Jumat, 14 Oktober 2016

Kapanpun

             Aku menganggap apa yang sedang aku jalani ini baik-baik saja, sampai kamu tiba-tiba bicara panjang lebar kemudian aku sadar bahwa ada yang salah denganku. Sejujurnya malam itu, hanyalah malam biasa, aku juga cuma mengiyakan ajakanmu untuk keluar.  Kamu menjemputku ke rumah karena aku memintanya tentu saja. Kemudian ternyata ada hal yang tak luput kamu perhatikan padahal menurutku biasa saja.

Dalam perjalanan.

“Sikap kamu memang selalu begitu?” katamu mengawali jeda yang panjang, aku diam beberapa saat kemudian sadar apa yang kamu maksud.

“Memang begini adanya.” Aku tertawa hambar meskipun tak yakin dengan apa yang aku ucapkan.

“Jangan begitu.” Katamu.

Aku terdiam. Berpikir.

            Sampai dirumah temanmu (sebenarnya temanku juga, tapi dia sahabat kepompongmu), belum ada orang yang datang. Kami duduk di selasar rumah, awalnya kami berbicara ngalor-ngidul sampai membicarakan hal yang sebenarnya tak penting dikatakan tapi nyatanya mampu membuat kamu tertawa tanpa jeda. Kemudian kamu memulai percakapan yang tidak seperti biasa. Raut wajahmu berubah, wajah serius yang jarang aku lihat darimu. Jarang sekali.

            “Sejak kapan mama menikah lagi?” katanya, masih dengan asap yang mengepul-ngepul dari rokoknya. Aku menatap teman kepompongmu, anggap saja dia punya nama Deri.

            “Tahun lalu, saat bulan kelahiranku haha.” Aku tertawa, tapi mereka menanggapi dengan senyum miring dan saling bertatapan. Aku kemudian sadar, bahwa kami bertiga bukanlah dari keluarga yang utuh. Tapi mereka lelaki yang bisa menanggapi itu dengan santai walaupun entah bagaimana keadaan hatinya. Aku tak mau mengorek luka yang mungkin hampir kering, tapi yang memulai percakapan ini bukan aku.

            “Kamu datang?” Deri yang duduk berhadapan denganku mulai bicara, meskipun pura-pura tidak memperhatikan dengan terus menatap ponselnya tapi aku yakin, ia juga merasa harus ada dalam percakapan kami.

            “Awalnya aku berniat tidak datang, tapi ada suatu hal yang membuatku akhirnya datang meskipun acaranya sudah selesai.” Aku menjawab itu berusaha setenang mungkin, karena mungkin keputusan yang ku ambil hari itu karena tepat malam sebelumnya ayah datang ke dalam mimpiku dan menyuruhku untuk mempunyai hati yang lapang dan memintaku untuk hadir di pernikahan ibu. Karena kurasa itu permintaan ayah maka hari itu aku hadir. Dan tentu saja aku tidak menjelaskan ini kepada kalian yang mungkin akan menganggapku delusional.

            “Aku bahkan tidak tau kapan mereka menikah lagi.” Ungkap deri, maksudnya adalah ayah dan ibunya menikah lagi dengan pasangan yang berbeda.

            “Entah. Mungkin karena kalian lelaki, jadi menanggapi ini dengan santai. Aku perempuan selalu ada perasaan yang terlibat.” Kataku yang kemudian terbantahkan setelah mereka menanggapi.

            “Kami bukan menanggapi ini dengan enteng, tentu saja ini membebani karena tetap saja kami itu seorang anak. Tapi kan mau gimana lagi? Awalnya memang aku tidak menerima baik itu ibu tiriku maupun ayah tiriku tapi seiring dengan waktu ternyata hubungan kami cair, bahkan aku akrab dengan ayah tiriku. Sekarang itu bukan masalah lagi.” Air muka di wajahnya masih serius, aku terus memperhatikan setiap detil perubahannya karena malam itu aku melihat sisi lain dirimu. “Perbaiki sikapmu, kamu harus berubah kamu sudah dewasa. Terima kehadiran suami mama mu sebagai ayah tirimu. Anggap saja kamu melakukan ini untuk kebahagian ibu kamu. Itu aja.”

            “Susah, entah kenapa. Aku juga berusaha bersikap biasa tapi tetap aja aku masih belum bisa menerima kehadiran orang asing dirumahku. Aneh rasanya.” Aku tidak tau apa mereka sadar atau tidak bahwa saat itu aku berusaha mati-matian untuk menahan tangisku.

            “Harus kamu biasakan sih mau tidak mau.” Kamu menyambar air minum yang sedang ku pegang, setelah mengepulkan asap rokok terakhir. Mungkin kamu tidak sadar bahwa mataku tak lepas dari setiap detil wajahmu. “Tapi kamu harus ingat satu hal. Jangan ada dirumah saat hanya ada suami mama mu. Keluar, kemana kek  pokoknya jangan sendirian dirumah hanya dengan dia.”

            Aku tertawa setelahnya. “Kontradiksi banget sih tadi kamu bilang aku harus perbaiki sikapku.”

            “Benar.”

            “Terus kenapa?”

            Sebelum terlalu jauh, aku katakana bahwa deri masih tetap disana duduk bersila dihadapan kami sebagai pendengar dan pengamat yang baik. Seperti siap mengritik jika ada suatu yang salah.

            “Jangan aja, aku suruh adikku keluar saat hanya ada suami ibuku. Kamu juga. Yah pokoknya keluar, kemana aja.” Aku tertawa mendengarnya seperti itu. Seperti aku ini adiknya yang perlu ia lindungi juga.

            “Atau kalau kamu memang tidak mau keluar. Panggil aku aja deh nanti aku ke rumahmu.” Katamu dengan nada meyakinkan. aku mengerenyitkan keningku, kedua alisku bertaut. Ekspresi heran.

            “Serius, Kapanpun.” Katamu. Aku tidak tahu apa kamu sedang berusaha meyakinkan atau hanya sedang menghiburku.


            Tapi kamu harus tahu satu hal, kamu tidak perlu menghiburku. Karena kamu juga salah satu alasan yang membuat aku menangis.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar