Senin, 01 Juli 2013

Rahasia


          “Foto siapa?”

                Aku menoleh, saat tiba-tiba ada seorang pria duduk disampingku. Menakutkan. Pakaian yang serba hitam itu membuat siapapun yang melihat jadi bergidik ngeri. Di tambah dengan rambut gondrong yang ia ikat asal. Aku berusaha tenang.

                “Ayah.” Jawabku tenang. Dia mengangguk.

                “kalau orang yang udah pergi itu biasa nya emang sering banget di kangenin. Kenapa ya?” katanya santai sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku taman. di sampingku. Aku menoleh dengan tatapan heran. “kok tahu kalau ayah saya udah gak ada mas?”

                Dia hanya tersenyum kecil, lalu mendecak. “Ayah saya juga udah gak ada sih.” Jawabnya seperti tanpa beban. Aku alihkan pandangan ku padanya, kulihat guratan wajahnya yang tak menunjukan gurat kesedihan sedikitpun namun saat aku melihat matanya, aku tahu, sorotan mata itu, sorot mata kerinduan. Aku yakin hatinya tak seperti caranya berpakaian yang serba hitam.

                “Saya kasih tau ya de, saya ini bukan ustadz, saya ini berandalan yang hidup di jalanan. Tapi saya tahu rasanya kehilangan itu seperti apa. Sakit. saya sering perhatiin kamu tiap sore disini, Cuma prihatin aja sih. Jangan keterusan sedihnya ya, kamu harus bangkit. Jangan kayak saya, idup saya udah terlanjur gini.” Keningku berkerut samar. Kata-katanya sangat jauh dari ekspetasi ku sebelumnya, penilaian ku bertambah.

                Tiba-tiba dia mengeluarkan foto dari dompetnya, perlahan dia memperlihatkan nya padaku. “Ini foto ayah saya, ini ibu saya, ini saya, dan ini kamu waktu masih umur 5 tahun.” Katanya sambil menunjukan wajah-wajah di foto itu, aku terpana, lalu menatapnya tanpa berkedip. Air bening dari mataku jatuh perlahan. “Mas dio..” desis ku sangat pelan. Dia tersenyum. Sambil mengacak rambutku pelan. Lalu, dia mengecup puncak keningku.

                “Jaga diri kamu baik-baik ya de.” Saat itu juga dia bangkit lalu pergi.

                Aku meneriakan namanya berulang kali namun dia tak menoleh. Dimana tongkat sialan itu ku simpan tadi? Aku terus memanggilnya dengan penuh tangisan histeris. “Kak, sekarang adikmu lumpuh.” desisku dengan penuh isakan namun dia tetap berlalu.

1 komentar: