanya mendesah panjang sambil melihat pancaran cahaya di depan ku. "sepertinya ini bukan jalanku lagi." kataku pasrah namun jari-jariku sejak tadi terus mengomel dan meminta hak nya untuk bergerilya di atas keyboard.

            "memang nya kau berhak menghentikan jalanmu saat ini? Kau bukan tuhan! Cepatlah badan kami kaku sudah hampir satu tahun kami tak olahraga." si telunjuk tiba-tiba menunjukan badannya tepat di depan wajahku namun aku tetap diam menerima amarahnya sambil menunggu yang lain buka bicara.

            "Kau tahu kelak tubuhku ini akan disematkan cincin cantik, aku malu jika nanti badanku tak terlihat cantik. Kumohon ayo tumpah kan isi otakmu itu." aku tersenyum miris melihat si jari manis merajuk padaku.

            "Kalau kau tidak menuruti kami, akan ku patahkan teman-temanku dan mencari tangan lain yang lebih berguna! Aku membenci mu!" umpat si jari tengah, aku menohok menatapnya.

            "Wah amarahmu luar biasa jari tengah." ujarku sambil tersenyum putus asa. 

            "Kau bahkan tak berhak memperlihatkan wajah itu padaku." lanjutnya lagi sambil memalingkan muka.

            "Kau tau, kakak-kakakku telah bersusah payah memarahimu tapi aku ikut saja kemana mereka pergi, setelah besar nanti mungkin aku akan jari pengecut." si kelingking berpasrah diri, ia menunduk sambil menahan tangisnya.

            "Anak-anakku hanya menginginkan mu untuk berkarya, itu tidak sulit sayang. Ayo kembali lagi menjadi seseorang seperti dulu yang bahkan kau akan tetap menulis meski ibumu melarang." si ibu jari akhirnya buka suara, dia memang yang paling bijak.

            "Aku takut. Seperti telah kehilangan ruhku." desahku, lalu tiba-tiba ada yang menarik bajuku, aku menoleh ternyata ponselku juga sedang merajuk.

            "lupakan ocehan mereka, aku lebih menyenangkan ayola!" rengek ponselku sambil memamerkan sosial media yang menari-nari di dalamnya.

            "Diamlah dulu!" bentak si ibu jari si ponsel akhirnya menyerah dan kembali masuk kebawah kasur.

            "Ayo, tidak ada salahnya memulai dari awal. Kamu hanya perlu melihat lebih luas mengamati lebih dalam, kami sadar dunia yang kamu hadapi saat ini jauh berbeda, kamu juga lepas dari guru kesayangan mu. Tapi, cobalah mandiri kamu tidak mungkin terus menerus bersembunyi di ketiaknya." suara si ibu jari melembut seakan percaya bahwa harapan itu masih ada.

"bisakah aku?" tanyaku pelan seakan terlihat sekali bahwa aku sedang ketakutan.

            "Tentu saja!" teriak mereka kegirangan.

            Dan malam itu, saat teman sekamarku sedang tertidur pulas dan lampu dikamar sepetak kami telah padam aku mendengar sorak-sorak kegirangan dari jari-jariku seakan ruh mereka yang telah menghilang kini kembali merasuk. Saat aku membuka earphone yang menempel di telingaku ternyata kudapati semuanya hening tak ada suara apapun selain dengkuran temanku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar