Aku
menganggap apa yang sedang aku jalani ini baik-baik saja, sampai kamu tiba-tiba
bicara panjang lebar kemudian aku sadar bahwa ada yang salah denganku. Sejujurnya
malam itu, hanyalah malam biasa, aku juga cuma mengiyakan ajakanmu untuk keluar.
Kamu menjemputku ke rumah karena aku
memintanya tentu saja. Kemudian ternyata ada hal yang tak luput kamu perhatikan
padahal menurutku biasa saja.
Dalam perjalanan.
“Sikap kamu memang selalu begitu?”
katamu mengawali jeda yang panjang, aku diam beberapa saat kemudian sadar apa
yang kamu maksud.
“Memang begini adanya.” Aku tertawa
hambar meskipun tak yakin dengan apa yang aku ucapkan.
“Jangan begitu.” Katamu.
Aku terdiam. Berpikir.
Sampai
dirumah temanmu (sebenarnya temanku juga, tapi dia sahabat kepompongmu), belum
ada orang yang datang. Kami duduk di selasar rumah, awalnya kami berbicara
ngalor-ngidul sampai membicarakan hal yang sebenarnya tak penting dikatakan
tapi nyatanya mampu membuat kamu tertawa tanpa jeda. Kemudian kamu memulai
percakapan yang tidak seperti biasa. Raut wajahmu berubah, wajah serius yang
jarang aku lihat darimu. Jarang sekali.
“Sejak
kapan mama menikah lagi?” katanya, masih dengan asap yang mengepul-ngepul dari
rokoknya. Aku menatap teman kepompongmu, anggap saja dia punya nama Deri.
“Tahun
lalu, saat bulan kelahiranku haha.” Aku tertawa, tapi mereka menanggapi dengan
senyum miring dan saling bertatapan. Aku kemudian sadar, bahwa kami bertiga
bukanlah dari keluarga yang utuh. Tapi mereka lelaki yang bisa menanggapi itu
dengan santai walaupun entah bagaimana keadaan hatinya. Aku tak mau mengorek
luka yang mungkin hampir kering, tapi yang memulai percakapan ini bukan aku.
“Kamu
datang?” Deri yang duduk berhadapan denganku mulai bicara, meskipun pura-pura
tidak memperhatikan dengan terus menatap ponselnya tapi aku yakin, ia juga
merasa harus ada dalam percakapan kami.
“Awalnya
aku berniat tidak datang, tapi ada suatu hal yang membuatku akhirnya datang
meskipun acaranya sudah selesai.” Aku menjawab itu berusaha setenang mungkin,
karena mungkin keputusan yang ku ambil hari itu karena tepat malam sebelumnya
ayah datang ke dalam mimpiku dan menyuruhku untuk mempunyai hati yang lapang
dan memintaku untuk hadir di pernikahan ibu. Karena kurasa itu permintaan ayah
maka hari itu aku hadir. Dan tentu saja aku tidak menjelaskan ini kepada kalian
yang mungkin akan menganggapku delusional.
“Aku
bahkan tidak tau kapan mereka menikah lagi.” Ungkap deri, maksudnya adalah ayah
dan ibunya menikah lagi dengan pasangan yang berbeda.
“Entah.
Mungkin karena kalian lelaki, jadi menanggapi ini dengan santai. Aku perempuan
selalu ada perasaan yang terlibat.” Kataku yang kemudian terbantahkan setelah
mereka menanggapi.
“Kami
bukan menanggapi ini dengan enteng, tentu saja ini membebani karena tetap saja
kami itu seorang anak. Tapi kan mau gimana lagi? Awalnya memang aku tidak
menerima baik itu ibu tiriku maupun ayah tiriku tapi seiring dengan waktu
ternyata hubungan kami cair, bahkan aku akrab dengan ayah tiriku. Sekarang itu
bukan masalah lagi.” Air muka di wajahnya masih serius, aku terus memperhatikan
setiap detil perubahannya karena malam itu aku melihat sisi lain dirimu. “Perbaiki
sikapmu, kamu harus berubah kamu sudah dewasa. Terima kehadiran suami mama mu
sebagai ayah tirimu. Anggap saja kamu melakukan ini untuk kebahagian ibu kamu. Itu
aja.”
“Susah,
entah kenapa. Aku juga berusaha bersikap biasa tapi tetap aja aku masih belum
bisa menerima kehadiran orang asing dirumahku. Aneh rasanya.” Aku tidak tau apa
mereka sadar atau tidak bahwa saat itu aku berusaha mati-matian untuk menahan
tangisku.
“Harus
kamu biasakan sih mau tidak mau.” Kamu menyambar air minum yang sedang ku
pegang, setelah mengepulkan asap rokok terakhir. Mungkin kamu tidak sadar bahwa
mataku tak lepas dari setiap detil wajahmu. “Tapi kamu harus ingat satu hal. Jangan
ada dirumah saat hanya ada suami mama mu. Keluar, kemana kek pokoknya jangan sendirian
dirumah hanya dengan dia.”
Aku
tertawa setelahnya. “Kontradiksi banget sih
tadi kamu bilang aku harus perbaiki sikapku.”
“Benar.”
“Terus
kenapa?”
Sebelum
terlalu jauh, aku katakana bahwa deri masih tetap disana duduk bersila dihadapan
kami sebagai pendengar dan pengamat yang baik. Seperti siap mengritik jika ada
suatu yang salah.
“Jangan
aja, aku suruh adikku keluar saat hanya ada suami ibuku. Kamu juga. Yah pokoknya
keluar, kemana aja.” Aku
tertawa mendengarnya seperti itu. Seperti aku ini adiknya yang perlu ia
lindungi juga.
“Atau
kalau kamu memang tidak mau keluar. Panggil aku aja deh nanti aku ke rumahmu.” Katamu dengan nada meyakinkan. aku
mengerenyitkan keningku, kedua alisku bertaut. Ekspresi heran.
“Serius,
Kapanpun.” Katamu. Aku tidak tahu apa kamu sedang berusaha meyakinkan atau
hanya sedang menghiburku.
Tapi
kamu harus tahu satu hal, kamu tidak perlu menghiburku. Karena kamu juga salah satu
alasan yang membuat aku menangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar